ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
24. Renung Hati.


__ADS_3

Juntai-juntai rinai yang jatuh dari atas genting menciptakan sebuah kerai di pelopak mata. Sinar lampu di taman mungil depan Rumah berbias purnama dalam angan yang tengah menatap lekat dinding angkasa malam dengan pagar hitam yang basah terkadang berkilauan meneteskan bulir air yang berjatuhan.


Dingin yang terasa, yang jarang sekali menerpa wajah seperti menampar rasa kangen akan wajah Bukit yang angker.


Nasib merapatkan pundaknya pada pilar Rumah, cukup lama Ia menerawang jauh di kelamnya malam yang tengah basah.


Ada rasa yang tengah menggigit jauh di relung hati, sebuah kebimbangan yang lagi-lagi bagai mengutuk kembali langkahnya.


Bayang wajah Adina dan Nada silih berganti menguntit ke mana pun angannya terbang, seperti tiada satu pun ranting yang bisa untuk di hinggapi.


Asa demi asa kembali berhamburan, terlepas bebas tanpa bisa di cegah hati. Kian suntuk dengan cinta yang ada, begitu sulit untuk berpihak, dalam kekalutan rasa yang tidak bisa meraba semua akan berujung ke mana?


Nasib mengusap wajahnya. Mengusap semua resah yang tengah menduduki hati.


Jenjang waktu yang terasa, membawa kembali perjalanan goyahnya yang telah terkubur jauh di lembah hati.


Tandus dan gersang yang pernah telewati harus kembali akan di tempuhi.


Bayang wajah Cahaya terbayang kembali, saat bercanda dalam kasih di atas Bukit. Panjang rambutnya memberikan wangi di saat menciumnya,berbinar Mentari pagi. Semua terasa Indah, semua pun penuh dengan aral. Perbedaan status keluarganya yang bekerja untuk keluarga Cahaya membuat dinding rasa harus sama di daki, meski perpisahan pula akhirnya.


Bertemu dengan Nada seperti menemukan kembali cahaya yang hilang dari hatinya. Tiada jauh berbeda dengan asmara yang di jalani bersama Cahaya, bersama Nada pun semua kenangan yang tercipta begitu indah, begitu pun aral yang menghalangi. Dinding-dinding rasa selalu ada memagari, meski sama mendaki harus berakhir dalam perpisahan juga.


Dan kini bersama Adina, saat Ia merasa telah kehilangan keduanya. Ia pun mengerti akan selalu ada aral dalam setiap langkah, begitu pun bersama Adina. Dinding rasa tengah ada dalam hatinya dan Adina.


Nasib kian dalam menatap tirai air yang jatuh di depanya.


Gema di dalam benaknya, membuatnya ingin kembali terpaku dalam renung. Agar bisa Ia mencerna dari semua yang kini tengah di rasakan.


Butir-butir cinta di hati sejernih malam yang basah, terasa pilu dengan wajah-wajah di pelupuk matanya.


Bagimana Ia menjalani kasih yang ada, sedang cinta yang lama pun ada kembali.


Ia tidak mungkin meninggalkan Adina untuk Nada, begitu pun sebaliknya.


Tapi cinta keduanya seperti mengukung jiwanya dalam kebimbangan.

__ADS_1


Ia tidak ingin memilih, Ia tidak ingin menyakiti lagi. Tapi menjalani akan menambah rasa sakit yang baru, karena Ia percaya tiada satu pun wanita yang ingin berbagi hati, karena cinta adalah memiliki seutuhnya.


Nasib mendongakkan kepalanya.


Bagiama Ia mengatakan kepada Adina tentang Nada?


Nasib menundukkan wajahnya kembali, menatap pelan sinar dari motor yang lewat dengan pengendara berjas hujan, menerobos rinai malam yang dingin.


Angan-nya kini terasa merejam pandanganya, menimbang kata yang akan Ia ucapkan di depan Adina.


Dapat Ia rasakan wajah Adina nantinya jika mendengar semuanya.


Nasib langsung menatap lantai mengkilat di kakinya.


Sepertinya Ia tidak akan kuasa melihatnya. Begitun pun dengan Nada, meski Ronal telah menjadi kekasihnya namun di hatinya...


