
Nasib tertunduk, hatinya kembali terusik pelan.
"Nasib, please."
Nasib kembali menatap wajah Nada.
"Bukankah Kau mengatakan, akan menghadiri pernikahanku."
Nasib melayangkan tatapnya keluar Kedai yang belum di tutup.
Lalu-lalang kendaraan masih lagi padat terlihat.
"Jangan kecewakan Aku dan Ronal, Nasib."
Nasib menatap kembali Nada.
"Aku enggak bisa menunggu pada hari itu Nada," ucapnya seperti ingin Nada mengerti.
Nada melepaskan nafasnya berat.
"Aku enggak mungkin memajukkan semua yang sudah Aku dan Ronal sepakati," jelasnya kemudian.
Nasib kembali menundukkan pandangan-nya dari tatapan Nada. Hatinya kembali tergugah untuk menimbang kembali dari apa yang Nada inginkan.
"Tapi itu terlalu lama Nada," dengan menatap kembali.
"Please."Nada seperti memohon.
Nasib kembali melayangkan tatapnya ke luar Kedai, terasa berat mata untuk bisa menembus kelam malam. Meski sinar-sinar lampu dari lalu-lalang kendaraan di depan kesai seperti tiada habis menerangi aspal di jalan, namun bimbang bagai pekat yang tengah menutupi pandangan.
Nada menatapnya tanpa lepas.
Nasib menatap kembali.
"Jangan membuatku kecewa untuk yang terakhir kali."
Nasib menghela pelan nafasnya, melihat bibir yang baru berucap.
"Aku enggak ingin membuat mu kecewa Nada, tapi ... "
"Tapi Kau udah enggak betah di sini Nasib? atau Kau udah enggak sabar untuk menemui Cahaya?" Wajah Nada berubah kecewa.
Nasib tersenyum tipis.
"Adakah prasangka yang lebih baik untukku Nada?"
Nada menatap lekat.
"Jika Aku kembali ke bukit?" Nasib lagi.
Nada menggeleng.
"Itu hak mu Nasib," jawabnya pelan.
"Tapi apakah sebulan lama bagimu Nasib?" tanyanya kemudian.
"Aku bisa menemui-mu, saat Kau menikah Nada." timpal Nasib.
__ADS_1
Hela nafas terlihat di wajah Nada. Menatap lemari dagang di belakang Nasib.
lalu menatap Nasib lekat.
"Bagaimana dengan Adina?"
"Aku sudah membicarakannya."
"Sepertinya Aku mengerti perasaanya, karena Aku pun wanita."
Nasib menatap lekat Nada.
"Saat kita bersama, adakah hal yang lebih utama yang dapat ku rasakan di dalam hubungan selain kejujuran," ucapnya meneliti mata Nada.
Nada terpaku.
"Nada, bukankah ini untuk Adina?"
"Bukankah apa yang Kau lakukan hanya untuk Ku dan Adina?"
"Jika Kau mengerti perasaan Adina, bagaimana dengan Ronal? Jika Dirinya mengetahui perasaan mu kepadanya?"
Nada meluruhkan tatapnya, meletakkan kedua siku tanganya di atas meja. Meremas rambut di atas ke dua telinganya, memejamkan matanya.
"Bukankah Apa yang Kau lakukan saat ini, hanya untuk membalas kekeliruanmu terhadap Cahaya?"
Nasib menghela nafas kembali dengan masih menatap Nada yang terpejam meremas rambutnya.
"Mengorbankan perasaan mu kepada Ronal,"
Nada membuka matanya, menatap lekat dengan berkaca-kaca. Terisak tersendat, lalu menutupi wajahnya di meja dengan merebahkan kening di atas tanganya.
Nasib hanya menatap kepala Nada.
"Nada, jika Aku kembali, mungkin Cahaya akan mengerti dengan apa yang Kau, Erika dan Adina lakukan padanya. Mungkin Aku bisa menjelaskannya,"
"Bukankah Kau wanita Nada?" Nasib menyandarkan punggungnya pelan di kursi.
"Mungkin Cahaya akan terisak seperti mu, jika mengetahuinya. Atau harus kita sembunyikan dari kebahagian-nya saat ini?"
"Itu kah yang Kau inginkan Nada?"
"Jika iya, sampai kapan Nada?"
"Lambat laun Cahaya akan mengetahuinya, lebih sulit bagi kita memperbaiki yang telah rusak lama, dibanding yang masih baru yang belum menjalar kemana-mana."
Nasib kembali melihat ke luar Kedai, menatap sesak hilir-mudik terangnya lampu-lampu kendaraan.
Isak di atas meja pun seperti ikut meramaikan riuhnya suara mesin kendaraan.
