
Hari ini pekerjaan Arlan bisa di katakan menumpuk. Kemarin sehabis meeting dengan klien, Arlan disibukkan dengan permintaan desain jaket baru. Arlan memiliki perusahaan di bidang pakaian. Ia memiliki brand yang sudah terkenal di dalam dan di luar negeri. Bahkan kebanyakan barangnya di eksport ke luar negeri. Jadi tidak heran jika ia memiliki pabrik di beberapa kota, dan karyawan nya beberapa ribu orang.
Sudah dua pabrik Arlan mengalami sepi orderan, bahkan karyawannya banyak yang mengundurkan diri. Entah apa yang membuat perusahaan Arlan kehilangan kepercayaan dari klien. Dan kini beberapa cabangnya pun mengalami hal yang sama penurunan orderan.
drt drt
Dering ponsel Arlan mengalihkan pandangannya dari laptop. Dilihatnya nama "Mama" di layar ponselnya. Dengan segera Arlan menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"halo ma" kata Arlan
📞
Ar, kamu ke rumah Ling sekarang ya? jemput dia
"mau ngapain ma?"
📞
Pernikahan kamu kan tinggal beberapa hari lagi, kamu datang ke makam maminya Ling ya.
"tapi Arlan banyak kerjaan ma"
📞
Mama tidak menerima penolakan ya Ar, pokoknya sekarang juga kamu harus jemput Ling
"Arlan lupa rumahnya ma"
📞
Jangan banyak alasan, siapa yang tidak tau rumah keluarga Anggara. Pergi sekarang atau mama ke kantor buat jemput kamu
"Arlan berangkat sekarang ma"
📞
Bagus, jangan lupa kirim foto kalian berdua. Biar mama percaya
"Ma..,,,"
📞
*Ingat Ar, tidak ada penolakan
Tut*
Mama menutup sambungan telepon secara sepihak.
"mama apa apaan sih, aku kan banyak kerjaan." kata Arlan yang menutup laptop nya dan menyambar Jas juga kunci mobil. Saat keluar ruangan Arlan terlihat buru buru, namun ia sempatkan berhenti di depan meja Nisa.
"Nisa, saya keluar sebentar, nanti kalau Yoga sudah kembali suruh dia lanjutkan pekerjaan saya di map biru" Arlan
"iya pak" kata Nisa dengan sedikit senyum. Sejujurnya ia ingin menanyakan mau kemana Arlan pergi, tapi ia urungkan melihat wajah Arlan yang terlihat serius
Apa urusan pekerjaan, tapi kok aku gak tau jadwalnya. Mau kemana sih, aku kirim pesan gak ya?. Batin Nisa
Arlan buru buru menuju lift dan segera melajukan mobilnya. Sebenarnya sekarang pikiran nya sedang tertuju pada Nisa. Harus bagaimana dirinya dan Nisa nantinya. Kalau ia mementingkan perasaannya, ingin sekali Arlan pergi jauh dari sini. Tapi bagaimana dengan perusahaan dan orang tuanya yang menanggung malu.
Arlan berhenti di depan gerbang yang tertutup itu. Dan dari dalam terlihat satpam yang menghampiri mobil Arlan.
"Selamat pagi pak, mau bertemu dengan siapa?" tanya satpam itu
"Saya Arlan, mau bertemu Arlinka"
"sudah buat janji?"
__ADS_1
"belum, tapi sepertinya mama saya sudah menghubungi Arlinka." Arlan
"saya bukakan gerbangnya dulu pak, silahkan" kata satpam itu
Setelah memarkirkan mobilnya, Arlan berjalan menuju pintu utama. Rumah ini tidak kalah mewah dari rumah orang tuanya. Bagaimana tidak mewah, kalau bapak Anggara adalah pemilik bisnis Franchise Retail dan juga Franchise logistik yang terkenal di sini. Bahkan di luar negeri pun sudah ada beberapa minimarket keluarga Anggara.
Tok tok tok
"Nak Arlan" sapa bu Dyah yang kebetulan membukakan pintu
"iya tante, Arlinka ada?" tanya Arlan
"Ada, mari silahkan masuk. Ling mungkin masih tidur, biar tante panggil kan. Kamu duduk sini dulu ya"
"iya tante terimakasih"
Masih tidur? bahkan ini sudah jam sebelas. Gadis malas. kata Arlan dalam hati
Sesampainya bu Dyah di depan kamar Ling, ternyata memang benar Ling masih tidur.
"iya bu?" tanya Ling dengan muka bantalnya
"di bawah ada nak Arlan Ling"
"hah? Ling masih mimpi bu?" Ling menepuk pipinya sendiri
"kamu gak mimpi, segera mandi dan temui dia." Bu Dyah mengelus lengan Ling
"i....iya bu" Ling pun segera mandi dan menuju ke bawah.