Nasib mengupas pelan warna malam dengan resah yang ada, kian kelam dan pekat.


Aurora hati yang pernah membuat indah sebuah malam, terasa sulit untuk kembali di nikmati. Angsa putihnya masih lagi sakit, begitu juga Snowy owlnya turut sakit.


"Adina... Nada ...." lirih hati, dengan menghela nafas berat.


Rinai yang jatuh nampak jelas di sorot-sorot kendaran yang lewat di pagar. Suara klakson pelan kadang terdengar di antara gundukan aspal sebagai polisi tidur.


Remang di atas bimbang dalam renung dan rinai, membaurkan rasa dalam diri yang terasa jatuh. Terasa terpuruk dengan pahitnya beban di hati. Bagaimana menjalani cinta yang ada? apakah harus pasrah dengab waktu? Sementara kini di hati Ia tidak ingin lagi menyerah dengan waktu yang banyak merenggut rasa hatinya.


Ia ingin ada akhir dari perjalanan cintanya kini, meski kemana nanti hatinya benar-benar akan berlabuh?


Ia ingin melihat tawa dan duka hingga di ujung usia bersama orang yang paling Ia kasihi, menjadi teman dalam setiap helaan nafasnya.


Meresapi setiap nikmat kasih yang terteguk dalam pesona hati, menyulami warna kasih sepanjang waktu dalam bersihnya hati.


Berpijak duka dalam dekapnya kasih, bermanja suka dalam rengkuhnya kasih. Memeluk rajuk penuh getar di dada hati, merasa perih dengan membelai sayang pujaan hati.


Pualam-pualam mimpi yang terang dalam langkah dari senyum di sisi, menggandeng tulus hingga pagi bersinar terang. Menembus mendungnya asa dalam hangat kata yang menyemangati.

__ADS_1


Nasib terbatuk pelan, hawa dingin mulai menyusupi di hirup nafasnya.


Renungnya kembali menghangatkan pikiranya. Rinai-rinai di langit bersambung tiada henti menjatuhi Bumi, riak kenangan semakin mengusik lena di hatinya.


Mengingat kembali masa indah yang pernah di alami, senyum dari wajah-wajah yang pernah dan kini Ia kasihi semarak dengan semilir deras angin yang menerpa.


Kisruh cinta yang pernah bergejolak, mendesirkan hati dengan pilunya dalam mencari kebenaran langkah, atau waktu yang terbuang percuma.


Sia-sia rasa terkubur dalam lubuk hati, bersama waktu yang tidak akan terulang lagi, hanya sepenggal kisah yang kembali, berujung luka dan menyiksa.


Dermaga-dermaga waktu yang di tinggalkan, tinggal puing yang merusak mata.


Jelusi-jelusi dalam ruang hampa cinta tertutup rapat dengan pengapnya sakit.


Ada apa dengan langkah?


Bagaimana kini melangkah?


Di waktu mana akan berseri?


Dengan waktu kapan semua tersudahi?


Tanya-tanya yang tengah melanda, kepada malam dan rinai jatuh. Hanya dingin yang menjawab, hanya bimbang yang berbintang.


Nasib menundukkan wajahnya kembali dari kilau di kejauhan membuyarkan renung di hati, menutup matanya pelan.


"selalu ada terang di saat gelap, selalu ada jalan di setiap gelap" Seperti terbesit lirih di hatinya.


Perlahan membuka mata, meski rinai masih juga berjatuhan.


Menghembuskan pelan nafas yang berat, sebelum langkahnya meninggalkan malam dengan rinainya, untuk masuk ke dalam Rumah.


Bersekutu dengan waktu sepertinya adalah jalan yang terbaik yang kini bersemayam di benaknya, mengukir semuanya bersama waktu dengan segala resiko yang akan dapat dan mudah di temui, melangkah seiring waktu apa pun hasilnya. Setidaknya tiada lagi terlawati olehnya, semua akan terangkum dalam setiap langkahnya, semua pun akan dirasakan apa pun sakitnya, karena semua akan menjadi prasasti yang terukir di monumen hidupnya.


Nasib sesaat menatap tirai rinai yang berjuntai, perlahan menutup rapat pintu Rumah begitu juga renung di hati. Berharap pagi yang datang memberikan angin segar dalam langkahnya esok.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2