
Embun malam masih lagi melekat tiang dan kabel-kabel listrik pinggir jalan, sementara sinar lampu tetap menyala menunggu pagi. Suara kendaraan pun bukanya hilang namun semakin ramai menuju pasar.
Nasib merapatkan jaket ketubuhnya, hembus nafasnya bagai dingin menyibak udara yang melewatinya.
Langkahnya pelan mengiringi sunyi bibir di sampingnya.
Tiada banyak kata yang terlewati saat duduk di Taman, hanya menatap keheningan temaram lampu dan bunga-bunga yang tertutup warna malam.
Nasib tersenyum, menoleh Nada.
Begitu hening wajah yang dahulu indah dalam angannya, malam bagai membiusnya dalam kebungkaman.
Kembali menatap legamnya trotoar yang menunu Kedai. Sesekali sinar lampu kendaraan di depan membutanya menundukan mata.
Langkah terasa dingin, sementara serangga bersayap terlihat hangat mengitari sinar lampu yang tergantung di pinggir selokan.
"Kita tunggu di sini."
Nasib segera menghentikan langkahnya.
"Aku sudah menghubungi Ronal."
Nasib hanya tersenyum menganguk.
Hampir sampai sebenarnya mereka di Kedai.
"Mengapa enggak menunggu di kedai aja Nada?" Nasib melihat Kedai yang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Nada pun melihat ke arah Kedai, tersenyum begitu kecil.
"Hanya akan membuatku kembali menangis," ucapnya menundukan wajah.
Nasib tersenyum. Matanya menangkap sinar di tiang listrik seberang jalan.
Rintik-rintik salju seperti turun dari kelamnya awan begitu rapat, menutupi hati dan rasa dengan hawa dingin yang akan membekukan. Kepak-kepak sayap yang telah patah ikut terjatuh di ranting dari dahan yang juga patah. Bulu-bulu putih yang tebal yang dahulu menghangatkan mata telah rapuh dalam liangnya berkalang salju yang tebal. Musim akan terasa lama berganti, atau mungkin tidak akan berganti dengan sinar hangat dan wanginya bunga, seperti masa di saat bersama mengukir pelangi di musim yang semi. Kini akan membeku dan layu selamanya.
Nasib menghembuskan nafasnya pelan, mengusir keram di jiwa dan hatinya, akan semua yang di lewati bersama orang yang berdiri di sampingnya.
Suara klakson terdengar.
Nasib tersenyum mengangguk. Pengendara motor yang tengah berboncengan pun tersenyum kepadanya. Ia memang mengenalnya, sepasang Suami-Istri yang berjualan di pasar yang juga tempat langganannya berbelanja kecap dan saos.
Nasib masih terus memperhatikan Motor yang baru lewat, hingga hilang masuk kedalam area pasar.
Menoleh Nada dengan senyum kecil.
Wajah Nada masih terlihat lengang, bagai jalan Ibu Kota yang telah di tinggal mudik.
Namun terlihat tenang.
__ADS_1
"Apakah Ronal akan menjemputmu di sini?" Nasib seperti ingin mengurai rasa ragu di hati.
Sebuah anggukan dan senyum yang menjawab.
Nasib menghela nafasnya, memasukan kedua tanganya ke dalam saku jaket, melihat ke arah jalan ya ng mungkin akan di lalui Ronal untuk menjemput Nada.
Warna terang nampak mulai mewarnai awan di kejahuan.
Wara-wiri kendaran pun semakin ramai.
Berdiri di Trotoar jalan berdua, seperti menunggu angkot yang akan lewat, namun bagi Nasib mengikuti keingan Nada sedari semalam membuatnya merasa melapangkan hati Nada.
Nasib menggerakan Kakinya yang mulai terasa pegal berdiri. Anehnya? Sepertinya Nada tidak merasakan apa yang tengah menjalar di kedua Kakinya. Terlihat santai dalam berdiri, seperti tengah tidak menunggu seseorang pun.
Cakrawala hampir lagi berwarana kemerahan, denyut kesibukan akan sebingar hari biasanya, tapi sosok Ronal belum juga terlihat.
Sebuah Mobil terlihat berjalan begitu pelan menuju keduanya.
Nasib dan Nada sama-sama memperhatikan, seperti berharap akan yang di tunggu.
Keduanya hanya menatap mengikuti laju pelan Mobil yang hanya melintasi tanpa berhenti.
