
Arlan manggut-manggut mendengar jawaban Ling
"oh iya, saya mau mengucapkan terimakasih sama kamu" kata Arlan
"terimakasih untuk apa?" tanya Ling bingung
"kamu sudah membantu pekerjaan saya" jawab Arlan membuat Ling mengerutkan keningnya
"yang tadi pagi, kamu menyelesaikan file saya untuk meeting" jelas Arlan
"em, maaf bang kalau berantakan dan tidak sesuai dengan keinginan abang. Aku masih amatiran" Ling
"amatiran bagaimana? semuanya sesuai dengan keinginan saya, bahkan klien saya sangat puas dengan prestasi saya" Arlan
"syukurlah kalau gitu bang" Ling tersenyum kepada Arlan
"bagaimana kalau kita, jalan jalan malam ini"
"jalan jalan?" tanya Ling
"iya, sebagai tanda terimakasih saya, kamu bebas mau jalan kemana saja. Saya temani dan saya traktir"
"tapi..." Ling
"kamu harus bekerja ya,saya boleh minta tidak kalau malam ini kamu tidak usah berangkat kerja "
Bagaimana ini, sebenarnya ini kali pertama abang ngajak gue. Apa dengan gue jalan sama abang bisa membuat hubungan kita membaik. Kalau gue tolak kira kira gimana ya? Batin Ling
"arlinka kok kamu diam sih "
"em, memangnya kita mau ke mana? " Ling
"ke mana aja terserah kamu bagaimana kamu mau kan? "Arlan
"ya sudah lihat nanti saja "
"jadi kita berangkat sore ini atau nanti? " Arlan
"memang Abang tidak capek? "
"tidak"
"kita berangkat nanti aja setelah petang "
"baiklah"
Pukul tujuh malam, Ling dan Arlan sudah sampai di sebuah parkiran mall terbesar di kota ini. Arlan mengajak Ling untuk turun dari mobil. Tetapi Ling terlihat hanya melihat ke arah mall yang begitu ramai.
"gimana kita jadi masuk atau tidak? "tanya Arlan
"tapi di dalam pasti ramai, memangnya Abang tidak papa? "
"kalau saya tidak masalah. "
"ya sudah kalau gitu tapi aku pakai masker ya bang? "
"kenapa?? "Arlan melihat ke arah link yang begitu gelisah
"nggak papa kok bang, aku lebih nyaman pakai masker "
"kamu takut kalau fans kamu lihat kamu jalan sama saya,, dan itu akan menimbulkan sebuah gosip?"
"bu.... bukan begitu bang" Ling
"saya tau kok, dan saya tidak melarang kamu. Pakai saja tidak papa, saya tidak masalah" kata Arlan
"terimakasih bang" jawab Ling memberikan senyuman yang manis
"ayo turun, keburu tutup" kata Arlan
__ADS_1
"baru jam tujuh bang" gerutu Ling dan segera turun menyusul Arlan.
Mereka berdua berjalan beriringan memasuki mall, dalam hati Ling menggerutu karena ia tidak seperti pasangan yang lain. Ling hanya mengekor di samping Arlan, bahkan tidak ada obrolan dari mereka berdua. Ini siapa yang tidak peka, apakah Ling harus berinisiatif duluan? tapi kan sebagai perempuan Ling juga ingin di perhatikan.
"kita ke sana dulu, kamu belum makan kan?" kata Arlan memegang tangan Ling
"em belum" kata Ling melihat tangan nya yang di genggam Arlan
Duh jadi grogi sih, padahal cuma pegang tangan. Batin Ling
Mereka memutuskan masuk ke sebuah kafe yang ada di mall ini.
"cie sweet nya adik ku" kata Tia yang tidak sengaja berpapasan dengan Ling
"kak Tia?" kaget Ling saat melihat keluarga kakaknya
"wah pengantin baru jalan jalan nih" kata Yuda
"iya pak, ngantar Arlinka" jawab Arlan
"panggil kak, atau Yuda. Sepertinya kita seumuran" Yuda
"iya kak" jawab Arlan kikuk.
"kakak ngapain di sini?" tanya Ling
"ya dinner lah, kamu juga ngapain" Yuda
"Dinner juga, ayo bareng kalau gitu" Ling
"kita udah selesai, kalian saja" kata Tia
"yah gak seru" Ling
"tante, besok main ke rumah Syla ya" kata anak kecil di gendongan Yuda
"besok tante gak bisa, lain kali ya cantik"
"besok lihat tante di tv ya, tante harus kerja" bujuk Ling
"tante masuk tv lagi?" Syla
"iya dong"
"wah hebat, besok sama Syla masuknya"
"tentu saja, kalau begitu kamu sekarang minta di belikan boneka yang besar sama papa kamu. Tadi tante lihat ada boneka panda lucu di sebelah sana" Ling
"Arlinka..!!!" geram Yuda
"ayo kabur bang" Ling menarik Arlan menjauh, karena bisa di pastikan kakaknya akan mengamuk.
