ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
26. Lampu Merah


__ADS_3

Langkah kaki yang menapaki trotoar pinggir jalan seakan lunglai terpasung rasa hati yang kian gelisah, warna terik kian lagi membuat kedua tangan berkeringat.


Wajah kekasih masih terus membayangi, Lemah dari tubuh masih dapat di rasakan seiring gerak kaki yang melangkah.


Hiruk-pikuk kendaran dan lalu lalang pejalan kaki, seakan hening tertutup gulananya hati.


Nasib mengusap pelan keringat yang membasahi keningnya. Hari benar-benar terasa menyengat.


Wajah Adina kembali mengusik angan-nya. Baru beberapa menit yang lalu Ia meninggalkan Adina yang semakin melemah kondisinya. Namun Adina memintanya untuk tetap ke Kedai, meski tadi Ia pun bersikeras untuk menjaganya.


Sempat tadi Ia bertemu ojek online langganan-nya, namun Ia memilih berjalan kaki. Entah, Ia ingin sekali ke Kedai dengan berjalan.


Debu jalan menuju pasar kian mengotori di benak,perlahan coba melihat terik yang menyengat, perih terasa seperti apa yang tengah di rasa.


Adina, bayang wajah Adina terasa mengganggu langkah dan hatinya. Sungguh Ia tidak tega meninggalkanya meski Bi Narti ada untuk mengurusnya. Tapi ... Ia pun harus mengikuti keinginan-nya.


Nasib terkejut, beberapa anak yang tengah berlari menyenggolnya.


"Hati-hati om, kalo jalan!"


Nasib terpana terdiam, melihat seorang anak baru berbicara. Dengan kembali berlarian menjauhinya.


Nasib menghela nafasnya pelan. Masih beberapa lampu merah lagi Ia akan sampai di kedai.


Kembali berjalan meski langkah terasa amatlah berat. Suara-suara bising kendaran begitu lirih terdengar, hanya ada bising nafas Adina yang sakit, terbawa angin yang berhembus.Pohon-pohon rindang tepi jalan pun bagai tinggal cabang-cabang kering tanpa bisa lagi di jadikan peneduh hati yang tengah gundah.


Nasib segera menyeberang, namun suara klakson yang begitu nyaring membuatnya terkejut. Nyaris! Mobil boks terhenti begitu dekat di tubuhnya.


Semua pengendara di lampu merah pun melihatnya.


Dengan wajah tidak mengira, dengan apa yang baru terjadi Ia pun segera berlari kecil dari tengah jalan, hanya mata tajam di balik kemudi Mobil Boks yang masih menatapinya.


Nasib kembali menghela Nafas pelan, sepertinya Ia tadi melihat lampu lalu-lintas masih lagi berwarna merah.


Dengan coba menenangkan pikiran Ia pun kembali berjalan.


Namun lagi-lagi, telinganya seperti hampir pecah mendengar suara klakson yang tiba-tiba.


Sebuah Motor Sport dengan pengendara menggunakan Helm fullface hitam berhenti di dekatnya.

__ADS_1


"Ronal," ucapnya saat melihat visor helm di buka.


Ronal hanya menatapnya, dan dengan kepala yang terbungkus helm menujuk kearah belakang Motor.


"Aku jalan saja Ronal." Nasib seperti mengerti apa yang di maksud Ronal.


Tapi tangan Ronal menariknya.


Nasib pun mengikuti kemaunan Ronal, duduk di bonceng dengan tanya di dalam hati.


Suara khas knalpot Motor sport yang terdengar seiring tarikan gas tangan Ronal terasa membuyarkan tanya yang ada.


Tentang Ronal yang kemarin begitu marah padanya, mengapa kini sudi mengajaknya berboncengan?


Tapi sepertinya Ronal masih mencari Nada, pikirnya terpaut wajah Nada.


Nasib mengusap dadanya dengan nafas pelan.


Tiada kata yang terdengar dari balik Helm hitam diatas roda yang tengah berputar cukup kencang, meninggalkan kendaraan lain yang juga tengah melaju.


Nasib mengusap matanya, angin yang menerpa membuat perih penglihatan-nya, semalam pun Ia tidak dapat tertidur untuk menemani Adina yang sakit.


Tiba-tiba lagi Ia pun harus terkejut, Ronal mendadak menghentikan Motornya, akibatnya kepalanya harus terkena Helm Ronal.


Sepertinya pula Ronal merasa marah, terlihat dari caranya membuka Visor helm dan langsung menutupnya lagi dengan keras.


