ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
6. Dinding Bata Merah.


__ADS_3

"Apa Ibu enggak salah dengar?"


Bu Marimin dengan meletakkan segelas teh hangat.


Nasib tersenyum kecil memperhatikan raut wajah Ibunya yang tidak mempercayai penuturanya barusan.


"Adina yang ingin Bu," ucapnya dengan memegang gelas yang baru di letakkan Ibunya.


"Tapi?" Bu Marimin melihat seisi ruang tamu.


"Nasib, apa kata orang tua Adina? Rumah Kita?" Bu Marimin seperti sulit menerima perkataan Nasib.


Nasib meminum Teh hangatnya.


Bu Marimin memperhatikan dengan keraguan.


"Ayah Adina sudah mengetahuinya Bu." Nasib meletakkan kembali gelas ke atas meja.


"Iya itulah Adina, jika sudah punya keinganan," jelasnya lagi.


Bu Marimin menghembuskan nafasnya pelan.


"Tapi kok, Ibu ...?"


"Bu, Apakah Ibu memberi rerstu untuk pernikahan Kami?" Potong Nasib melihat keraguan yang mendalam di wajah Ibunya.


"Nasib, Ibu senang sekali dapat merestui Kalian. Tapi? jika harus menikah di rumah ini?"


"Bu, bahkan kalo bisa Adina ingin di atas puncak bukit!"


Bu marimin langsung tertawa kecil mendengar penjelasaan Nasib.


Nasib pun ikut tertawa geli, mengingat apa yang Adina katakan padanya.


"Adina! Adina!" Bu Marimin di sela tawanya. Matanya kembali menelusuri setiap sudut ruangan. Lalu menatap Nasib.


"Adina ingin Nasib yang menyampaikannya kepada Ibu." Nasib seperti ingin menjawab keraguan yang masih tersirat di wajah Ibunya.


Bu Marimin kembali menghembuskan nafasnya.


"Orang kota biasanya menikah di gedung yang besar Nasib."


Nasib berganti melihat se-isi ruangan yang sempit.


Bu Marimin tetap memperhatikan-nya.


"Iya Bu, tapi seperti yang tadi Nasib katakan. Jika bisa, Adina ingin di atas Bukit."


Bu Marimin kembali tertawa kecil. Semenjak bermalam beberapa hari, Adina memang tidak mengutarakan apa-apa padanya tentang rencana pernikahan yang akan diadakan di rumahnya. Hanya memintanya untuk tinggal bersama setelah menikah dengan Nasib.


"Jika Adina merasa itu adalah keingan hatinya untuk ..." Bu Marimin menghentikan ucapanya. Suara dering dari HP Nasib terdengar.


Nasib senyum-senyum.


"Adina Bu," ucapnya setelah melihat nama yang tertera di layar HP-nya.


Bu Marimin tersenyum lebar.


"Iya Adina?" Nasib menempelkan HP di telinga. Pandangannya tertuju pada Ibunya.


"Ini Lagi meeting dengan Ibu." Nasib menjawab suara Adina di telinganya. Tertawa kecil kepada Ibunya.


Bu Marimin menanggapi dengan senyum.

__ADS_1


"Oh iya, Ibuku bertanya. Mengapa harus di bukit menikahnya?" Nasib sebelum Adina kembali berbicara.


Bu Marimin hampir membuka matanya lebar mendengar apa yang baru di katakan Nasib.


Nasib hanya menyeringai geli, dengan mendengarkan seksama suara Adina.


Manggut pelan kepada Ibunya.


"Oh, Begitu?" Nasib seperti mengerti.


"Bu, Adina berkata di bukit kalo malam dingin!" Nasib kepada Ibunya. Langsung terpingkal menjauhkan HP dari telinganya, dengan segera memberikan kepada Ibunya.


Bu Marimin yang memang tidak mendengar suara Adina, segera menempelkan HP-Nasib di telinganya.


"Adina," ucapnya dengan mata melihat Nasib.


Nasib tersenyum geli.


"Iya, memang dasar Nasib!" Bu Marimin menyahuti suara Adina di telinganya. Tatapanya tetap tertuju pada Nasib.


Seperti Nasib, Bu Marimin mendengarkan kembali suara Adina dengan seksama. Sesekali matanya tertuju pada dinding ruangan yang masih berbata merah, seperti merenungi akan suara yang terdengar di telinganya.


Sesekali tersenyum menanggapi.


Nasib yang memperhatikan tanpa bisa mendengar, melayangkan tatapnya pada sebuah bingkai photo yang tergantung di dinding Rumah. Namun sepertinya Ia tidak melihatnya kemarin, tapi sekarang?


Sesaat terpaku.


"Adina, jika itu yang Adina inginkan, Ibu enggak merasa keberatan. Ibu pun baru aja membicarakannya dengan Nasib, yang Ibu khawatirkan tadi ... Rumah Ibu."


Nasib yang mendengar ucapan Ibunya terdengar serius, kembali memperhatikan-nya.


