
"Mas, menikahlah jangan pikirkan aku"
"Nis, saya cinta sama kamu"
"Aku pun sama mas, tapi takdir kita memang seperti ini. Sudahlah mas, aku tidak papa"
"kalau saya menikah, saya tidak bisa menjamin perasaan saya ke kamu"
"hiks hiks" Nisa hanya menangis di seberang sana
"Nis, arrggghhh. Saya harus bagaimana"
"menikahlah mas, aku ikhlas"
"Nis, kamu dimana? kita pergi bersama ya"
"tidak mas hiks, menikahlah dengan pilihan orang tuamu. Biarkan perasaan ini luntur di telan waktu."
"bagaimana dengan hubungan kita"
"Kita akhiri sampai disini mas, hanya itu yang akan aku sampaikan. Selamat berbahagia mas"
tut
Nisa mengakhiri sambungan telepon nya, dan beberapa kali Arlan mencoba menghubungi Nisa lagi tapi hasilnya nihil, ponsel Nisa sudah tidak aktif lagi. Dan malam ini Arlan habiskan untuk berfikir yang tidak mendapatkan jawaban nya.
.
.
.
.
.
Hari ini tepat dimana hari pernikahan Ling dan juga Arlan. Acara yang hanya di hadiri oleh keluarga besar keduanya, dan juga beberapa tetangga mereka. Saat ini Arlan dan rombongan bersiap berangkat ke rumah keluarga Anggara.
"lo married sama siapa? ini beneran gak sih?" tanya Yoga yang baru di kasih tau
"nanti lo juga tau, tutup mulutmu dari siapapun kalau gue akan menikah" Arlan
"Nisa?" tanya Yoga
"Dia tau, dan meminta gue meneruskan acara pernikahan ini"
"kedepannya?"
"gak tau gue, dia minta hubungan kita selesai kemarin"
"bagus, gue dukung lo menikah dengan yang lain" Yoga
"apa maksudmu?"
"gue beberapa kali melihat Nisa dengan Bagas" kata Yoga yang baru jujur
"Bagaskara? pemilik BG?" tanya Arlan tidak percaya
"ya,, karena hubungan lo udah berakhir jadi gue berani cerita"
"kenapa gak dari dulu?"
"lo gak pernah percaya" kata Yoga
"Arlan ayo" ajak mama
Akhirnya mereka pun segera berangkat ke rumah Ling. Arlan berada satu mobil dengan Yoga, ia ingin tau kelanjutannya cerita Yoga. Sesampainya di rumah Ling, mereka di sambut keluarga inti dari Anggara.
"Ar, keluarga pemilik AngMart?" tanya Yoga berbisik
__ADS_1
"hhmm" jawab Arlan
"memangnya punya anak perempuan?"
"ya punya lah, masa iya gue mau nikah sama pak Yuda" ketus Arlan
"masa sih" gumam Yoga
Karena sudah di tinggal rombongan, Yoga pun segera menyusul mereka masuk ke dalam rumah. Acaranya akan di adakan di halaman belakang. Arlan di tuntun duduk di sebuah kursi bernuansa putih itu. Di hadapan Arlan ada pak Anggara dan penghulu. Sedangkan di sudut kanan meja ada pak Delon, dan sebelah kiri ada Yuda.
Arlan sempat bingung karena Ling tidak ada di sana. Dia berfikir apa Ling kabur? Tapi dari arah pintu muncullah seorang gadis cantik dengan kebaya putih yang di apit oleh Bu Dyah dan Tia. Ia menuntun Ling menuju kursi di sebelah Arlan.
"kamu jangan grogi Ling, tenang" bisik Bu Dyah
"hufh" Ling mengatur nafasnya agar tenang dan berjalan perlahan.
Setelah Ling duduk di sampingnya, Arlan sempat melirik Ling sebentar. Semua yang ada di sana di buat kagum dengan kecantikan Ling, yang bahkan ia terlihat begitu manglingi.
Ini beneran gadis kecil itu bukan sih, kok beda banget. Batin Arlan yang sempat terpesona
Yoga yang baru melihat calon istri bos sekaligus sahabatnya itu pun di buat tercengang. Pasalnya ia tidak mengenali Ling, dan entah bagaimana jika suatu saat mereka bertemu.
Arlan sudah siap dan segera menjabat tangan pak Anggara.
"mau minum dulu?" tanya Papi pada Arlan
"nanti saja om" kata Arlan
"oke, kamu yang tenang. Fokus semua akan lancar" kata papi yang merasakan tangan Arlan dingin
"iya om"
Setelah beberapa saat, penghulu mulai memimpin acara. Dan sampai akhirnya Arlan dan Ling di nyatakan sah. Setelah pembacaan doa, saatnya bertukar cincin. Arlan dan Ling saling berpandangan, tiba tiba setetes air mata Ling jatuh di pipinya. Ling mengingat sang mami yang tidak bisa mendampingi dirinya di hari pernikahan nya. Rasanya sangat kurang tanpa maminya. Sekuat tenaga Ling mencoba menguatkan hati dan pikiran nya agar tidak terbawa dalam suasana haru.
