
Nasib menghentikan gowesan-nya.
"Bagaimana bisa Bi?" Tanyanya mendengar suara di telinganya.
Nasib memperhatikan Rumahnya, sebentar lagi Ia akan sampai. Sejak tadi menggowes Sepeda Kumbang dari berkeliling dusun di sekitar Bukit untuk menghilangkan rasa jenuhnya dan sekedar menghirup udara senja yang nampak indah dengan warna Mentarinya, membuat perasaanya terasa lebih tenang. Namun Saat Bi Narti memberitahukan Adina sakit, perasaannya kembali mulai terusik resah.
"Adinanya?" Dengan turun dari Sepeda.
"Baru pulang dari rumah sakit," tanggapnya lagi.
"Oh, iya sudah Bi. Biarkan Ia beristirahat." Nasib menuntun Sepeda Kumbangnya.
"Iya, Iya Bi, terimakasih." Nasib menghentikan langkahnya, melihat layar HP. Menghela nafas berat dengan mamasukkan HP ke dalam saku celananya.
Menatap kembali pintu Rumahnya yang terlihat tertutup. Lalu menuntun pelan Sepedanya.
Warna senja yang begitu indah Ia nikmati dengan bersepeda kian suram dengan warna malam yang tidak lama lagi akan menutupi seluruh Bukit.
Segera menarik boncengan sepeda dengan menahan standar dengan kakinya.
Lalu segera masuk ke dalam Gubuk, duduk menatap wajah Bukit yang menghalangi warna senja yang kian terbenam.
Hati mulai terselimuti rasa resah dan gundah. Adina kembali sakit, sedang baru kemarin Ia mendengar tawa dan candanya di HP.
Wajah Adina seperti terukir di wajah Bukit.
Adina memang sering sakit. Namun yang membuatnya resah, karena Ia selalu memeluknya saat Sakit. Kini ...
Nasib kembali menghela nafasnya.
Hatinya terasa merasa bersalah, harusnya Ia kembali menemani Adina segera. Harusnya Ia tengah memeluknya dan mencium kepalanya di saat sakit.
Kembali melihat ke arah Rumah.
Sepertinya Ia memang harus segera kembali bersama Adina mengingat Retno dan Mukio yang belum juga datang ke Bukit. Ia dan Adina bisa menemui Mereka di lain hari jika kembali lagi ke Bukit.
Segera bangkit, mendekati Sepeda Kumbang yang telah tertunjang standar besi di depan Gubuk.
Segera menaikinya dan menggowesnya menuju Rumah.
Sementara Awan-awan hitam telah banyak bermunculan, seperti ikut memacu waktu untuk terus berputar mengganti hari.
Desir-desir angin sejuk akan kembali berubah dingin dan menusuk kulit seperti sedia kala di saat malam.
Nasib lekas menuju belakang melewati samping Rumah. Langsung akan membawa masuk sepeda Kumbang ke dalam dapur.
"Dari mana Kau Nasib?"
Nasib menoleh ke belakang, Ibunya terlihat baru saja dari dalam kamar mandi.
"Hanya mencari angin segar Bu." Nasib dengan membawa masuk sepedanya.
Bu Marimin segera menyusulnya.
"Cahaya mencarimu."
Nasib tersenyum dengan menyandarkan Sepeda di dinding dapur di belakang pintu.
"Apa Cahaya bersama Kevin Bu?" Dengan duduk di kursi kayu di dekat meja yang terutup tudung saji plastik.
Bu Marimin menggeleng pelan.
__ADS_1
Nasib tersenyum kembali melihat ekspresi wajah Ibunya.
"Cahaya hanya ingin pamit padamu."
Nasib termangu menatap Ibunya.
"Pamit?"
"Iya." Bu Marimin dengan duduk di kursi sebelah Nasib.
Hanya dua buah Kursi kayu untuk makan yang mengiasi dapur dengan dinding-dinding yang masih terlihat hitam di dekat tungku kayu yang biasa di gunakan Bu Marimim untuk memasak.
"Cahaya memang sering pulang ke bukit, tapi enggak lama." Bu Marimin memberi tahu.
Nasib hanya kembali tersenyum.
Bu Marimin pun senyum dengan melayangkan tatapnya ke luar dapur.
"Meski kini Kalian enggak lagi menjalin kasih, Cahaya selalu menanyakan kabarmu." Bu Marimin seperti menerawang jauh.
"Ibu selalu ingat, jika Cahaya tengah menyapu di dekat sumur."
Nasib mengangguk tersenyum membayangkan Wajah Cahaya.
"Apalagi, ketika Dia tengah menantimu Nasib,"
"Hampir setiap hari Cahaya menenami Ibu, menyapu di pagi hari. Dan dapur ini ..." Bu Marimin menundukkan wajhanya.
Nasib terpaku menatapnya.
"Tawanya sering menemani Ibu memasak." Bu Marimin tersenyum.
