
Ling melajukan mobilnya menuju ke rumah kakak nya. Ia ingin bertemu dengan Tia juga Asyla. Setelah memarkirkan mobilnya, Ling mengetuk pintu yang bercat putih itu.
"non Ling" sapa bibi di rumah kakaknya
"iya bi, kak Tia ada?" Ling
"ada di ruang tengah sama non Syla, silahkan masuk non"
"makasih bi" Ling menuju ruang tengah
"Kak Tia" panggil Ling saat melihat kakaknya sedang bermain dengan Asyla
"hay Ling, sini. Gimana pertemuan kamu? Dia ganteng gak? terpesona dengan kamu gak? Baik gak? ayo dong cerita, kakak penasaran banget ini" Kata Tia yang memang cerewet sekali kalau sudah akrab, dan mungkin ini juga yang membuat Yuda luluh. Walaupun cerewet tapi aslinya Tia seorang yang penyayang dan perhatian.
"ya ampun kak, duduk aja belum, minum kek, nafas dulu kek,"
"kamu kan masih bernafas, kalau minum nanti juga datang. Sekarang kamu ceritakan" Tia
"iya kak sabar" kata Ling dan mulai menceritakan pertemuannya dengan Arlan tadi.
"oh no, kamu di tolak? serius?" tanya Tia tak percaya
"iya, kesannya aku yang ngejar dia gak sih?" Ling
"enggak lah, kalau begitu kamu sabar dulu. Tunggu sampai dia menghubungi kamu, kalau tidak ya tunggu aja setelah kamu menikah dengan dia. Nanti kita susun lagi rencananya" kata Tia mengedipkan sebelah matanya.
.
.
.
.
Arlan yang sudah kembali ke kantor pun menghempaskan tubuhnya di kursi kebesarannya. Ia memejamkan matanya dan memikirkan apa yang terjadi tadi.
Gila, kenapa saya mengambil keputusan itu. Bukankah menikah itu akan terikat seumur hidup. Bagaimana bisa rumah tangga berjalan tanpa cinta. Apa sih yang ada di pikiranku tadi, perusahaan??? Perusahaan bisa bertahan dengan menikahi dia, tapi apa bisa saya dan dia bertahan. Ayo berfikir Arlan. Batin Arlan bergejolak
"Mas!!!" kata Nisa yang menghentakkan kakinya
Arlan yang kaget pun menoleh ke arah Nisa yang merajuk, bahkan ia tidak tahu kapan Nisa masuk.
Nisa, bagaimana jika Nisa tau dengan semua ini. Apa dia akan marah,? atau meninggalkan saya lagi? . Arlan
"Arlan" panggil Nisa lagi
Apa saya harus jujur dengan nya, tapi kalau tidak jujur bagaimana jika dia tau?
"mas Ar" Nisa melambaikan tangan nya di depan wajah Arlan yang memandangnya
"eh Nisa" kaget Arlan yang baru tersadar
"kamu lagi mikirin apa sih? dari tadi aku panggil malah bengong" Nisa
"enggak kok, ada apa?" tanya Arlan, karena biasanya Nisa akan menghampiri nya saat istirahat dan pulang kerja. Saat jam kerja Nisa akan ke ruangan Arlan saat ada perlu saja. Profesional sekali kan mereka, ya walaupun bahasa mereka bukan seperti atasan dan bawahan saat kerja berdua. Nisa adalah sekertaris pribadi Arlan dari tiga tahun yang lalu.
"ini sudah jam pulang kerja, kamu mau lembur?" Nisa
"pulang ya? em ya sudah ayo pulang" Arlan membereskan berkas di atas meja kerjanya.
__ADS_1
"Mas, kamu kenapa?" tanya Nisa yang mencegah tangan Arlan, kemudian ia sendiri yang melakukan itu.
"terimakasih" kata Arlan setelah mejanya kembali rapi
"kamu belum jawab pertanyaan aku" Nisa
"saya antar pulang, ayo"
Nisa tau kalau seperti ini, Arlan belum bisa cerita. Atau mungkin ia mencari tempat yang nyaman untuk berbicara. Dan akhirnya Nisa menyetujui di antar Arlan pulang. Di sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam, namun Arlan selalu menggenggam tangan Nisa. Setelah memarkirkan mobilnya di basemen apartemen, mereka menuju unit Nisa.
"diminum dulu" Nisa membuatkan kopi hitam kesukaan Arlan
"hhhmmm" Arlan menghirup aroma kopi yang baru di sedu itu. Aroma yang memenangkan bagi Arlan dan perlahan ia menyeruput kopi itu.
"Kamu pakai cincin mas?" tanya Nisa yang melihat cincin tunangannya dengan Ling
"sejak kapan?" tanyanya lagi tidak sabar
Arlan menaruh cangkir kopi nya dan beralih memeluk Nisa yang berada di sampingnya. Pelukan yang ia harapkan akan lebih menenangkan hati. Setelah beberapa saat, Arlan mengurai pelukannya dan memandang Nisa.
