ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
44. Murung di Mangkuk Mie


__ADS_3

"Apa enggak bisa, entar-entar aja pulang ke bukitnya Kak Nasib?"


Mayun Juwita terduduk bagai lemas di dekat meja dimana mangkuk-mangkuk bersih bertumpuk rapih.


Nasib tertawa kecil, melihat lucu wajah mungil Juwita.


"Entar kapan Ju...?" timpalnya mengelap mangkuk yang akan di bawa keluar.


Juwita berdiri lagi. Sejak tadi Dirinya bangun dan duduk seperti gelisah tengah menjalari.


"Iya entar, nunggu lama-an dikit Kak," kesahnya masih termanyun manis.


Nasib menghela nafas gelinya. Menatap ke sekeliling ruangan.


"Benu dan Dirimu akan mengurus kedai ini, Kak Nasib sudah membicarakannya dengan kak Erika." Masih dengan senyum kecil tanpa melihat Juwita yang sudah duduk kembali.


"Sudah bulat Kak Nasib, meninggalkan semuanya? Juga kak Adina?"


"Apa enggak sayang, dengan apa yang sudah Kak Nasib perjuangkan?"


"Cinta Kak Nasib, usaha Kak Nasib. Kan, sayang Kak?"


wajah Juwita makin suram, kembali bangkit menatap lesu mangkuk-mangkuk.


Nasib tersenyum lebar menggelengkan kepalanya pelan.


"Semua bukan milik Kak Nasib, Juwitaaaa!" gemasnya mencubit pipi murung di dekatnya.


Juwita mengaduh sakit, meski cubitan Nasib tidaklah keras.


Nasib segera meninggalkan Juwita dengan membawa beberapa mangkuk di kedua tangannya.


Juwita cemberut memperhatikan.Suara motor Benu telah lagi terdengar di depan Kedai, Segera bergegas menyusul Nasib dengan membawa pula beberapa Mangkuk seperti yang di lakukan Nasib.


Suara tawa Benu semakin jelas terdengar saat langkahnya menuju lemari dagang dimana Nasib telah lebih dahulu.


"Hai, Juwww!"


Sapa khas Benu memenuhi seisi ruang Kedai.


"Kebiasaan, telat!"


Juwita sewot.


"Biasa-lahhhh!"


Benu dengan langsung ke arah dapur menenteng helm dan jaketnya.


Juwita hanya melirik kesal.


Nasib yang sudah terbiasa akan keduanya, hanya senyum-senyum memasukan rebusan air kedalam dandang.


"Kak."Juwita pelan.


"Iya?" Nasib menoleh sedikit.


"Apa gadis di Bukit, seperti bidadari semua?"


Nasib hampir tertawa mendengar celoteh tanya di sampingnya.


"Hingga Kak Nasib, ngebelain pulang meninggalkan kak Adina,"

__ADS_1


Nasib segera menghentikan kegiatannya mengelap tutup dandang. Menatap pias wajah Juwita.


Kembali menghela nafas. Hari ini, Ia melihat kegelisahan di wajah Juwita, seperti wajah yang pernah Ia lihat di wajah Adina.


"Anak kemarin, enggak perlu tau," ucapnya bercanda.


Juwita tanpa kata langsung meninggalkanya. Sepintas kesal terlihat di wajah saat Nasib tersenyum melihat mengiringi langkahnya.


Suara goda Benu terdengar di belakang.


Nasib melayangkan tatapnya ke depan Kedai, tangannya masih lagi memegang Lap kain.


Wajah Bukit kian jelas dalam tatap mata anganya, berdiri tegak menatapnya pula.


Hijaunya bagai menantinya untuk kembali di belai dalam sibak kasarnya.


Dinginya bagai abadi menunggunya dalam malam, agar kembali di peluk dalam hangatnya suara hati yang mengapung.


Teriknya bagai tiada habis untuk menemaninya bergelut di tanah yang kasar berpeluh asa mungil.


Dan kepulan asap di dapur Rumahnya, bagai lambai keteduhan yang memanggilnya dalam nyaman dan tentramnya hati.


Semua akan kembali Ia jumpai, semua akan kembali Ia hirup lagi. Semua akan meleburkan kerasnya langkah, semua akan menjernihkan telaga keruhnya hati.


"Kak!"


Nasib tersenyum kaku, menutupi kaget hatinya.


"Juwita kenapa?"


Benu dengan meletakkan mangkuk di dekatnya.


"Dia ngambek, Kau enggak menjemputnya," kilahnya kepada Benu.


"Heran! Wanita itu minta di mengerti atau minta di jemput sih?" sambung Benu lagi.


"Iya, minta di mengerti dengan di jemput pesawat!" timpal Nasib tertawa kecil.


Benu hanya mengehela nafasnya dalam, terasa berat baginya hal yang baru di dengarnya, meski hanya sebuah gurawan.


"Kenapa Ben? Apakah itu terasa berat?" Nasib seperti mengerti dengan sikap wajah Benu.


Benu senyum lebar.


"Apa lagi Kak Nasib!" celetuk Nasib kemudian.


