Abang CEO

Abang CEO
Mencari alasan


__ADS_3

Malam ini setelah makan malam, Arlan baru terlihat memasuki rumahnya. Arlan berjalan dengan gontai menuju kamarnya. Sebenarnya ia enggan meninggalkan Nisa yang tadi masih menangis, tapi mau bagaimana lagi Arlan harus pulang.


"Ar, kamu habis lembur?" tanya mama yang baru kembali dari dapur.


"enggak ma, papa mana?" Arlan


"di ruangan nya" mama


"Arlan mandi dulu ma, ada yang mau aku bicara sama papa"


"mau makan dulu?" tawar mama


"nanti aja ma"


"oke kalau gitu" Mama


Arlan segera menaiki anak tangga menuju ke kamarnya. Arlan membersihkan tubuhnya dan keluar dengan pakaian rumahan. Ia terlihat lebih segar daripada tadi, tapi hatinya masih bimbang. Arlan menuruni tangga untuk menuju ruangan papanya.


tok tok tok


"masuk" suara papa dari dalam


"malam pa," sapa Arlan


"duduk Ar, ada apa?" Papa


"pa, apa bisa pertunangan ini di batalkan? aku tidak bisa pa" Arlan


"kenapa?" tanya papa yang masih sibuk dengan berkas di depannya


"ya aku tidak cinta dia pa, belum mengenal juga"


"kamu bisa mengenal Ling setelah menikah"


"tapi apa bisa tanpa cinta pa,?"


"bisa, kamu harus berusaha mencintai Ling. Lupakan pacar kamu itu"


"mana bisa pa, dan aku mau menikah dengan Nisa. Bukan Ling"


"tidak bisa Ar, kamu jangan bodoh"


"kenapa sih pa? Nisa orang baik"


"apa yang kamu lihat belum tentu kebenarannya Arlan, kamu sudah di buta kan cinta kamu itu"


"papa juga belum tau kebenaran tentang Nisa, kenapa papa menilai seperti itu"


"Arlan, mama tau Ling lebih baik daripada Nisa kamu itu. Mama yang mempunyai firasat" kata mama yang baru masuk


"beri Arlan alasan yang pasti pa, ma. Jangan seperti ini"


"kamu sudah dewasa Ar, kenapa tidak kamu selidiki dulu" papa


"apa yang harus di selidiki sih pa, semua baik baik saja" Arlan


"sudahlah Ar, pokoknya pernikahan kamu dan Ling tetap berjalan minggu depan. Papa tidak ingin sampai batal" tegas papa


"gak bisa pa"


"Arlan, kenapa kamu tidak mau menuruti mama? mama hanya mau yang terbaik buat kamu, mama tidak ingin kamu menyesal nantinya" mama


"kenapa tidak ada jawaban yang pasti, alasan apa yang mengharuskan Arlan menikah dengan Arlinka" Arlan


"kami sudah menganggap Ling anak sendiri, dan mami Ling menitipkan Ling pada kita juga" Mama

__ADS_1


"tidak harus menikah kan ma?" Arlan


"harus Arlan, tolong kali ini saja kamu nurut sama kami" Mama meneteskan air mata


"tapi kan menikah itu terikat ma, bagaimana kalau tidak ada cinta?" Arlan berubah lembut karena melihat mama nya menangis


"kamu buka hati buat Ling, kalian berusaha agar cinta bisa tumbuh" Mama


"Arlan, jangan meminta papa mama membatalkan pernikahan ini. Pokoknya kamu harus menikah dengan Ling, dan segera tinggalkan pacarmu itu." papa


"benar kata papa, tidak mungkin kamu menikah dengan Ling tapi masih memiliki kekasih. Kasihan Ling" Mama


"Arlan kembali ke kamar ma, pa" Arlan beranjak dari tempat duduknya


"pikirkan itu baik baik Ar" Papa


.


.


.


.


Sedangkan di sebuah club malam yang terkenal di kota ini, Ling menyandarkan tubuhnya di sebuah sofa. Dirinya baru datang, dan rasanya malas sekali kalau bekerja.


"Hey you, ngapain enak enakan di sini" kata Rico.


Rico adalah asisten pribadi Ling, tampilan Rico bisa di bilang tidak seperti cowok maco. Dirinya sering berdandan seperti cewek, memang Rico terlihat gemulai. Ling selalu memanggil nya Rica, dan Rico pun tidak keberatan dengan hal itu, dia malah senang.


"gue gak mood" Ling


"sejak kapan lo gak ada semangat nya. Gue heran deh kok you bisa nolak acara minggu depan. Kan mehong honor nya" Rico


"ada acara keluarga"


"iya, udah duit bisa di cari lagi." Ling


"Untung yang punya acara mendadak ngomongnya, kalau udah di boking dari dulu bisa rugi you bayar pinalti"


"gue pusing Ric"


"kenapa sih?"


