
Nasib mengusap dadanya dengan nafas pelan, hatinya kembali seperti tersayat. Melangkah masuk mendekati Nada yang duduk di kursi.
Juwita segera keluar dengan tersenyum kepada keduanya.
"Juwita."
Langkah Juwita tertahan sejenak.
"Iya Kak...?" ucapnya kepada Nasib.
"Hari ini Kau temani Kak Nada Ya...?lirih Nasib.
"Kak Adina juga tengah sakit," jelasnya kemudian.
Juwita menatap Nada. Lalu mengangguk tersenyum kepada Nasib.
"Juwita tunggu di luar aja Kak,"ucapnya kemudian.
Nasib pun mengangguk.
Juwita bergegas meninggalkan keduanya.
Nasib menghela nafas pelan. Menatap wajah Nada yang pucat.
Perlahan duduk bertumpu tumit di depan Nada. Memenggang tangannya.
Terasa sama dengan apa yang Ia sentuh dan rasakan pada tubuh Adina.
"Demam-Mu tinggi sekali Nada,"lirih Nasib menahan debar sakit di hati.
"Aku enggak apa-apa, sebentar lagi sembuh."
Nasib menggelengkan kepalanya tanda tidak menyetujui penjelasan Nada.
"Aku sering mendengar itu, Kau sakit Nada," timpal Nasib menanggapi.
"Kesehatan Adina sekarang, jauh lebih penting bagimu." Nada melayangkan tatapannya keluar kamar.
Nasib kembali menggelengkan kepalanya, kini dengan senyum kecil.
"Kesehatan Mu juga Nada."
Nasib melihat mata Nada yang semakin sayu. Perlahan mengamati wajahnya.
Masih dapat Ia rasakan wajah yang dahulu ada dalam peluknya, wajah ceria yang menghiasi langkahnya, wajah ayu yang mengiasi malam menjadi pelangi di dalam setiap angannya.
Kini, kembali Ia harus melihat wajah murung yang sakit.
"Biar Ku antar Kau untuk memeriksa penyakitmu Nada." Nasib berdiri perlahan.
Nada menggenggam tanganya erat.
"Aku baru saja pulang, Juwita yang mengantarku ke klinik," jelasnya pelan.
Nasib kembali dengan duduknya.
Kembali dan lagi hatinya terasa tersayat, menatap haru mata bening yang sayu.
"Nada, haruskah Ronal ku beri tau?"
Nada menggeleng pelan.
"Di saat seperti ini ,Kau butuh seseorang di sisi Mu."
"Aku enggak apa-apa."
Nasib menundukkan wajahnya, membuang rasa sakit yang menyayat di ubin lantai kamar.
Sungguh Ia tidak pernah sanggup untuk melihat dan merasa kembali Nada yang tengah sakit.
__ADS_1
"Tapi Kau butuh seorang yang mengerti akan sakitmu saat ini...," Nasib menggenggam jemari Nada dengan kedua tanganya.
Nada hanya menatapi.
"Dulu, ada seorang yang sangat mengerti akan sakit dan diri ini."
Nasib menatapi wajah dan bibir Nada yang berucap.
"Memelukku di saat sakit, seperti obat penyembuh."
Nasib meluruhkan tatapnya, Ia tak sanggup melihat binar sakit di hadapanya.
"Tapi kini..."
Nasib langsung memeluk tubuh Nada.
Tangis Nada tiada lagi dapat tertahan, tertumpah di bahu Nasib yang berdiri dengan kedua lututnya.
Nasib pun ikut terisak perih. Bagaimana Ia bisa melupakan semua kenangan yang pernah terjadi, bagaimana mungkin Ia melenyapkan semua jejak cinta yang begitu hangat teralami bersama Nada, sedang cinta masih lagi terukir di Pelangi yang bersembunyi di sinar Mentari. Meski kini semua amatlah sulit untuk dapat melukis warna -warnanya. Dan bagaimana Ia akan bisa melupakan jika cinta dan hati yang dahulu kini tengah merasa sakit, bukan hanya sakit raganya tapi juga di dalam hatinya.
"Aku sangat berharap Nada... bukan Aku yang memelukmu di saat Kau seperti ini," Lirih Nasib di telinga Nada.
Nada kian erat mengalungi pundak Nasib dengan kedua tanganya. Sedang Air mata masih lagi membasahi kemeja Nasib.
Deru dari derai keduanya seperti menguliti seluruh warna kamar yang bercat putih, mengupas dengan kelamnya masa yang telah terenggut waktu dan keadaan yang memaksa cinta untuk meninggalkan timbunan luka dihati.
" Aku sudah berusaha melepasmu, merelakanmu bersama Adina,"
"Tapi itu teramat sulit! begitu sakit dengan cinta yang ku rasakan!"
Nasib membenamkan wajahnya di leher Nada, yang terdengar olehnya semakin membuat rasa di hati tersayat oleh harapan yang telah Ia tinggalkan begitu saja.
Bagaimana Nada menjalani semua itu di setiap waktunya?
"Saat Aku melihatmu bersamanya...."
Nada tidak melanjutkan perkataannya. Terisak dengan tertahan memegangi kepala Nasib.