Disana terlihat Arlan sibuk dengan tabletnya. Ling mendekat dan duduk di sofa single samping Arlan
"selamat pagi Pak Arlan" sapa Ling karena Arlan tidak meliriknya tadi
"oke selamat siang kalau begitu, kok pak Arlan datang kesini?"
"memangnya saya tidak boleh datang ke sini?"
"bukan seperti itu, oh aku tau. Pasti bapak kangen sama aku kan?" tanya Ling
"percaya diri sekali, saya kesini karena di suruh mama buat jemput kamu"
"ah kita mau jalan jalan pak?"
"jangan panggil saya bapak, harus berapa kali saya memberitahu kamu" kata Arlan yang memang tidak suka
"oh maaf, tuan" Ling
"jangan pancing emosi saya, cepat ganti baju dan ikut saya" Saat ini Ling hanya menggunakan kaos dan juga rok sebatas lutut.
"ganti baju apa? gaun? bikini? baju hangout? atau setelan formal?"
"terserah kamu, kita ke makam mama kamu" kata Arlan, dan membuat Ling terdiam sejenak
"tunggu sebentar" kata Ling yang berubah menjadi serius, tidak seperti tadi yang terlihat seperti menjahili Arlan.
Didalam mobil Arlan dan Ling hanya diam, setelah Ling memberi tau di mana makam maminya berada.
"tuan tidak kerja?" tanya Ling memecah keheningan
"jangan panggil saya tuan, bisa tidak sih kamu memanggil saya dengan benar" Arlan
"maunya di panggil apa? Arlan?"
"ya apa yang lebih pantas"
__ADS_1
"ah masa sayang, honey atau baby?. Kan gak kamu banget 😁" kata Ling
"saya sebentar lagi jadi suami kamu. Jangan mendebat kan masalah ini lagi "
"kalau gitu mas" Ling
Mas? panggilan dari Nisa yang selalu membuat saya teringat padanya. Kenapa aneh sekali jika Arlinka yang mengatakan. Batin Arlan
"kenapa diam, jadi mau dipanggil mas?"
"saya bukan mas tukang ojol, jangan panggil saya mas"
"ah ribet banget sih. Kalau gitu abang aja udah" Ling
"Abang? memangnya saya abang tukang bakso" Arlan sedikit cemberut yang menurut Ling sangat lucu
"abang tukang gombal"
"saya tidak menggombal ya" Arlan
"maksudnya gombal itu bahasa jawanya baju, abang punya brand baju kan?"
"entah lah pusing saya, turun sudah sampai"
Arlan pun turun di susul oleh Ling, mereka menuju ke stand yang menjual bunga. Ling memilih bunga mawar, air mawar dan juga satu buket bunga lily.
"pakai ini saja" Arlan menyodorkan dua lembar berwarna merah itu, saat melihat Ling membuka tasnya.
"terimakasih" kata Ling
Kemudian mereka menuju ke pusara mami Ling. Pusara yang bertuliskan "Jesika" itu adalah mami Ling. Terhitung sudah hampir delapan tahun maminya meninggalkan mereka. Ling bersimpuh di samping makam maminya, mengusap batu nisan dengan perlahan. Ling dan Arlan membuka kacamata hitam yang mereka kenakan.
"Mi, Ling datang." ucap Ling kemudian berdiam dan mendoakan maminya dalam hati. Begitu juga dengan Arlan.
"mami, Ling tidak sendiri kesini nya. Mami tau abang Arlan kan? anak tante Erni. Abang Arlan akan menjadi suami Ling beberapa hari lagi mi." kata Ling yang suaranya berubah menjadi berat
"Ling kangen sama mami, hiks" Ling mulai menangis mengingat mendiang maminya
Arlan hanya diam, dia memperhatikan Ling yang sedang sesenggukan. Entah kenapa hatinya menjadi sedih saat melihat Ling seperti itu.
"Ling percaya mami pasti sudah bahagia di surga, doakan Ling juga bahagia dengan abang ya mi." Ling menunduk dalam menyembunyikan tangis pilunya
"tante, saya akan jaga Ling dan membahagiakan Ling" kata Arlan merangkul Ling.
Entah keberanian dari mana Arlan menyentuh dan mengatakan itu. Ling terdiam sejenak dan melihat ke arah Arlan
"terimakasih bang, andai mami masih ada. Pasti aku akan sangat bahagia" kata Ling
"semua sudah ada di takdir, sekarang kita jalani yang ada" kata Arlan dan Ling mengangguk
"mami, Ling dan abang pulang dulu ya" kata Ling dan meletakkan bunga Lily di atas pusara maminya.
Setelah itu Ling dan Arlan meninggalkan tempat itu dan menuju ke mobil. Arlan menepikan mobilnya di sebuah restoran, ia mengajak Ling turun.
"makan siang dulu, kamu belum makan kan?"
"belum pak"
"Arlinka..!" geram Arlan
"em iya sayang" kata Ling sambil mengacungkan dua jari ya di samping wajah nya.
"dasar anak kecil"
"kamu bapak nya anak kecil"
__ADS_1