Nasib tersenyum kecil ,menunduk. Sepertinya bukan seoarang yang tengah Ia dan Nada tunggu.
Nada terlihat biasa-biasa saja, tiada kesan yang tampil di raut wajahnya. Begitu datar menatap aspal yang juga datar.
"Nada, mungkin sebaiknya ... "
Nasib tersenyum. Matanya kembali tersungkur di kerasnya Trotoar. Suara berbisik seperti menggema di bawah kakinya terbawa bersama air selokan yang tengah mengalir.
Lampu-lampu di jalan dan di depan-depan pertokoan pun mulai padam, berganti terangnya pagi yang akan menyala, hanya di Kedai yang masih tetap hidup mengingat Ia pun masih tetap berdiri di pinggir jalan.
Tatap dan lirik para penghuni jalan, bagai bertanya tanpa bersuara memperhatikan. Namun jawab masih tiada akan terucap dari orang di sampingnya, yang tengah cuek dalam diamnya.
"Nada, Aku harus mematikan lampu Kedai." Pelan Nasib. Seperti takut mengusik asyiknya sebuah tatapan kebisuan.
Nada menolehnya. Ia pun tersenyum mengangguk, seperti ingin mengajaknya berjalan dan menunggu di Kedai.
Namun senyum enggan Nada kembali terukir, layaknya Aurora di teriknya pagi.
Nasib kembali menghela nafasnya melihat kesekeliling, menghindari tatap-tatap tanya yang tidak asing para penghuni pasar.
"Mungkin sebaiknya Kau hubungi Ronal lagi," ucapnya lagi.
"Sudah, kita disuruh menunggu."
Nasib kembali tersenyum mendengarnya, melayangkan tatapnya di antara lalu-lalang kendaraan.
"Apakah bukit juga enggak sesabar menunggumu Nasib?"
__ADS_1
Nasib menoleh, termangu menatap pias wajah Nada.
Sepertinya kini Ia mengerti akan maksud Nada mengajaknya berdiri di pinggir jalan.
Nasib menghembuskan nafasnya, menatap terang di balik awan yang mulai memudar dari warna malam.
"Bukit, akan tetap berdiri. Meski Aku enggak kembali Nada." Pelanya tanpa menatap Nada.
"Wajahnya akan tetap dingin saat malam, dan menyengat di saat siang."
"Lalu mengapa Kau begitu terburu untuk pulang?" Nada menolehnya.
Nasib tersenyum kecil.
"Nada, bukan semalam telah ku jelaskan?"
Nada tersenyum.
"Aku tau kakimu terasa pegal."
Nasib kembali termangu.
Nada menatap aspal jalan.
"Apakah begitu pegalnya hatimu Nasib, hingga Kau enggak sanggup lagi menempuh semuanya? Hingga Kau memilih untuk kembali?"
Nasib semakin termangu.
Debu-debu jalan yang biasa berterbangan di setiap hari, belum lagi terlihat menutupi mata. Bagai membeku seperti salju yang telah lama menutupi jalan, yang terlihat kini Snowy Owlnya tengah membuka kedua sayapnya, menatap tajam bagai mengawasi Dirinya dan siap mencengkram ke udara dan menghempaskan-nya di jurang yang penuh luka yang lama.
"Aku tau Kau menahan rasa pegal di kakimu Nada,"
"Apakah itu lebih menyiksa? untuk terus bertahan dalam rasa pegal,"
"Bukankah Kau telah memilih jalan yang juga kini akan Aku tempuh? Yaitu kembali dari semua yang membuatmu pegal."
Nasib kembali tersenyum, Nada menatapnya.
"Apakah kembali jauh lebih baik, atau lebih buruk? Kau pun pasti telah merasakannya, setidaknya sedikit menghilangkan pegal yang kita rasakan, dengan kembali memeluk udara yang segar akan rasa yang hampa." Lanjut Nasib, seperti tidak memperhatikan Angkot yang terhenti di depanya.
Nada menggelengakan kepalanya kepada sopir Angkot.
Nasib hanya tersenyum menunduk saat Angkot kembali berjalan.
Sinar Matahari mulai menguak pagi dengan hangat, bersinar di sela-sela ujung dedaunan dan atap-atap pertokoan.
Sementara sinar di hati keduanya, terasa dingin menyapu hati, terasa salju menutupi, namun hitam tiada putih.
Seperti putih kasih yang telah mencair di atas bebatuan cadas.
__ADS_1
Mengalir jauh tanpa bisa lagi kembali ke atas.
...****************...