Seperti hancur rasa di dalam dadanya, sedangkan selama ini Ia tidak pernah mengetahui jika Nada sering melihatnya bersama Adina.
"Nada." rintih di hati menahan geram. Geram akan semua kenyataan yang di dengarnya. Selama ini, Ia hanya menyakiti Nada, membiarkannya dalam cinta yang sakit. Terombang - ambing dalam lautan, sementara Ia dan Adina...
Nasib mengangkat kepalanya, menatap dalam wajah Nada. Menyentuh dengan tangan gemetar kedua pipi Nada yang basah.
Seperti menyentuh dengan rasa yang takut, jika tanganya akan membuat luka lagi yang baru dari rasa bersalah dengan semua cinta yang telah di berikannya.
Ibu jari kedua tanganya mengusap begitu pelan air mata yang tengah jatuh di mata yang sayu menatap.
Untuk kesekian kalinya lagi air mata hangat membasahi jemarinya. Mengalir perlahan ke dalam hati, terasa...
Nasib menundukan lagi wajahnya, menahan isaknya sediri dengan menggelengakan kepalanya pelan, seperti tidak kuasa merasakan apa yang tengah Ia sentuh.
Nada memegang jemari di pipinya.
"Apa yang telah ku lakukan padamu?"
Nasib menatap kembali wajah Nada.
Nada memejamkan matanya dengan derai yang kembali terjatuh.
Kembali Nasib mengusapnya.
"Nada ... Nadaku."
Mengecup hangat kening Nada, lalu kedua matanya yang tertutup rapat, seperti menjumpai lagi sebuah kasih yang lama telah di renggut waktu darinya.
Nada semakin memejamkan matanya dengan bibir yang bergetar.
Rona-rona kasih kembali mendebarkan hatinya. Batin kini begitu hangat membuka kembali ruang hampa yang teramat pengap. Sebuah nama, yang selalu Nasib ucapkan saat memanggilnya untuk mewakili rasa kasih yang di miliki, kembali terasa dan terlihat dalam gelap angan di matanya, berdenting dalam dasar relung hati.
__ADS_1
Perlahan membuka mata, sentuhan hangat masih terasa di kelopak mata.
Nasib tersenyum keluh, menatap mata yang begitu dekat di matanya.
Senyumnya semakin lebar, membawa jemari Nada di genggam hatinya, rebah di dalam pangkuan Nada.
"Nada, Aku enggak bisa mengatakan ... Bahwa air matamu enggak akan terjatuh lagi, karena semua tergantung hatimu,"
"Apa kau sanggup melihatku bersama Adina?"
Nasib mengusap lagi mata Nada.
Nada menundukakkan wajahnya seperti merenungi.
"Dan selama kau belum menemukan hatimu, atau cinta yang tepat untukmu, sandarkan lah segala perasaanmu padaku."
Senyum Nasib pilu.
"Jika hatimu memang enggak bisa menerima Ronal sebagai pengganti ku."
Nasib membelai kepala Nada.
"Asal Kau tau, Aku selalu menyayangimu dalam hatiku, dan kau tau itu ... karena kita enggak akan bisa dan mudah melenyapkan cinta seseorang yang pernah ada di dalam hidup kita."
Nasib kembali menyentuh hangat kening Nada.
Nada pun hanya memejamkan matanya lagi.
"Aku harus pulang, Adina tengah terbaring," ucap Nasib pelan.
Sebuah anggukan dan senyum getir terasa kembali mengiris.
Nasib segera berdiri, sesaat menatap Nada.
"Aku akan meminta Juwita..."
"Enggak usah, Aku sudah merepotkanya. Biarkan Juwita membantumu di kedai," potong Nada berdiri.
Nasib tersenyum mengangguk, perlahan keluar kamar.
Nampak Juwita duduk di sebuah kursi di bawah jendela sebauh kamar, Ia pun segera menghampiri.
Juwita yang melihat pun segera berdiri tersenyum.
"Juwita, biarkan Kak Nada sendiri. Kau ke kedai membantu Benu,"ucap Nasib dengan melihat kamar yang baru Ia tinggalkan.
"Baik Kak."
Nasib menepuk pelan pundak Juwita, dan segera berjalan.
"Kak Nasib!"
Nasib langsung menoleh.
"Kak Nada, enghhh-enghhhh..."Juwita seperti bingung berucap.
"Kak Nada dulu seperti kak Adina saat ini," jelas Nasib seraya tersenyum.
Juwita terpana sesaat, mengamati langkah tergesa Nasib yang kian menjahuinya.
Dirinya tidak pernah menduga Nasib dan Nada pernah memiliki jalinan kasih, yang Dirinya tahu hanya bersama Adina.
Juwita menghempaskan nafas beratnya, berjalan lunglai dengan lingkaran di kepalanya. Bagaimana tidak! Dirinya sudah bercerita banyak tentang Nasib dan juga Adina kepada Nada, Eeehhh! Keduanya sudah memiliki cerita terlebih dahulu,
kan malu! Kan enggak tau! Kan buat sakit orang...!
kan jadi males kerja!
Juwita menggaruk pelan rambutnya dengan masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
...****************...