
"Abang, ini kopinya." kata Ling yang melihat Arlan sudah turun
"terimakasih sayang, aku langsung berangkat" kata Arlan setelah menyeruput kopi buatan istrinya
"sarapan dulu bang" Ling
"tidak sempat sayang, nanti saja sekalian makan siang"
"tunggu sebentar, aku bawakan roti ini buat sarapan di jalan"
"Arlinka, aku setuju kamu berhenti kerja" kata Arlan
"iya bang, nanti akan aku bicarakan sama kak Leo" kata Ling sambil tangannya cekatan memasukkan roti kedalam kotak makan
"kamu harus siap menafkahi Ling yang banyak Ar" saut mama
"pasti ma, kalau perlu seluruh uangku buat Ling. Yang penting Ling tidak pergi pergi lagi. Dan yang pasti tiap malam harus ada jatah" kata Arlan
"jatah apa?" tanya Ling
"bercintahh" bisik Arlan dan berakhir mengecup pipi Ling
"abang..." kata Ling yang malu
"kalian ini," kata mama yang bahagia melihat anak dan menantunya
"maaf ya ma, abang gak sopan" Ling
"sama istri sendiri Ling, tidak masalah. Aku berangkat dulu" kata Arlan mengecup kening Ling dan mamanya bergantian
"hati hati bang" Kata Ling dan dijawab Arlan dengan senyuman.
Siang ini Ling yang sudah berpakaian rapi pun segera menuju ke depan rumah. Sebelum pergi ia sempatkan pamit kepada mertuanya. Ling menuju kantor Leo dengan menggunakan jasa taksi online. Membutuhkan waktu dua puluh lima menit untuk sampai ke kantor Leo.
Ling turun dari taksi dan langsung masuk menuju ke ruangan Leo. Semua karyawan disini sudah hafal dengan Ling, jadi tidak susah untuk menemui Leo.
tok tok tok
Ling mengetuk pintu ruangan Leo yang tertutup, setelah ada jawaban yang menyuruhnya masuk, Ling membuka pintu dan masuk ke ruangan Leo.
"nyonya muda Arlan Givando" kata Leo saat melihat Ling
"apa sih kak, lebay deh"
"hahaha sini duduk, ada masalah?"
"tidak, aku hanya ada perlu dengan kakak"
"perlu apa? sepertinya penting"
"kira kira masih ada job lagi gak kak buat aku?"
"job kamu? sepertinya tidak ada. Kan kamu sendiri yang menolak beberapa tawaran"
"iya sih kak, kakak kan tau kalau aku sudah menikah. Dan sebenarnya aku kesini mau menyampaikan ke kakak, kalau aku sudah tidak bisa menjadi Dj. Em maksudnya aku akan mundur dari profesi ini,"
"aku tidak masalah Ling, aku juga tau cepat atau lambat ini akan terjadi padamu. Sudah bulat tekadmu untuk mengundurkan diri sebagai artis dan Dj terkenal?"
"sudah kak, aku sudah membulatkan tekad untuk berhenti dari manajemen kakak. Aku akan menjalani kehidupan seorang istri, kalaupun bekerja, aku akan bekerja di kantor abang ataupun papi. Aku juga masih memiliki penghasilan dari club D'L. Aku rasa itu sudah cukup"
"Dj bukankah hobi kamu?"
"aku bisa melakukannya kapan pun kak, aku juga tidak akan bisa begitu saja meninggalkan hobi ini. Tapi bedanya sekarang aku akan mengurangi dan perlahan meninggalkan dunia malam"
"aku tau itu, tidak akan mudah meninggalkan sesuatu yang membuat kita nyaman dan bahagia. Apapun keputusan kamu, aku dukung. Kalaupun kamu mau keluar dari management aku, aku akan ijinkan, tapi berjanjilah kamu harus bahagia dengan keputusan kamu. Kapan pun kamu ingin kembali kesini, kakak selalu menerima dan siap membantu kamu."
"terimakasih kak" kata Ling
"Ling, kamu adalah orang yang berjasa bagi aku. Tanpa adanya bantuan dari kamu, mungkin aku belum bisa seperti ini. Aku yang seharusnya berterima kasih sama kamu."
__ADS_1
"kakak apaan sih, semua juga berkat usaha kakak. Gimana kak aku perlu mengumumkan tentang ini tidak?"
"aku sih terserah kamu, kalau hubungan kamu dan Arlan bagaimana?"
"aku belum tau sih kak, takutnya abang belum siap"
"bicarakan dengan Arlan soal itu, kalau masalah pekerjaan aku akan bantu menolak job yang masuk untuk kamu"
"iya kak, maaf kalau selama ini aku bekerja sama dengan kakak sering mengecewakan, sering membuat kakak marah atau kesal, dan mungkin membuat kakak rugi" kata Ling dengan sedikit senyum
"apaan sih Ling, kamu itu yang terbaik Ling. Kakak bangga punya artis seperti kamu. Kenapa kita harus seformal ini sih, biasa aja dong lo gue"
"ini kan urusan penting kak, bukan urusan keluarga ataupun teman."
