ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
33. Ke Taman Untuk Pulang.


__ADS_3

Kerut malam seperti tergambar di sudut-sudut mata yang hening, saling membisu dengan pikiran di benak masing-masing. Senyum yang terkadang menghiasi jika mata saling beradu.


Nasib menggerakan pungungnya pelan, kursi Taman yang Ia dan Adina duduki kian membuatnya pegal. Entah apa maksud Adina mengajaknya ke Taman jika hanya untuk berdiam diri dan hanya melihat orang lalu lalang di depan mereka, mengingat mereka duduk di kursi yang berdekatan dengan jalan dua tapak, jalan yang bisa di lalui dua orang berdampingan di dalam Taman.


Adina mengamati sepasang sejoli yang baru saja lewat.


Nasib tersenyum menundukkan wajahnya melihatnya, hal yang sama yang di lakukan Adina sedari tadinya.


"Apa udah kita diam-diamnya? Jika udah sebaiknya kita pulang aja?" Nasib melihat wajah Adina.


Adina menolehnya. Menghela nafas dengan kembali melihat wajah-wajah yang banyak terpanpang di setiap sudut Taman, di sisi gelap mau pun terang.


"Apa Kau tengah menunggu seseorang?" Nasib lagi melihat tatap mata yang tengah bergerilya.


Kembali juga Adina menolehnya,lalu kembali dengan tatapan semula.


Nasib menghela nafas, melihat Bintang yang tengah jarang di angkasa.


"Dingin malam di kota, lebih menyakitkan dari pada kabut di bukit," ucapnya seperti berbicara sendiri.


Adina Kembali menoleh Nasib, lalu kembali menatap ke semula.


Setiap kata yang terucap dari bibir Nasib sepertinya harus di balas dengan tolehan Adina saja, meski terkadang ada senyum, meski juga hanya helaan nafas.


"Rasanya mengantuk sekali!" Nasib dengan menutupi mulutnya yang menguap.


Adina kembali menolehnya, lalu....


"Enggak sakit kepalanya?"


Adina pun yang akan melihat ke luar Taman, seperti tertahaan urat lehernya.


"Capek!" kesahnya berdiri.


Nasib tersenyum menundukan wajah. Sepertinya Ia lebih capek dengan duduk bersama di kelilingi keramaian tanpa ada sesuatu pun yang dapat di kerjakan. Jika untuk menikmati Taman saat malam, hitung-hitung membuat relax Adina yang baru sembuh? Tidak masalah baginya. Namun duduk berjam-jam dengan tujuan yang tidak Ia mengerti, itu yang membuatnya sedari tadi ingin pulang saja.


Nasib memperhatikan Adina yang gelisah, berjalan pelan meninggalkan-nya.


Terlihat beberapa remaja tanggung bersimpangan jalan dengan Adina. Nasib masih terus memperhatikan, lalu menatap kesekeliling di antara lampu-lampu hias penerang dan pemercantik Taman.


Tiba-Tiba Adina berbalik dan dengan tergesa kembali mendekati.

__ADS_1


Nasib hampir tertawa kecil melihat Adina berdiri di depanya.


"Mengapa kau enggak menyusulku?" Adina dengan wajah terlihat kesal.


Kini Nasib tertawa kecil.


"Bukannya Kau yang enggak mengajak-ku?" Nasib balas bertanya.


Adina melengos.


"Adina sebenarnya kita duduk di taman untuk apa?" Nasib menarik tangan Adina untuk duduk kembali.


Adina mendengus kesal, melayangkan tatapanya ke arah luar taman dengan ramainya kendaraan.


"Untuk duduk terus pulang!" Adina sembarang.


Nasib kembali tersenyum, menatap riuh tawa pengunjung Taman di dekat jalan.


"Mungkin tadi lebih baik duduk di depan rumah, pulangnya juga tinggal buka pintu, deket!" Nasib menanggapi kemudian.


"Iya udah, kita pulang sekarang!" Adina kembali berdiri.


Lalu menggandeng Adina berjalan meninggalkan Taman.


"Kenapa enggak bilang dari tadi?" kesah Adina.


Nasib menahan ucapanya, melihat banyak mata yang melihat ke arah mereka. Lalu menatap pias Adina, bukannya sejak tadi Ia pun sudah bertanya, lalu mengapa pula Ia yang di salahkan lagi. Nasib tersenyum mengukir malam dengan geleng di hati.


