Abang CEO

Abang CEO
Kembali


__ADS_3

Sore ini Ling dan Arlan sudah sampai di Jakarta. Arlan tidak melepaskan Genggaman tangannya dengan Ling. Sampai di rumah, terlihat mobil pak Delon yang terparkir di garasi.


"Ling" sapa mama saat mereka berdua turun dari mobil


"mama" kata Ling yang akan menghampiri mertuanya


"kamu apa kabar nak? mama senang kamu kembali" Erni


"Baik ma, mama sehat kan?"


"mama sehat, ini apa sih" mama melepaskan tangan Arlan dari tangan Ling, karena Ling hanya memeluk mertuanya dengan satu tangan


"mama apaan sih, udah kalau gitu peluknya" Arlan


"abang" panggil Ling seperti memperingatkan


"aku juga kangen sama kamu sayang" Arlan


"sana kamu ke kantor, ada meeting kan" mama


"ikut yuk sayang, aku gak mau kamu pergi lagi"


"gak, Ling pasti capek. Mama juga kangen banget sama Ling"


"udah cukup Arlan, ini saatnya kamu kerja" Papa


"tapi pa" kata Arlan


"kamu sudah tidak profesional seminggu ini. Kasian Yoga, papa pastikan Ling tidak akan pergi lagi" Papa


"ya udah temenin siap siap dulu" Arlan memegang tangan Ling


"Kesambet apa sih anak itu" gumam mama yang melihat Arlan masuk rumah dengan Ling.


Sedangkan sesampainya di kamar, Arlan langsung mengunci pintu. Arlan juga memeluk Ling dengan erat, rasanya tidak ingin jauh sejengkal pun dari Ling. Arlan seperti ABG yang sedang jatuh cinta saja. Ling yang mendapat perlakuan seperti itu merasa senang, ia harap tidak hanya manis sementara saja.


"aku sebenarnya malas sekali ketemu klien, badanku masih lemas" Arlan


"kan cuma sebentar bang, habis itu nanti segera pulang"


"sebentar apa, nanti sampai makan malam loh acara nya. Kamu ikut aja sayang, nanti kan ketemuan di hotel, jadi kita bisa check in."


"ada mama dan papa, gak enak kalau di tinggal"


Arlan diam saja, bahkan ia terlihat begitu merajuk. Tapi dengan bujukan Ling, akhirnya Arlan mau siap siap berangkat meeting. Setelah beberapa saat, Arlan sudah keluar kamar mandi. Ia hanya menggunakan handuk untuk menutupi sebagian tubuh bawahnya.


Ling yang baru pertama melihat itu pun di buat terpaku. Ia menelan ludahnya susah payah.


Astaga perfek. batin Ling


Ling hanya melihat Arlan yang sedang memaki baju, bahkan Arlan tidak sadar kalau dirinya di perhatikan Ling. Baru setelah selesai berpakaian Arlan, melihat ke arah Ling yang ternyata masih memandang dirinya.


"Arlinka" panggil Arlan namun Ling masih diam


Arlan mendekati Ling, ia sedikit membungkukkan badannya untuk melihat Ling lebih dekat. Entah kenapa Ling masih saja memandang dalam mata Arlan, tidak ingin membuang kesempatan Arlan mendekatkan wajahnya.


cup


Arlan mengecup bibir Ling, dan dengan otomatis Ling menutup matanya. Karena tidak mendapatkan respon dari Ling, Arlan sedikit membuka bibir nya dan mulai me***at bibir tipis Ling.

__ADS_1


Jantung Ling berdetak dengan kencang, baru dua kali ini Ling berciuman dengan Arlan. Bahkan dengan laki laki mana pun Ling juga belum pernah. Beberapa saat bibir mereka saling menempel, hingga Arlan melepaskan ciumannya.


"manis" kata Arlan


"hah apa?" Ling yang baru tersadar pun merasa bingung


"aku sepertinya mulai kecanduan ini" Arlan kembali mengecup sekilas bibir Ling.


"abang" kata Ling malu


"dari tadi kamu liatin aku, kenapa? mau?" goda Arlan


"mau apa?"


"mau pegang mungkin"


"ish apa sih, udah ayo turun" Ling berdiri dan berniat untuk keluar duluan.


Namun, Arlan yang masih diam di tempat pun menarik tangan Ling. Mau tidak mau Ling berbalik ke depan Arlan, dengan sangat cepat Arlan memeluk pinggang Ling. Ia mencium Ling lagi, Ling tidak menolak ia hanya diam karena belum bisa mengimbangi Arlan.


"nanti belajar lagi ya sayang" kata Arlan setelah menyudahi ciuman nya


Ling hanya menyembunyikan wajahnya di dada Arlan. Malu sekali rasanya, tapi memang dia tidak berpengalaman.


