
Nasib memperhatikan wajah Nada yang terlihat letih meski senyum masih sempat terlihat di paksakan, berdiri memegangi pipa seperti pagar di Buritan kapal.
Deru mesin yang terdengar membelah laut menciptakan Buih-buih putih di permukaan, perlahan-demi perlahan meninggalkan dermaga penyeberangan.
Malam membuat hitam biru selat yang berombak tenang dengan ramai para penumpang di geladak kapal penyeberangan.
Kian lama semakin panjang buih yang tercipta seperti jalan putih di tengah hitam kian jauh pula kapal yang bergerak ke tengah lautan. lampu-lampu di pinggiran laut pun terlihat berjajaran laksana bintang-bintang yang di dekatkan.
Deru angin terasa dingin seperti di Bukit yang telah di tinggalkan.
Tidak banyak kata yang Nasib dan Nada bicarakan selama dalam Mobil Trevel.
Keputusan untuk cepat kembali bersama Adina terpaksa di ambil mengingat Mukio dan Retno urung datang dalam hari yang di janjikan, berbarengan bersama Nada yang kebetulan juga akan pulang.
"Jadi ingat film Titanic."
Nasib menarik nafasnya dengan tersenyum.
"Mengapa kau suka di Buritan Nasib?" tanya Nada kemudian.
"Karena paling belakang," suara enteng Nasib di sela deru mesin kapal laut.
"Aku tau, kalo ajungan di depan. Aku hanya ingin tau kenapa?"tanya Nada penasaran. Perlahan menyandarkan tubuhnya di pipa besi.
"Seperti yang kau bilang, seperti Titanic."
Nada melebarkan bibirnya. Jawaban Nasib seperti angin dingin yang menerpa rambutnya.
Nasib tertawa pelan.
"Aku serius."
Nasib meletakan kedua tanganya di pipa besi juga.
"Entah Nada, Aku suka sekali melihat jejak dari sesuatu yang tertinggal. Apa kau tau apa yang tertingal di belakang kita setelah kita lalui?"
Nada melihat Nasib dengan wajah berpikir.
"Karena kita tidak akan pernah mengalami dan melihat sesuatu yang ada di belakang kita yang tertinggal.Seperti sejarah atau peristiwa sebelum kita terlahir."
Nasib menghirup udara kembali.
"Tapi di depan kita... kita tengah akan melauluinya kita bisa melihat langkah kita,"
"bukan berarti aku lebih suka melihat ke belakang," jelas Nasib.
"iyaaa seperti katamu, Apa kau dan Aku pernah menaiki kapalnya."
Nasib menatap wajah di sampingnya.
"Sekarang." ucap Nada dengan tertawa kecil.
"sekarang di kapal antar selat!" jelas Nasib dengan canda.
Tawa kecil keduanya menyapu pandang beberapa orang yang berdiri di dekat mereka, bersembunyi dari angin yang tengah di belah kapal yang melaju sedang.
"Nasib, apa itu berlaku untuk cinta?"
Nada menatap Nasib.
__ADS_1
"kau pikir aku ahli cinta?" jawab Nasib dengan menatap buih di bawah kapal.
Keduanya menoleh cepat.
Sepertinya tawa orang di dekat mereka lebih mengetahui akan apa yang tadi di bicarakan.
keduanya kembali bertatapan untuk sesaat terdiam, mempersilahkan tawa yang tengah berkumandang.
Suara kipas besar dibawah mereka membuat air laut seakan bergolak dan bergejolak berwarna putih buih.
Hanya tinggal kerlip kecil di kejauhan layaknya pagar berlampu.
"bagiama hati dari cinta yang kita tinggalkan sedangkan kita tengah mengalami kebahagiaan?"
Nada setelah melihat kedua orang di dekat nya hanya tengah berbincang.
Nasib mesem tertunduk, menarik pelan nafasnya dengan pelan.
"Aku lebih suka ketenangan dalam melangkah, hingga aku merenung dengan apa yang telah aku tinggalkan, jika ada rasa sakit dalam jejakku ... bagaimana aku melalui kebahagian di depan ku?" pelan Nasib tersenyum.
"Apa kau saat ini merasa tenang Nasib?" tanya Nada kembali.
Senyum di bibir Nasib semakin mengembang.
"Mangkanya aku duduk berdiri di buritan, seperti ingin melihat di balik gelap air laut di sana."
Nasib menujuk dengan pandangan.
