
Beberapa hari sudah berlalu, Arlan dan Ling sudah semakin dekat. Arlan selalu menunjukkan bahwa ia tidak mau lepas dari Ling. Hari yang mereka lalui menjadi lebih indah tentunya.
Pagi ini Ling yang kembali tertidur setelah Arlan berangkat ke kantor, tiba tiba di kaget kan dengan suara pintu yang di ketuk begitu heboh.
"kenapa bibi seperti itu sih" gumam Ling beranjak dari tempat tidur nya
Setelah membuka pintu kamar, Ling melihat wajah panik Rico dan bibi yang tertunduk.
"ada apa sih, gue yakin elo yang ketuk pintu" kata Ling pada Rico
"astaga naga buaya kingkong jerapah dan gajah" Rico
"langsung pada intinya, di sini bukan kebun binatang." Ling
"maaf non, tadi tuan Rica yang meminta di antar ke sini" bibi
"apa panggil tuan Rica...? aduh bi......yang benar saja" Rico
"em mak.... maksud saya tuan apa nona?" bibi menggaruk kepalanya bingung
"sudah bi gak masalah, ada apa lo kesini?" Ling
"gue lupa, maaf banget baby. Siang ini kita harus terbang ke Lombok" Rico
"ngapain?" Ling
"ya manggung lah, masa jualan cendol"
"kok gue gak tau jadwal hari ini"
"kan udah gue bilang, gue lupa. Sekarang buruan lo mandi, dua jam lagi kita terbang"
"jangan gila lo"
"Arlinka kita tidak punya waktu berdebat. Gue siapin keperluan lo dulu. Lo mandi dan siap-siap, bisa kan?"
"gak"
"astaga, bi tolong buatkan sarapan untuk nona muda ini. Kita harus gerak cepat" Rico
"baik tuan" bibi segera pergi menyiapkan sarapan untuk Ling, walaupun tadi Ling juga sudah makan roti sepotong sebelum tidur.
"ini gue mimpi apa gimana sih" Ling
"ayolah Ling, waktunya udah mepet banget. Ini Leo sudah neror gue mulu" Rico memperlihatkan ponselnya yang berdering karena panggilan dari Leo
"gue masih bingung"
"nanti aja, lo mandi sekarang.!"
"ck, apa apaan sih ini" Gerutu Ling sambil berjalan ke kamar mandi
Ling bersiap siap untuk pergi, dari tadi ia mencoba menghubungi Arlan namun ponselnya mati. Ia tau Arlan sedang meeting, karena tadi ia sangat buru buru. Tapi apa harus ia mematikan ponsel? memikirkan itu membuat Ling kesal. Apalagi Rico yang selalu membuatnya pusing.
"udah ayo cus, kalau gak mau makan. Nanti kita cari makan di bandara, udah mepet banget ini" Rico
"Sekali lagi lo lupa jadwal, gue pecat lo" Ling
"yey di bilangin lupa ya maaf, itu juga gegara kerjaan gue yang numpuk. Elo malah enak enakan berdua duan sama suami" Rico
"gue kan bebas"
"ck, besok lo cari satu orang lagi buat bantu gue"
"ya elo yang cari, gue yang bayar."
"kita pikirkan besok," Rico berjalan ke arah mobil, tidak lama Ling menyusul Rico.
Sebelum pergi Ling sempat menitip pesan kepada bibi, karena pasti nanti suaminya yang sekarang berubah posesif itu akan mencari Ling. Walau sebenarnya Ling sudah mengirimkan pesan singkat ke ponsel Arlan.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
Sedangkan Arlan sedang meeting di sebuah hotel bersama Yoga. Klien nya kali ini datang jauh jauh dari Korea, dan nanti malam sudah akan kembali ke Korea. Maka dari itu, mereka memajukan jadwal meeting yang seharusnya dilakukan besok pagi. Setelah berdiskusi beberapa jam lamanya, akhirnya mereka selesai meeting. Arlan segera meninggalkan hotel itu bersama Yoga.
"ahst sial pakai mati segala" gerutu Arlan
"ada apa sih," Yoga
"ponsel gue mati, gue kan butuh menghubungi istri"
"ck istri lo belum tentu mau lo hubungi Ar Ar" Yoga
"tutup mulut lo,! ini gara gara lo. Meeting mendadak,"
"ya bukan gue lah, salahin aja mr.Lee"
"mana bisa, beliau sumber kekayaanku selanjutnya"
"ya udah beli ponsel baru yang banyak, jadi kalau mati satu tinggal ganti yang lain"
"lambemu (mulutmu)" Arlan
"hahaha" Yoga tertawa mendengar umpatan Arlan.
Mereka segera kembali ke kantor, karena memang masih ada pekerjaan di kantor. Sesampainya di kantor, Arlan langsung masuk ke ruangannya di ikuti Yoga.
