
Tas besar di punggung yang berisi pakaian terpaksa di tenteng, sementara keringat di kening semakin mengucur deras dalam teriknya panas menyusuri jalan beraspal yang tidak sehalus jalan lintas.
Nasib kembali mengusap keningnya, dengan melihat kebelakang. Sudah cukup jauh ternyata Ia menggendong Tas rangselnya menyusuri jalan menuju Rumahnya.
Kini Ia kembali lagi ke Bukit, tapi bukan untuk sekedar mengunjungi Ibunya. Namun untuk kembali menetap dan tinggal selayaknya dahulu Ia di besarkan.
Kini Ia kembali dengan hanya membawa Tas rangsel, sebagaimana saat pertama kali meninggalkan Bukit tanpa bekal apa-apa, hanya pakaian dan keyakinan. Hanya Pakaiannya saja yang sedikit bertambah memenuhi isi Tasnya.
Suara Motor tril terdengar di kejauhan.
Nasib melayangkan kembali tatapanya ke arah depan, wajahnya sedikit tertunduk melihat kelabunya aspal dengan langkah semakin di percepat. Ia ingin segera sampai di rumah.
Terlihat di depan, Motor tril semakin menuju ke arahnya.
Desir angin bersama teriknya Matahari seperti membuat lengang jalan menuju Bukit.
Nasib memperhatikan wajah orang di atas Motor dengan berbonceng jerami padi yang akan melewatinya.
Ia pun tersenyum saat orang tersebut tersenyum kepadanya. Ternyata keramahan Bukit masih melekat, pikirnya seraya melebarkan senyum mengingat wajah lelaki tua yang baru saja lewat dengan Motor tril.
Perlahan mengamati pepohonan di sisi jalan, biasanya Ia hanya melihat pagar-pagar besi atau tembok yang menghiasi setiap sudut jalan menuju kedai mie, tapi kini Ia kembali melihat hijaunya alam pelosok.
Ia akan memulai kembali mengotori kakinya dengan lumpur dan tanah becek, dengan duri dan gatalnya nyamuk-nyamuk kebun seperti dahulu.
Nasib kembali mengusap keningnya yang berkeringat, ternyata lama di dalam kedai membuatnya tiada terbiasa lagi berjalan jauh, yang dahulu adalah sering Ia lakukan. Belum lagi menggendong Tas rangsel yang cukup berat, cukup menguras energinya.
Namun bibirnya kembali tersenyum, mengingat Adina saat merasa capek berjalan menuju puncak Bukit.
Nasib merogoh saku celana jeasnya, dimana HPnya berada. Namun kembali tanganya urung mengeluarkan HP.
Ia tidak harus lagi menghubungi atau melihat photo Adina, kerana Ia tidak ingin mengingat-ingat lagi semua yang baru saja Ia tinggalkan.
Tentang Kedai, dan semua yang pernah tercipta di dalamnya. Semua telah berakhir dengan kedamaian, Nada dan Ronal telah berdamai dalam satu ikatan yang suci, dan Adina sudah merelakannya pulang ke Bukit.
Nasib terkejut dengan menyingkir ke sisi jalan, suara Klakson motor di belakang membuyarkan angannya.
Ia pun tersenyum kepada orang di atas Motor yang bermuatan daun singkong yang lewat, karena memang salahnya berjalan sambil melamun hingga tidak memyadari sesuatu di belakangnya.
Menghela nafasnya pelan. Kembali berjalan.
Suasana Bukit seperti tidak berubah, tetap lengang saat siang atau pun malam. Hanya pagi dan sore yang terlihat ramai, itupun orang-orang yang kembali dari kebun.
Pintu-pintu rumah pun seakan terkunci rapat, seperti tanpa berpenghuni meski berada di pinggir jalan.
Pemandangan yang hingga kini masih dapat Ia temui.
Nasib kembali mengusap keningnya. Hanya deretan pohon-pohon kelapa di perkarangan belakang Rumah yang baru Ia lewati yang menggoda di tenggorokannya berjalan.
Langkahnya terus Ia percepat, sebentar lagi Ia akan sampai di rumah.
Ia ingin segera menemui Ibunya. Ia ingin segera terbaring membasuh lelah raga dan hatinya di kamar mungilnya. Di atas Kasur kapuk namun baginya begitu empuk dan angin yang masuk dari jendela kayu akan membuatnya terlena dalam mimpi barunya.
Meski saat terjaga, Ia tidak akan mendapati Adina lagi yang tersenyum geli mengejeknya.
"Bau banget belum mandi!"
__ADS_1
Suara itu tidak akan Ia dengar lagi, suara itu telah tertinggal di kota penyangga Ibu Kota di dalam kedai yang hening.
Nasib mengulum senyumnya, menepis rasa yang sedikit menggigit di hati mengingat wajah Adina.
Adina tidak mengatakan apa-apa padanya, saat Ia pamit kepadanya. Meski senyum Adina terlihat mengiringi langkahnya pulang.
Dan dari setiap langkah yang menjauhi Adina, Ia hanya berharap Adina menemukan kembali pengganti dirinya. Ia tidak ingin Adina sakit tanpa pendamping. Hanya cinta di hati yang masih dan tersimpan sebagai harapan untuk kebaikan dan kebahagian Adina yang akan selalu Ia panjatkan setiap pagi dan petang.
