
Lampu-lampu yang menghiasi Plafon Rumah menyala menyinari setiap kelam yang tengah menyelimuti hati, hanya pualam-pualam kasih berkilau jernih yang kini tengah menyinarinya dengan rasa rindu yang tengah berkecamuk di dada.
Senyum dari rindu pun kian terukir bersamaan tatap mata, seperti tengah mencari sosok wajah kasih yang kini jauh.
Adina semakin menyandarkan kepalanya di Sofa yang empuk. Sementara HP di tangannya tiada pernah lepas dari jemarinya.
Baru saja beberapa hari berada dalam Rumahnya seperti berbeda tanpa Nasib yang biasa menemaninya.
"Kangen!kangen!Nasib Aku kangen!"
Mungkin kata itulah yang kini hanya bisa Ia ucapkan di hati. Saat melihat HP-nya.
Di luar, malam semakin larut dan hening. Seperti nada dering di HP yang tidak kunjung terdengar, untuk sekedar panggilan atau pun pesan yang masuk dari Nasib. Hal itu bagaikan mengalahkan rasa kantuk yang ada.
Gelisah akan rindu di hati yang membuatnya tadi menelpon Nasib. Tapi tidak di angkat olehnya, bahkan pesan yang Ia kirim pun tidak terbalas. Dan kini membayangkan wajahnya saja yang cukup menghibur hati.
Perlahan memejamkan mata, merasakan debar resah yang kian mengganggu. Ia tidak akan bisa tertidur dan rela sebelum Nasib memberitahukan kabarnya.
Jika dahulu sebelum menjalin kasih dengan Nasib Ia memejamkan mata agar cepat tertidur sebelum rasa rindu mengganggu hati. Tapi kini, begitu sayang rasanya melewati rindu sebelum terbasuh menjadi bunga dalam senyum yang bersemi, meski hanya melalui HP.
Namun hingga larut Nasib belum juga memberi kabar apa pun padanya.
Udara dari penghangat runangan yang tiada berhenti menyentuh kulitnya, seperti rasa rindu yang mengalir di sekujur tubuhnya.
Adina menggeleng-gelengkan kepalanya dengan memeluk erat bantal sofa.
Kebersamaan dengan Nasib selam ini membuat lubang dalam di hati saat tiada bersama, meski hanya beberapa hari saja. Dan kini, menanti kabar dari orang terkasih rasanya seperti tengah menanti saat berbuka puasa lemes!.
Adina menghentikan gelengan kepalanya.
"Sabar! Sabar! Mungkin beberapa menit lagi?" kata yang ada di hatinya menghibur gelisah. Sementara dering-dering di hati yang hanya kian senter membahana, sedangkan dering di genggaman jemarinya tiada kunjung terdengar.
Angannya pun mulai menyeruk lepas, seakan menembus Atap plafon rumah. Membuka kembali momen-momen manis bersama Nasib.
Cinta yang telah terjalin bersama dan terbingkai teguh,telah terpajang di seluruh ruang hati dan begitu indah untuk selalu di pandangi. Meski di dalam kamarnya hanya ada satu bingkai photo Nasib yang terpajang di dekat tempat tidurnya.
Adina mengusap wajah dengan kedua tangan-nya. Mengusir gelisah yang terasa kian menghimpit hati, akan rindu yang belum lagi terbasuh.
Menoleh HP di tanganya.
Mendengus pelan ke sudut ruangan dengan pula meletakkan HP-nya. Tidak biasanya Nasib begitu lama membalas telpon ataupun pesan darinya. Namun kini ....
Wajahnya langsung tersentak. Cepat memegang HP yang tengah bersinar dan berdering. Terdengar riang, seriang senyumnya yang kian mengembang senang.
Sebuah Nama tertera di layar HP.
Tangannya pun bergerak luwes membuka pesan yang sejak tadi Ia tunggu.
Adina, kangen atau rindu. I love you atau I Miss you, bukanlah kata terindah saat ini.
Adina membuka kembali pesan yang masuk. Bibirnya tetap tersenyum.
Tapi kata ingin bersamamu, kini, esok atau pun nanti. Adalah kata yang paling terindah yang Aku rasakan kini.
"Haciiiiiiia!!"
Adina hampir menjatuhkan HP dari tangannya. Rasa senang akan rindu yang baru terbasuh, mendadak sirna beganti rasa terkejut bukan kepalang.
Melihat ke arah suara bersin yang sengaja di buat-buat.
"Bi-Bi! apa-apaan?"" kesalnya kepada Bi Narti.
__ADS_1
"Ngagetin Non Adina."
Adina melengos tambah kesal.
"Kenapa enggak pake suara batuk atau deheman?" Adina tanpa melihat Bi Narti.
"kalo itu, sudah biasa Non!"
Adina segera melihat kembali Bi Narti.
"Lantas! Maksud Bi-Bi apa? Mengagetkan segala?" tanyanya dengan melihat HP kembali.
Bi Narti senyum-senyum.
"Maksud Bi-bi baik Non," ucapnya manis.
"Baik enggak seperti itu Bi!" kesal Adina.
"Elooh! sudah malam Non!"
"Tau Bi!"
"Elooh! Iya tidur Non!"
Adina melirik Bi Narti.
"Nanti sakit Non." Bi Narti pelan.
"Lah ini ..." Adina menunjukan HP-nya.
Bi Narti melebarkan bibirnya.
"lagi membaca khasiat obat suatu penyakit!" jelas Adina.
Adina senyum-senyum memperhatikannya. Lalu menghela nafas leganya, melihat kembali pesan di HP.