Suara knalpot kembali terdengar, kini Ronal semakin membuka gas. Laju Motor pun lebih kencang dari sebelumnya.


Nasib yang memang tidak suka dengan kebut-kebutan pun memegang jaket Ronal Kuat. Desir Angin kian parah menjajaki wajah, semakin perih mata untuk melihat.


Nasib memejamkan matanya.


Hanya desir angin dan suara knalpot yang mendenging terasa.


Kembali kepalanya harus terbentur Helm.


Nasib membuka matanya, Ronal menghentikan Motornya tepat di Zebra Cross lampu merah.


Pandangan Ronal sepertinya hanya tertuju ke arah depan, melihat tiada gerak di helm. Yang biasanya pengendara akan tolah-toleh jika lampu merah menyala, mungkin hanya sekedar untuk menghilangkan kejenuhan saat menunggu Lampu hijau.

__ADS_1


Nasib mengusap dadanya dengan nafas perlahan, menahan debar ngeri hatinya akan laju kencang Motor barusan.


Rapat kendaraan di sisi kiri dan kanan membuatnya enggan untuk melihat ke sekelilingnya. Namun matanya tertuju pada suara dari speker, sebuah nyanyian terdengar.


Lelaki Tuna netra dengan seorang Wanita yang menuntunya baru saja akan menyeberang.


Nasib menelan ludahnya pelan, sepertinya mereka sepasang suami-istri.


Suara yang terdengar dari speker yang di gendong di depan seperti sebuah tas, begitu nyaring di bibir sang lelaki.


Sebuah lagu yang sering Ia dengar di Kedainya, lagu dari sang legenda yang bercerita tentang kemesraan.


Hingar-bingar yang ada seakan terpasung dengan lantang suara yang ada, memekakan rasa yang mendengarnya.


Nasib terus memperhatikan keduanya, hatinya berdesir.


Masih ada sebuah ketulusan yang terlihat olehnya, yang mampu menerima kekurangan untuk bersama melewati takdir yang di berikan. Kuatnya hati seorang wanita untuk menanggung teriknya kehidupan dengan tangan relanya.


Nasib menahan lirih hatinya yang kian bergejolak menatap langkah keduanya di atas aspal jalan. Ia merasa mereka lebih baik dari langkahnya yang terdiam dalam boncengan. Mereka menapak berkeringat namun hasil kerja sendiri, sedangkan Ia hanya dari rasa belas kasihan seseorang, apa yang Ia usahakan kini adalah karena Nada dan Adina.


Nasib menundukan wajahnya sesaat, andai Ia tahu? Ia akan tetap tinggal di Bukit. Mungkin di Bukit, langkah kaki akan selalu berlumur debu dan tanah kotor. Namun akan menjadi keringat yang dapat Ia rasakan setiap malamnya dengan lelah yang membuatnya tanpa beban. Selama ini Ia tidak ingin berhutang budi ke pada siapa pun, Ia hanya ingin apa yang di usahakan, meski sedikit, tapi hasil dari kerja kerasnya sendiri.


Nasib menatap kembali sepasang suami-istri yang telah berdiri di seberang jalan, masih lagi bernyanyi.


Kembali angan-nya berbaur dengan suara yang mengalun, menatap andai keduanya.


Jika wanita itu adalah Adina? Atau Nada?


Nasib menundukan wajahnya kembali dengan senyum kecil, Ia mengerti arti sebuah perbedaan yang lama-kelamaan akan menjadi dinding kembali. Seperti terasa melihat ke dua orang yang sejak tadi Ia tamati.


Kebersamaan selama ini, Ia pun merasa ada sebuah keterpaksaan dari sebuah ketulusan.


Nasib menatap kembali ke seberang jalan. Adakah tangan yang akan menuntunya nanti, akan seperti tangan wanita yang tengah memegang di seberang jalan di bawah lampu merah yang menyala?


Nasib sedikit tersentak. Suara klakson ramai dan laju motor yang Ia tumpangi langsung bergerak, membuat suara hingar di belakang. Sepertinya Ronal tidak peduli, mengeber Motornya lebih kencang.


Nasib masih lagi sempat menoleh kebelakang, namun ramai kendaraan yang melaju menghalangi tatapanya akan kedua orang yang di sebarang jalan.


Menoleh ke depan, dengan menutup matanya. Angin benar-benar menyiksa pandanganya.

__ADS_1


Di mata yang terpejam, hanya bisa berharap untuk segera sampai di kedai.


...****************...


__ADS_2