"hehehe gak papa, ayo turun" kata Arlan mengelus rambut Ling


Mereka berdua turun ke lantai bawah, setelah berpamitan dengan orang tuanya Arlan segera berangkat ke hotel. Orang tua Arlan terlihat ikut bahagia saat Arlan memperlakukan Ling dengan baik.


"Ling Papi kamu sudah berangkat ke Dubai?" tanya Papa


"sudah pa tadi pagi" jawab Ling


"maafin Ling ma, semoga semua akan lebih baik" Ling


"amin, Ling, Papa sudah memberitahu Arlan tentang siapa kamu. Itu papa lakukan karena papa sangat marah pada Arlan." Delon


"tidak apa pa, Ling tau kok maksud papa mungkin untuk menyadarkan abang"


Mereka mengobrol tentang apa yang terjadi selama Ling pergi. Tanpa terasa hari semakin malam. Setelah makan malam bersama, Delon dan Erni pamit untuk pulang. Ling mengantarkan mertuanya sampai ke depan rumah, saat akan kembali masuk terlihat sebuah mobil memasuki pekarangan rumah Ling.


Ling sangat tau siapa dia, bahkan setelah ini dia akan mendapatkan omelan sepanjang jalan kenangan. Ia menunggu si pengemudi turun dari mobilnya.


"ARLINKA" teriak Rico dengan suara cempreng nya.


"sssttt berisik" Ling


"gue gemes banget deh sama lo, bisa bisanya lo kabur dari tanggung jawab." kata Rico mengekor Ling yang sudah masuk ke dalam rumah


"apaan sih, gue gak kabur"


"terus?"


"ngumpet aja"


"enak aja lo ngumpet, elo gak tau betapa pusing nya gue ngurus semua pekerjaan lo. Kalau saja hari ini lo gak balik, em fix gue bisa pingsan di tempat"


"kenapa?"


"masih bisa lo tanya kenapa? astaga naga ular sawah tikus belut dan kodok. Besok lo ada job di Hitam Club, kalau sampai gagal gue harus bayar pinalti."

__ADS_1


"kan pakai duit gue"


"tapi ya sayang oneng, uang 1M buat bayar pinalti"


"iya juga, bisa buat kasih bonus elo yang satu persennya"


"satu persen?" Rico menepuk jidatnya


"pelit" sambung Rico lagi


Ling tertawa lepas saat mendengar itu, ini menjadi hiburan tersendiri bagi Ling. Selain Rico orangnya asik, Rico juga bertanggungjawab dan jujur. Terbukti sampai saat ini ia bekerja dengan Ling, tidak ada yang membuat Ling kecewa. Bahkan ada dua kartu Ling di pegang Rico, isinya dijaga dengan baik oleh Rico. Kalaupun terpaksa menggunakan pasti ia akan ijin kepada Ling, kalau belum mendapatkan persetujuan dari Ling, ia tidak akan menggunakannya.


"kok lo gak ke club?" tanya Ling


"gue mau libur malam ini"


"ya udah sono lo libur"


"lo sendiri?"


"ya gue masih libur lah, nunggu abang dulu. Bisa ngamuk dia"


"emang kemana abang tukang bakso lo?"


"jualan bakso lah, masak jualan toge"


Mereka berdua tertawa, sampai tidak sadar kalau Arlan sudah ada di depan rumah. Arlan segera masuk dan mencari Ling.


"ngapain lo malam malam ke sini?" tanya Arlan pada Rico


"gue ada perlu sama istri lo, bang udah laku berapa mangkuk bakso nya?" Rico


"maksud lo?"


"hahaha canda, gue balik deh. Serem banget auranya"


"iya, thanks ya lo udah urus semua kerjaan gue" Ling


"sering sering bikin pusing ye" Rico beranjak pulang, sedangkan Ling hanya tertawa.


Saat Ling akan mengantar Rico ke depan, Ling di tahan oleh Arlan. Arlan memeluk Ling dengan posesif.


"abang, sebentar saja" Ling


"dia tau pintu keluar sayang" kata Arlan


"udah sono dah kalian berdua, gue bisa sendiri" kata Rico


"sory ya Ric, agak rewel"


"kaya sama siapa aja lo, bye gue pulang"


"hati hati di jalan" kata Ling dan mendapat jempol dari Rico


Setelah kepergian Rico, Arlan mengajak Ling langsung masuk ke kamarnya. Ling langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap untuk tidur. Kalau bisa tidur 🤭. Arlan melihat Ling yang keluar dari kamar mandi, walaupun ia sudah sering melihat Ling dengan pakaian seperti ini, tapi kali ini rasanya beda. Ling hanya menggunakan sport br* dan juga celana hotpants longgar.


"abang kenapa?" tanya Ling yang menyadari Arlan memandangi nya


"kamu selalu pakai baju seperti ini kalau tidur?"

__ADS_1


"ya sering nya seperti ini bang, lebih nyaman aja aku." kata Ling dan Arlan mengangguk.


__ADS_2