
Arlan menghela nafas saat Nisa mengatakan hal itu. Ia teringat akan istrinya yang di lamar orang lain.
"sudahlah Nis, saya baru pusing" Arlan
"Mas, punya masalah apa? kemarin ninggalin aku, sekarang cuek gini" Nisa
"saya baru pusing Nisa, tolong tinggalkan saya sendiri" Arlan
"mas" Nisa masih berusaha ingin menemani Arlan
"Ar," Yoga tiba tiba masuk
"apa lagi?" tanya Arlan tidak santai
"ck, maaf kalau ganggu. Tapi gue cuma mau ngomong nanti malam di ajak Leo nongkrong" Yoga
"gue gak bisa" Arlan
"kenapa? tumben, kan bini lo kerja" Yoga
"mau nganterin dia kerja" Arlan
"tumben, o..... gue tau, pasti gara gara kemarin" Yoga
"diem lo, udah sono keluar" Arlan
"lo pasti cemburu kan, cie udah ada perasaan lo" ledek Yoga
"keluar Yoga..!!" kata Arlan
"iya iya" Yoga keluar ruangan Arlan dengan bersiul siul.
"mas, yang di katakan Yoga benar?" tanya Nisa yang masih diam di sana
"entahlah Nis, kamu makan siang saja. Keburu habis jam makan siangnya"
"tapi mas" Nisa
"tolong Nis, saya mau sendiri" Kata Arlan yang entah kenapa menjadi dingin kepada Nisa.
Mau tidak mau Nisa meninggalkan Arlan sendiri, karena ia paham betul bagaimana jika Arlan tidak mau di paksa.
Arlan menyandarkan tubuhnya di kursi, ia memejamkan mata karena terasa berat sekali beban yang ia hadapi.
Apa memang seharusnya saya sudah mencintai Ling dan meninggalkan Nisa. Tapi kenapa saya hanya memikirkan Ling, padahal Nisa juga membuat saya kecewa. Kenapa saya masih sulit bertanya langsung kepada Nisa. Batin Arlan
.
.
.
Malam ini Arlan mengikuti kemauan Ling, mereka sekarang berada di mobil Ling. Hari ini Ling tidak di jemput Tom dan Jerry, ia cukup berangkat bersama Arlan.
"di mana tempatnya?" tanya Arlan
"di jalan kamboja," jawab Ling
"sudah berapa lama kamu kerja di sana?" Arlan
"lima tahunan bang, memangnya abang belum pernah ke sana?" Ling
"pernah dulu awal buka, tapi sekarang gak pernah"
"kenapa?"
Mana mungkin saya jawab demi Nisa. Batin Arlan
"gak suka saja" jawab Arlan asal
"em, abang suka minum?" tanya Ling dan Arlan mengalihkan pandangannya ke Ling sebentar.
__ADS_1
"laki laki mana yang belum pernah minum, apalagi saya sering keluar kota dan luar Negeri. Bohong jika tidak pernah minum. Tapi saya dengan porsi saya sendiri, tidak sampai mabuk parah. Minum saya juga tidak harus ke club malam" jelas Arlan dan Ling manggut-manggut
"kamu sendiri juga pasti pernah kan?" tanya Arlan
"pernah sekali waktu belum bekerja di club, setelah itu aku tidak pernah lagi" Jawab Ling jujur
"sekali? rasanya tidak mungkin" Arlan
"lambungku yang gak kuat bang, lagian ada pak Tom Jerry yang selalu mengawasi aku, mereka akan melaporkan apa saja yang aku kerjakan. Walaupun aku kerja di dunia malam, tapi aku tidak pernah minum dan merokok" jelas Ling
"memangnya bisa?"
"bisa lah bang, aku sendiri yang menjalani" kata Ling.
"parkir di sebelah sana saja bang," tunjuk Ling pada parkiran khusus
Setelah memarkirkan mobil, Mereka berdua sudah di sambut pak Tom dan Jerry. Ling langsung menuju ke sebuah ruangan pribadinya.
"bang, ini kamar aku. Nanti kalau abang mau istirahat bisa disini" kata Ling
"kamu punya kamar di sini?" heran Arlan
"kalau malas pulang, aku akan tidur disini"
"sendiri?" tanya Arlan
"ada yang jaga di luar bang, oh iya bang kita ke depan dulu, ada yang mau ketemu" kata Ling setelah meletakkan tasnya
Arlan menurut saja kemana Ling pergi, suara musik yang keras pun mulai terdengar. Ling menuju ke sebuah meja VIP , di sana sudah ada dua orang yang menunggu.
