
Tiga hari ini Ling habiskan tinggal di Bali bersama Arlan. Mereka berdua sama-sama tidak memikirkan pekerjaan masing-masing. Arlan terlihat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama Ling, rasanya ia belum pernah merasakan ini sebelum nya. Ia tau di depan sana pasti akan ada halangan dan rintangan yang akan menerpa rumah tangganya. Tapi Arlan janji sebisa mungkin ia akan selalu melindungi Ling dan menjaga keutuhan rumah tangganya.
Sedangkan Ling, ia juga merasa bahagia karena perlakuan Arlan yang berbeda. Ia seperti di ratu kan oleh Arlan, dan semoga tidak hanya saat ini saja, sampai nanti Arlan akan seperti ini. Mungkin sebentar lagi ia akan pensiun dari pekerjaan yang sangat ia sukai, itu semua demi rumah tangganya, ia pasti akan miliki tanggung jawab yang lebih dari sebelumnya.
"Yang, dua hari lagi ya?" kata Arlan yang melihat Ling berkemas
"gak bisa bang, ada kerjaan yang harus kita lakukan. Nanti malam aku harus manggung"
"aku gak mau ditinggal Arlinka, apalagi malam"
"bang, tolong ngertiin pekerjaan aku. Aku gak bisa cancel gitu aja"
"aku kan udah pernah bilang jangan ambil job"
"aku butuh waktu bang kemarin, mulai besok akan aku pikirkan"
"kamu janji?"
"iya aku janji, abang siap siap kita segera ke Bandara"
"satu kali aja sayang"
"gak bisa bang, aku harus tetap datang ke sana. Honornya udah masuk"
"ih bukan itu" kata Arlan terlihat kesal
"maksudnya apa sih bang?" Ling menghentikan aktivitasnya dan melihat Arlan yang merajuk.
"aku mau kamu" gumam Arlan
"bang, mana mungkin? ini udah mepet waktunya. Besok aja ya?" bujuk Ling
"ck, besok itu lama"
"enggak bang, orang tiga puluh tahun aja Abang bisa tahan, masa sehari gak bisa"
"enak aja tiga puluh, aku baru dua puluh delapan ya Arlinka. Lagian dulu aku kan belum pernah ngerasain, di tambah belum ada partnernya. Kalau sekarang udah ada kamu dan tau enaknya jadi gak bisa tahan."
"tahan sehari gak akan ada masalah bang, udah buruan"
"sekali dulu"
"ayolah bang, dua jam lagi kita udah harus di pesawat"
"sebentar sayang"
"aku gak yakin kalau sebentar, besok sepuasnya boleh. Jangan sekarang"
"kamu sini dulu deh, jangan debat terus. Kita tidak sedang mencalonkan diri sebagai *****." Arlan menghampiri Ling yang sibuk dengan kopernya, ia membawa Ling ke tempat tidur
"abang aku belum selesai packing nya." gerutu Ling
"gak baik tau nolak suami"
"aku gak nolak abang, tapi hanya menunda"
"tapi kamu lihat, dia gak mau di tunda" Arlan menunjuk ke arah tubuhnya
"Astaga, kenapa tidak di kasih tau sih, kita harus buru buru"
"kalau kita tawar menawar lagi waktunya semakin lama sayang, jadi lebih baik kamu bantu aku membuka ini" Arlan memegang baju Ling yang berbentuk jumpsuit.
"abang" kata Ling memohon.
__ADS_1
"no no, pokoknya sekali dulu. Atau kita tidak akan pulang hari ini" kata Arlan tetap tidak ingin kalah
"hhhhmm oke baiklah sekali, tidak lebih dari setengah jam" Ling membuka kancing bajunya satu persatu
"I like this, besok besok jangan pernah pakai model baju seperti ini kalau sama aku"
"silahkan bayi besar ku," kata Ling sambil membuka makanan kesukaan bayi agar suaminya itu diam dan segera menyelesaikan keinginan nya.
"akan aku percepat, terimakasih sayang" terlihat Arlan sangat antusias dengan semua itu dan segera melakukan apa yang ia inginkan.
.
.
.
.
.
Didalam pesawat, Ling hanya tertidur dengan pulas. Rasanya lelah sekali beberapa hari ini, niatnya liburan bagi Arlan tapi pekerjaan yang sagat menguras tenaga untuk Ling. Tapi tidak apa ia iklhas dengan semua itu, karena sudah menjadi kewajiban Ling.
Aku benar-benar tidak menyangka akan sejauh ini dengan kamu Ling. Semoga kedepannya akan lebih baik. Maaf ya sayang sudah buat kamu capek, jangan bosan bosan dengan permintaan ku yang satu ini. Karena pasti aku akan sering memintanya darimu. Arlan tersenyum dan membenarkan rambut Ling yang menutup wajahnya.
