
Remang malam yang tersebar di lampu-lampu jalan yang masih lagi hidup masih lagi menutupi waktu yang akan beranjak fajar. Wajah-wajah pedagang yang mulai datang untuk mengisi kembali lapak-lapak kelontong yang semalam sejenak di tinggalkan, nampak melewati depan Kedai yang masih tutup.
Dedaunan rimbun dari pohon peneduh jalan masih juga kelam begitu hening membeku dalam embun yang membasahinya. Sinar lampu jalan seperti tidak mampu memberikan sedikit saja rasa hangat agar pucuk-pucuk ranum dapat berdesik mengibas embun.
Nasib merapatkan jaket di tubuhnya, sementara kakinya berselonjor di kursi plastik di bawah meja.
Semalaman Ia matanya tidak jua mau untuk terpejam, hanya detik dari jam di dinding kedai yang menemaninya berbicara dalam angan.
Menimbang segala apa yang telah Ia utarakan kepada Erika tentang rencana kepulangnya ke Bukit.
Namun Erika pun telah mengutarakan keinginan-nya juga. Bahwa Kedai seutuhnya di serahkan ke padanya.
Kendati demikian, keinginan-nya untuk pulang ke Bukit seperti tidak bisa di kelakkan.
Ia pun sadar untuk kembali memulai dari awal akan lebih sulit, namun sepertinya kini Bukit adalah tempat baginya. Tempat di mana Ia di besarkan dan akan menjadi tempat di mana Ia akan menua.
Di Bukit pula masih ada Ibunya yang tidak ada yang menemani, itu pula yang menjadi alasan kuat Ia ingin kembali ke Bukit.
Perlahan menengadah, menatap langit-langit Kedai dengan hela nafas pelan. Wajah angker Bukit saat malam yang berselimut kabut bagai terlukis di plafon beton kedai yang berwarna putih. Sementara detik waktu dari jam di dinding pun masih terus bergulir memburu pagi.
Sesaat memejamkan mata. Deru suara kendaran terdengar ramai di telinga, perlahan membuka mata melihat ke pintu Kedai yang tertutup. Seperti melihat kembali sosok yang belum lama melewatinya.
Erika tadi hanya meninggalkan-nya, setelah mengutarakan keingan-nya, hanya terlihat wajahnya memendam rasa kecewa setelah tahu Ia akan pulang ke Bukit.
Sepertinya Erika tahu dari Adina bahwa Ia akan pulang ke Bukit, mengingat Ia telah menceritakan ke pada Ayah Adina yang tentunya akan menceritakan ke pada Adina. Hal itulah yang mungkin membuat Erika mengunjungi-nya ke Kedai.
"Nasib, kau mau usaha apa di Bukit Nasib?"
Tanya Erika yang memang tahu akan keadaanya di Bukit.
Mungkin Ia tidak bisa menjawab, namun jika Ia kembali ke Bukit Ia pun akan melakoni apa pun yang dapat Ia kerjakan seperti dahulu.
Ia ingin melangkah di atas jalan yang Ia yakini itu adalah pilihan hatinya, meski jauh dari masa depan yang cerah.
Di Bukit Ia bisa membersihkan kebun orang, menyiangi sawah orang, mengarit pakan kambing dan apapun nanti yang bisa Ia lakukan.
Atau Ia pun bisa mencoba berdagang Mie ayam dengan dihidarkan menggunakan sepeda lawas Ibunya.
Perlahan kembali menengadah.
Wajah Bukit dan Rumahnya nampak terlintas cepat di benaknya.
Dahulu pun Ia telah terbiasa hidup dengan liatnya tanah dan gatalnya rerumputan, gatalnya nyamuk-nyamuk kebun dan panasnya sengat terik Matahari yang membakar punggung dan kulitnya.
__ADS_1
Jika Ia harus kembali menggeluti itu kembali, tidak akan menjadi sesuatu hambatan baginya.
Hanya tanya dari seorang Ibu yang akan membuatnya susah untuk menjelaskan, Bagaimana Ia akan menjelaskan tentang Adina? Atau pun tentang...
Tersentak dengan melihat ke pintu Kedai, segera bangkit mendekati.
Seperti ada yang baru mengetuk menggunakan sebuah benda.
Suara lalu-lalang kendaraan semakin senter terdengar saat Nasib membuka perlahan foldingate Kedai.
Silir angin yang masuk dari sela pintu cukup membuat wajahnya terasa dingin.
