ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
28. Menguak Tirai Terang.


__ADS_3

Ronal begitu lahap memakan Mie Baksonya, sedang matanya sering melihat ke arah Nasib di balik lemari dagangnya yang tengah sibuk menyediakan pesanan pembeli.


Kepulan asap dari kuah rebusan terlihat keluar mengepul saat tutup dandang di buka oleh Nasib.


Nampak pula Juwita dan Benu tengah repot melanyani pengunjung di setiap meja-meja yang bertaplak botol saus dan kecap serta wadah-wadah yang berisikan penyedap Mie Ayam dan Bakso.


Ronal menarik tisu di dekat tusuk gigi, mengusap bibirnya yang berminyak oleh kuah Bakso. Matanya mulai menatap ke sekeliling. Tidak liar seperti biasanya.


Nasib segera menghampirinya lagi setelah tadi sempat Ia tinggalkan, karena ada pembeli yang datang.


"Apa Kau mau menambah Ronal?" Nasib melihat isi Mangkuk yang tinggal kuahnya saja dan itu pun sedikit.


Ronal tersenyum menggeleng.


"Kak Nasib, biar Juwita aja."


"Enggak apa-apa Juwita, kau bantu Benu aja," ucap Nasib melihat akan membawa Mangkuk kosong di tanganya.


Juwita mengangguk, melihat Ronal, lalu segera bergegas meninggalkan keduanya dengan mangkuk kotor dan gelas di tangan.


Ronal hanya tersenyum memperhatikan-nya, dan meneguk lagi Es jus jeruknya.


Nasib membersihkan mejanya, lalu membawa mangkuk Ronal ke belakang.


Tiada lama Ia pun kembali dengan mendekati Ronal dan tengah senyum-senyum padanya.


"Hari mu terlihat bahagia Ronal," ucap Nasib melihat wajah Ronal.


Ronal mengangguk-angguk tertawa kecil dan melihat ke luar Kedai.


"Mengapa kau enggak menggunakan pendingin ruangan Nasib?"


Ronal saat matanya bergerilya di kipas-kipas angin yang tergantung di dinding.


Nasib senyum melihat juga.


"Toko ini ... Tapi Aku lebih suka menyebutnya kedai. Tidak terlalu besar Ronal," ucapnya melihat Ronal.


Ronal kembali senyum-senyum.


Nasib seperti menemukan ketumbenan akan sikap Ronal. Terlihat santai dengan wajah berseri seolah tidak ada lagi dendam kepadanya.


"Bagaimana Kau dengan Adina?"


Tiba-tiba Ronal bertanya.


"Kami baik-baik aja." Nasib menghela nafas pelan, Mengamati jari Ronal masih dengan kebiasaan lamanya. Memutar-mutar anak kunci Motor.


"Ohhhhh! Aku turut senang mendengarnya." Ronal tertawa lebar meski pelan.


"Tapi apakah Ia telah mengatakan semuanya?"


Nasib menatap tidak mengerti dengan apa yang di maksud Ronal.

__ADS_1


"Hubungan tanpa keterus-terangan, seperti Diriku dan Nada."


Nasib semakin tidak mengerti.


"Adakah yang Kau ketahui tentang Adina ya ng enggak Aku ketahui Ronal?"


Ronal menarik nafasnya dalam.


"Ingat Nasib, sebelum Kau mengenalnya, Adina sudah menjadi temanku."


Ronal melihat tanganya sendiri yang memegang anak kunci.


Nasib memperhatikan.


"Ku rasa, Aku lebih banyak mengetahuinya dari padamu, begitu pun Nada,"jelas Ronal melihatnya.


Terlihat Ronal tengah menarik nafasnya, seperti tengah menyesali sesuatu.


"Bukan Aku kecewa dengan mu tentang Nada, tapi jika Kau tengah berada di antara keduanya? kedua tangan mu tengah juga di pegang mereka untuk di bawa kemana aja mereka suka."


Nasib benar-benar tidak mengerti tentang ucapan Ronal padanya.


"Aku rasa Kau berpikir kau berhutang budi ke pada Adina untuk kedai mu."


Nasib tertegun tiada menyangka. Apa yang Adina katakan padanya tentang Kedai, ternyata benar. Bukan Ia atau Nada yang membantunya.


Nasib menatap remang Juwita yang baru lewat dengan membawa beberapa Mangkuk ke belakang.


"Apa Kau mau mengatakan padaku Ronal?"


Ronal menggelengkan kepalanya dengan senyum. Lalu tertawa kecil tanpa bersuara.


"Nasib-Nasib!"