"dengerin ocehan lo" Ling


"gue di tuntut angsuran ya, kalau you kan enggak" Rico


"terlalu banyak angsuran lo, kurang kurangin deh tuh cicilan"


"pengen punya rumah gedongan, sawah berhektar-hektar"


"sekalian beli pesawat"


"nah itu, kalau perlu gue buat bandara sendiri"


"gelo" Ling beranjak dari duduknya menuju ke atas panggung


"gue suka kalau seperti ini" Rico


Ling yang sudah naik di atas panggung membuat semua orang histeris. Teriakan semangat dari para pengunjung bar pun mulai terdengar. Ling mendekati dj Daniel yang sedang main di sampingnya. Tepukan di pundak Daniel membuatnya paham. Daniel menyerahkan headphone kepada Ling dan bergeser dari depan dj set.


"masih semangat semua?" kata Daniel dengan mikrofon


"Lanjut" teriak beberapa orang

__ADS_1


"oke, ladies and gentleman are you ready......??????" Daniel


"READY"


Setelah itu Ling siap memainkan musik yang terdengar begitu menggugah semangat. Suara terompet pemersatu bangsa pun sudah mulai terdengar, banyak dari pengunjung yang berjoget juga meloncat di tempat. Suasana meriah dan membuat orang lupa akan suatu masalah.


Entah kenapa saat seperti ini membuatku melupakan semuanya. Hanya happy yang gue rasakan. Batin Ling


"Gila, gue kaya terhipnotis saat dia yang main" gumam Yoga seorang pengunjung


Dan setelah itu Yoga ikut bergabung dengan yang lainnya untuk berjoget. Sudah beberapa kali Yoga mendekati Ling, tapi Ling selalu menghindar jika menurutnya tidak penting. Ling termasuk ramah dengan para fansnya, tapi untuk urusan lain ia akan menutup diri.


Sudah hampir empat puluh lima menit Ling main di atas panggung, dan ia memutuskan untuk menyudahinya. Ada raut kekecewaan di wajah pengunjung yang sedang menikmati, namun memang Ling hanya main sebentar dan sesuka hatinya. Karena memang ini adalah club malam milik Ling, dia memberi nama D'L club.


"oke everybody, enjoy the party with dj Daniel" kata Ling dan melambaikan tangannya


"minum bro" kata Ling yang duduk di meja mini bar.


"hay" sapa Yoga pada Ling dan di jawab dengan senyuman


"satu gelas soda tanpa alkohol" kata bartender yang sudah hafal dengan Ling


"kenapa tanpa alkohol?" tanya Yoga


"gue tidak bisa minum alkohol" Ling


"hhmm menjadi Dj tapi tidak minum alkohol. Saya salut sama kamu," kata Yoga


"bro kaya biasa ya" kata Yoga pada bartender


"siap," kata bro bartender


"saya fans berat kamu loh" Yoga


"terimakasih" jawab Ling dengan sedikit senyum


"bisa kita makan siang bersama?" Yoga


"maaf tuan, saya permisi dulu. Ada yang harus saya selesaikan" kata Ling yang turun dari kursinya


"tunggu" Yoga menahan lengan Ling


"lepaskan tangan anda tuan" suara berat dari pak Tom salah seorang bodyguard Ling


"maaf" Yoga mengangkat tangan yang memegang Ling


Setelah itu Ling berjalan menuju ke tempat dimana ia biasa memantau keadaan club. Ling di kawal oleh dua orang bodyguard saat ia ke club, atau saat ada job Dj di manapun. Itu semua adalah permintaan papinya, Ling hanya menurut saja daripada ia harus pensiun dini 🤭.


"dapat kenalan lo?' tanya Rico yang sedang sibuk dengan tablet nya.


"enggak" jawab Ling cuek


"cari pacar Ling, biar gak jomblo terus"


"lo sendiri juga jomblo"


"gue karir dulu" Rico


"gue nikah dulu" Ling


"nikah,? pacaran aja gak pernah"


"liat aja besok"


Setelah itu mereka hanyut dalam pekerjaan masing-masing, karena memang Rico juga mengurus club D'L milik Ling. Pukul dua pagi Ling memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah ia segera membersihkan diri dan segera merebahkan diri di kasur.

__ADS_1


"apa setelah menikah gue masih bisa kerja seperti ini? kira kira Arlan tau gak ya gue seorang Dj? tapi kata om Delon Arlan tidak pernah pergi ke club. Gue juga belum pernah lihat sih" gumam Ling


"ah pusing, pikir besok aja deh, biarin mau tau apa enggak. Yang penting om Delon dan tante Erni udah tau dan mau menerima gue. Gue tinggal usaha aja biar Arlan cinta ke gue dan tinggalin pacarnya." kata Ling lagi.


__ADS_2