"cas hp dong" Arlan
"ah payah" Arlan mengobrak abrik laci meja
"permisi pak" Nisa
"carikan saya charger ponsel, sekarang juga" Kata Arlan pada Nisa
"baik pak" Nisa kembali keluar menuju mejanya, ia mengambil charger miliknya dan memberikan kepada Arlan.
"terimakasih, ada apa?" tanya Arlan setelah berhasil mencharger ponselnya
"saya mau memberi tahu pak, besok kita ada undangan pertemuan para pebisnis." Nisa menyerahkan sebuah amplop untuk Arlan
"kenapa mendadak sekali" Arlan
"saya kurang tau pak"
"kalian berdua saja yang berangkat" Kata Arlan
"gak bisa dong Ar, selain undangan itu kita juga ada pertemuan dengan pengusaha asal cina besok siang" Yoga
"kenapa semua mendadak?"
"mungkin beliau juga mendapat undangan itu, jadi pertemuan nya di majukan" Yoga
"ck, jam berapa kita berangkat?" Arlan
"jam sembilan kita terbang pak" Nisa
"atur semua nya, bikin pusing saja" Arlan
"ajak bini lo sekalian honeymoon, biar gak marah marah mulu" Yoga
__ADS_1
"good Ide" Arlan tersenyum
Nisa hanya terdiam saat mendengar ucapan Yoga dan juga Arlan. Masih ada rasa cemburu di hati Nisa, tapi mau bagaimana lagi, Arlan sekarang benar benar memperlakukan Nisa selayaknya sekretaris.
"Nisa, masih ada yang mau kamu sampaikan?" Arlan
"ah enggak pak, saya permisi" Nisa berbalik dan segera keluar dari ruangan Arlan
Semua benar benar sudah berakhir mas, kamu sepertinya sudah mencintai istrimu. Dengan cara apa lagi aku harus kembali merebut perhatian kamu mas. Nisa menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes.
Arlan yang disibukkan dengan pekerjaan pun tidak menyadari bahwa hari sudah mulai sore. Ia mengaktifkan ponselnya, banyak sekali panggilan masuk dari Ling dan ada juga beberapa pesan. Saat Arlan akan membuka pesan dari Ling ternyata ponselnya kembali mati.
"ini kenapa sih, kan udah di cas" gerutu Arlan
Sampai di coba beberapa kali ternyata ponsel Arlan memang tidak bisa dihidupkan lagi. Ia buru buru keluar ruangan.
" Yoga.... Ga" teriak Arlan
"apa sih" Yoga baru keluar ruangan dengan tas kerja di tangannya
"belikan gue hp baru"
"ini jam berapa Ar, nanti kan lo bisa beli sendiri"
"gue gak mau ribet, hp gue mati, gue belum sempat menghubungi Arlinka"
"ck, lo tinggal pulang ketemu Ling. Kenapa harus pusing beli hp sih, nanti gue beliin sekalian pulang"
"iya juga, gue tunggu hpnya nanti" Arlan berjalan menuju Lift tanpa mendengar umpatan Yoga
Arlan mengendarai mobil dengan cepat, ia ingin segera bertemu dengan Ling. Rasanya sudah kangen seharian tidak mendengar kabar dari nya. Sesampainya di rumah, Arlan segera mencari Ling, ingin sekali memeluk Ling dengan erat.
"Arlinka......Arlinka" Arlan
"tuan sudah pulang?" bibi
"Arlinka mana bi?"
"non Ling kan keluar kota tuan, katanya ada kerjaan di sana"
"apa..!!"
"tadi non Ling menghubungi tuan katanya tidak aktif,"
"ke mana Ling bi?"
"ke Lombok tuan"
"hah...??" Arlan menuju ke telepon rumah, ia ingin menghubungi Ling
Setelah mencoba beberapa kali, panggilan nya tidak tersambung. Arlan di buat semakin bingung, antara panik dan juga kesal.
"astaga Arlinka, kamu dimana" gumam Arlan yang terlihat kacau
"tuan, ini minum dulu" Bibi membawakan teh hangat untuk Arlan
"bibi yakin kalau Ling kerja?" tanya Arlan setelah menyeruput teh
"tadi tuan Rica kesini, dia meminta non Ling untuk segera siap siap ke bandara tuan. Non Ling juga tidak tau kalau hari ini ada jadwal keluar kota, soalnya tadi kata tuan Rica dia lupa"
"apa apaan sih, bi tolong hubungi Ling sekarang. Ponsel saya mati"
Bibi melakukan apa yang tuannya inginkan, namun hasilnya sama, Ling tidak bisa dihubungi. Tidak mungkin kalau Ling belum leading, ini sudah petang sedangkan Ling berangkat jam sepuluh pagi.
"coba hubungi Rica" Arlan
"saya tidak punya nomor nya tuan"
"ck, saya takut Ling akan meninggalkan saya bi" kata Arlan berubah sendu
__ADS_1
"tuan tenang dulu, nanti kalau non Ling menghubungi saya, saya akan beritahu tuan"
"makasih bi"