ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
18. Bertemu Ronal


__ADS_3

"Ronal" Hanya kata itu yang terucap di hati, saat wajah yang baru muncul dari balik helm tanpa turun dari Motorsportnya.


Senyum sumringah nampak terlihat jelas terarah juga.


Nasib, meski sempat terkejut dengan Motor seperti akan menabraknya barusan, tersenyum lebar mengenali nama pemilik wajah.


"Nasib!Nasib! Aku enggak menyangka bisa bertemu lagi denganmu setelah....."


Ronal dengan tawa tidak mengiranya.


Nasib mendekatinya.


"Aku juga Ronal." Senang Nasib menjabat tangan Ronal yang masih duduk di motornya.


Ronal pun menepuk bahu Nasib, tanpa mengilangkan tawanya.


Pandangan Ronal tertuju pada pintu gerbang.


"Apa kau tinggal di Rumah ini Nasib?" tanya nya melihat Nasib.


Nasib mengangguk pelan.


"Bersama Adina," jelas Nasib kemudian dengan melihat ke arah Rumah.


"Adina?"


Ronal turun dari motor.


"Bukanya Adina...?" ucapnya lagi seperti baru mengetahui.


"Cukup jauh dari Rumah Adina yang dulu." jelas Nasib melihat pias heran Ronal.


"Pantas! aku dan Nada enggak pernah melihatnya, setiap kali kami melewati Rumahnya?" Ronal mengangguk-angguk pelan.


"Nada?"


Nasib meneliti wajah Ronal


"iya! Aku dan Nada....," senyum di bibir Ronal seperti ingin menutupi sebuah rasa malu.


"Aku turut senang Ronal!" seru Nasib menepuk bahu Ronal.


Ronal tertawa senang.


Keduanya saling tertawa di depan pagar Rumah, seperti sahabat yang sekian lama baru bertemu kembali, mengingat di antara mereka bukanlah seorang sahabat. Kebencian yang pernah ada di antaranya menjadi musuh dalam segala hal, dari karena cinta hingga sebuah harga diri karena merasa di permalukan.


Bagi Nasib apa yang pernah Ronal perbuat untuknya, Ia telah memaafkan dan melupakanya, karena Ia tahu setiap manusia memliki dua sisi dalam hidupnya, ada baik dan ada jahat, sejahat Ronal, Dia pun memiliki sisi baik dalam hatinya. Dan sekarang Ronal seperti seorang sahabat saja yang tengah bertemu tanpa di sengaja di jalan, jika Ronal masih seperti dahulu tentunyalah Ia pasti sudah di tabraknya.


"Emang Nasib!" tawa Ronal makin tidak mengira.


"Tentunya karena Nada?"Nasib coba menangkap rasa di binar mata Ronal.


Ronal kembali mengangguk-angguk kepalnya.


"Siapa yang akan mengira Nasib? kau juga tau bagaimana Nada kepadaku," jelas Ronal seperti ingin mengingatkan kembali masa yang pernah lewat.


"Nanti dulu...."Ronal menatap wajah Nasib.


Nasib menahan ucapanya, melihat tatap curiga Ronal mengarah kepadanya dan di dalam pintu pagar.

__ADS_1


Dan tiba-tiba Ronal kembali tertawa


"Emang Nasib! Nasib!,Adina? Aku enggak percaya semua ini terjadi!!"


Hampir-hampir Nasib mendekap mulut Ronal, ucapan dan tawanya hampir membuat setiap mata yang lewat melihat ke arah mereka.


"Ronal, Aku ingin mengajakmu ke dalam." Nasib tersenyum.


Ronal menghela nafasnya dengan kuat seperti ingin melepaskan rasa di dadanya.


"maafkan aku Nasib, bukan aku enggak mau bertamu, tapi Nada sudah menunggu ku, karena tadi aku bilang aku pulang sore ini, Aku tengah bekerja Nasib, sudah hampir sebulan Aku di sini," jelas Ronal seperti menyesali ajakan Nasib.


Nasib mengangguk pelan.Sebuah wajah sepertinya baru saja bersamanya.


"Apa Kau pernah bertemu Nada?"


Ronal dengan naik kembali ke motor.


"Jika Aku bertemu Nada, Aku enggak akan bisa tinggal bersama Adina,"tawa kecil Nasib


"Ronal, semua yang telah berlalu jangan kembali menjadi tembok duri lagi bagi kita," ucap Nasib mengingatkan.


"Tenang Nasib, semua telah terkendali! Aku percaya padamu," sahut Ronal seperti puas.


"Oke Nasib, sekali lagi aku minta maaf aku harus buru-buru pulang," dengan menghidupkan mesin motornya.


Nasib mengangguk tersenyum kepada Ronal, saat klakson motor berbunyi seiring roda motor yang berputar menjauhinya.