Setelah sampai di sebuah meja Ling masih cekikikan melihat wajah kesal kakaknya tadi.
"kamu kenapa sih?" Arlan
"enggak bang, seneng aja kalau bikin kakak marah" Ling
"kualat kamu"
"ih abang,!! kok gitu" kata Ling tidak terima
"suka aja bikin kamu marah" jawab Arlan
"ish dasar abang tukang bakso" gerutu Ling
"ganti panggilan kamu untuk saya, saya tidak suka" Arlan
"ganti apa?"
__ADS_1
"lebih baik kamu panggil saya mas, saya lebih nyaman"
Mas lebih nyaman,? bukankah itu panggilan dari pacarmu. Menyebalkan sekali. Bahkan kamu belum menjelaskan apa apa bang.
"Arlinka?" panggil Arlan karena Ling hanya diam
"aku gak mau" jawab Ling cepat dengan nada pelan, suasana yang tadinya nyaman sekarang membuat Ling kehilangan mood nya.
"kenapa? bukankah itu biasa untuk panggilan suami istri?" Arlan
"bukankah itu panggilan sekertaris abang" sindir Ling
"em, Arlinka."
"makan aja bang, udah datang juga. Habis ini kita pulang saja" kata Ling dan mulai memakan makanan nya
"kita kan mau jalan-jalan?"
"gak jadi bang, besok aku harus ke Bandung. Aku mau nyiapin keperluan"
"ke Bandung ngapain?" Arlan
"aku ada kerjaan di sana" Ling
"ya sudah makan dulu" jawab Arlan yang sebenarnya tau perubahan mood Ling.
Selesai makan, Ling mengajak Arlan untuk pulang. Arlan menurut saja karena memang ia tidak ingin membuat Ling tambah bad mood. Di perjalanan pulang pun mereka hanya diam, saat di tengah jalan Arlan melihat ada sebuah keramaian. Arlan menepikan mobilnya, sebenarnya ia tidak pernah datang ke tempat seperti ini, hanya dulu waktu masih kecil.
"ayo turun sebentar" kata Arlan
"ngapain?" tanya Ling namun Arlan sudah turun duluan
"ayo Arlinka," kata Arlan membuka pintu di sebelah Ling
Ling menurut saja turun dari mobil, toh juga sudah di bukakan oleh Arlan. Setelah turun Arlan yang juga menggunakan masker pun menarik tangan Ling. Ia membawa Ling ke sebuah wahana bianglala. Setelah membeli tiket mereka berdua masuk kedalam sebuah sangkar yang besar. Saat ini mereka sedang berada di sebuah pasar malam.
"kamu tau, ini baru pertama kali saya naik wahana seperti ini" kata Arlan
"memangnya abang belum pernah?"
"dulu waktu kecil, saya pernah di ajak mama ke tempat seperti ini. Saat di ajak naik wahana saya tidak mau, takut" jelas Arlan
"jangan jangan saat ini abang juga takut?" tanya Ling
"sedikit" bisik Arlan dan itu berhasil membuat Ling tertawa lepas.
Kenapa saya lebih suka melihat kamu yang ceria seperti ini, bukan pendiam yang seperti tadi. Padahal kalau sama Nisa saya lebih suka ketenangan, karena kita sama sama sudah dewasa mungkin. Batin Arlan
"bang, abang gak ngompol kan?" tanya Ling dengan sisa tawanya
"enggak lah, udah kamu diam nanti banyak orang yang tau" kata Arlan
"tunggu dulu bang, aku akan mengabadikan momen ini" Ling mencari ponsel nya.
"yah ponselku di mobil" kata Ling.
"sini biar saya yang fotokan" Arlan mengambil ponselnya dan mengarahkan ke Ling
"bukan aku, tapi abang yang mau aku foto. Mau aku viralkan seorang CEO LANDO GRUP TAKUT NAIK BIANGLALA, gitu judulnya" kata Ling
"gak, enak saja" kata Arlan
"ayolah bang, aku pinjam sebentar" Ling berusaha meraih ponsel Arlan.
Arlan yang tidak mau ada gosip tentang dirinya pun mempertahankan ponsel nya. Namun Ling masih berusaha meminjam ponsel Arlan, mereka berdua berebut seperti anak kecil, bahkan Ling sudah pindah posisi duduk di samping Arlan. Karena badan Ling lebih kecil dari Arlan, dengan mudahnya Arlan memeluk Ling di keteknya agar tidak merebut ponselnya.
"plis bang sekali saja" kata Ling
"ambil saja ni," Arlan mengangkat tinggi tangan yang menggenggam ponsel
__ADS_1
Ling yang di peluk Arlan pun berusaha meraih ponsel itu, namum saat matanya bertemu dengan mata Arlan membuat Ling terdiam. Tidak hanya Ling bahkan Arlan juga mengunci pandangan nya pada Ling.