
Nasib membuka matanya knalpot pagi kian bising terdengar dari kendaraan di depan Kedai, baik Motor dan Mobil yang tengah sibuk menurunkan atau menaikan penumpang. Bukan lagi suara Kokok Ayam jantan yang membuka pagi, seperti yang selalu Ia dengar kala di Bukit.
Perlahan duduk, terasa berat matanya melihat jam di dinding kamar.
Semalaman Ia menemani Juwita yang datang ke Kedai, tengah Ngambek masalah yang sering di temui saat berpacaran.
Beranjak pelan membuka pintu Kamar, lampu-lampu pun masih lagi menyala, hanya di bagian ruang depan Kedai yang memang selalu di matikan setiap malamnya sebelum tidur.
Langsung menuju Kamar mandi, sementara suara gaduh masih terdengar di depan Kedai.
Ia harus segera mandi, sebentar lagi Juwita dan Benu akan segera datang ke Kedai.
Nasib segera mengguyur tubuhnya.
Suara Air yang berjatuhan di lantai berkeramik, seperti menghapus keseruan suara gaduh di depan.
Segar Air yang mengalir ke tubuh bagai menyegarkan kembali hati dan pikiran, dingin yang terasa,menyejukkan rasa untuk mengusir rasa kantuk yang tersisa.
Detik denting jam yang berpacu, membuat Matahari kian melewati pagi yang cerah.
Nasib mengusap-usap rambutnya yang basah, kesegaran Air yang baru membasahi tubuhnya masih dapat Ia rasakan meski tubuhnya telah terbalut handuk kering.
Segera beranjak keluar.
Suara gaduh masih lagi terdengar.
Membuka pintu kamar, masuk dan menutupnya untuk memakai pakian.
Nasib menggelengkan kepalanya dengan tersenyum, setelah merapihkan baju kemejanya. Ia teringat Juwita semalam.
Juwita memasukkan kancing baju yang tidak Ia sadari terlepas, setelah Ia mengantarkan sampai ke depan kamar kostnya. Juwita tadinya pun ingin bermalam di Kedai karena masih marah kepada pacarnya.
Nasib menghela nafasnya, mengingat kasih asmaranya yang terkadang dan mungkin bisa di bilang sering melihat kekasih hati tengah marah.
Perlahan mengaktifkan HPnya, kebiasanya jika akan tidur Ia akan me-nonaktifkan HP. Dan di saat bekerja pun Ia akan meletak-kan HP di kamar hingga menjelang sore Ia akan melihat HPnya. Terkadang Juwita dan Benu yang rajin memberitukan padanya jika mendengar HP di dalam kamarnya berdering.
Nasib cepat bergegas keluar kamar.
Membuka cepat pintu Foldingate.
Wajahnya terpana melihat Juwita sudah lagi berdiri di depan pintu dengan menangis tersedu dan masuk ke dalam Kedai menuju kamar.
"Habis bertengkar Kak, sama pacarnya," ucap Benu dengan nafas seperti menahan rasa marah.
Nasib menatap bingung ke arah Juwita berlari.
"Juwita bilang, sudah sejak pagi berada di depan Kedai. Cuma Kak Nasib belum bangun," jelas Benu.
Nasib tidak menyangka melihat Benu.
__ADS_1
"Pacarnya menyusul, lalu bertengkar! karena menelpon Kak Nasib enggak aktif, akhirnya Juwita nelpon Benu Kak, terus pas Benu datang mereka tengah bertengkar gitu, iya Benu coba nenangin,ehhh! Pacarnya enggak terima?" Benu dengan wajah kesal.
Nasib menatap jalan yang telah ramai dan beberapa orang yang berada di samping Kedainya dengan menaiki motor yang terparkir. Berarti suara orang yang tadi Ia dengar suara Juwita dan pacarnya yang tengah bertengkar.
Nasib kembali menghela nafasnya.
"Iya udah, Benu bereskan kedai, Kak Nasib lihat Juwita dulu," ucapnya dengan meninggalkan Benu.
Benu menangguk, lalu melihat kembali pelataran depan Kedai. Wajahnya pun terlihat kesal, dan segera masuk ke Kedai untuk melakukan pekerjaan-nya seperti biasa.
Kursi-kursi yang masih terduduk terbalik di atas meja segera Dirinya turunkan, dan matanya teruju pada dua buah Kursi yang telah berada di lantai. Kepalanya menggeleng pelan seperti mengetahui siapa orang yang telah duduk semalam.