Nasib menatap bisu perkarangan belakang yang mulai berwarna gelap.
Serangga-serangga kecil pemilik malam telah mulai mengepak sayap suaranya di balik-balik getirnya sebuah kenangan.
"Bibirnya selalu basah dengan senyum ceria, bila menyebut namamu Nasib." Bu Marimin melihat Nasib.
" Yang selalu bertanya, Kapan ya Bu, Nasib pulang?" Bu Marimin seperti menirukan ucapan Cahaya.
Bu Marimin perlahan berdiri mendekati dinding dapur.
Nasib semakin membisu melihat Ibunya yang menghidupkan lampu dapur dan segera menutup pintu dapur.
"Ibu, Ibu selalu merasa sakit saat mengatakan Kau akan segera pulang Nasib." Mata Bu Marimin menatap sendu.
"Sedang Ibu tau, Kau tengah bersama Adina."
Nasib memalingkan wajahnya ,tidada Kuasa hatinya mendengar penuturan Ibunya tentang Cahaya selama ini yang Ia tinggalkan.
Perlahan menghela nafas. Melihat Ibunya yang telah duduk kembali.
"Ibu enggak salah, Ibu hanya menuruti apa yang Nasib dan Adina katakan," ucapnya menahan lirih akan sebuah rasa sakit yang menjalari hati.
Bu Marimin menatap sendu sepeda kumbang di depan-nya.
"Selama Kau pergi, hanya Cahaya yang menemani sepi rumah ini Nasib," ucapnya. Menghela nafas pelan.
"Terkadang Ibu berharap dan meminta saat melihat Ia menyapu. Agar suatu hari mendapatkan pendamping yang terbaik," ucapnya lagi.
"Bu, Cahaya sudah mendapatkan apa yang telah Ibu harapkan, suaminya seorang berkehidupan mapan." Nasib menanggapi.
__ADS_1
"Tapi Ia sangat mencintaimu Nasib." Bu Marimin menatap.
Nasib tersenyum getir.
"Cahaya sudah menemukan cinta sejatinya. Kevin dan suaminya," ucapnya seperti ingin meluruhkan tatapan Ibunya.
Bu Marimin menghembuskan nafasnya. Tersenyum menatap dinding dapur.
"Iya, Nasib. Bagaimana dengan Adina?" Tanpa melihat Nasib.
"Nasib mencintainya, hanya Adina sakit lagi Bu."
"Apa?"
Nasib mengangguk pelan menjawab.
Bu Marimin menatap tidak percaya.
"Ibu kan, tau. Adina memang rentan sakit. Menurut Bi Narti karena tidurnya terlalu malam." Nasib senyum-senyum.
Bu Marimin tersenyum lebar.
"Adina, Adina. Bagaimana kalo tinggal di bukit lama?" ucapnya seperti mengingat wajah orang yang di bicarakan.
"Sakit terus Bu," tanggap Nasib.
Keduanya pun tertawa kecil, mengingat kembali Adina saat masih berada di Bukit.
Lembar-lembar malam kian terbuka lebar di luar Rumah bersama suara serangga pengerat yang melewati bawah pintu dapur. Hening yang biasa menyelimuti setiap malam terasa hangat oleh tawa keduanya.
Nasib segera meraih HP di saku celana yang tengah berdering.
Bu Marimin senyum menatapnya.
"Adina," ucap Nasib setelah melihat nama dan wajah di HP-nya.
Bu Marimin menghela nafas senangnya.
"Pagi," ucap Nasib menyahuti suara Adina di telinga.
"Ohhhh! Baru malam." Nasib tersenyum kepada Ibunya.
"Biasanya orang kalo terbangun kan, pagi hari?" Nasib menanggapi lagi. Telinganya kembali mendengarkan suara Adina.
"Ohhh! Sakit!" Nasib menahan tawanya.
Bu Marimin menepuk pundak anaknya, seperti turut gemas akan sikap berpuranya.
"Iya, maaf? Bi Narti sudah memberitau Kok." Nasib pelan. Senyum kecilnya terukir mendengar lagi suara Adina di telinga.
Bu Marimin terlihat menghembuskan nafasnya, tersenyum.
"Sakit untuk sehat ya," ucap Nasib menahan sebuah rasa di dalam hati setelah mendengar keluhan di telinganya.
Bu Marimin berdiri perlahan, menepuk pelan pundak Nasib. Lalu bergegas meninggalkannya, menuju kamar. Sepertinya Dirinya ingin membiarkan Nasib dan Adina berbincang rasa dan rindu tanpa harus terusik olehnya.
Di luar, biarkan hening saja yang menggores malam dengan kebisuan. Bu Marimin tersenyum merebahkan tubuhnya di atas kasur kapuk.
Memejamkan matanya, meski suara Nasib lagi terdengar olehnya.
...****************...
__ADS_1