Sayang atau cinta, bukan lagi kata yang membuat damai hati ini.
Ibu jarinya kembali mengusap layar HP. Membuka pesan yang belum terbaca.
Tapi sehat, adalah kata yang mampu membuat sejuk hati ini.
Adina tersenyum lebar, menyandarkan kepalanya kembali. Membuka kembali pesan.
Videomu telah Aku lihat, jika Kau menyesal pergi ke bukit? Aku minta maaf. karena Bukitku enggak seramah gedung-gedung tinggi di kotamu.
Adina tertawa kecil membacanya, lalu membuka kembali pesan.
Sehari tanpamu apa Kau tau? Seperti Bukit tanpa ilalang, enggak seru! enggak bikin gatal!.
Adina semakin tertawa dengan segera menekan pelan layar HP dan menempelkan rapat di telinga.
"Nasib, Aku mau ke bukit lagi!" ucapnya setelah panggilan HP-nya di angkat Nasib.
"Serius!" ucapnya setelah mendengar suara Nasib menanggapi.
Lalu senyum-senyum sendiri.
"Kangen, Nasib Aku kangen," ucapnya seperti manja dengan berdiri. Melangkah pelan menuju kamarnya yang berada di lantai atas.
Langkah kakinya perlahan menaiki tiap-tiap anak tangga.
__ADS_1
"Aku takut Kau lama di sana?" jelasnya setelah mendengar suara Nasib menanggapi. Berhenti sejenak di tengah tangga, bibirnya kian tersenyum mendengar suara speker mungil di telinganya.
"Oh, gitu," ucapnya dengan kembali menaiki anak tangga.
Tetap melangkah perlahan mendekati pintu kamar. Wajahnya pun berona ceria saat membukanya.
Sebuha photo yang ada di meja kecil di samping tempat tidur, tepatnya di bawah lampu tidur yang menjadi penyebabnya.
Dengan sedikit berlari Ia pun segera menghempasaka tubuhnya ke kasur empuknya, tentu dengan meraih Photo Nasib rebah dalam peluknya.
Matanya berbinar menatap angkasa kamar dengan lampu sebagai bulannya. Senyumnya pun berbintang rindu di dalam dada, sementara HP di telinga seperti melekat kuat tiada bisa terlepas yang tengah menunjang suara kasih dalam eratnya sebuah damba.
"Enggak! Aku enggak tertidur, Aku tengah memeluk photomu," menjawab suara di telinganya.
"Apa?" Adina seperti kurang mendengar suara Nasib.
"Kan, tadi Aku bilang? lagi kangen," jelasnya menanggapi Nasib.
Tiba-tiba tertawa geli, melihat photo dalam dekapnya.
"Orangnya jauh di gunung! Enggak bisa di peluk!" Adina dengan kembali mendekap photo.
Tawanya pun kian membahana memenuhi seisi kamar.
"Gatalnyaaaaa? Sudah enggak terasa! tapi gatal kangen yang kini terasa dan mengganggu!" jelasnya menanggapi lagi.
Lalu tertawa lagi, seperti mengikuti suara di dalam HP.
"Mangkanya! Jangan sering main di belakang rumah! Jadi ikutan gatal kan!" Adina dengan masih tertawa.
Telinganya masih lekat mendengarkan.
"Iya ampun Nasib? Masih kangen! Sejak tadi Aku menunggu kabarmu, kemana aja Kau tadi? bersih-bersih kebon!" Dengan wajah sedikit cemberut.
Telinganya pun menanti jawaban Nasib.
"Reason! Masa menaruh HP, bisa lupa?" ucapnya tidak percaya dengan yang terdengar di telinga.
"Di dalam tasku? kok bisa?" Adina hampir terbangun.
Lalu manggut-manggut mendengarkan. Melihat kembali photo dalam dekapnya dengan duduk, mengamati sejenak wajah di dalam bingkai. Sedang bibirnya mengucapkan kata iya layaknya tengah betbicara bertatap wajah.
Perlahan meletakkan kembali photo Nasib ke tempat semula.
Perlahan berdiri dan berjalan mendekati jendela yang tertutup gordeng dengan rapat. Menyibaknya ke samping, melihat ke luar jendela. Ke arah angkasa malam dengan masih mendengarkan sebuah penuturan di telinga.
Senyumnya kembali menghiasi bibir di antara tatapannya yang menembus angkasa gulita dengan taburan bintang-bintang kecil yang indah. Tanganya bergerak di kaca bening jendela menunjuk sebuah bintang yang paling berkemilau di antaranya.
"Iya, Aku mendengarkan kok. Dan Aku juga minta maaf? Aku begitu kangen padamu, hingga banyak prasangka buruk bergelayut di pikiranku," jelasnya menanggapi.
Adina tersenyum mendengarkan lagi.
"Nasib, Aku haus," ucapnya pelan. Menggigit bibirnya.
Adina tertawa keras. Ia sudah menduga apa yang Nasib katakan padanya.
"Aku serius! Haus banget!" Di sela tawanya.
Hangat rindu terasa membawa tawa, sehangat malam yang telah larut. Hati terasa bahagia dalam hingar tawa dan senyum menghiasi setiap kata yang terucap.
Jarak yang memisahkan kini, tiada jauh ketika hati tengah membasuh rindu. Segala kenangan manis terbayang di pelupuk-pelupuk mata saat hati membayangkan bayang wajah yang tercinta.
__ADS_1
Dan memang, terkadang sebuah pesan singkat saja sudah cukup mengobati gundahnya rindu di hati. Cukup untuk bibir tiada terasa berat dalam tersenyum, seolah ada wajah kekasih di depan Mata.
*****