
Nasib senyum-senyum menghampiri Juwita dan Benu yang masih berdiri di depan Kedai.
"Lho, Kok! Belum pada pulang?" Mengamati wajah-wajah yang baru saja berbisik-bisik.
Juwita maupun Benu hanya menjawab dengan tatapan sedih. Lalu melihat ke dalam Kedai, seperti mencari sesuatu.
"Kak Adina masih membereskan pakian Kak Nasib." Nasib mengetahui apa yang keduanya tunggu.
"Iya udah, Kami pulang dulu Kak," ucap Juwita tidak bersemangat.
"Benu juga Kak Nasib." Senyum Benu memakai helmnya.
Nasib tersenyum mengangguk.
Memperhatikan keduanya hingga Motor Benu membawa Juwita menjauh dari tatapanya.
"Sudah Aku masukkan kedalam tas ranselmu!"
Nasib membalikkan tubuh melihat Adina yang mendekatinya.
Adina melihat keluar Kedai, dengan tangan di pundak Nasib.
"Mereka menunggumu, untuk pulang bareng," jelas Nasib.
Adina tersenyum.
"Sepertinya mereka pun merasa berat melepasmu Nasib." Adina menurunkan tanganya.
"Lama-lama mereka akan terbiasa tanpaku di kedai." Nasib menatap di mana Juwita dan Benu berlalu.
Adina menghembuskan nafasnya.
"Lama-lama Kita yang enggak biasa-biasany berdiri di tengah pintu," ucapnya dengan meninggalkan Nasib.
Nasib hanya mengikuti dengan tatapan dan senyum. Lalu menghela nafas melihat ke luar kedai yang penuh dengan lalu-lalang kendaraan.
"Nasib!"
Nasib segera menutup Pintu Kedai.Dan langsung mendekati Adina yang telah duduk manis dengan memeriksa HP-nya.
"Nasib Bi Narti." Adina seperti ingin memberitukan dari siapa Ia akan berbicara.
Nasib duduk dengan senyum siap mendengar suara Bi Narti di dalam HP Adina.
"Iya, Yah!" Adina tidak menyangka dengan suara di telinganya.
Wajahnya mendadak tegang. Matanya menatao Nasib tanpa berkedip.
"Bagaimana bisa?" Tanyanya menanggapi suara di telinga.
__ADS_1
Tangan yang tidak memegang HP pun, bergerak menutupi bibirnya seperti mendengar suatu yang tengah memukul rasa.
Nasib terdiam memperhatikan wajah Adina.
Dengan mata berkaca, melihat HP-nya yang di akhiri sebuah panggilan.
"Ada Apa Adina?" Nasib melihat linang yang jatuh di pipi Adina. Lalu bangkit dan duduk di sampingnya.
"Bi Narti," isak Adina dengan memeluk Nasib.
"Bi Narti kenapa Adina?" Nasib merasa belum mengetahui.
Namun isak Adina yang terasa semakin membasahi dadanya membuatnya memejamkan mata.
Tanganya terasa lumpuh untuk bisa membelai kepala Adina.
Hanya membiarkan sementara Adina menangis sebelum Ia atau Adina yang akan terlebih dahulu berucap.
Nasib membuka matanya pelan, melihat Pintu Kedai yang tertutup rapat. Jari-jari besi di dalam pintu bagai jeruji yang mengukung rasa hatinya akan Adina.
Isak Adina memenuhi seluruh isi ruang Kedai.
Detak di dada akan suara tangis yang jarum jam yang tengah bergerak di dinding.
Adina mengangkat kepalanya.
Nasib segera mengusap kedua matanya dengan tisu.
"Nasib."
Tangan yang juga akan mengusap pipi Adina dengan tisu pun terhenti tertahan.
"Adina?" Nasib seperti ingin Adina segera mengatakan.
"Bi Narti pulang kampung!" Adina kembali memeluk Nasib.
Nasib yang juga mulai merasa was-was dengan apa yang tengah menimpa Bi Narti.
Menghembuskan nafasnya perlahan.
Tersenyum kecil dengan melihat lagi jeruji Pintu Kedai.
"Mengapa Bi Narti enggak memberitahukanmu?" Nasib di sela suara isak di dadanya.
"Itu dia!" Adina memukul pelan dada Nasib.
Nasib hanya melirik tersenyum.
"Sedangkan saat Aku tinggal, Bi Narti santai-santai aja mandi di kolam." Adina kini mengangkat wajahnya.
__ADS_1
Nasib tersenyum geli.
"Heran denga Bi Narti? Mudik aja enggak bilang-bilang?" Adina kemudian.
Nasib menghela nafasnya. Ia sempat berpikir tadi, ada sesuatu yang tengah menimpa Bi Narti.
"Mungkin jika Bi Narti bilang, Kau enggak akan mengizinkannya Adina?"
"Aku izinkan!" Adina cepat.
Nasib tertawa kecil.
"Lagi pula Bi Narti mudik ke jakarta, bukan ke kampung," ucapnya lagi.
"Tapi, Bi Narti telat mudiknya!" Adina seperti kesal.
"Enggak ada kata telat untuk mudik Adina?"
"Jika Kau pulangpun, rumah orang tua-mu enggak terlalu jauh darinya." Nasib menatap linang di mata Adina.
Adina segera mengusap kedua matanya dengan tisu di atas meja.
"Lalu apa yang Kau tangisi?"
Adina seperti tersadar akan sesuatu yang membuatnya memeluk Nasib.
Dengan Rona di pipi dan sisa linang air matanya Ia pun duduk dengan kedua tangan di atas meja.
"Aku enggak tau? Tiba-tiba terasa sedih, mendegar kabar Bi Narti pulang ke kotanya."
Nasib tertawa kecil. Memperhatikan wajah Adina seperti termenung melihat pintu Kedai. Rambut yang sempat menutupi pipi, telah terselip di telinganya.
Perlahan menghela nafas, seperti ingin memahami apa yang tengah Adina rasakan. Mengingat Kedekatan-nya dengan Bi Narti selama ini.
"Mengapa semua terasa ingin pergi dariku? Kau ... Dan sekarang Bi Narti."
Nasib tersenyum menundukkan wajah.
"Adina." Mengangkat wajah.
Adina menoleh.
"Bi Narti, secepat mungkin akan segera kembali bersamamu."
"Bagaimana kalo enggak?"
"Kalo enggak? Mungkin Kau bisa mencari pengganti Bi Narti di sekitar sini ..."
"Semudah itu?"
__ADS_1
Nasib mengangguk oelan.
Adina segera mengalihkan tatapnya dari tatapan Nasib.