"ya ya ya, lo udah makan?"
"udah tadi di rumah,"
"gak seru, temenin ngopi lah, gue pusing mikir Fara"
"Fara ketangkap karena barang terlarang kan kak? kok bisa?"
"gue juga gak tau Ling, padahal job dia lagi banyak. Mana pinalti nya besar besar".
"sabar pak, jangan marah marah cepat tua. Belum nikah ingat itu"
"ck, lo merasa menang karena udah nikah?"
"iya lah, eh bentar abang telfon nih" kata Ling menjauh sambil menerima telepon dari Arlan
Setelah beberapa saat ngobrol dengan Arlan, Ling kembali duduk bersama Leo.
"kak" Ling
"iya gue tau, lo mau pamit kan? ya udah sana gak papa"
"hhhhmm hati hati lo"
"siap" Ling segera meninggalkan ruangan Leo
Hufh selesai juga satu masalah, gue harus selesai kan masalah club juga. Semoga segera dapat orang tambahan deh. Batin Ling sedikit lega
Ling segera memesan taksi dan menuju ke kantor Arlan. Setelah sampai Ling segera menuju ke lift.
"eh mbak tunggu" kata Marla resepsionis di sana
"iya?" Ling berbalik dan membuka kacamata
"Dj Ling?" Marla
"iya mbak, ada apa?"
"em, mbak Dj eh maksudnya mbak Ling mau kemana?"
"keruangan Abang, kenapa sih? abang ada kan?"
"abang?"
"pak Arlan"
"oh pak Arlan, ada kok mbak. Tapi sudah buat janji?"
"sudah, mbak tenang saja. Saya masuk dulu"
"boleh foto dulu gak mbak?"
"em ya sudah ayo,"
Setelah mengambil beberapa kali foto dengan Marla, akhirnya Ling sudah berada di dalam lift.
__ADS_1
kok pak Arlan bisa janjian sama Dj Ling ya? Apa jangan-jangan mereka? Batin Marla bertanya tanya tentang kedatangan Ling. Ia juga memposting fotonya dengan dj Ling di status WhatsApp nya. Karena sepertinya tidak kali ini saja Marla melihat dj datang ke kantor ini.
Ling yang sudah sampai di depan ruangan Arlan pun segera mengetuk pintu, sebelum itu ia sempatkan melirik meja Nisa yang terlihat kosong.
"sayang kok lama banget sih" kata Arlan setelah membuka pintu untuk Ling
"sedikit macet bang,"
"ayo masuk" Arlan memeluk pinggang Ling
"abang" kaget Ling saat Arlan menarik nya duduk di pangkuan Arlan.
"malam ini kita pulang kerumah ya?" Kata Arlan tidak memperdulikan Ling yang terlihat kaget.
"kenapa? gak enak sama mama bang. Tunggu beberapa hari lagi"
"gak mau, pokoknya nanti kita pulang"
"memangnya ada apa sih bang?"
"nanti juga tau sendiri, ngomong ngomong kenapa kamu ke kantor Leo?"
"aku memutuskan kerja sama dengan kak Leo. Aku sudah tidak mengambil job lagi"
"really?"
"iya abang, aku tinggal ngurus club saja. Doakan aku cepat mendapatkan orang yang bisa aku pekerja kan di sana"
"kalau mau, aku bisa bantu"
"yang benar bang?"
"iya, kamu mau cari buat kerja bagian apa?"
"Dj pengganti aku bang,"
"nanti aku minta Yoga mencari kan" .
"ck, itu mah Yoga yang bantu, bukan abang"
"aku dong Ling, kan aku memerintahkan Yoga"
"terserah abang aja deh,"
"Ling, aku butuh kamu"
"maksud abang?"
"aku percaya kamu seorang yang hebat, perusahaan ku sedang di serang. Aku pusing, sepertinya orang itu memanfaatkan kesempatan waktu kita di Bali. Aku kehilangan kepercayaan dari perusahaan Malaysia. Kamu mau bantu aku?"
"boleh aku lihat pekerjaan abang"
"kamu beneran mau bantu aku?"
"ya beneran dong bang, sepertinya abang juga harus siap perang"
"perang?"
"ya.... membongkar semua kejahatan seseorang. Aku tanya dulu sama abang, abang siap dengan semua resiko nya?"
"resiko apa?"
"akan ada orang yang mengecewakan abang setelah semua terbongkar. Aku mohon abang tidak akan berubah setelah ini selesai"
"aku tidak tau maksud kamu,"
"bang, aku sudah meninggalkan pekerjaan yang aku sukai demi rumah tangga kita, aku harap abang juga akan memperbaiki hubungan kita,"
"aku sudah berjanji sama kamu Ling"
__ADS_1