Keduanya tertawa kecil, seperti saling merasakan dengan semua keterbatasaan yang mereka miliki. Mungkin hanya cinta di hati saja yang mampu di persembahkan seandainya cinta tengah merajuk keinginan.


"Kita hanya mampu membawa mereka terbang dengan mimpi kita Kak," ucap Benu masih dengan tertawa menyadari.


"Cinta orang-orang seperti kita nih, Kak ... Bukanlah sebuah sesuatu yang menjanjikan bagi masa depan." Benu dengan melirihkan suaranya mendengar langkah yang mendekati.


Nasib menoleh pelan ke belakang.


Benu seolah tidak mengindahkan kehadiran Juwita dengan tatap curiga. Tetap gagah melihat ke luar Kedai.


"Pada menjelek-jelakan wanita kan?" Juwita menatap ulang keduanya.


"Aihhh! Juw, sensitif banget?" sahut Benu langsung, dengan tatap kian gagah.


"Halahhh!" Juwita sewot.

__ADS_1


Nasib hanya senyum-senyum membiarkan keduanya berdebat rasa.


"Tuh! Kannnn, Kak Nasib. Heran sama wanita! Jelas-jelas kita tengah membahas bagaimana kiatnya orang sukses dalam hal cinta, ehhhh! Malah di tuding..."


"Cowoknya yang sering buat ulah!" Juwita memotong cepat.


"Ulah apa-an Juw?" Benu kini melihat wajah Juwita.


"Salah! Kita, kalo ingin bisa membuat cewek terbang dengan berjuta kebahagiaan?"


"Salah! Kita, kalo ingin memberikan yang terbaik dalam hubungan, meski hanya dengan cinta?"


"Nah! Kalo yang barusan memang salah," ucap Nasib memotong ucapan Benu lagi.


Benu pun terbengong, menatap Nasib heran.


Nasib membalasnya dengan senyum-senyum kepada Juwita.


"Kak Nasib yang salah," tegas Juwita dengan tatap mata menyangkal.


"Lantas?" Nasib meski tatap matanya langsung tertuju ke pada Benu.


"Karena enggak semua wanita berhati mulia, untuk bisa percaya akan kekuatan cinta. Dan enggak semua wanita berhati buruk, percaya bahwa cinta bukanlah penunjang sebuah kelayakan dalam kebahagian hidup," ucap Juwita pelan.


"Nah! Benu, bagaimana dengan penjelasan barusan? Apakah cukup membuat mu meneruskan niat baik mu terhadap Juwita?" Nasib mengelap kedua tanganya dengan lap yang sejak tadi di pegang, dengan senyum pula Ia pun meninggalkan keduanya.


"Kak Nasib!"


Sontak Nasib langsung berpaling badan yang akan ke dapur.


"Kak Nasib, sudah mengetahui hal itu kan?" Benu seperti ingin menyusul langkah Nasib.


"Lho! Bukankah juwita-mu yang barusan berkata?"


Nasib melihat Juwita yang hanya melihat ke luar Kedai.


"Kak Nasib hanya tau menghidangkan Mie dan Bakso, bukan cinta seperti yang Kau harapankan Benu," senyum Nasib dengan kembali berjalan, tanpa mengindahkan gerak tangan Benu yang akan menahanya berlalu.


"Tapi semua salah Kak Nasib! mengapa kita membicarakan Juwita!" kesal Benu melihat tawa di punggung Nasib.


"Apa?"


Wajah dongkol Benu berubah Seratus delapan puluh derajat, menatap alis Juwita yang hampir terangkat separuh menuju marah.


"Jangang salah paham dan teramat sensitif gitu Juw," lirihnya.


"Aku sudah menduga tadi," sahut Juwita kesal.


"Tapi Juw, begini Juw. Kujelaskan sembari merapihkan Kedai bagaimana?" manis Benu menarik pelan Juwita dengan senyum.


Langkah rapat keduanya mendekati meja dan kursi yang belum lagi di tata.


"Aku akan membantu Kak Nasib sebentar," ucap Juwita tiba-tiba dan langsung beranjak ke arah dapur.


Benu terpana tanpa bisa mencegah, menghela nafasnya dalam dengan melihat ke atas meja di dekatnya. Sebuah Mangkuk bersih dengan lap di dalamnya, sepertinya Juwita lupa dengan apa yang di tinggalkannya.


Melihat kembali tubuh Juwita yang telah masuk ke dapur, sejak datang tadi Dirinya melihat pias murung di wajah teman kerjanya itu.


Kembali menghela nafas, dan langsung menata kursi-kursi di bawah meja. Sesaat matanya tertuju pada Mangkuk di atas meja. Dirinya seperti memahami murungnya Juwita, kedekatannya bersama Nasib selama ini tentu yang membuatnya merasa berat untuk melepas kan Nasib kembali pulang. Nasib sudah memberitahukan padanya tentang itu.


Kini hanya bisa berharap, Dirinya dan Juwita mampu meneruskan Kedai Mie dan Bakso yang telah diserahkan kepada mereka.

__ADS_1


Sepanjang apa yang Nasib sampaikan, sepanjang itu pula Dirinya akan berusaha.


...****************...


__ADS_2