Menatap Nasib dalam. Lalu menghembuskan kembali nafasnya.


"Tentu Kau ingat dengan Erika?"


Nasib semakin terpaku.


"Sepertinya Erika merasa berhutang budi padamu," ucap Ronal melihat Juwita yang tengah membersihkan meja.


"Erika?"


Nasib menyandarkan punggungnya.


"Iya Erika, Kau pernah menolongnya," sambung Ronal manggut pelan.


"Erika, Aku sudah lama enggak bertemu dengan-nya," ungkap Nasib mengingat wajah Erika.


"Nasib! Nasib!"


Ronal seperti mencibir Nasib.

__ADS_1


Nasib mengelus dada dengan hela nafasnya, begitu sedikit yang Ia ketahui, begitu banyak yang telah di tutupi darinya.


"Apa kau yakin cinta mu pada Adina? Apakah Nada yang ikut membantunya?"


Ronal kini dengan senyum sinis.


"Sedangkan selama ini, Erika yang mengirimkan uang ke pada Ibu-mu di kampung, dengan mengatas nama hasil gaji mu Nasib," jelasnya lagi.


Nasib tersentak dalam hati, bagai petir yang tengah menyambar seketika mendengar penjelasan Ronal. Sungguh Ia tidak pernah menyangka.


"Apakah Nada pun enggak pernah mengatakan jika pacarmu di kampung menikah dengan sahabat dari temanya?"


Seperti lemas sekujur tubuh yang Nasib rasakan, dengan semua kata yang tiada pernah Ia dengar dari bibir-bibir orang yang Ia cintai. Seakan hancur rasa hati dengan semua tabir kelam yang tiba-tiba tersingkap terang, melihat apa yang ada di dalamnya.


"Cahaya," ucapnya lirih.


Ronal menepuk-nepuk dengkulnya dengan tersenyum, seperti meyoraki sebuah kebodohan di depanya.


"Jika Kau merasa Adina dan Nada begitu tulus padamu, Tapi Erika-lah yang paling menangis jika melihat Kau susah!"


"Karena mu Nasib, Erika bisa meninggalkan dunia malamnya, hidup layak dengan seorang yang sanggup menerimanya,"


"Jika Kau merasa cinta yang ada sanggup menerima tulus?" Ronal menghembuskan nafasnya kuat.


"Nasib! Nasib, Nada menyembunyikan mu dari Cahaya, sedang Adina menyembunyikan mu dari Nada, itukah cinta yang tulus? Ataukah kecurangan cinta?"


Nasib menunduk-kan wajah, menahan gelora di hati seperti memuncak di dada.


"Bagimana Erika yang sedari dahulu dan sekarang memohon ke padaku untuk tidak menyakitimu, mengganggumu? Tulus Dirinya rela melakukan apa aja demi mu Nasib!"


"Bukan karena Dirinya ingin membalas budi mu Nasib, tapi karena mencintaimu. Hingga saat ini pun masih lagi memperhatikanmu,"


"Dan karena selama ini pun Kau hanya menganggapnya seperti adik sendiri, Erika pun sudah menganggapmu sebagai kakanya pula,"jelas Ronal seperti ber-api-api.


Nasib menatap ke luar Kedai. Ada relung yang retak merambati hingga hampir ke mata, begitu terasa haru jika mengingat Erika dan kehidupan malamnya. Dan rasa suka mendengarnya yang telah medapatakan kehidupan layak.


Memang Erika pernah mengatakan tentang perasaannya, dan saat itu pun Dirinya tahu bahwa Ia tengah bersama Nada.


Jika selama ini Erika-lah yang melakukan semuanya untuknya, sungguh Ia tiada pernah menyangkanya.


"Oke,Nasib!"


Nasib langsung menatap Ronal.


"Jika kau merasa Aku berdusta, kau boleh tanyakan langsung ke pada keduanya."


Senyum Ronal berdiri dengan tangan memutar-mutar anak kunci motornya.


Nasib terdiam, begitu sulit untuk mengangguk. Terasa kaku bibir untuk tersenyum. Terpaku melihat langkah Ronal ke luar Kedai.


Ronal masih lagi tersenyum hingga Helmnya menutupi seluruh wajahnya, dengan bersuara Knalpot Motor Sportnya.


Sakit terasa di relung yang tenang, lumpuh terasa asa yang terpendam di dalamya, kelam sudah mata hati menatap tabir yang terang.

__ADS_1


Perlahan menatapi setiap meja yang baru di tinggalkan para pembeli, sepi terasa seperti di dalam hati dalam menguak tirai terang selama ini.


...****************...


__ADS_2