Abang CEO

Abang CEO
sudah berakhir?


__ADS_3

Pagi ini Arlan bangun kesiangan, tapi tak apalah pikirannya sedikit berkurang. Dilihatnya Ling sudah tidak ada di kamar, setelah mandi dan berganti baju, Arlan langsung turun ke bawah.


"maaf ya bang, jadi telat" kata Ling


"gak papa," kata Arlan yang sudah duduk di kursi


"hari ini kamu mau pergi kemana?" tanya Arlan di sela makannya


"ke kantor Papi bang sebentar, habis itu pulang" Ling


"kalau gitu nanti kamu mampir ke kantor aja, saya mau makan siang sama kamu"


"ukhuk" Ling tersedak


"kenapa kamu gak mau? sampai tersedak gitu" kata Arlan setelah memberikan tisu pada Ling


"enggak gitu bang, tumben abang ngajak makan siang" Ling


"kan saya udah bilang tadi malam, saya ingin berusaha pendekatan sama kamu"


"iya bang, kalau menurut jam makan siang sih tinggal tiga jam lagi, mungkin nanti aku agak telat" Ling


"tidak masalah saya tunggu, apa perlu saya jemput?"


"tidak usah lah bang, nanti biar aku saja yang ke kantor" Ling


"ya udah kalau gitu," kata Arlan melanjutkan sarapan nya


Selesai sarapan Arlan segera berangkat ke kantor. Sedangkan Ling bersiap siap untuk ke kantor Papinya. Karena tujuannya kantor, Ling menggunakan setelan jas juga rok pendek. Ling berangkat sendiri dengan mengendarai mobilnya.


Setengah jam kemudian, Ling sampai kantor Papinya. Banyak karyawan yang menyapa dirinya, Ling langsung menuju ke ruangan Papi.


"siang Papi" kata Ling setelah membuka pintu


"siang juga sayang, papi kangen banget sama kamu." Papi berdiri dan menghampiri Ling


"Ling juga kangen banget sama Papi" Ling memeluk Papinya


"ayo duduk" ajak papi


"ada masalah di kantor pi? seperti nya tidak kan?" tanya Ling setelah mereka duduk di sofa


"tidak, Papi hanya kangen sama kamu. Bagaimana hubungan kamu dan Arlan?"


"ya masih sama pi, tapi abang mau berusaha pendekatan sama Ling."


"soal kemarin?" tanya Papi


"abang sempat marah, karena memang semua di luar dugaan mau bagaimana lagi"


"tapi dia kasar tidak sama kamu?"


"tidak Pi, semua sudah selesai. Tadi malam juga abang sama Rasya udah ketemu." jelas Ling yang tau ke khawatiran Papinya.


"syukurlah kalau begitu" kata Papi


Mereka melanjutkan obrolannya tentang kehidupan Ling dan Arlan. Papi bersyukur karena Arlan sudah mau berusaha mendekati Ling, bukan hanya Ling saja yang berusaha meluluhkan Arlan. Sampai pukul satu siang, Ling pamit karena ada janji dengan Arlan.


Ling melajukan mobilnya menuju ke kantor Arlan, tapi sebelumnya ia sudah mengabari Arlan. Butuh waktu dua puluh menit Ling sampai di kantor Arlan. Seperti biasa, Ling menggunakan masker untuk menutupi bagian wajahnya. Saat sampai di lobby, Ling melihat Yoga berdiri di sisi meja resepsionis.


"Li..." panggil Yoga yang tidak komplit karena mendapatkan pelototan dari Ling


"Arlinka" kata Yoga membenarkan panggilan nya

__ADS_1


"kok anda disini, bukannya kerja" Ling


"gue.. maksudnya saya di suruh pak Arlan jemput kamu" Yoga


"jemput?" tanya Ling tidak paham


"iya, sini dulu" kata Yoga dan Ling menurut saja


"Marla, perkenalkan ini nona Arlinka. Istri pak Arlan. Jadi kalau beliau datang, bisa langsung di suruh naik ke ruangan pak Arlan. Kamu paham?" kata yoga pada resepsionis di sana


"tap...tapi, maaf nona boleh buka maskernya?. Biar kalau saya lihat nona tidak salah orang" kata Marla


"iya, kenapa pakai masker?" Yoga


"belum saatnya, cukup saya akan menunjukkan ini jika saya kesini" kata Ling yang menyibakkan sedikit lengan jasnya. Di tangan kiri Ling, tepatnya di bagian samping ada sebuah tato kecil yang bertuliskan namanya.


"baik nona" kata Marla


"lo punya tato?" kaget Yoga


"ssst, ayo udah di tunggu abang" Ling


Yoga masih terheran-heran dengan Ling, bukannya ia sering bertemu Ling, tapi kenapa ia tidak melihat tato itu. Karena masih sibuk dengan pikirannya, ternyata mereka sudah sampai di dekat ruangan Arlan.