Beranda-beranda kesibukan mulai kembali memenuhi ruangan.
Warna pagi yang telah beranjak terang yang telah bising sejak fajar tadi, akan kembali berpias kemacetan roda-roda yang berputar berdebu
Nasib menghela nafasnya pelan mendekati Juwita yang duduk di dekat dandang besar di pencucian perabotan dagang yang kotor.
Tangis sendunya seperti tertahan saat melihatnya. Matanya menatap sayu, tangan cepat mengusap linang yang akan terjatuh lagi.
Nasib tersenyum kecil, membalikan dan menyingkirkan Dandang yang kemarin sore telah di cuci Juwita.
"Jika Kak Nasib seorang wanita, mungkin Kak Nasib sering menangis sepertimu," ucapnya mengambil kursi plastik di dekat Juwita,senyum kembali dengan duduk di dekatnya.
"Mungkin hanya hening dan larut malam yang mendengarnya," ucapnya lagi menoleh Juwita.
"Jika Kak Nasib seorang yang bijak dan baik lagi piawai dalam hal kasih, mungkin Kak Nasib bisa memberikan nasehat untukmu." Senyum Nasib mengembang melihat Juwita mengusap kembali air matanya.
Nasib menatap tumpukkan mangkuk di atas meja.
"Kak Nasib enggak memiliki cara yang jitu untukmu." Nasib melihat Juwita lagi.
"Tapi, diri kita sendirilah yang bisa menyembuhkan-nya,"
Perlahan Juwita menatapnya.
"Dengan cara apa pun yang kita bisa," lanjut Nasib.
"Apa yang sering Kak Nasib lakukan?" Juwita dengan suara hampir serak karena menangis.
Nasib tertawa kecil.
"Masa Kak Nasib harus menangis sepertimu Juwita?"
"Apakah Kak Nasib hanya diam saja?"
Nasib menghentikan tawanya. tersenyum menatap Juwita. Perlahan mengangguk.
"Semakin sakit jika kita uring-uringan, Apa lagi tengah malam, bisa di teriaki kita sama orang!" Nasib kembali tertawa kecil.
__ADS_1
Juwita tersenyum, mengalihkan tatapnya di antara dinding Kedai.
"Sepertinya susah juga, jika perasaan tengah sakit terus tertawa terbahak-bahak!"
Nasib lagi.
Juwita tersenyum lebar.
Suara langkah mendekati keduanya.
Nasib dan Juwita menoleh pelan ke arah langkah yang akan segera terlihat.
Benu yang baru muncul pun, seperti heran dengan tatapan yang seolah tengah menunggunya.
"Kak Nasib, mau mengambil mangkuk dan dandang," senyumnya langsung ke arah meja di mana mangkuk-mangkuk dan gelas berada di atasnya.
Nasib senyum-senyum melihat Benu melihat-lihat Juwita.
"Kak Nasib jangan lama-lama beri wejangan-nya, dandangnya belum di bawa ke depan," ucap Benu membawa mangkuk yang bertumpuk dengan kedua tanganya.
Juwita hanya terdiam acuh.
Nasib semakin tersenyum.
"Biar kak Nasib yang bawa," ucap Nasib melihat Benu telah kembali ke depan.
Perlahan berdiri, memegang dandang.
"Jika kau putus, sepertinya Benu masih lagi sendiri." Nasib dengan menenteng dandang.
Wajah Juwita terlihat cemberut.
Nasib pun tertawa kecil. Wajah yang sering Ia lihat ketika Benu tengah menggoda Juwita di setiap pagi yang baru di antarkan pacarnya, dan di kala canda di senggangnya waktu bekerja.
"Juwita pagi!" Hanya pagi ini kata sapa yang sering Benu ucapkan kepada Juwita tidak Ia dengar.
"Apa kau mau rebahan Juwita? Mungkin untuk menenangkan hatimu?" tanya Nasib dengan akan beranjak.
Juwita menggeleng pelan.
Nasib tersenyum.
"Kasihan Benu Kak," pelan Juwita.
Nasib tertawa tanpa bersuara. Lalu perlahan meninggalkan Juwita.
Juwita pun segera mendekati meja. Menghela nafasnya kuat, lalu membawa mangkuk menyusul Nasib.
"Juwita pagi!"
__ADS_1
Terdengar suara sapa seperti menggema di dinding-dinding Kedai bercampur tawa yang menyertai.
...****************...