"Tumben sekali Kau ingin ke taman Adina?"


Nasib melepaskan gandengannya.


Adina menolehnya pelan.


"Apa kau ingin arum- manis?" Tawa Nasib kecil melihat Adina yang tak menjawabnya.


Adina mengulum senyumnya, kehangatan yang pernah Ia rasakan seakan memudar di tengah keramian orang. Tidak pernah memang Ia ke Taman bersama Nasib, selama ini mereka hanya banyak menghabiskan semuanya di Rumah. Tapi Ia ingin sesekali berjalan bersama Nasib.


Rona malam bertambah hingar dari cengkrama lampu-lampu kendaraan yang mengenai keduanya, jejak berdebu yang tertinggal dalam pekat tersapu angin kian menjahui langkah di atas trotoar jalan.


Nasib mengelus Rambut Adina yang terkena angin menutupi kening.

__ADS_1


Adina tersenyum mengukir langkahnya.


"Nasib, persimpangan di depan," ucapnya pelan.


"Kenapa Adina?" heran Nasib.


Kembali Adina tersenyum menatapnya.


Mengukir langkah lagi dengan hening.


Nasib masih tetap mengikutinya di sisi.


"Aku enggak akan memaksamu untuk mengikuti arah pulang, Kau bebas menentukan arah mana Kau melangkah Nasib," ucap Adina menghentikan langkahnya, menatap dalam wajah Nasib.


Nasib pun meneliti wajah Adina.


Namun Adina segera berjalan kembali dengan mengikuti jalan yang berbelok ke kanan, menuju ke mana arah Rumah.


Nasib mengikutinya dengan tatapan. lalu menundukkan wajahnya. Kini Ia berada di persimpangan jalan, dan Adina pun telah mengatakan hal yang tidak pernah Ia duga sebelumnya. Namun jika benar Adina memberikan pilihan ke padannya, Ia pun harus jujur melangkah mengikuti kata hatinya.


Perlahan berjalan kembali mengikuti jalan yang berbelok ke kiri di mana ke arah Kedai kakinya akan menuju.


Jika jalan yang Ia pilih kini adalah akhir dari semua langkahnya bersama Adina, mengenangnya akan menjadi hal termanis dalam liku cintanya.


Kini Ia mengerti mengapa Adina mengajaknya ke Taman, hanya untuk meluangkan sejenak cinta yang ada terakhir kali. Hanya untuk pulang dengan memberikan pilihan jalan mana yang harus di tempuh. Cinta yang ada, tiada akan berguna hanya karena keterpaksaan dan kecurangan.


Nasib menatap lampu yang tergantung di pagar Rumah, Ia tahu adina merasa bersalah akan semua yang telah di tutupi darinya. Adina pun tahu Ia tidak akan meninggalkanya karena telah berjanji kepada orang tuanya, dan mungkin dengan cara seperti ini perpisahan tidak akan serumit jika saling berbicara.


Biarkan persimpangan jalan, menjadi saksi jalinan yang kembali tererai. Semua akan menjadi kenangan kembali.


Nasib menundukkan wajahnya, mengusir hangat wajah Adina yang mulai mengusik hati. Hanya berharap semua yang Ia lakukan akan menjadi maaf dalam hati Adina, begitu pun di dalam hatinya.


Biarlah semua seperti dahulu kembali, biarlah seperti cintanya ke pada Cahaya yang kandas dan juga pada Nada, namun akan tetap mengisi dinding di monumen hatinya.


Nasib menghela nafasnya menatap malam di atasnya, lalu melihat ujung jalan yang berhias lampu jalan. Seperti berharap apa yang Ia tuju bukan lagi sebuah kekeliruan dalam langkahnya.


Gontai malam seperti ikut membayangi langkahnya di atas aspal kelam, lengang dalam pagar-pagar yang tertutup rapat. Terasa hening bagai jalan penuh kabut di Bukit, terasa dingin tanpa canda kasih yang biasa mengiringi, namun cinta harus Ia relakan pergi, karena Hati bukanlah kukukangan atas cinta yang suci.


Tapi cinta suci adalah permata di hati, hanya untuk kasih yang tinggal di hati.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2