Setelah landing Arlan membangunkan Ling, sebenarnya ia tidak tega harus membangunkan Ling tapi mau bagaimana lagi.
"kamu kuat jalan? atau kita ke toilet dulu?" tawar Arlan
"aku ke toilet dulu aja bang,"
"ya sudah ayo"
Saat Ling berada di toilet, Arlan menunggu di sebuah kursi besi. Ia sibuk dengan ponselnya, bahkan ia tidak sadar kalau ada yang sedang memperhatikan dirinya.
"abang" panggil Ling saat sudah berada di samping Arlan
"sudah? kita makan dulu ya?" Arlan
"iya bang" Ling mengalungkan tangannya di lengan Arlan, mereka berjalan menuju mobil yang sudah menjemput mereka.
Saat sampai di depan bandara Ling melihat orang yang tidak asing baginya. Cinta pertamanya dan akan selalu ada di dalam hatinya.
"PAPI" panggil Ling saat melihat papi Anggara bersama bu Dyah
"Ling?" Papi
Ling menarik Arlan untuk mendekati papinya. Sepertinya Papi juga baru pulang dari tugas di luar negri.
"papi, aku kangen banget sama papi. Papi apa kabar?" Ling memeluk erat sang Papi
"baik, papi juga kangen sama kalian. Kalian dari mana?" Papi
"kita habis honeymoon Pi" jawab Arlan
"abang ih, kita dari Bali kok pi, kemarin ada urusan disana" Ling
"hahaha honeymoon juga gak papa Ling, Papi seneng lihat kalian semakin dekat." Papi
"kalian mau pulang?" tanya bu Dyah
"iya bu, tapi mau mampir makan dulu. Papi sama bu Dyah ikut ya?" Ling
"gimana mas?" tanya bu Dyah
__ADS_1
"gak masalah, ayo dimana tempatnya?" Papi
"kita langsung ke sana aja pi, biar nanti supir papi mengikuti mobil kita" Arlan
"oke" Papi
Setelah menikmati makan siang yang kesorean, Ling dan Arlan segera pulang, begitu juga dengan sang Papi dan Bu Dyah. Sampai di rumah, Ling di sambut hangat oleh mertuanya. Melepaskan kangen dari beberapa hari tidak bertemu.
"kalian udah makan belum? biar di siapin bibi" mama
"udah kok ma, tadi sama papi." Ling
"papi kamu?"
"iya ma tadi ketemu di bandara"
"ya sudah kalau gitu kalian istirahat dulu aja. Nanti kita makan malam bersama" Mama
"iya ma,"
Ling dan Arlan segera menuju ke kamarnya, Ling ingin segera berendam air hangat untuk melepaskan lelah. Tanpa basa basi Ling langsung ke kamar mandi setelah sampai kamar. Rencananya berjalan lancar, mandi tanpa ada pengganggu. Saat Ling keluar kamar, terlihat Arlan sedang tidur dengan posisi tengkurap.
"aku kira tenaga abang bagai kuda, punya capek juga ternyata. Tidur nyenyak ya bang " gumam Ling dan melepaskan sepatu Arlan yang masih di kenakan.
Kedua mertuanya sudah berada di meja makan, Ling turun seorang diri. Ling sudah merias wajah dengan natural, karena setelah ini ia harus berangkat kerja.
"Arlan mana Ling?" tanya papa
"masih tidur pa, sepertinya capek, tadi Ling bangunkan belum mau" Ling
"memang anak itu kalau capek susah di bangunkan. Kamu yang sabar ya Ling menghadapi Arlan" mama
"iya ma Ling akan berusaha" Ling
"kamu mau ke club Ling?" papa
"iya pa, tapi di club Honey"
"lumayan jauh juga," Papa
"memangnya papa tau?" mama
"ya tau lah, dari sini bisa satu jam perjalanan. Disana juga rame pengunjung, banyak pengusaha yang ke sana." papa
"papa sering ke sana?" sindir mama
"pernah tapi tidak sering, itu kan waktu muda ma." elak papa
"bohong banget" Mama
"ma, udang gorengnya enak siapa yang masak?" papa mencoba mengalihkan pembicaraan
"ya bibi lah, mama kan dari tadi sama papa" jawab mama jutek
"ma, ada tas keluaran baru loh. Mama harus punya, di Indonesia hanya ada tiga loh ma" kata Ling
"oh ya? boleh dong mama lihat fotonya"
"nanti Ling kasih lihat, mama pasti suka. Papa juga tau kok" Ling
"ukhuk" papa tersedak mendengar itu
Menantuku ini bisa saja membuat aku rugi. Sudah di pastikan aku yang akan membayarnya. Batin papa
__ADS_1