ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
17. Bukan Aku Yang Ingin


__ADS_3

Adina hampir menjerit, langsung memeluk Nasib yang masih berdiri di depan pintu kamarnya. Senyum rekahnya begitu mengembang di bahu dan leher Nasib.


Baru tadi Ia berbincang ke pada Bi Narti untuk kembali ke Bukit lagi namun ternyata wajah cinta telah tiba terlebih dahulu dari jam yang belum di bayangkan kedatangannya. Rindu dan resah menguap sudah dalam hangatnya kasih.


Sesaat memang berpisah tapi rindu begitu lama terasa menyiksa batin. Kini, terasa sulit berkata hanya memeluk penganti kata yang teramat senang.


"Kangen banget!"Adina seperti gemas.


"Kebiasaan!"Nasib dengan membelainya. Matanya pun tertuju pada photo di dalam kamar,lalu tersenyum.


"Tega kau Adina?" berbisik di telinga Adina.


Adina langsung mentapa tanya wajah Nasib.


"Mengapa photo ku kau jadikan pengusir nyamuk?" tanya Nasib.


Adina nyengir dengan menarik hidung Nasib,


" Elektrik loh itu ,bisa di charge ulang!gemesnya tidak tertahan.


"Ampuh juga selama dua puluh empat jam mengusir gigitan rindu di kala malam."Adina kini bergelayut di leher Nasib.


Nasib nyengir.


Mata yang saling menatap, saling menikmati betapa rindu terasa indah saat pertemuan kembali, hati yang terasa bahagia terasa menyenangkan begitu dekatnya wajah kekasih, wajah cinta yang di damba.


Hilang terasa resah yang selama berpisah menjadi batu yang menghimpit. Kehadiran kekasih bagai Rinai yang membasahi setiap sudut relung hati, sejuk, damai dan terselip kata penuh mutiara dengan mata sebagai bibir.


"Aku hampir berencana menyusulmu."Adina senyum-senyum.


"Aku bisa pulang sendiri,"tegas Nasib.


"Dasar Nasib!"dengan hampir tergelak.


Tiba-tiba Adina melepaskan pelukannya dengan wajah berubah curiga meneliti wajah Nasib.


"Maukah kau jujur?"


Adina beringsut mundur.


Nasib menatapinya,


"Aku atau untuk dirimu Adina?" ucap nya kemudian.


wajah Adina semakin terlihat tidak suka, dan dengan cepat berlari ke tempat tidur, menangis tertelungkup.


Nasib mendekatinya.


Duduk di kasur yang empuk di sampingnya. Membelai pelan urai rambut yang menutupi punggungya yang bergerak-gerak menahan tangis.


"Aku mencintaimu Adina, menyayangimu,"


"Ku adalah harapaku, penghias mimpiku,"


"mengapa kau sembunyikan dariku?" pelan Nasib.


Adina segera duduk dengan wajah berderai air mata.


"aku enggak ingin melakukan hal itu, Nada yang ingin." Suara Adiana penuh dengan isak.

__ADS_1


Nasib mengehela Nafasnya, membelai pelan air mata yang mengalir di pipi Adina.


"Aku sudah mencintai mu, dan itu bukan suatu penyesalan bagiku." Membawa wajah Adina di pelukan.


"Aku minta maaf Nasib?"


Adina di sela isak lirihnya.


"Sudah aku maafkan lebaran kemarin." Membelai sayang rambut Adina.


Sebuah cubitan gemas terasa di pinggang, Nasib tertawa pelan.


"Babaimana perasaan mu saat bersamanya lagi?"


Suara Adina terasa di dada,


"enggak seperti saat ini,"senyum Nasib dengan membelai pipi Adina dengan punggung jari telunjuknya.


Adina semakin membenamkan wajahnya.


"Aku pikir kau akan marah?" ucapnya pelan.


Nasib kembali tersenyum.


"saat ini aku tengah marah, aku tengah menenangkan hatiku dengan memeluk dan membelaimu. menjadi peneduh dan penyejuk batinku,"


"Kau adalah amarah ku di saat rindu, di saat resah,"


"Biarakan aku mencoba untuk menyimak tiap cinta yang kurasakan darimu adalah sesuatu yang tulus terucap dari bibir mu."


Nasib mengangkat wajah Adina.


