Abang CEO

Abang CEO
Siapa dia?


__ADS_3

Setelah Arlan dan Ling duduk di sebuah meja restoran, mereka memesan makanan yang di inginkan.


"mohon di tunggu sebentar ya kak, tuan" kata pelayan perempuan itu.


"kenapa kamu?" tanya Arlan yang melihat Ling cekikikan


"memangnya abang tidak sadar, aku di panggil kak, dan kamu di panggil tuan."


"memangnya seperti itu tadi?"


"iya bang, udah di bilang mirip bapak bapak juga ngeyel kamu itu."


"enak saja kalau ngomong, tuan bukan berarti bapak bapak"


"mau aku kasih saran tidak?"


"apa"


"itu brewok di cukur, biar gak tua tua amat. Besok kalau kita bersanding di pelaminan kan, biar tidak kelihatan kalau umur kita jauh berbeda. kasihan aku nya kan?"


"dewasa bukan tua"


"tua bang kalau sama aku, kan aku unyu unyu gini" Ling memperlihatkan wajahnya yang imut


Gadis ini, tadi dia nangis nangis pas di makam maminya. Tapi sekarang dirinya bisa menggemaskan seperti ini. Tapi lebih baik saya melihat kamu seperti ini, daripada seperti tadi. Batin Arlan


"bang"


"abang" panggil Ling


"apa sih"


"kok diem, ini udah datang makannya"


"ya udah makan" kata Arlan


Baru saja selesai makan, Arlan sudah di telepon oleh Yoga. Ada meeting dadakan dan harus saat ini juga. Kalau ia mengantarkan Ling itu tidak mungkin, karena jarak rumah Ling dan kantor lebih dekat kantor nya.


"gak papa bang, aku bisa pulang sendiri. Atau minta di jemput teman" kata Ling


"saya yang jemput kamu, tidak mungkin saya meninggalkan kamu. Kalau kamu tidak keberatan ikut ke kantor dulu aja, nanti biar di antar supir"


"memangnya tidak apa?"


"tidak, ayo" Arlan berjalan terlebih dahulu.


Di dalam mobil Ling memperhatikan bajunya, celana levis hitam dan kemeja hitam.


"bang bajuku?" tanya Ling


"kenapa?" Arlan


"jelek ya"


"enggak, itu bukan masalah buat saya"


"em ya sudah" Ling


Sesampainya di depan kantor Arlan, Ling menarik satu masker yang ada di dalam mobil Arlan. Sebenarnya Ling takut kalau ada yang mengenali dirinya.


"kenapa pakai masker?" tanya Arlan


"malu hehehe" Ling


Hah itu kan cowok yang sering ke club, yang sok kenal itu kan. Semoga dia tidak mengenali gue. Batin Ling melihat Yoga


"Ga, pak Jar mana?" tanya Arlan langsung pada Yoga


"kan belum masuk, dia siapa?" tanya Yoga saat melihat Ling mengekor di belakang Arlan


"aku pulang sendiri aja bang gak papa" Ling


"enggak, kamu tunggu saya meeting. Ga tolong antar dia ke ruangan saya,"


"tapi dia..?" Yoga


"gak papa aman, saya langsung keruangan meeting" kata Arlan kemudian melangkah cepat


"mari" ajak Yoga

__ADS_1


Ling mengangguk dan mengikuti Yoga, karena tertutup kacamata Ling bisa melirik ke mana mana.


Bagus juga interior kantor nya. Batin Ling


"silahkan nona, saya permisi dulu. Nanti biar OB membawakan minum untuk nona." Kata Yoga


"terimakasih, tapi berapa lama meeting nya?" Ling


"saya kurang tau, mungkin satu jam. Meeting ini akan menyampaikan laporan" Yoga


"oke saya tunggu" Ling


Setelah kepergian Yoga, tidak berapa lama seorang OB datang dengan membawa minuman juga cemilan. Lumayan lah buat menemani, karena menunggu itu hal yang membosankan 😁. Ling mengirimkan sebuah pesan untuk seseorang.


Sampaikan intinya, untuk tindakan sampaikan secara tertutup. Seperti yang saya sampaikan kemarin. Begitulah isi pesan yang Ling tulis untuk seseorang.


Diruang meeting Arlan sudah memulai acara nya. Sebuah meeting dadakan untuk membahas anak cabang yang mulai menurun. Meeting nya menghabiskan waktu sekitar empat puluh lima menit saja.


"maaf tuan Arlan, ada yang harus saya sampaikan" kata Pak Bara tangan kanan pak Delon


"penting?" Arlan


"sangat penting,"


"ikut ke ruangan saya" Arlan


Arlan keluar di susul Nisa, Yoga dan juga Bara. Mereka menuju ke ruangan Arlan, namun Nisa di minta kembali ke meja kerjanya.


ceklek


Arlan bisa melihat Ling sedang duduk dan memainkan ponselnya, saat mereka masuk Ling mendongak untuk melihat.


"Nona..?" Kaget Bara saat melihat Ling, dan ia segera membungkuk kan badannya.