"eh maaf, anda siapa?" Nisa mencegah Ling yang akan melangkah membuka pintu


"siapa saya? bukan urusan anda" Ling


"tetap urusan saya lah, ini ruangan bos saya. Dan saya juga di suruh menyampaikan kalau beliau tidak mau di ganggu dan menerima tamu" Nisa


"Nisa biar kan dia masuk, ini istri Arlan" Yoga


"istri? tap..tapi tadi Arlan pesan" Nisa


"bukankah Arlan bos anda, kenapa bisa anda memanggil nama saja?" Ling


Tanpa menunggu lama, Ling membuka pintu ruangan Arlan. Ia melihat Arlan dengan seorang laki-laki di hadapannya.


"Arlinka, kamu sudah datang?" Arlan


"sudah dari tadi bang, tapi sekretaris abang ini melarang ku masuk" adu Ling sengaja


"Nisa, Yoga, kalian bisa kembali kerja" kata Arlan yang sudah di samping Ling.


"baik pak" Nisa kata Nisa sedikit cemberut


Arlan merengkuh pinggang Ling dan tangan yang satu menutup pintu. Ling merasa bingung sebenarnya, tapi ya sudahlah ia menurut saja.


"abang ada tamu?" tanya Ling yang melihat punggung seorang laki laki


"tidak papa, kamu tunggu di sini sebentar" kata Arlan yang mengantar Ling ke sofa


Setelah itu Arlan kembali berbincang dengan laki laki itu. Entah ada misi apa Arlan dan laki laki itu, tapi Arlan memasukkan beberapa foto ke dalam amplop dan di berikan kepada laki laki itu.


"kalau begitu saya pamit tuan" Kata laki laki itu


"silahkan, hubungi saya jika ada perkembangan" Arlan


"baik tuan, mari nona" laki laki itu membungkuk kan badannya sedikit dan segera pergi dari sana.


Kenapa Jack ada di sini, ada misi apa kok tidak ada laporan. Batin Ling melihat laki laki yang baru keluar.


"Arlinka, kita pergi sekarang?" tanya Arlan yang mendekati Ling

__ADS_1


"memangnya abang sudah selesai?" Ling


"sebenarnya masih ada kerjaan" kata Arlan nyengir


"abang kerja aja, kita pesan makan. Jadi gak usah keluar" Ling


"kamu tidak keberatan?"


"tidak masalah bang, yang penting makan kan?" Ling


"ya sudah, kamu pesan pakai ini saja" Arlan memberikan ponselnya.


Ling merasa senang karena Arlan sedikit mulai berubah, dan ia berharap akan jauh lebih baik lagi. Tanpa terasa siang pun telah berganti sore, Ling yang sibuk dengan tablet nya sampai tidak sadar kalau Arlan sudah selesai.


"masih mau kerja?" tanya Arlan


"abang udah selesai?"


"udah," Arlan


"ya sudah, mau pulang sekarang?" tanya Ling


"kalau kamu tidak keberatan" Arlan.


"tidak lah bang, ayo" Ling mengemasi barang-barang nya.


Mereka berdua berjalan keluar ruangan, Arlan menggandeng tangan Ling untuk menuju ke bawah. Itu semua tidak luput dari pandangan Nisa. Arlan tetap cuek saja dan tidak peduli, tapi itu membuat Ling bingung.


Apa hubungan mereka sudah berakhir? ah masak aku tanya abang, kan gak lucu. Batin Ling


"cie takut banget ilang" goda Yuda yang ada di belakang mereka


"Diam" Arlan


Saat akan memasuki lift, Arlan memberikan kode kepada Yoga untuk membukakan.


"mentang mentang pegang tangan, gue di suruh bukain" gerutu Yoga


"tangan gue yang satu bawa tas" Arlan


"hilih" Yoga


Saat mereka sudah memasuki Lift dan pintu akan tertutup, ada seseorang yang memasukkan sebelah kakinya. Hal itu membuat Lift kembali terbuka. Ada senyum kikuk dari seseorang orang itu, karena Arlan menatap nya dengan tidak suka.


"maaf" kata Nisa menunduk, karena orang itu adalah Nisa


"Masuk" kata Arlan penuh perintah.


Dengan ragu Nisa masuk dan memposisikan dirinya berjajar dengan Yoga, di depan Arlan. Tidak ada suara lain yang terdengar kecuali suara siulan Yoga. Suasana sangat canggung, untuk Nisa.


"bang, nanti malam lagi jangan lupa" kata Ling mengingatkan


"iya, setelah ini kita istirahat dulu. Biar saya juga gak ngantuk" Arlan


"dasar pasangan gila" gumam Yoga


"apa yang kamu katakan?" tanya Arlan tegas


"enggak," Yoga


"saya potong gaji anda" Arlan


"astaga maaf pak, cicilan mobil saya masih panjang" Yoga

__ADS_1


" bukan urusan saya, minggir" Kata Arlan menarik Ling, karena memang pintu sudah terbuka


"ya elah, Ar tunggu napa" Yoga


__ADS_2