Wajahnya berubah tegang melihat tubuh yang tengah duduk bersandar tembok di sisi ujung pintu kedai, tersenyum getir kepadanya.
"Adina?"
Hampir bibir Nasib berseru kaget tidak percaya.
Dengan bergegas penuh rasa khawatir Ia pun menghampiri.
Segera memegang pundaknya dengan duduk di depanya.
"Apa yang Kau lakukan Adina?"
Nasib hampir juga menggelengkan kepalanya melihat keadaan Adina.
"Adina, Kau bicara apa?"
Geleng Nasib kini.
"Nasib, jika kau merasa selama ini Aku mencurangi mu? Oke, aku akan menerimanya."
Adina dengan memeluk ke dua betisnya, terisak pelan menyembunyikan wajahnya di kedua pahanya.
"Tapi di hatiku sungguh mencintaimu Nasib," isaknya tersengal.
Nasib menatap haru kepala yang tertunduk di depanya.
"Jika kau merasa kita enggak bisa bersama lagi, aku pun bisa menerimanya! Tapi Nasib..."
Adina kembali tersengal.
"Jangan kembali ke bukit Nasib!" Adina mengangkat wajahnya.
__ADS_1
"Demi Ibu mu Nasib!" Isak Adina kini lebih keras.
Nasib mendongakkan wajahnya menatap lampu yang tergantung di atasnya di antara sesak dadanya yang mulai menghimpit.
Keruh hatinya mulai mengaliri perih di relung hati, mengingat wajah seorang Ibu yang telah membesarkanya.
"Adina," ucapnya lirih menatap wajah Adina yang telah tertutup kembali di kedua pahanya. Hanya punggungnya yang terlihat bergerak-gerak di sela isak.
"Aku punya apa? Saat kaki meninggalkan bukit?" lirih Nasib kembali.
"Kau punya harapan dari seorang Ibu, Nasib! Dari senyumnya saat melepasmu pergi Nasib!" Wajah Adina kembali terangkat.
Nasib mengusap pelan pipi Adina yang basah, dadanya terasa semakin sesak merasakan linang hangat di jemarinya.
Pipi yang sering Ia sentuh, sering Ia belai dalam dekapnya, rebah dalam di dadanya penuh dengan rasa damai, meski bukan sekali ini saja Ia melihatnya bertelaga bening. Namun kini terasa berbeda, terasa lebih menyesakkan di dada.
"Adina, jika Aku kembali tanpa membawa harapan yang lebih baik."
Nasib menghela nafasnya pelan, binar mata Adina membuat lirih perih di sekujur tubuhnya.
"Mungkin di Bukit-lah Aku mendapatkan-nya," ucapnya mengelus pelan pipi Adina.
Adina memejamkan matanya, terisak.
"Jika Kau meminta, demi Ibu-ku ... Aku pun meminta tetaplah di sini, demi Ayah-mu," pelan Nasib merengkuh kedua pundak Adina untuk berdiri.
Terasa lemah tubuh Adina saat menuntun-nya ke dalam Kedai.
Nasib tersenyum getir saat Adina menatapnya dengan terisak.
Ramai lalu-lalang para pedagang akan semakin ramai, mengingat pagi akan segera terbangun membawa Matahari. Setidaknya di dalam Kedai mereka bisa luput dari tatapan orang-orang yang tengah sibuk membuka pagi.
Nasib segera menutup rapat foldingate Kedai setelah melihat Adina melangkah pelan mendekati sebuah meja.
Nasib tetap berdiri di pintu Kedai, memandang wajah yang telah duduk menatapnya pula.
Mata yang saling beradu, saling meneliti dan saling menyimpan sebuah perih akan sebuah kisah yang tengah di alami, bagai membungkam waktu yang bergerak menuju pagi.
Begitu hening terasa dalam ruang yang sunyi.
Suara-suara hati hanya dapat terdengar di dinding-dinding kalbu masing-masing.
Berat! Mungkin sedikit kata yang tidak bisa di ungkapkan, akan rasa yang pernah sama-sama di rasakan, mengukir hari dengan cinta dan sayang, di kala kini semua memang harus di tinggalkan dalam langkah yang berbeda.
__ADS_1
Namun untuk bersatu kembali itu akan terasa lebih berat, karena hati akan memilih jalan yang membuatnya tenang, meski jalan itu tidak lah seidah seperti harapan.
...****************...