Arlan dan Yoga heran dengan perlakuan Bara, karena Bara akan terlihat cuek kepada orang yang tidak berkepentingan. Bahkan dengan Yoga saja Bara tidak seperti ini. Arlan sebenarnya tidak begitu suka dengan Bara, karena dia juga tidak bisa di bantah oleh Arlan. Bara mempunyai sifat yang seperti papanya, tegas dan tidak boleh di bantah. Apalagi Bara lebih dingin daripada Arlan, dan diamnya Bara terkadang membuat orang takut. Entah dari mana papanya mendapatkan Bara.


"kamu tau siapa dia?" tanya Arlan pada Bara


Bara gelagapan karena itu, ia takut salah menjawab. Tapi bagaimana ini Arlan memandangnya intens.


"abang sudah selesai meeting?" tanya Ling yang menyelamatkan Bara


"kenapa?" Arlan


"abang tukang bakso?" kata Yoga


"diam kamu,!" Arlan


"dia siapa sih Ar, gue kok gak tau." Yoga


"besok-besok juga akan tau, ayo Bar" kata Arlan yang berjalan menuju mejanya


"gue ngapain?" Yoga


"ini masih jam kerja pak Yoga, bisa formal? dan lebih baik kamu kembali ke ruangan kamu" Bara


"lah, bos gue Arlan" Yoga


"dan saya saat ini hanya berkepentingan dengan tuan Arlan" Bara


"lo balik dulu aja Ga, bisa perang nanti" Arlan


"oke, ini berkasnya" Kata Yoga


Setelah kepergian Yoga, Bara mulai menyampaikan apa yang harus ia sampaikan. Sesekali Arlan melirik Ling yang duduk di sofa dan fokus pada ponselnya.


"jadi menurut kamu semua ini ada campur tangan orang dalam?"


"bisa jadi seperti itu tuan"


"kenapa tidak sekalian aja sih informasi nya?"


"saya hanya diminta menyampaikan itu dulu, selebihnya nanti mungkin setelah tuan Arlan menikah"


"kamu tau saya akan menikah?"


"tentu saja, kalau begitu saya sudah selesai disini"


"silahkan" Arlan

__ADS_1


"maaf tuan, tolong keep dengan informasi yang saya sampaikan tadi dari siapapun karyawan tuan. Kita perlu susun strategi untuk membuka semuanya." Pesan Bara


"ya ya ya atur saja" Arlan


"saya permisi, mari Nona" Bara membungkuk pada Ling dan keluar ruangan Arlan


"kamu kenal Bara?" tanya Arlan


"ya seperti yang abang lihat"


"hhmm ayo saya antar pulang"


"memangnya abang tidak menunggu jam pulang?"


"tidak"


"ya sudah ayo" Ling kembali menggunakan kacamata yang sempat ia lepas tadi.


Ling berjalan di belakang Arlan, dia sedikit menunduk.


Mas Arlan sama siapa? kapan dia masuk ke ruangan Arlan. Kaget Nisa melihat gadis yang berjalan di belakang Arlan


"Nisa saya pulang terlebih dulu" kata Arlan yang berhenti di depan meja Nisa


"Nisa?" panggil Arlan


"iya mas? em maksud saya pak" kata Nisa gugup


Mas? gue gak salah dengar kan?. Batin Ling


"saya pulang dulu, kalau ada apa-apa serahkan pada Yoga"


"i..iya pak" jawab Nisa, sungguh ingin sekali ia menanyakan siapa gadis itu.


"abang tunggu" kata Ling yang berusaha mengejar langkah Arlan, ia tadi sempat membalas pesan Rico


"apa? abang? siapa dia?" gumam Ling


"gue juga penasaran siapa dia, dari tadi pakai masker" kata Yoga yang tiba tiba muncul


"sejak kapan dia di ruangan Arlan,?"


"tadi sebelum meeting, Arlan datang sama dia"


Apa tadi Arlan menjemput dia, atau jangan jangan dia calon istri Arlan?. Nisa


"hey kenapa lo?"


"enggak" Nisa


"lo tau siapa dia?" tanya Yoga


"ya gak tau, bukannya lo yang antar?"


"gue penasaran banget, tadi si batu bernyawa juga hormat banget sama dia"


"batu bernyawa siapa?"


"itu batu Bara" kata Yoga


"balik kerja sana masih satu jam waktu pulangnya" Nisa


"elo tadi yang ngajakin gosip" kata Yoga


"enak aja" kata Nisa kemudian ada panggilan masuk di ponselnya.


"iya aku cuti sekarang, ibu yang sabar ya. Tunggu Nisa pulang" kata Nisa dengan wajah paniknya


"kenapa?" tanya Yoga


"Ga, gue ijin beberapa hari ya. Ini benar-benar darurat." Nisa membereskan mejanya


"lah tapi"


"tolong Ga, gue harus pulang"


"Arlan?"


"tolong sampaikan gue cuti. Gue pulang dulu" Nisa berlari menuju lift

__ADS_1


__ADS_2