
"cukup Arlan, mama sudah mengenal Ling sejak kecil. Ling juga bukan wanita malam" kata mama
"tapi pekerjaan nya ma"
"Arlan, Papa juga tidak pernah mengajarkan kamu menilai orang dari luarnya saja. Kamu belum mengenal Ling" papa
"kenapa mama dan papa membela Ling, bagaimana penilaian orang lain nantinya?" Arlan
"Papa tidak memikirkan omongan orang lain, harapan papa kalian bisa hidup bahagia." kata Papa
"tapi pa, bagaimana kalau karyawan ku tau" Arlan
"Sudahlah Ar, apa yang kamu khawatir kan itu tidak akan mendapatkan jawaban kalau kamu tidak membuktikan. Sekarang lebih baik kamu berusaha mengenal Ling lagi. Kamu sudah dewasa, dan mama yakin kamu tau apa yang harus kamu lakukan. Kalau kamu sudah pernah melakukannya (tanda kutip) dengan pacarmu, sekarang kamu lakukan dengan Ling. Kamu akan tau perbedaannya siapa yang lebih baik, pikiran kamu yang menganggap Ling wanita malam itu tidak akan pernah ada lagi." kata mama
"maksud mama apa sih?" Arlan
"masa mama harus menjelaskan, mama yakin kamu belum menyentuh Ling kan? jangan pura pura bodoh kamu" kata mama
"sudah ma, biarkan Arlan berfikir sendiri. Sudah malam kami mau istirahat" kata papa
Papa dan mama meninggalkan Arlan di ruangan papa sendirian. Arlan memikirkan kata kata mamanya tadi.
"memangnya aku laki laki apa sampai di anggap mama seperti itu, andai mama tau kalau aku tidak pernah berbuat macam-macam dengan Nisa. Sekedar ciuman kan tidak masalah" gumam Arlan kemudian keluar menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Arlan melihat Ling sedang melihat ponselnya di atas ranjang. Perlahan ia mendekati Ling, berharap pertanyaan nya nanti tidak menyinggung Ling.
"Arlinka, boleh saya tanya?" Arlan
"boleh bang" Ling menaruh ponselnya
"sejak kapan kamu jadi Dj?"
"em sekitar 5 tahun yang lalu, saat masih kuliah sih. Abang keberatan?" tanya Ling
"memangnya tidak ada pekerjaan lain?"
"ada sih"
"kenapa pilih Dj kalau ada, itu kan identik dengan dunia malam" Arlan
"sebenarnya itu hobi ku sih, aku nyaman menjadi Dj"
"kalau saya minta kamu berhenti?" tanya Arlan
"memangnya abang juga akan menuruti apa mau ku?"
"memangnya mau kamu apa?"
"aku mau menjadi satu-satunya wanita yang kamu cintai, aku ingin merasakan menjadi istri yang sebenarnya, dan aku tidak ingin kamu memiliki kekasih lain" kata Ling
"aku....."
"sudahlah bang, kita sama sama berjuang saja. Abang lupakan pacar abang dan kita jalani rumah tangga yang sesungguhnya, aku akan perlahan meninggalkan pekerjaan ku. Selama abang belum ada perasaan sama aku, biarkan aku bekerja bang. Untuk apa aku berdiam dan hanya menunggu perasaan kamu yang tidak pasti. Selamat malam bang, selamat istirahat" Ling merebahkan tubuhnya dan membelakangi Arlan.
"Arlinka" panggil Arlan, namun Ling enggan menjawab nya.
.
__ADS_1
.
.
.
Pagi ini di meja makan nampak Arlan dan Ling yang masih sama diam. Walaupun tangan Ling cekatan mengambilkan makanan untuk Arlan, namun tidak ada sepatah kata yang keluar. Sedangkan papa dan mama juga diam.
"ma, pa, nanti Arlan dan Ling ijin tinggal di rumah baru" kata Arlan
"kamu yakin Ling?" tanya mama
"Ling terserah abang aja ma" jawab Ling
"kalau papa juga tidak masalah, harapan papa kamu jangan sakiti Ling, perlakukan Ling dengan baik" papa
"iya pa" jawab Arlan.
Setelah itu tidak ada obrolan lagi di antara mereka. Setelah Arlan berangkat, Ling menyiapkan koper yang akan ia bawa untuk pindahan. Sedangkan barang barang Arlan sudah Ling siapkan, itu semua juga atas permintaan Arlan tadi pagi.
tok tok tok
"masuk" kata Ling
"mama" sapa Ling saat melihat mama nya di depan pintu kamar
"kamu masih sibuk?"
