Abang CEO

Abang CEO
Ke kantor papa


__ADS_3

Papa menghela nafas panjang mendengar perkataan Arlan.


"kalau masih cocok papa memukul kepala mu udah papa lakukan Ar, dulu aja gak mau sama Ling, sekarang Ling mau kerja aja gak kamu bolehin"


"namanya juga pengantin baru, kaya papa gak pernah aja"


"terserah kamu Ar, pusing papa" Delon beranjak meninggalkan anaknya, namun baru beberapa langkah ia kembali berkata.


"temui Tom Jerry, kasian mereka menuggu lama"


"iya pa siap" Arlan masuk kedalam untuk berganti baju.


Setelah itu Arlan kembali turun menemui bodyguard istrinya itu. Selesai dengan urusannya, samar samar Arlan mendengar suara Bara dan papanya di ruang tengah, Arlan melewati begitu saja dengan bersiul siul.


"Arlan, malam malam jangan bersiul" tegur mama yang ada di sana


"kenapa ma?"


"pamali, Ling mana? kok kalian gak makan malam?"


"udah tidur dari tadi ma" jawab Arlan yang ikut duduk di sana


"tumben, Ling sakit?" mama terlihat khawatir


"enggak ma, mama tenang aja. Ling baik baik aja kok ma. Oh iya ma besok Arlan sama Ling pulang ke rumah ya?"


"kok buru buru amat sih," mama


"biar gak ada yang ganggu ma" saut papa


"nah itu," Arlan


"mama masih kangen sama kalian"


"mama kan bisa datang kerumah, lagipula juga dekat gak pakai pesawat juga sampai" Arlan


"ah kamu itu, sering sering kesini dong biar rame" mama


"doain biar Ling cepat hamil ma, kalau Arlan punya anak pasti akan rame"


"mama selalu mendoakan buat kalian"


"makasih ma, kalau gitu Arlan mau ke kamar dulu"


"kamu gak makan?"


"udah kenyang ma"


"makan apa emang?"


"susu segar sama daging segar" kata Arlan berlalu


Sedangkan mama masih berfikir darimana Arlan mendapatkan makanan itu, sepertinya dari pulang kerja ia belum turun kamar.


"mama kenapa?" tanya papa yang melihat mama bingung


"emang Arlan tadi pulang bawa makanan pa?"


Papa menepuk jidatnya mendengar pertanyaan istrinya itu.


"jelasin Bar" kata papa pada Bara yang terlihat sibuk dengan laptopnya


"ha? eh maaf pak. Itu bu anu em besok pagi ibu tanya sama tuan Arlan saja" kata Bara sungkan


"apa sih, kenapa semua membingungkan"


"hahahaha, mama mama, kamu itu di kerjain sama Arlan, yang di makan Arlan jelas ada pada Ling. Kenapa di ambil pusing sih" Papa


"oh dasar anak itu, tapi mama bahagia melihat Arlan dan Ling." kata mama setelah paham dengan maksud papa.


.


.


.

__ADS_1


.


.


Dini hari pukul tiga, Ling terbangun karena merasa ingin buang air kecil. Perlahan Ling memindahkan tangan Arlan yang melingkar di tubuhnya.


Kok aku? ah iya kemarin aku kan sama abang? ha? jam berapa ini?. Panik Ling dalam hati


"mau kemana sih sayang" gumam Arlan


"abang, kok gak bangunin aku sih, ini udah jam tiga"


"masih malam Ling, tidur. Jangan berisik, kalau desah boleh" kata Arlan yang masih terpejam dan berusaha meraih pinggang Ling yang sedang duduk.


"iiiihhhh, abang jahat banget sih, aku ada kerjaan kemarin bang. Gak enak sama papa"


"papa tau kok kalau kamu capek buat cucu, udah sini tidur lagi"


"aku mau ke kamar mandi, lepasin"


"jangan lama-lama" kata Arlan melepaskan pelukannya.


Ling yang sedikit kesal pun memutuskan untuk mandi dan segera turun ke bawah. Ia mengambil gelas menuang air hangat dan makan roti.


"Non Ling sudah bangun" sapa bibi


"eh bibi, iya bi"


"mau dibuatkan sarapan dulu?"


"nanti saja bi, ini sudah makan roti"


"baik non." bibi melanjutkan pekerjaannya sedangkan Ling menuju halaman belakang sambil membawa laptop.


Ling merasa tidak enak dengan mertuanya, ia akan segera menyelesaikan pekerjaan yang akan di bahas tadi malam. Tidak terasa matahari mulai muncul dan Ling masih di posisi yang sama.


"Ling" sapa papa


"eh papa sudah bangun? maaf pa kemarin Ling" kata Ling sungkan dan segera di potong mertuanya


"ini melihat perkembangan klien papa"


"dia kabur Ling, papa dan Bara belum bisa menemukan dia. Padahal kamu tau sendiri siang ini sidang terakhir"


"Ling coba cari tau pa, seharusnya dia tidak akan bisa pergi jauh."