Arlan pun segera menghapus air mata Ling, ia tersenyum bagai memberi kekuatan pada Ling.
Perlahan Ling tersenyum pada Arlan. Mereka pun bertukar cincin, setelah itu melakukan foto bersama. Saat fotografer meminta Arlan mencium kening Ling, mereka berdua diam.
"Hore" Teriak beberapa orang di sana karena Arlan mencium Ling
deg deg deg
Suara jantung Ling seperti habis lari maraton saja. Jujur ini baru pertama Ling dicium laki-laki selain Papi dan kakaknya. Rasanya begitu aneh, Ling juga merasakan grogi yang luar biasa, sampai tangannya pun sedingin es. Itu baru dicium kening, bagaimana dengan yang lain 🤭.
"bibir dong" kata Yoga yang membuat Arlan sedikit menjauh dari Ling
"ayo,... ayo..." dukungan para tamu
"nanti saja, sepertinya istri saya malu" kata Arlan.
Hah istri? Arlan mengakui aku istrinya? tapi kan tadi juga udah sah. Duh rasanya gimana gitu. Batin Ling
"oke, sebaiknya kita semua menikmati hidangan yang sudah tersedia di sana. Sekali lagi selamat untuk nyonya Arlinka dan tuan Arlan." kata seorang pemandu acara dan disusul tepuk tangan dari mereka.
"Ling, kamu sekarang resmi jadi anak mama. Terimakasih sayang, mama sangat bahagia," kata mama Erni memeluk Ling
"iya tante sama sama, semoga Ling bisa menjadi menantu yang baik buat tante dan Om" Ling
"jangan Tante, harus mama dan papa ya Ling" Erni
"em mama papa" kata Ling kikuk.
Setelah beberapa saat ngobrol dan memberikan wejangan, kini giliran Papi, Bu Dyah dan Yuda yang mendekati Ling dan Arlan. Mereka juga memberikan wejangan untuk Ling dan Arlan.
"selamat bro, lo sold out duluan" kata Yoga
"sold out sold out" Arlan
"ngomong ngomong istri lo cantik juga" kata Yoga melihat Ling
__ADS_1
"jaga mata lo" Arlan
"mbak saya Yoga sahabat Arlan" kata Yoga mengulurkan tangan
"udah tau" kata Ling
"hah tau,?" tanya Yoga tidak percaya
"kan kemarin aku yang ke kantor pakai masker" Ling
"oh jadi kamu, cantik. Pantes di sembunyikan Arlan" kata Yoga
"bukan di sembunyikan sih, tapi emang aku yang malu. Bang aku ke sana sebentar ya" pamit Ling
"iya" jawab Arlan
"gila udah cantik, anak orang kaya dan terkenal. Gue kira anaknya pak Anggara cuma pak Yuda"
"gue juga gitu dulu"
"apa jangan-jangan?"
"jangan jangan apa? Arlinka memang seperti itu, kayanya lebih pendiam. Dari kecil mama sudah mengenal Arlinka"
"hehehe tapi lebih baik bini lo, daripada Nisa"
"Nisa," gumam Arlan
"sudahlah Ar, lupakan dia. Cukup profesional kerja aja,"
.
.
.
.
Selesai acara, tinggallah keluarga inti saja. Mereka mengobrol di ruang keluarga, membicarakan apapun soal masa depan dua orang yang baru sah menjadi suami istri itu.
"Ar kamu disini dulu, besok baru pulang kerumah mama" kata mama Erni
"iya ma"
"anggap seperti rumah kamu sendiri Ar, kamu sekarang anak papi" kata papi
"baik pi" kata Arlan
"Ling mama pulang dulu ya, mama tunggu di rumah besok" kata mama sambil memeluk Ling
"mau hujan loh ma, gak nginep aja?" tawar Ling
"iya mbak, nginep aja biar rame" kata Bu Dyah
"terimakasih, kapan kapan aja mbak." kata mama
Akhirnya mama dan papa Delon pun pulang dari rumah keluarga Anggara. Karena ini sudah melewati makan malam, Ling mengajak Arlan untuk ke kamarnya. Pasti mereka capek setelah acara tadi, apalagi mereka belum sempat mandi.
"masuk bang" kata Ling membukakan pintu
"kamar mandi?" tanya Ling
"itu" tunjuk Ling di sebelah pojok kanan
"saya mandi dulu" kata Arlan dan mencari baju ganti nya di sebuah tas
"ini handuknya" Ling memberikan handuk yang baru ia ambil dari lemari.
"terimakasih" Arlan berlalu ke kamar mandi.
__ADS_1
Di dalam kamar mandi, Arlan melihat pantulan dirinya di kaca.
...Nisa, aku sudah sah menjadi suami orang. Dan apa aku bisa menjamin perasaan ku ke kamu?. Batin Arlan...