Kembali melihat Nada.
"Apakah cinta yang merubahmu Nada?"
"Apakah cintaku merubah hati nuranimu?"
"Hingga kau tega melakukannya pada Cahaya."
__ADS_1
Nasib menahan sesak di dadanya seperti pilu melihat yang telah terjadi.
"Aku takut kehilanganmu Nasib!" Nada dengan mengangkat wajahnya. Derai isaknya pun semakin keras terdengar.
"Saat itu! Aku merasa, Aku enggak ingin kehilangan mu lagi! Aku mencintaimu Nasib!"
Nasib menatap mata Nada yang penuh dengan air mata.
"Semua Aku curahkan pada Erika, saat Aku dan dalam perjalan pulang dari Bukit, Aku!Aku!"
Nada kembali menutupi wajahnya di atas meja.
Pundak dan tubunya semakin berguncang keras menahan tangisnya.
Nasib melayangkan kembali tatapnya, hati terasa perih mengingat semua dan yang telah terjadi.
Menatap kembali saat terakhir Ia melepas Nada meninggalkan-nya, setelah mengunjunginya bersama Erika di Bukit. Sebelum akhirnya Adina membawanya pula meninggalkan Bukit, sekaligus meninggalkan Cahaya yang tetap berada di Bukit menunggunya.
Semua memang telah terjadi, semua kasih yang ada di hati telah pula berakhir tanpa kata, namun semua kini harus Ia jelaskan dengan kata terutama Cahaya.
Hati Nuraninya bagai meronta sakit jika mengingat Cahaya, meski baginya kini Ia pun tidak ingin menyalahkan Nada dan juga Erika ataupun Adina.
Namun Ia harus pulang kembali ke Bukit, menata kembali langkah dan hatinya yang terasa mulai berkabut pekat, seperti membekukan seluruh rasa dan raganya.
Melangkah kembali keluar dari Rumah di mana kakinya mulai belajar merangkak, bermain dan berlumur lumpur.
Menatap kembali sinar pagi dari jendela kayu dan papan dalam silaunya kelembutan angin pagi yang menerpa wajah.
Membasuh kembali sekujur tubuh yang bermandi keringat dari debu dan tanah dengan sinar senja yang akan terbenam di puncak Bukit.
Semua kini bagai menumbuhkan rindu yang tidak mampu Ia tahan di dalam hati, untuk cepat melangkah, berlari menyusuri perkebunan dan pematang untuk memeluk kembali tempat di mana Ia di besrkan.
"Andai Ku tau akan begini jadinya, Aku pun enggak akan menyetujui usulan Erika." Nada masih menutupi wajahnya.
"Karena hatimu tertutup embun cintamu, sehingga menutupi jernihnya hatimu. Itu yang merubahmu Nada," tanggap Nasib pelan.
"Tapi ..." Nasib menatap perih bahu yang terlihat selalu bergerak seiring isak.
"Semua sudah terjadi,dan jika Kau inginkan semua berjalan baik kembali, biarkan Aku menjelaskan pada Cahaya saat Aku kembali," lanjutnya melayangkan tatap perihnya keluar Kedai.
"Aku rasa, Cahaya pasti mengerti."
Kembali melihat Nada.
"Mengerti dengan kesalahanku Nasib?" Nada dengan mengangkat wajahnya. Menggeleng tidak percaya.
"Dengan semua telah Aku lakukan? Atau hanya akan membuatnya lebih membenciku?"
"Mengerti, jika Cahaya pun memiliki jiwa yang besar terhadapmu Nada." Nasib tersenyum kecil, seolah ingin menghapus derai di pipi Nada.Dera di dada pun bagai mengelupas sakit dengan rasa yang kian berkecamuk melihat derai yang tiada kunjung surut.
"Cahaya hanya akan membenciku Nada, karena Aku selalu mengecewakan-nya. Saat dirinya menungguku." Nasib kembali.
Nada mengusap pelan air matanya, terisak tertahan lalu menggelengkan kembali.
Nasib melayangkan tatapnya ke seluruh ruang Kedai. Sebuah rasa bagai terukir di kelopak matanya, berkaca-kaca menahan segala apa yang tengah menyesakan hati. Melepaskannya di atara putihnya tembok Kedai, melunturkan kembali rasa jika melihat air mata. Satu yang mungkin tersisa di ruang Kedai, cinta yang kini akan Ia kenang di saat kakinya menapak jauh dari tempatnya berasal, cinta yang tidak mungkin lagi dapat Ia miliki atau di rasakan, cinta yang memberikan sebuah pelajaran terindah dalam hidupnya.
...****************...
__ADS_1