ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
37. Selimut Mentari.


__ADS_3

Mendung yang sedari pagi bergumpal kelam telah mencurahkan semua beban yang di kandungnya.


Hujan deras bercampur kencangnya angin, membuat Nasib menutup hampir setengah pintu Kedai.


Para pejalan kaki dan pengendara Motor pun banyak yang berteduh di depan Pintu.


Nasib hanya melihat sekilas dari dalam Kedai orang-orang berlari-lari kecil dari jalan untuk berteduh.


Juwita dan Benu pun belum lagi datang selain hujan, waktu Kedai buka pun belum terlewati.


Dingin yang menyeruak masuk bersama embun hujan pun membuat beberapa orang memenuhi pintu Kedai.


Suara deru angin yang menggoyangkan keras ranting -ranting berdaun rimbun pepohonan di setiap pinggir jalan, seperti ingin mencabut dan menerbangkan-nya, membuat suasana semakin tidak nyaman berada di luar.


"Masuk aja."Nasib kepada orang-orang yang memenuhi pintu Kedai.


"Boleh Mas ...?"


Seoarang cewek masih menggunakan helmya.


"Iya masuk aja,"angguk Nasib tersenyum.


"Numpang neduh ya mas!"


Nasib mengangguk kembali.


"Duduk aja di kursi!" Nasib kepada semua yang masuk.


Kedai yang hanya terisi kursi-kursi kosong, kini telah di duduki orang yang ingin berteduh.


Satu-persatu yang berada di luar pintu pun ikut masuk kedalam melihat yang lain masuk.


Kursi-kursi pun penuh terisi dan bahkan banyak yang berdiri di tengah ruangan.


Nasib tersenyum memperhatikan, beringsut pelan mendekati lemari dangangnya.


Riuh langsung menjalari seisi ruang, tawa atau pun kata, cerita atau pun canda, sepertinya mulai mengangatkan suasana yang dingin.


Nasib segera menuju dapur Kedai, perabot dagangnya belum lagi Ia bawa ke depan. Dengan senyum melihat wajah-wajah yang telah merasa nyaman dan terlidung dari air hujan.


Nasib langsung menghentikan langkahnya, melihat ke dalam kamarnya, suara dering dari HPnya terdengar.


Perlahan melihat nama kontak di layar HP, Ia pun tersenyum.


"Iya, tunggu hujan reda aja," ucapnya mendengar Juwita memberitahukan kedatangannya ke kedai yang terhambat hujan.


"Iya, dari pada sakit? Masa Kak Nasib yang ngerokin!" candanya lagi. Lalu tertawa kecil mendengar sahutan Juwita di telinganya.


Nasib menghela nafasnya pelan setelah panggilan di matikan bersama tawa Juwita yang lenyap dari pendengaran-nya.


Menatap hitam layar yang baru padam, matanya menerawang jauh ,seolah menembus hingga ke ruang depan.


Seminggu sudah, setelah terakhir kali Ia dan Adina bersama, tiada lagi kabar yang Ia dan Adina berikan.


Ia hanya memikirkan kesehatan Adina. Adina pun memang tidak memberitahukan padanya ke mana Ia pergi,rumah yang biasa Ia tempati pun terlihat tiada tanda berpenghuni.


Nasib meletakkan kembali HPnya, keluar perlahan kembali menuju dapur.


Suara hujan masih deras terdengar, meski hangat bincang tengah mengusir rasa dingin dalam ruang depan.


Dandang yang masih berdiri terbalik di lantai dekat pencucian piring pun Langsung Nasib tenteng, bergegas membawanya ke depan. Nasib tersenyum, memperhatikan seisi ruang. Hampir penuh terisi orang yang berteduh. Wajah-wajah dalam ruang pun kadang memperhatikan-nya.


Nasib melihat curah hujan di antara kepala-kepala orang yang berteduh, masih terlihat deras.

__ADS_1


Langsung meluruhkan pandanganya ketika anganya terusik sebuah bayang di balik derasnya hujan dengan segera memasukkan air matang ke dalam dandang untuk kembali di rebus, segera kembali ke dapur untuk mengambil mangkuk dan perabotan lainya.


Nasib menatap lantai berkeramik diantara langkahnya, sebuah senyum sempat Ia lihat di antara keramain orang, namun hanya sekilas dan tidak terlalu terlihat wajahnya.


Meja yang masih bertaplak Mangkuk dan gelas bersih yang bertumpuk terasa sepi tanpa canda Benu dan Juwita yang belum datang.


Perlahan membersihkan Mangkuk dengan kain lap, menatap pintu dapur Kedai yang jarang sekali di buka, hanya jika ingin membersihkan parit saluran air saja saat membukanya.


Suara langkah mendekati, Nasib tersenyum tanpa menoleh, sepertinya Juwita telah datang ke Kedai dan sepertinya baru saja angannya mengingatnya.


"Jika cinta di hatimu membuatmu mabuk, muntahkan aja. Agar hati mu kembali sadar."


Nasib langsung menoleh suara di belakangnya.


"Erika!" Serunya senang melihat senyum manis wajah Erika.


Erika langsung merengkuh bahunya.


"Nasib! Nasib!" seru kecil di telinganya seperti sebuah rasa gereget.


Nasib tertawa kecil tanpa bisa menoleh, kepala Erika bersandar di bahunya.


"Jika Aku muntah, tiada lagi beban dalam hatiku untuk kembali merasakan cinta yang ada di hati, bukan-kah itu maksud mu?"


Erika menhangguk tersenyum, menyentuh pipi Nasib.


