Abang CEO

Abang CEO
Kecewa


__ADS_3

Malam ini Arlan kembali ikut Ling bekerja. Saat ini mereka sudah sampai di club malam milik Ling. Mereka berdua berada di kamar pribadi Ling.


"Arlinka, kamu gak usah kerja aja" kata Arlan yang tiduran di kasur.


"memang nya kenapa?" tanya Ling


"sebenarnya saya tidak suka" jujur Arlan


"beri aku waktu bang," kata Ling yang beranjak dari meja riasnya.


"ya sudah, kamu sudah siap?"


"iya bang, abang mau ikut ke depan, atau istirahat di sini?" tanya Ling


"ikut saja" Arlan


Suasana di club malam ini terlihat ramai seperti biasanya. Arlan duduk di sebuah meja khusus, sedangkan Ling ia sedang berbicara dengan bartender juga karyawan yang lainnya.


"sendirian aja bos?" tanya Yoga yang baru datang


"ngapain lo?" tanya Arlan


"ngapel Dj Ling" jawab Yoga santai


"beneran minta di potong gaji lo?" Arlan


"jangan dong, sensi banget. Belum dapat jatah lo?" Yoga


"jatah apa?"


"pura pura, ya jatah di ranjang dong, masa jatah makan" Yoga


"em" Arlan hanya tersenyum miring.


Mereka akhirnya menikmati suasana malam ini. Sesekali Arlan melihat Ling yang sedang sibuk dengan beberapa karyawan nya. Arlan menajamkan matanya saat melihat seseorang yang sangat ia kenal.


"Ar, saudara Ling ada yang cantik gak?" tanya Yoga


"Ar?" panggil Yoga lagi saat Arlan tidak merespon nya.


"Nisa"kata Arlan


"Namanya Nisa? kenalin dong" Yoga


"gak salah lagi, itu Nisa" Arlan beranjak mengikuti kemana Nisa pergi.


"Eh Ar, lo mau kemana?" kata Yoga yang mengikuti Arlan


Arlan melihat Nisa berjalan ke sebuah meja, disana ada tiga orang laki-laki. Salah satu dari ketiga laki laki itu terlihat sudah mabuk berat. Dan Arlan sangat mengenal laki laki itu.


"Bro bangun, istri lo udah datang" kata salah satu teman yang mabuk berat itu.


"mana....mana dia" kata Bagas yang menajamkan matanya.


"hey baby, ayo kita pulang" kata Bagas merentangkan tangannya pada Nisa.


"ini kunci mobilnya" kata salah satu teman Bagas


"terimakasih" jawab Nisa yang sudah memapah Bagas


"Nisa" panggil Arlan


"mas Arlan" kaget Nisa


"kamu ngapain?" Arlan


"ak.... aku" bingung Nisa

__ADS_1


"eh tuan Arlan, anda tau? anda selalu kalah sama gue. hahaha" kata Bagas.


Arlan terlihat sangat geram, bahkan ia mengepalkan tangannya. Yoga yang ada di sebelah Arlan pun mencoba menenangkan Arlan


"jawab saya Nisa.!" kata Arlan


"jangan bentak istri gue, Nisa istri gue. Elo (memberikan jempol yang di arahkan ke bawah)" Bagas


"istri?" tanya Arlan tidak percaya


"mas, kamu tau kan dia sedang mabuk. Besok aku jelaskan" Nisa


"gue gak mabuk, elo istri gue. Atau kamu mabuk ya baby? lupa sama suami" Bagas


"saya gak nyangka Nis" Arlan


"mas, besok kita bicara aku pulang dulu" kata Nisa


"Arlan Arlan, apa saja yang lo miliki, akan segera gue miliki. Hahaha" Bagas


bug


Satu pukulan keras mendarat di pipi Bagas, karena tubuhnya yang lemah membuat Bagas terjatuh. Begitu pula dengan Nisa yang memapah Bagas. Arlan akan kembali menghajar Bagas, namum di cegah oleh Yoga.


"abang" kata Ling yang ikut menahan Arlan


"lepaskan saya," kata Arlan


"sadar Ar," Yoga


"ada apa ini?" tanya Ling


"dia gila, kamu tau dj cantik. Laki laki b*d*h ini adalah pacar istri saya. Dan dia tidak mau terima kalau dia selalu kalah dengan saya" kata Bagas yang sudah di bantu teman temannya.


"maaf tuan, bisa tolong bawa temannya keluar?" Kata Ling pada kedua teman Bagas


"pergi,!" kata Arlan dan ia segera melangkah


"Mas tunggu" Nisa ingin mengejar Arlan namun di tahan oleh Yoga dan Ling


"kejar suami lo, bukan suami orang..!" kata Ling yang menyusul Arlan


"gue gak nyangka lo tega Nis" Yoga pun ikut menyusul Arlan.


Nisa pun terpaksa menyusul Bagas, karena bicara dengan Arlan sekarang juga percuma. Kacau, semua dirasa kacau oleh Nisa.


Sedangkan Arlan ia duduk di depan meja bartender. Ia meminta minuman beralkohol lagi dan lagi.