"ini dia udah datang" kata Rico
Kenapa ada dia? apa mereka mau memperjelas hubungan mereka. Batin Arlan melihat Rasya
"Duduk bang" kata Ling
"tuan Arlan? kok bisa sama kamu Ling?" tanya Rasya
"APA?" kaget Rasya
"iya Sya, jadi ini alasannya kenapa aku tidak bisa menerima kamu." Ling
"tapi kapan kalian menikah? ini tidak mungkin kan?" Rasya
"saya dan Arlinka sudah menikah beberapa minggu lalu." Arlan
"iya Sya, memang pernikahan kita masih di sembunyikan. Jadi tolong banget, jangan sampai bocor dulu ya" Ling
"kok kamu jahat sih gak ngabarin gue" Rasya
"sory Sya, namanya juga masih di rahasiakan. Yang penting sekarang kamu tau kalau aku sudah menikah dengan abang, dan abang juga tau kalau aku tidak menerima lamaran Rasya." kata Ling membuat Arlan dan Rasya diam.
"hay guys, kalian pada ngapain serius amat" kata Leo yang baru datang bersama Yoga
"bapak singa disini?" tanya Rico
"nyusulin dia nih, kok lo di sini Sya?" kata Leo menunjuk Arlan.
"tadi pengen ketemu Ling aja, em kak udah tau tentang mereka?" tanya Rasya menunjuk Ling dan Arlan
"udah, gue juga telat kaya lo taunya. Kok lo bikin acara tidak ijin gue" Leo
"maaf kak, niatnya kasih surprise ke Ling" Rasya
"sudahlah lupain, lagian Ling juga sudah menikah. Masih ada Irina" kata Leo menaik turunkan alisnya
"nah bener tuh" saut Rico
"ck, gue maunya yang perawan. Bukan janda" Rasya
"memangnya Ling masih perawan Ar?" tanya Yoga spontan
__ADS_1
"ssstt kalian bahas apa sih, udah enjoy ya. Gue ke sana dulu. Abang kalau mau pesen minum minta Rico aja" kata Ling beranjak menuju ke panggung
Setelah kepergian Ling, Rasya juga pamit untuk pulang. Semua rasa penasarannya juga sudah terobati setelah mengetahui kebenaran nya.
Arlan menikmati minum bersama Yoga dan Leo. Ini jarang sekali terjadi, karena Arlan selalu menolak saat di ajak ke tempat seperti ini.
"Le, bisa tidak Ling berhenti kerja" kata Arlan
"memangnya kenapa?" Leo
"kamu lihat kan, banyak orang yang suka sama dia. Gue gak nyaman dia kerja di tempat seperti ini juga" Arlan
"sebenarnya kalau untuk bekerja disini itu bukan kewajiban Ling, dia kan pemilik club ini" Leo
"apa?" tanya Arlan
"memangnya lo gak tau? ini kan club malam punya Ling. D'L itu Dj Ling" kata Leo
"gila, gue baru tau" Yoga
"kok Arlinka tidak cerita," Arlan
"ya lo gak nanya, tapi lo tenang aja Ling belum mengambil job dua bulan ke depan" Leo
"kenapa?" Arlan
"gue juga kurang tau, waktu mau nikah dia cuma mau ambil job tiga bulan ini, selebihnya dia belum mau." Leo
"mungkin Ling mau honeymoon sama lo" Yoga
"belum kepikiran gue" Arlan.
Sampai pukul dua dini hari, Ling mengajak Arlan untuk pulang. Ling meminta ia yang menyetir mobilnya, karena Arlan tadi minum, takutnya pusing.
"saya gak papa Arlinka" kata Arlan untuk yang ke sekian saatnya, setelah mobil itu jalan beberapa meter
"iya bang, biar aman saja" Ling
"jawaban yang kamu maksud tentang penyanyi itu tadi?" Arlan
"salah satunya, masih ada lagi yang jauh lebih penting" Ling
"apa? jangan buat saya bingung, ssssttt" Arlan memegangi kepalanya
"abang istirahat saja, kalau udah sampai biar aku bangunin" Ling
"kenapa kamu gak bilang kalau club malam itu milik kamu?"
"abang tau?" Ling
"dari Leo, kenapa kamu tidak jujur sama saya. Saya terlihat bodoh di mata teman teman saya"
"maaf bang, aku pikir abang memang tidak peduli sama aku"
"saya yang salah, karena belum berusaha mengenali kamu" Arlan
"aku tau abang masih butuh waktu"
"mulai sekarang saya akan berusaha Ling, kita mulai semua perlahan ya" Arlan
"abang serius?"
"saya serius, apa karena saya mabok kamu tidak percaya?" Arlan
"hehehe biasanya gitu bang, orang mabuk pasti ngelantur"
"saya masih sadar Arlinka"
Mudah mudahan apa yang kamu katakan benar bang, aku juga berharap hubungan kita akan ada kemajuan. Batin Ling
Tidak terasa mereka pun sudah sampai di rumah, Arlan terlihat sudah menguap beberapa kali. Sebenarnya Ling juga tidak tega, tapi demi sebuah kebenaran tidak apa lah.
__ADS_1