Mereka berdua larut dengan masalah yang dihadapi, sampai mama mendatangi untuk sarapan. Mungkin Ling akan ke kantor papa pagi ini.


"ma, Ling panggil abang dulu," pamit Ling


Sesampainya di kamar Ling tidak melihat Arlan di ranjang, tapi suara gemericik air menandakan kalau Arlan sedang mandi. Ling segera menyiapkan baju untuk Arlan, dan ia bersiap siap untuk pergi ke kantor.


"mau kemana?" tanya Arlan setelah melihat Ling yang rapi


"abang, ini mau ke kantor papa" kata Ling


"ngapain?"


"kerja lah bang, gak enak sama papa"


"harus banget ikut ke kantor papa?"


"iya abang, udah ayo turun sarapan. Gak enak udah di tunggu"


Sebenarnya Arlan masih bingung kenapa juga Ling harus ikut papa ke kantor. Memangnya ada pekerjaan seperti apa yang akan Ling lakukan di sana?. Sesampainya meja makan mereka menikmati sarapan dengan diam, namum bunyi dering ponsel Ling memecahkan keheningan itu.


"iya Jack?" tanya Ling setelah mengangkat teleponnya


Memang benar nona, orang itu ada di sebuah kontrakan. Kata Jack


"bagus, kamu kirim beberapa anak buah kamu untuk berjaga di sana. Jangan sampai dia kabur atau curiga dengan keberadaan kalian. Saya akan pantau terus sampai dia berhasil di jemput nantinya, tunggu aba aba dari saya selanjutnya."


Baik nona.


Ling mematikan sambungan telepon nya dan melihat ke arah papa.

__ADS_1


"kamu hebat Ling, terimakasih sudah membantu papa. Kalau sidang ini kita menang, Papa kasih bonus buat kamu" papa


"terimakasih pa." Ling


"pa, kenapa Ling harus ikut ke kantor? kantor papa kan banyak cowoknya" Arlan


"Ling sudah punya ruangan sendiri di kantor papa, kamu tidak usah khawatir. Tidak ada yang berani keluar masuk ruangan Ling tanpa ijin" papa


"Arlan ikut kalau gitu"


"abang kan di kantor juga ada kerjaan. Setelah selesai aku juga akan pulang" Ling


"tapi sayang" Arlan


"Kamu itu udah kaya bayi aja Ar," saut mama


"kaya mama gak pernah muda aja," Arlan


"sudah sudah, papa hanya pinjam Ling sebentar Ar. Setelah itu Ling juga akan pulang" papa


"pulang kerumah ya sayang"


"iya abang,"


Selesai sarapan mereka berangkat ke tujuan masing-masing.


.


.


.


.


.


Pukul tiga sore Arlan datang ke kantor papanya. Banyak pasang mata yang melihat ke arah Arlan. Walaupun ini bukan yang pertama kali nya Arlan datang ke kantor ini, namun berhasil membuat karyawan perempuan disana bahagia. Bahagia bisa melihat laki laki tampan, mapan, dan gagah tentunya. Banyak dari mereka yang tidak tahu kalau Arlan sudah menikah dengan Ling, maka dari itu para kaum wanita disana banyak yang mencari perhatian Arlan, walaupun Arlan tidak pernah meliriknya.


Arlan berjalan begitu saja menuju lift, tujuannya adalah lantai paling atas di mana ruangan papanya berada.


"tuan Arlan? bapak tidak ada kantor" sapa sekretaris pak Delon


"saya mau keruangan Arlinka, dimana?" Arlan


"maaf tuan nona tidak bisa di ganggu"


"ck, dimana ruangannya saya mau ketemu istri saya"


"istri?"


"abang" panggil Ling yang membuka pintu karena mendengar keributan di luar.


"sayang" Arlan langsung melangkah mendekati Ling dan memeluknya


"abang lepasin malu" Ling


"ayo pulang" Arlan


"sebentar lagi, abang masuk dulu"


"tadi katanya cepat, ini udah sore belum pulang" Arlan merajuk dan itu semua tidak luput dari pandangan sekertaris papanya.


Tuan Arlan kenapa jadi seperti itu, apa benar mereka suami istri? tapi kapan mereka nikah. Batin sekertaris papa nya.


"sebentar lagi bang, nunggu papa kembali"


"hhhmmm, kamu disini sendiri Ling?" tanya Arlan yang sudah duduk di sofa


"iya bang, memang mau sama siapa?"


"inikan dulu ruang Bara"


"Bara pindah di ujung,"


"terus karyawan papa tau kalau kamu kerja disini? gak ada yang curiga gitu?"

__ADS_1


"gak tau, aku pakai masker. Kalau di lantai ini baru mereka tau, taunya hanya sekedar membantu pekerjaan papa aja" Arlan manggut-manggut mendengar penjelasan Ling.


__ADS_2