Terus menatapinya hingga hilang dalam pandangan.


Nasib menundukan wajahnya mengukir senyum kecil, seperti ada rasa yang lega di dalam hati. Setidaknya kini apa yang dahulu pernah Ia ucapkan kepada Cahaya tentang seseorang yang sangat membutuhkan Nada, ternyata menjadi...


Mendekati pintu gerbang, membuka perlahan dengan senyum kembali menutupnya. Dan belum lagi langkah dan tubuhnya menjauhi pintu gerbang, suara klakson motor kembali terdengar.


Nasib melihat di antara jeruji pintu gerbang, terlihat Adina turun dari motor ojek online, Ia pun tersenyum dengan membuka kembali pintu.


Nampak pula Adina tersenyum kepadanya dengan sedikit berlari mendekati.


"Enggak usah lari-lari, kalo kau jatuh aku enggak mau menggendong mu."


Nasib setelah Adina masuk dan senyum-senyum berdiri di dekatnya.


"oke! enggak masalah? masih ada Bi Narti,"


ucap Adina dengan membantu Nasib mengunci pintu gerbang.


Nasib menatapnya dalam, tersenyum saat wajah Adina mendekati wajahnya. lalu dengan sumringah Ia pun merangkulnya untuk berjalan ke arah dalam Rumah.


Yang di rangkul pun hanya bermanja dengan sumringah juga, serta merangkul pinggang Nasib.


Saat -saat yang selalu dan sangat membuat keduanya merasa senang, setelah mereka seharian sibuk dengan bekerja.


Nasib tidak lah bekerja bersama Adina, meski Adina mewarisi perusahaan Ayahnya.


Pengalaman berdagang yang masih begitu sedikit, atas usul Adina, Nasib pun membuka usaha kecil-kecilan, sebuah tempat di dekat pasar menjadi pilihan untuk berdagang Mie Ayam&Bakso dengan beberapa orang membantunya.


Sore yang belum gelap, entah kebetulan atau memang waktu yang tengah mufakat menjadi hari di mana mereka bercengkerama di Rumah sebelum malam, yang biasanya setelah jam sembilan malam mereka baru bisa bersama.


Bagi Nasib dan Adina bertemu kembali setelah bekerja seperti hal yang ingin selalu mereka nikmati, selalu ada kebahagian di batin saat melihat lagi wajah kekasih hati dengan letih dan segala keropotan masalah yang baru atau tengah di alami, menjadi cerita di kala duduk bersama untuk sejenak mengusir penat dan lelah.

__ADS_1


"Adina."


Nasib berhenti di depan pintu Rumah.


Adina hanya melirik, seperti malas melepaskan rangkulan-nya.


"Aku bertemu Ronal tadi,"lanjut Nasib.


Ucapan Nasib membuat Adina melepaskan juga tangan yang tengah melingkar.


Menatap was-was dengan tidak mempercayai.


"Sungguh."


Nasib melanyangkan tatapanya ke arah pintu pagar.


"Sebelum dirimu sampai," lanjutnya dengan terseyum.


"Apa kau?"


Adina semakin was-was.


Nasib tersenyum lebar, membelai pipi Adina dengan punggung jemarinya.


"Ronal sudah berubah, Dia enggak segalak dulu lagi,"ucap Nasib seperti memainkan jemarinya di pipi Adina.


Namun wajah Adina masih terlihat was-was.


"Aku merasa...."


Adina dengan wajah tidak tenangnya.


"Ragu dengan Ronal?"


Nasib seperti merasakan apa yang tengah Adina rasakan.


Adina mengangguk, perlahan membuka pintu Rumah, menatap Nasib lalu masuk ke dalam.


Nasib menghela nafasnya memperhatikan langkah hingga duduk di sofa, perlahan mendekati.


"Sesuatu kan bisa berubah," dengan duduk dan membelai rambut Adina.


Adina merebahkan kepalanya di bahu Nasib.


"Tapi Nasib, Ronal...,"lirih Adina.


"Kasih sayang Nada akan meluluhkan kenakalan-nya."Mencium kepala Adina.


"Semoga."


Adina memejamkan matanya merasakan belai hangat di kepalanya, meleburkan rasa khwatirnya, Ia takut peristiwa lalu akan terulang kembali.


Silir terasa di matanya dengan belai yang masih terasa, lelah yang kian terusir, kian mengalir damai dalam hati.


Sejenak hilang semua yang tadi terjadi semakin samar dalam lena yang mulai menjalari, kian samar hingga tiada lagi yang terdengar, terasa dan merasa.


Hanya bahu layaknya bantal menjadi sandaran dengkurnya sang kekasih.


Nasib mengusap pelan kening Adina, mengusap letih dari wajah kekasih yang terpejam.

__ADS_1


******


__ADS_2