"kamu cinta sama saya?" tanya Arlan
"pertanyaan apa, tentu saja aku cinta sama kamu" Nisa
"kalau saya menikah?" tanya Arlan
"menikah? kamu mau ajak aku menikah?" tanya Nisa berbinar, memang ini yang di tunggu Nisa
"Nisa" panggil Arlan serius
"aku mau mas, mau banget" kata Nisa
"Nis, maafkan saya. Tapi saya menikah dengan gadis lain"
Nisa mencoba mencari kebohongan di mata Arlan, dan benar saja Arlan tidak berbohong. Dirinya sudah lama mengenal Arlan.
"gadis lain?" tanya Nisa
"saya di jodohkan, dan ini cincin tunangan saya" Arlan menyandarkan kepalanya di sofa dengan memejamkan mata. Tanda ia sedang tidak baik baik saja.
"kenapa Mas? apa kamu tidak mencintai aku?" Nisa
"saya mencintai kamu Nis, bahkan sampai detik ini pun perasaan saya ke kamu masih sama" Arlan menegakkan badannya dan memandang Nisa
"tapi kenapa kamu mau bertunangan?" tanya Nisa yang menahan air mata
"saya sudah menolak Nis, tapi semuanya sia sia. Dan minggu depan saya akan menikah"
Tidak mungkin saya mengatakan demi perusahaan, pasti Nisa akan berfikir dirinya tidak di cintai. Padahal ini semua pilihan yang sulit. Batin Arlan
"Minggu depan? siapa gadis itu?" tanya Nisa yang sudah tidak bisa menahan air matanya
"maafkan saya Nisa" hanya itu jawaban dari Arlan
"jawab aku mas, siapa gadis itu"
"namanya Arlinka," jawab Arlan menunduk
"kamu suka sama dia?" tanya Nisa
__ADS_1
"mana mungkin, saya dan dia baru bertemu tadi" Arlan kembali memandang Nisa
"mas, bagaimana dengan aku? Kenapa mas tidak pernah mengenalkan aku sebagai pacar mas di depan orang tua mu ?" Nisa tidak bisa memendam rasa marahnya, ia menangis sejadi jadinya
Melihat itu, Arlan langsung membawa Nisa kedalam pelukannya. Ia tau pasti akan seperti ini, tapi kalau tidak jujur dari sekarang bagaimana dengan kedepannya.
"kamu jahat mas, kamu akan meninggalkan aku kan? kamu jahat jahat jahat hiks hiks" Nisa memukul pelan dada Arlan.
Arlan hanya bungkam, ia mengelus punggung Nisa memberikan ketenangan. Membiarkan Nisa memukul dirinya, melampiaskan kemarahannya. Arlan sendiri masih bingung dengan keadaan ini. Haruskah ia mengakhiri hubungannya dengan Nisa? tapi apa bisa mereka berpisah dengan cara seperti ini?
"Nis, maafkan saya. Kamu tenang dulu ya" kata Arlan
"bagaimana aku bisa tenang mas, kamu mau menikah dengan orang lain. Apa kurangnya aku mas? Apa karena aku bukan keturunan orang kaya?"
"bukan begitu Nisa" kata Arlan
"lalu apa mas? kedatangan ku hanya di anggap sekertaris oleh orang tuamu. Bukan pacar" Nisa
"apa kamu tidak pernah bilang kalau aku pacar kamu mas? jadi orang tua mu memilihkan jodoh untuk mu?" tanya Nisa
"mereka tau kamu kekasih ku Nis" Arlan
"tapi kenapa kamu di jodohkan mas?"
"Nisa, saya juga tidak tau rencana mereka. Saya hanya diminta datang makan siang dan tunangan."
"kamu bohong mas"
"Percaya sama saya Nis, saya cinta sama kamu" Arlan
"cinta apa mas, kamu akan menikah dengan gadis lain. Kamu akan meninggalkan aku mas. Aku gak sanggup" Nisa kembali menangis pilu
Apa yang harus saya lakukan. Arlan
"beri saya waktu Nis, saya akan berusaha" Arlan
"kamu akan membatalkan pernikahan itu kan mas?" Nisa
"saya tidak bisa janji" Arlan
"kamu pulang aja mas, aku butuh waktu sendiri"
"tapi saya tidak bisa meninggalkan kamu seperti ini" Arlan memegang tangan Nisa
"aku tidak papa mas," Nisa membuang pandangannya dari Arlan.
Kenapa harus seperti ini sih mas, aku mau kamu memperjuangkan aku. Apa kurangnya aku di depan orang tuamu. Aku tidak rela kamu menikah dengan siapapun. Batin Nisa
"Nis" panggil Arlan lembut
"pulang mas, sudah petang juga."
"tidak Nisa"
"terus aku harus bagaimana mas? bukankah kita saling mencintai? aku pergi atau bertahan dengan sakit hati?" tanya Nisa yang membuat Arlan terdiam
"jawab mas" tuntut Nisa lagi
"Nis kamu sabar dulu, masih ada waktu satu minggu. Saya akan membicarakan ini dengan papa lagi"
__ADS_1
"kalau keputusan papa kamu tidak bisa di rubah?"
"doa kan saja"