"enggak kok ma, ini udah siap semua" kata Ling
"mama kok tanyanya gitu?" tanya Ling yang kaget dengan pertanyaan mertuanya
"mama hanya khawatir sama kamu Ling"
"mama tenang saja, abang gak jahat kok. Mungkin belum terbiasa saja, doa kan biar Ling dan abang selalu bahagia ma" Ling mendekati mamanya yang duduk di atas ranjang
"mama selalu mendoakan kamu, mama minta kamu yang sabar untuk mendapatkan cinta Arlan. Kenapa kamu tidak jujur saja sama Arlan tentang pacarnya itu?"
"biarkan ma, aku tidak mau abang datang karena patah hati. Pelan pelan saja biar aku masuk ke dalam hidup abang, sampai abang nyaman dengan kehadiran ku." kata Ling
"kamu memang gadis yang baik," kata mama memeluk Ling erat
"mama juga baik seperti mami" balas Ling
"Ling, gimana soal pekerjaan kamu? Arlan baru tau?" kata mama yang mengurai pelukannya
"iya ma, maaf ya ma pasti mama dan papa malu punya menantu seperti Ling"
"enggak sayang, mama tidak mempermasalahkan semua itu. Mama dan papa itu sayang sama kamu dari dulu, mama juga yakin kamu adalah gadis yang baik. Jangan pernah berfikir seperti itu" mama mengusap rambut Ling
"tapi abang"
"memangnya Arlan kenapa,?"
"kemarin sempat meminta Ling untuk berhenti ma, tapi Ling butuh waktu. Dan Ling juga bilang ke abang, kalau abang bisa menjadi kan Ling satu satunya, pasti Ling akan nurut sama abang. Ling salah tidak ma?"
"kamu tidak salah, mama mendukung semua keputusan kamu. Biarkan Arlan berfikir kalau sudah seperti ini."
__ADS_1
"terimakasih ma"
Siang harinya Ling menuju ke rumah barunya, bersama salah satu pembantu di rumah Arlan. Siang ini Ling habiskan untuk merapikan pakaiannya dan juga Arlan. Tanpa terasa, sore pun sudah tiba, setelah Ling mandi ia membantu bibi di dapur.
"non Ling duduk manis saja, nanti bau bawang loh" kata bibi
"bibi bisa aja, udah biasa kok Ling di dapur"
"nyonya bisa saja cari mantu, sudah cantik, baik, mau masak di dapur lagi." kata bibi
"bibi terlalu berlebihan memuji Ling, padahal Ling masih banyak kekurangan" kata Ling
Obrolan mereka harus terhenti saat mendengar suara sepatu dan lantai beradu.
"bi aku ke depan dulu, mungkin abang sudah pulang" pamit Ling
"iya non" jawab bibi
Saat Ling sampai di ruang tengah, terlihat Arlan akan menaiki tangga. Ling mengikuti Arlan dari belakang.
"bang" panggil Ling dan Arlan menoleh ke belakang
Ling mengulurkan tangannya, Arlan yang paham pun juga mengulurkan tangannya. Ada rasa aneh saat Ling mencium tangannya, tapi mungkin itu karena belum terbiasa.
"mau langsung mandi?" tanya Ling saat sudah di kamar
"iya" jawab Arlan
"biar aku siap kan baju ganti nya" kata Ling dan Arlan mengangguk.
Setelah selesai menyiapkan baju Arlan, Ling kembali turun ke dapur. Sambil menunggu Arlan, Ling menyiapkan makanan yang sudah matang. Tidak berapa lama, Arlan sudah turun ke meja makan. Mereka menikmati makan malam tanpa banyak bicara. Selesai makan, Ling pamit ke kamar untuk siap siap kerja.
"maaf tuan, di luar ada dua laki laki yang mencari non Ling" kata bibi pada Arlan yang sedang melihat acara televisi
"siapa bi?" tanya Arlan
"saya kurang tau tuan"
Arlan pun menuju ke depan dimana orang itu berada. Bohong kalau Arlan tidak berfikiran negatif terhadap Ling, di cari dua laki laki malam malam begini. Apalagi perkejaan Ling adalah seorang Dj.
Sesampainya di depan pintu Arlan melihat dua orang yang memunggunginya. Dua orang yang mengenakan baju kemeja hitam, celana hitam, rambut klimis, dan juga sepatu kets. Kalau dilihat dari belakang, tubuhnya cukup kekar dan juga masih muda.
"ekhem" Arlan berdehem untuk mencari perhatian mereka berdua.
Dan benar saja, secara bersamaan mereka menghadap ke arah Arlan. Laki laki yang mungkin beberapa tahun lebih tua darinya, dan berkulit sedikit gelap itu membungkuk kan badannya sedikit.
"selamat malam tuan" sapa salah satu dari mereka
"malam, kalian siapa?" tanya Arlan
"kami....." jawaban mereka terhenti
"abang" panggil Ling yang muncul dari dalam
"oh kalian sudah sampai" kata Ling melihat dua orang di hadapannya
"mereka siapa? kamu mau berangkat kerja sama mereka?" Arlan
__ADS_1