
Setelah diam beberapa saat Arlan kembali bersuara, walaupun jujur badannya masih terasa lemas.
"Arlinka, saya minta maaf kalau saya sudah mengecewakan kamu. Saya juga tidak begitu tau apa yang membuat kamu pergi. Saya berterima kasih atas semua yang kamu lakukan demi saya, ijinkan saya menebus semua kesalahan saya. Saya baru sadar kalau saya......." Arlan menjeda ucapan nya
"saya mulai sayang sama kamu, dan saya nyaman sama kamu. Kalau bicara cinta, ini terlalu cepat, mungkin kamu tidak akan mempercayai nya. Tapi saya berjanji akan berusaha mencintai kamu"
"lalu bagaimana dengan Nisa"
"saya sudah mengakhiri semuanya, saya dan Nisa hanya sebatas atasan dan karyawan" kata Arlan, namun terlihat Ling tersenyum seperti meremehkan.
"lalu apa yang aku dengar saat abang bersama Nisa di kantor itu, abang akan selalu memaafkan Nisa kan? terus bagaimana abang bisa belajar mencintai aku"
"apa yang kamu dengar itu belum semuanya," Kemudian Arlan menceritakan apa saja yang ia bicarakan dengan Nisa waktu itu.
"jadi....aku yang salah?" Ling
"Tidak, kamu tidak salah. Saya yang salah di sini. Saya yang tidak bisa menjaga perasaan kamu. Saya minta maaf. Kamu lihat kan? saya tanpa kamu menjadi manusia lemah seperti ini, saya tidak ada apa apanya. Ijinkan saya menebus semua kesalahan saya." kata Arlan
"Arlinka, saya mohon jangan tinggalkan saya lagi" kata Arlan tulus dan begitu menyayat hati Ling. Baru kali ini Ling mendengar seseorang dengan tulus memintanya untuk tidak pergi. Ling merasa bersalah saat melihat Arlan seperti ini.
"Arlinka" panggil Arlan saat Ling hanya diam saja duduk sebuah kursi di samping ranjang. Arlan memegang kedua tangan Ling
"maaf kan aku juga bang, sudah membuat abang seperti ini" kata Ling yang baru berani memandang Arlan.
"kita mulai lagi semuanya ya? saya janji akan mencintai kamu" kata Arlan dan Ling mengangguk.
Pelukan hangat yang jarang sekali Ling rasakan dengan Arlan, saat ini menjadi pelukan pertama yang akan membuka cerita indah mereka berdua. Arlan yang sangat merindukan Ling, memeluk Ling begitu erat, sesekali ia juga mengecup kepala Ling.
Abang, aku harap kamu benar benar serius akan berubah. Karena perasaan ku ternyata lebih dulu ada untuk kamu. Dan semoga aku tidak salah lagi mengambil langkah ini. Batin Ling
"saya kangen banget sama kamu Ling, dan rasanya bahagia bisa memeluk kamu."
"aku juga bahagia kalau abang memilih aku" kata Ling
"kamu mau kemana? sepertinya mau pergi?" tanya Arlan melihat penampilan Ling
"tadinya mau cari makan malam bang, abang sudah makan?"
"untuk apa saya makan, yang ada dipikiran saya hanya kamu."
"jangan seperti itu, abang sampai sakit seperti ini. Abang sakit apa,?"
"saya sudah sembuh setelah bertemu kamu"
"bohong, abang masih pucat. Biar aku pesan makan, abang mau makan apa?"
"kalau saya punya tenaga maunya makan kamu, tapi itu tidak mungkin saya lakukan sekarang."
"maksud abang?"
"pesankan saya bubur aja," kata Arlan mengecup pipi Ling
"ih abang" jujur Ling sangat deg deg kan saat Arlan mencium pipinya.
Ling memesan makanan online, melalui ponsel Arlan. Karena memang ia mematikan ponselnya, sejak kepergian nya waktu itu. Ling hanya membeli sebuah Iped untuk dia memantau pekerjaan juga melihat keadaan rumah Papi nya. Seorang Ling pasti bisa melakukan itu dengan mudahnya.
__ADS_1
Kenapa Ling bisa melakukan semua itu, karena dulu saat masih di bangku SMP Ling selalu mengurung diri. Ia hanya tertarik dengan dunia komputer, dan entah belajar dari mana ia bisa menguasai dengan berjalannya waktu. Dan jadilah Ling yang sekarang.
Tidak butuh waktu lama makanan pesanan Ling sudah datang, saat Ling akan beranjak ke depan tiba tiba tangannya di pegang Arlan.
"jangan tinggalkan saya lagi" kata Arlan
"aku mau ambil makanan bang, kasian kurirnya nunggu lama"
"janji segera kembali"
"iya" Ling berjalan ke depan, jujur Arlan masih begitu takut kalau Ling akan pergi lagi.