Tapi Nada hanya memandangnya.
Setiap gemuruh kipas kapal yang berputar dengan suara air yang di timbulkan mendebarkan raga dan hati.
Nasib memperhatikan wajah yang mulai lelah.
"Apa kau sebaikanya di dalam kapal Nada, ku lihat kau lelah."
Hanya simpul senyum terukir tipis yang menjawab.
Nasib berdiri menghadap Nada.
"iya Aku memang lelah," dengan menoleh Nasib.
"Saat Aku melihat ke arah yang kau katakan, sepertinya aku enggak menemukan apa-apa? tiada rasa sakit di sana ,mungkin pernah ada tapi mungkin sekarang sudah sembuh. Jadi ku rasa, kau bisa dengan tenang menjalani harimu menuju kebahagianmu,"" ucap Nada dengan jelas.
Nasib tertegun lelah dari mata yang menatapnya dengan senyum yang terlihat lelah juga ada kerelaan yang berbinar.
Jika Nada kini sudah bisa menerima dan mengikhlaskan semua yang pernah terjadi dalam hidupnya bersama Dirinya, agar tidak ada rasa untuk saling menyalahkan, menganggap semua sebagai kisah pelengkap dalam kehidupan. Percaya jalan takdir telah ada yang menentukan, setidaknya kini Ia pun bisa melewati hari tanpa rasa bersalah karena telah membuat derita hati ke pada seseorang yang mencintainya.
"Apa kau mau memperkenalkan Aku dengan Adina?"
Nada melihat wajah Nasib terpaku.
"Tentunya, setelah sekian lama tidak saling mengenal lagi." Senang Nasib sedikit terkejut.
Pelan menarik tangan Nada untuk menuju ke dalam kapal.
Nada tersenyum menuruti langkah di depanya.
Nasib seperti tidak peduli setiap mata yang menatapinya memegang tangan Nada, Ia hanya peduli Nada untuk cepat terduduk di kursi penumpang dan tertidur mengilangkan lelahnya setelah berjam-jam menempuh perjalanan.
__ADS_1
"Nasib." Nada menghentikan langkahnya,
Nasib segera menoleh.
"Kau memegangangku terlalu erat, Aku takut nanti...?"
"Nanti ke tahuan suami mu?"
Nasib semakin erat memegang jemari Nada.
Nada menggelengkan kepalanya.
"Nanti..., Lelahku cepat hilangnya, malah enggak bisa tidur," ungkap Nada tertawa kecil.
"Apa kau enggak bisa melupakan kebiasaan lama?" Tawa kecil Nasib dengan menarik kembali Nada masuk ke dalam ruang penumpang.
Nada senyum-senyum mengikutinya hingga duduk di kursi penumpang.
Kursi -kursi panjang seperti berbaris menghadap pesawat televisi yang tergantung di dinding kapal dengan para penumpang yang padat memenuhi.
Meski untuk memejamkan mata tentunya akan sulit bagi Nada. Kebisingan tentunya hal yang pertama baginya.
Nasib memeriksa saku celananya.
Sepertinya Ia meninggalkan HPnya di dalam Tas Adina, di Mobil Travel.
Nada tersenyum melihat gambar di Televisi yang terkadang buram.
Nasib memperhatikan sekelilingnya, kebanyakan penumpang begitu asyik dengan Handphone masing-masing.
"Tidurlah Nada." Nasib dengan memeluk tubuh dengan kedua tanganya.
Nada menolehnya pelan, tersenyum.
"Mana bisa tidur,"ucapnya seperti berbisik.
Nasib menoleh.
"Ya udah, nonton tivi aja," balas Nasib berbisik.
Penumpang yang duduk di belakang mereka nampak tiada terusik, asyik menatapi Layar HP masing-masing.
"Apa yang di tonton?" tanya Nada dengan tawa yang nyaris tidak terdengar.
Nasib tersenyum geli.
Gambar yang kadang ada,kadang hilang hanya membuat mata terasa sakit untuk melihatnya.
Keduanya menghela nafas pelan.
Nasib sedikit melirik.
Nada mulai menatapi layar HPnya.
Dengan memejamkan mata seolah bersandar kepala di kursi yang hanya sebatas punggung-nya, Nasib melepaskan nafasnya begitu pelan,membiarkan Nada tenang dengan HPnya.
Setidaknya layar HP Nada lebih jernih untuk di tatapi.
Nasib tersenyum dalam hatinya.
__ADS_1
******