"Ibu takut, keluargamu menanggung rasa malu akan keadaan Nasib." Bu Marimin menatap Nasib yang juga tengah menatapnya.


Terlihat Ibunya menghela nafas.


"Pesan Ibu, jangan sakit lagi jika kembali ke bukit."


Nasib yang mendengar, senyum-senyum kepada Ibunya.


Seraya tersenyum Bu Marimin memberikan kembali HP kepada Nasib.


Nasib segera menempelkan di telinganya.


"Bagaimana Adina?" tanyanya langsung. Melihat Ibunya yang beranjak ke arah dapur. Matanya kembali tertuju pada photo di atas dinding, setelah tiada terlihat lagi Ibunya di pintu dapur.


"Sebaiknya Kau pulihkan dulu kesehatanmu," ucapnya menanggapi suara Adina.


"Setelah itu, Kau boleh merencanakan sesuai keinginanmu. Karena saat ini yang Aku pikirkan hanya kesehatanmu Adina," jelasanya dengan berdiri. Melangkah mendekati photo yang terpajang di dinding ruangan.


"Iya, sebaiknya Kau banyak beristirahat." Seraya menatap photo di atasnya.


"Iya Adina,"


"Malam,"


"Aku pun sangat menyayangimu." Nasib tersenyum melihat HP-nya. Adina telah mengakhiri panggilannya.


Tangannya bergerak mengambil photo.


"Ibu yang melepasnya."


Nasib menoleh cepat.

__ADS_1


"Ibu juga yang memajangnya lagi." Bu Marimin mendekati Nasib. Lalu melihat photo yang tengah di penggangnya.


"Apa karena Adina?" Nasib menatap wajah Ibunya.


"Ibu hanya enggak ingin merusak suasana di antara kalian. akan masa lalumu Nasib," jelas Bu Marimin tersenyum.


Nasib mengamati photonya dan Cahaya. Bibirnya tersenyum kecil dengan mata meneliti keseluruhan dalam photo.


"Rambut cahaya enggak panjang lagi." Bu Marimin dengan menyentuh photo Cahaya dengan jemarinya.


Nasib terpana melihat Ibunya.


Bu Marimin yang tersenyum suka, segera menarik jemarinya.


"Maksud Ibu ..." Dengan wajah sedikit terkejut.


"Maksud Ibu, Cahaya ada di Bukit?" Nasib mengamati Ibunya yang kembali duduk. Tersenyum kecil padanya.


"Bu?" Dengan menggantungkan kembali photonya bersama Cahaya.


Berjalan memdekati Ibunya.


Tatapan Bu Marimin tertuju pada Photo yang baru di gantungkan Nasib.


Nasib menghela nafasnya pelan, mengamati wajah Ibunya.


"Cahaya sering mengunjungi Ibu bersama Kevin."


"Kevin?"


"Iya, putranya Cahaya." Jelas Bu Marimin melihat Nasib.


Nasib tersenyum lebar. Menyandarkan punggungnya di kursi.


"Cahaya sering menanyakan kabarmu Nasib," ucap Bu Marimin Kembali.


Nasib tertawa kecil, melihat photo di dinding bata merah.


"Cahaya," lirihnya.


Bu Marimin pun tersenyum lebar.


"Sebernarnya Ibu enggak perlu menyembunyikan photo itu, kepada Adina." Nasib tersenyum kepada Ibunya.


"Iya, tapi mungkin lebih baik setelah Kau dan Adina telah menikah." Jelas Bu Marimin.


Nasib tersenyum menatap meja. Sepertinya Ia harus mengerti akan Ibunya. Cahaya telah banyak menciptakan kenangan di rumahnya. Tentu hal itu yang membuat Ibunya sedikit khawatir jika Ia akan merasa kembali dalam kenangan saat bersama Adina, Apalagi photo yang terpajang saat Ia tengah merangkul pundak Cahaya.


"Lalu mengapa Ibu memajangnya kembali Bu?" Tanyanya pelan.


Bu Marimin tersenyum dengan berdiri.


"Seharusnya kan, Ibu enggak harus memajangnya saat ini?"


Bu Marimin hanya melangkah dengan menepuk pundak Nasib, lalu bergegas ke arah kamarnya.


"Bu!" Nasib benar-benar heran. Ibunya seperti menghindari pertanyan-nya.


"Ibu mengantuk Nasib!" Bu Marimin sebelum memasuki kamarnya.


Nasib menghembuskan nafasnya. Kembali menatap photo dirinya dan Cahaya.


Ia memang tidak pernah melupakan kenangan yang pernah tercipta, Ia hanya melupakan cinta yang pernah tercipta. Karena hatinya kini telah terisi oleh Adina, meski Cahaya adalah cinta pertamanya.

__ADS_1


Kembali menghembuskan nafasnya, memejamkan matanya menatap langit-langit rumah. Membuyarkan semua rasa di dalam hati akan photo wajah di atas dinding bata merah.


*********


__ADS_2