Kamar yang memang hangat kian hangat dengan rasa yang teramat sayang di kening Adina, mengalir hingga jauh di dasar hati. Rebah dalam rasa yang tiada terhingga. Hanya hati yang mampu merasakannya.


Perlahan membuka mata melihat simpul senyum Adina, perlahan pula membawa senyumnya ke rengkuh dadanya lagi.


Semua, biarkan semua tercurah dalam kasihnya hati, agar tiada pembatas rasa yang ada, agar cinta dapat dengan mudah dirasakan kembali dengan bebas.


Tiada yang dapat menghalangi jalannya cinta dari hati yang telah bersatu kembali.


"Nasib," lirih Adina.


"Aku tau kau haus,aku juga haus," sahut Nasib menebak.


Namun belum lagi usai belaian di tangan.


"Non! iling non!! Healingggggg!"


Kedua- nya segera berdiri.


Suara Bi Narti di tangga dan akan menuju kamar.


"Bi! bi-bi enggak bisa apa kalo enggak ngetuk pintu dulu!"


Adina menyahuti.


"Bisa lah Non!"


Adina menatap kesal ke arah pintu kamar.

__ADS_1


"Lalu kenapa enggak mengetuk dulu?"Adina lagi.


"Bi-bi kan belum sampe di depan pintu non!" sahut Bi Narti juga.


"lalu kenapa teriak di tangga!"


Adina semakin kesal.


"Kalo Bi-bi teriak di depan pintu nanti bilangnya surprise!"


Bi Narti dengan berdiri di depan pintu kamar yang sejak tadi memang terbuka.


"Itu bukan kejutan Biiiiiii! itu ngejutin!"


Wajah Adiina memelas kesal, seperti rasa ingin menangis.


"Lah iya! jadi apa yang tadi Bi-bi lakukan sesuatu yang sangat sopan sekali bukan, iya enggak Mas Nasib?"


Bi Narti tersenyum bak perawan belia.


Nasib membalas senyumnya.


"Bi-bi mau apa?."


Adina masih berpias kesal.


"Elohhh! Bi-bi kan mau beres-beres Non?"jawab Bi Narti seolah heran.


Adina melebarkan bibirnya.


"Kita ke bawah aja!."


Adina menarik tangan Nasib untuk segera berlalu dari dalam kamar.


Bi Narti senyum-senyum saat keduanya berlalu di depanya.


"Iling Non!" ucapnya saat keduanya tengah menuruni anak tangga.


"Bi-bi tuh! jangan lupa iling saat bersih-bersih!"


Adina dengan terus menggandengan Nasib.


Bi Narti tertawa geleng-geleng kepala, lalu masuk ke dalam kamar Adina.


Rumah yang belum lama hening seakan kembali seperti semula,riuh dengan canda dan tawa.


Rumah milik kedua orang tua Adina yang dahulu pernah di sewakan,kini di tempati oleh Adina dan Nasib dan Bi Narti untuk menemani mereka dan mengurus mereka layaknya seorang Ibu dengan kedua anaknya. Adina yang semenjak mengalami kecelakaan telah jarang untuk keluyuran malam sebagaimana dahulu, lebih banyak menghabiskan waktu malam di Rumah, apa lagi setelah Ia tinggal bersama Nasib yang memang jarang pula keluar malam jika tanpa keperluan.


Tinggal bersama bukanlah selalu merasa senang ada kalanya ada pertengkaran yang mewarnai layaknya yang terjadi pada setiap keluarga.


Begitu juga Adina dan Nasib ada kalanya isi rumah begitu sepi saat bibir terbungkam dengan aral yang datang baik pekerjaan atau pun perasaan,tinggalah Bi Narti yang ikutan mendamaikan keduanya.


Susah payah juga terkadang Bi Narti harus berusaha mengakurkan kembali suasana yang terbelah di antara keduanya.


Apalagi jika Adina yang tengah ngambek, serak-serak deh! suara yang hampir habis untuk menasehati, membujuknya hingga Dirinya sendiri yang ngambek karena tidak di gubris Adina.


Hingga tawa kembali memenuhi setiap sudut kelam ruangan hati dengan hangat kasih yang mengalir dari lubuk-lubuk yang putih, rasa cinta akan saling menghargai setiap perasaan dari masing-masing hati.


******

__ADS_1


__ADS_2