Nasib senyum-senyum, satu kebun lagi Ia akan melihat atap rumahnya. Dan entah? Tas ransel di pundaknya terasa ringan oleh rasa senang di dalam hatinya. Keringat di kening yang tidak kunjung surut pun bagai sejuk tersapu angin yang menerpa deras. Langkah kaki pun lebih ringan lagi tidak seperti tadi semenjak turun dari Bus antar propinsi.
Senyumnya semakin terkuak lebar, atap rumahnya telah terlihat.
Akhirnya Ia sampai juga, pintu rumahnya terlihat tertutup dengan jendela berkaca hitam yang tidak terlihat isi di dalamnya.
Debu-debu menerpa wajah saat angin menyapu jalan di depan langakahnya.
Nasib sedikit berlari, Ia ingin segera membuka pintu dan memanggil Ibunya.
Namun langkahnya terhenti di perkarangan rumah.
Mungkinkah Ibunya mengetahui Ia akan pulang? pikirnya melihat pintu di buka dari dalam dengan perlahan.
Nasib terpaku mematung seperti melihat hantu di siang hari. Sosok Ibunya yang terbesit barusan yang membuka pintu, lain terlihat di depan matanya.
"Adina." Debar di hatinya.
Nasib seperti tidak kuasa tersenyum.
Senyum di bibir Adina bagai benang yang mengikat kedua bibirnya.
"Kau enggak salah rumah!"
Nasib menoleh kembali Adina di ambang pintu.
Senyum Adina semakin mengembang riang.
Nasib menundukkan wajahnya.
"Jangan pura -pura lemas melihatku!"
Nasib menahan senyumnya mendengar Adina kembali berucap.
"Atau Kau lupa bagaimana memelukku di ambang pintu?"
Nasib langsung terduduk lemas. Seperti tidak perduli dari tanah yang berdebu dan sengat Matahari. Menatap senyum Adina di ambang pintu, jika Ia memeluk Adina, maka Ia akan masuk kedalam rumah bersama Adina dengan merangkulnya. Seperti yang sering Ia lakukan setelah pulang dari Kedai.
Dan itu berarti ...
Nasib mengehembuskan nafasnya dengan kuat, bibirnya kini tersenyum menatap wajah Adina. Debar hatinya bagai seirama dengan derai halus pucuk-pucuk dedaunan rimbun samping Rumah.
Nasib menggeleng-gelengkan kepalanya dengan mengusap usap kedua betisnya.
"Adina! Apa Kau tau? Betapa susahnya Aku ingin melupakanmu dan meninggalkanmu! Tapi kini Kau ..."
"Nasib!" Adina langsung memeotong.
__ADS_1
"Kau enggak perlu meninggalkanku! Apalagi melupakanku! Karena kini, esok dan hingga nanti, Aku akan berada dekat di sisimu. Aku akan menemanimu meski ke jurang bukit sekali pun!"
Nasib tertawa dengan menopang tubunnya dengan kedua tangan di belakang badan.
"Adina! Adina! Aku enggak yakin Kau sanggup naik kembali ke atas Bukit!" serunya.
"Oke! Aku buktikan selama bersamamu! Tapi Nasib, jika lebaran tiba, kita mudik ke kota!" seru Adina membalas.
Nasib terpingkal.
Nasib menahan gelaknya melihat Ibunya muncul di belakang Adina. Dan Adina pun langsung memeluk pingganya.
Bu Marimin senyum-senyum menatap Nasib.
"Nasib!Nasib!"
Nasib kembali tertawa mendengar suara Ibunya.
Adina terlihat menahan tawanya.
"Bu!" Nasib dengan berdiri dan menenteng Tas ranselnya yang tergeletak di dekatnya.
"Nasib minta maaf jika pulang hanya membawa satu tas pakaian kotor! Bukan berisi dengan harta hasil rantauan!" dengan berjalan mendekati keduanya.
"Nasib! Nasib!" Bu Marimin membelai kepala Adina.
"Kau membawakan Ibu sebuah kebahagian, yang sejak tadi menunggumu." Bu Marimin mengusap pipi Adina yang menatapnya.
Nasib menghentikan langkahnya di depan keduanya. Tersenyum haru melihat belai sayang Ibunya kepada Adina.
"Tapi Bu, Adina enggak bisa memasak seperti Ibu?" Nasib menatap Adina.
Adina langsung melepaskan pelukannya dan tertunduk.
Bu Marimin menatap kesal Nasib.
Nasib nyengir kecil.
"Tenang Adina, Nasib lebih suka dedunan segar, yang enggak perlu di masak. Hanya tinggal di cuci saja."
Nasib menggaruk kepalanya dengan tertunduk menahan geli akan ucapan Ibunya.
"Pantas Bu!" Adina menanggapi dengan senyum
Bu Marimin dan Nasib saling bertatapan heran.
"Embek banget!"
Bu Marimin langsung tertawa.
Nasib pun segera memeluk keduanya. Tertawa bersama di ambang pintu, menggema hingga menuju kaki bukit terus menuju puncak bukit.
Menipis terik dengan rasa yang begitu indah berbungkus kebahagian di dalam hati.
๐ Tamat๐
__ADS_1