"Semua ada dalam keputusanmu Nasib, jika kau rasa semua tiada sanggup lagi kau genggam, masih ada harapan lain yang bisa kau pegang,"


"Aku pun enggak akan memaksamu untuk mengikuti keingan yang bertentangan dengan rasa hatimu, karena kebahagianmu...," Erika melepaskan rengkuhannya, berdiri di depan Nasib.


"Kau yang merasakanya." senyum lebar Erika.


Nasib tersenyum haru menatap paras yang lama Ia kenal, poles di wajahnya masih sama seperti pertama kali Ia melihatnya.


"Kenapa Kau menatapi ku?" Erika dengan wajah heran.


"Ah, tidak Erika, Apa Kau mau membantuku?" Nasib melihat memegang kembali mangkuk di atas meja.


Erika tertawa pelan melihat Nasib menyembunyikan wajahnya.


"Aku akan membantumu," ucapnya dengan ikut memegang mangkuk yang akan di bawa ke depan oleh Nasib.


"Sekedar info, dan juga semoga bermanfaat untuk mu." Erika lagi riang menatap Nasib.


"Apa-an Erika?"Nasib menatap heran dengan tertawa kecil.


"Jika ada yang mau dan senantiasa membantu mu, bahkan saat kau susah!" Erika di sertai tawanya.


Nasib menggelengkan kepalanya.


"Baru aja..."


"Aku enggak memaksa mu," potong Erika cepat.


"Aku hanya memberi tau kan pada mu, berdasarkan pernyataan yang ku dengar," jelasnya bertambah riang.


"Serius!" Nasib dengan wajah antusias.


"Kalo itu!"baru memaksakan perasaan!" Erika melihat mimik yang berpura.


Nasib kembali tertawa.


Keduanya pun tertawa riang.

__ADS_1


"Apa enggak terlalu cepat Erika? Sedang..."


"Aku enggak memaksa mu harus saat ini juga!"Potong Erika kembali.


"Aku ngerti Nasib! Ngerti, jika melupakan cinta yang ada di hati itu, susah!"


"Aku juga enggak memaksa mu untuk menyukainya! Tapi kalo-kalo aja, kebersamaan membuat kecocokan hingga akhir masa!" Erika tertawa.


"Berarti Aku harus menuruti keinganan mu?" Nasib di sela tawa kecilnya.


"Enggak juga, seperti yang ku bilang tadi, Kau bebas menentukkan hatimu kembali, Aku hanya melihat cadangan yang berpontensi untukmu!"


Nasib kembali menggelengkan kepalanya.


"Nasib Aku serius!" kesal Erika melihat Nasib tidak mempercayainya.


Erika menghela nafasnya.


"Nasib, jika malam-malam membawa mu dalam dingin dan sakit." Erika menatap pintu dapur yang tertutup rapat seperti menerawang.


"Sambutlah mentari yang bersinar, untuk menghangatkan hati mu kembali," ucapnya pelan menatap wajah Nasib kembali.


"Sentuh-lah lagi kasih sayang dari hati yang mencintaimu,"dengan kembali menerawang.


"Bukan berarti Nada dan Adina enggak tulus mencinatimu, keduanya sayang padamu. Namun Kau pun enggak bisa terus-menerus terbelit dalam cintamu, hanya akan membuat mu semakin sakit." Erika menundukkan wajahnya menatap putih Mangkuk yang tertumpuk.


"Setidaknya Kau kembali menuangkan jernih air di gelas yang baru dan kosong, untuk kau minum dalam segarnya sebuah rasa, tanpa harus menunggu di antara gelas- gelas yang akan kosong dan yang mana yang bisa kau tuangkan air."


Nasib memperhatikan bibir yang baru saja berucap dan kini tengah tersenyum meski terlihat getir.


Keduanya berpandangan.


Hening terasa, seperti waktu tengah terhenti. Menimbang kembali harapan yang kian pupus, menanamkan lagi benih kasih yang telah hilang tercabut keadaan. Memikirkan kembali langkah baru dalam jejak yang telah di tinggalkan penuh dengan rasa sakit dan kecewa.


"Kak Nasib!"


Keduanya pun sontak menoleh.


"Juwita," ucap Nasib melihat Juwita bergegas ke arahnya.


"Ada apa di depan Kak Nasib? Mengapa kursi-kursi dan meja berantakan semua?" tanya Erika langsung.


Nasib tertegun melihat Erika. Lalu melihat kaca buram di atas pintu dapur, nampak terlihat terang. Rupanya hujan telah reda.


Nasib tersenyum melihat Juwita.


"enggak apa-apa Juwita, kak Nasib tadi mau beres-beres ... Ada Kak Erika," ucapnya melihat Erika.


"Iya,"tanggap Erika.


"Kenalkan." Nasib kepada Juwita.


Dengan senyum mengembang Juwita langsung menjabat tangan Erika.


Keduanya pun saling menyebutkan nama.


Lalu Erika memceritakan kejadian yang sebenarnya akan ruang depan Kedai yang berantak-kan.


Nasib senyum-senyum.


Warna pagi terasa mulai hangat menyelimuti dalam rasa penuh dengan suka melihat senyum wajah-wajah yang terasa dekat mengusir sejenak rasa yang membuat lelah.


Seperti selimut di saat dingin yang menusuk, terasa nyaman meski bukan senyum dari seorang kekasih.

__ADS_1


Nasib menundukkan wajahnya menatap lantai di antara tatap dua pasang mata yang menatapinya, menghilangkan kesan di makna sinar mata yang berbeda.


*********


__ADS_2