"abang, kita pulang sekarang ya" kata Ling yang berusaha menenangkan Arlan


"Ar, besok kita ada meeting penting. Cukup untuk malam ini" kata Yoga menyingkirkan gelas Arlan


"kalian tau? ternyata saya mudah di bohongi. Orang yang saya cinta mengkhianati saya terlebih dulu. Dan aku kira aku yang telah menyakiti hatinya, ternyata apa? Bagas? kenapa Bagas?" racau Arlan


"tuan Yoga, bisa saya minta tolong?" Ling


"Panggil Yoga, jangan pakai bahasa formal. Dan minta tolong apa?" Yoga


"tolong antar abang pulang, malam ini biar aku tidur di sini. Mungkin abang butuh waktu" Ling


"tidak Ling, disini bahaya. Kamu pulang sekalian ayo" Yoga


"ini tempat milikku tuan maksudnya Yoga, jadi pasti aman. Tolong pastikan abang baik baik saja" kata Ling dan Yoga bisa melihat raut kekecewaan Ling


"Ling.." Yoga


"selamat malam" Ling meninggalkan mereka semua

__ADS_1


Entah kenapa mendengar pengakuan langsung dari mulut Arlan, membuat Ling begitu sedih. Posisi nya menjadi seorang istri tapi suami nya sedang patah hati dengan wanita lain. Apakah Ling harus menghibur dan menutup luka suaminya? Tapi mana mungkin seorang istri bisa begitu saja menerima kenyataan ini.


Ling sebenarnya sudah tau kalau Nisa sudah menikah, ia tau apa yang belum Arlan tahu. Kejadian waktu itu bersama Rasya membuat Ling ingin segera menyadarkan Arlan. Terlepas dari itu, ia juga mendapat dorongan dari mertuanya untuk segera menceritakan pada Arlan. Ternyata Ling belum siap kalau semua menjadi seperti ini.


Kenapa ya bang, apa perasaan ini sudah mulai tumbuh. Melihat kamu terpuruk seperti itu, aku semakin takut tidak ada ruang buat aku di hati kamu. Batin Ling


.


.


.


.


Pagi menjelang, Arlan mengeratkan pelukannya pada seseorang yang tidur di sampingnya. Kepala nya masih sedikit pusing, dan ia malas sekali untuk bangun. Saat bangun nanti, ia berharap kalau semua yang terjadi tadi hanyalah sebuah mimpi.


"lepas" Kata seseorang yang di peluk Arlan


"nanti" jawab Arlan sambil bergumam


"Ar, lo jangan gila" kata Yoga


"ih amit amit, kok lo di sini!" kaget Arlan karena memeluk Yoga


"emang gue monyet apa di amit amit," gerutu Yoga


"kok lo bisa disini, ini kan kamar tamu gue" Arlan


"elo mabuk berat, jadi gue yang antar lo pulang" Yoga


"Arlinka?"


"dia tidur di club, semalam gue ajak balik sekalian gak mau" Yoga


"berarti tadi malam gue gak mimpi? jadi Nisa beneran sudah menikah dengan Kevin?"


"iya, sekarang waktunya mandi, setengah jam lagi kita ada meeting" Yoga


"lo aja" Arlan


"gak bisa lah, ini meeting penting banget. Dan lo harus hadir" Yoga beranjak dan segera mandi


Mau tidak mau Arlan menuju kamarnya, setelah membersihkan diri dan sarapan, mereka berdua langsung ke kantor. Yoga selalu menyimpan baju ganti di mobilnya, jadi saat butuh seperti ini tidak akan repot pulang untuk ganti baju.


Saat sampai di kantor ternyata tamu yang akan meeting dengan Arlan sudah datang. Arlan pun langsung menuju ke ruang meeting. Dan meeting kali ini membutuhkan waktu yang lumayan lama, membuat Arlan tidak fokus. Pikirannya hanya tertuju bagaimana Nisa bisa mengkhianati dirinya. Berarti apa yang dia lihat malam itu benar. Saat Arlan pulang dari Apartemen Nisa, ia melihat Bagas yang baru keluar dari Lift.


Flashback on


"hay tuan Arlan, habis apel pacar ya" ledek Bagas


"bukan urusanmu" Arlan


"oo jangan marah tuan, mau saya kenalkan dengan istri saya?" kata Bagas


"tidak perlu" Arlan menerobos masuk lift


"Saat anda tau istri saya, anda pasti syok" Bagas berlalu dengan gaya sombongnya.


Sebelum pintu lift tertutup sempurna, Arlan dapat melihat Bagas berdiri di depan pintu apartemen Nisa. Dan setelah itu Arlan meminta bantuan Jack untuk menyelidiki semua.


Flashback off.


Jack, bagaimana hasilnya sekarang. ,Batin Arlan yang mengingat jack


"bagaimana pak Arlan, meeting kali ini sepertinya sudah selesai, atau ada tambahan?" Yoga


"tidak, terimakasih" Arlan

__ADS_1


__ADS_2