Di tunggu beberapa saat Ling belum juga kembali, akhirnya Arlan turun dari ranjang dan mencari Ling. Dilihatnya pintu sudah tertutup, tapi dimana Ling.
"Arlinka" panggil Arlan, ia berjalan cepat menuju ke pintu
"abang mau kemana?" tanya Ling yang membawa sebuah nampan berisi makanan
"kamu kemana?" Arlan langsung memeluk Ling
"abang, lepas dulu ini berat" Ling
"kamu lama" kata Arlan yang begitu lega melihat Ling tidak pergi
"kan nyiapin ini dulu di dapur. Mau makan dimana?" tanya Ling
"di meja makan aja, nanti kamu pergi lagi"
"Astaga, enggak abang" kata Ling yang kembali ke meja makan
Setelah menikmati makan malam, Ling menyiapkan obat yang di bawa oleh Arlan. Ia ingin Arlan juga cepat sembuh, walaupun Arlan selalu mengatakan ia sudah baik baik saja.
"dari bu Devi,"
"terus kesini sendiri?"
"besok kamu juga tau, tidur yuk" kata Arlan
"belum ngantuk bang,"
"jujur panggilan norak kamu ke saya ini, membuat saya sangat rindu. Saat saya tidak mendengar panggilan itu, ternyata ada yang kurang di hidup saya" Arlan
"bisa di ganti aku, jangan saya. Aku terlihat seperti klien kamu aja bang,"
"iya aku" kata Arlan tersenyum
"ya udah abang istirahat, aku tidak pergi lagi"
"sa.. aku mau peluk kamu sampai pagi. Ibarat ponsel, aku perlu di cas semalaman"
"gombal banget"
"beneran sayang" Arlan
Mendengar kata sayang dari Arlan membuat Ling salah tingkah. Semoga selamanya akan seperti ini. Karena Ling diam, Arlan menarik Ling ke dalam pelukannya. Arlan langsung memejamkan matanya, karena memang badannya belum sembuh betul.
__ADS_1
Pagi ini Ling bangun terlebih dahulu, rasanya tidurnya malam ini begitu nyenyak. Mungkin karena pelukan dari Arlan yang membuat Ling nyaman. Begitu juga dengan Arlan, sebenarnya ia sudah bangun, tapi ia malas untuk melepaskan pelukannya.
"mau kemana" tanya Arlan saat Ling melepaskan tangan Arlan dari perutnya
"mandi bang, mau nyiapin sarapan"
"aku bareng"
"enggak, aku mau mandi di atas. Lagi lampu merah" kata Ling berjalan keluar
"lampu merah,? maksudnya? oh astaga" Arlan menepuk keningnya saat tau maksud Ling.
Saat Ling berjalan menuju kamar, ia sambil mencepol rambutnya. Pagi ini Ling terlihat lebih bersemangat dari hari sebelumnya. Saat ia akan menaiki tangga, ia melihat dua orang yang tidak asing baginya.
"Kak Leo, kak Yuda" kaget Ling sedangkan mereka berdua hanya terbengong
"seger" gumam Yuda yang hanya bisa di dengar Leo. Mereka melihat Ling yang hanya menggunakan hotpants dan juga sport b*a.
bruk
Arlan melempar handuk ke arah Yuda dan Leo, itu berhasil membuat mereka tersadar.
"mau gue congkel mata lo" kata Arlan menyembunyikan Ling di belakang nya.
"dikit doang, kan jarang jarang" Yuda
"istri gue, macam macam gue kek ( memeragakan memotong leher)" Arlan
"galak amat" gumam Yuda dan Leo menahan tawanya.
Sedangkan Ling segera berlari ke atas, setelah memakai baju Arlan yang kebesaran.
"Ar, kaya gitu model yang di rumah kok lo bisa tahan" Yuda
"bukan urusan lo" Arlan kembali masuk ke kamar untuk mandi.
Setelah beberapa saat, Ling sudah selesai menyiapkan sarapan. Ling hanya pesan dari luar sih, tidak masak sendiri, karena memang tidak punya bahan.
"Ar, siang ini kita harus kembali ke Jakarta" Yuda
"lo aja, gue mau liburan"
"enak aja,udah banyak kerjaan yang lo tinggal ya. Ling udah ketemu, lo juga udah lebih baik" Yuda
"anggap gue honeymoon"
"Ling, jadwal lo juga udah menanti, kasian Rica dia juga pusing mikirin pinalti kalau lo gak balik" Leo
"sory kak, aku janji nanti balik dan selesai kan semua" Ling
"tuh bini lo balik" Yuda
"sayang, aku masih mau disini sama kamu" Arlan
"dih udah sayang sayang aja" Yuda
__ADS_1
"berisik" Arlan
"kapan kapan kita kesini lagi bang, kita selesaikan pekerjaan kita dulu. Maaf gara gara aku semua jadi kacau" Ling