
Nasib dan Adina saling berpandangan, sepertinya pagi baru saja membawa sinar matahari di depan pintu.Tapi kini setelah membuka pintu,terlihat wajah-wajah dengan sinar yang benderang berdiri dengan sopan bergandengan tangan.
Jika saja bukan karena mengenali keduanya tentunya Nasib baik pun Adina pasti tengah mengira kedua orang tersebut pastinya akan pergi kondangan.
"Nada?"
"Ronal?"
Adina hampir berbarengan dengan Nasib.
"Iya kami," jawab Nada. Sedang Ronal hanya senyum sumringah.
Adina langsung memeluk Nada.
Keduanya tersenyum terlihat bahagia, teriring Nasib dan Ronal yang ikut sumringah.
Rencana pagi di hari minggu yang telah Adina dan Nasib susun semalam, hanya untuk Sumori keliling kompleks bersama Bi Narti juga tentunya,sepertinya harus di undur kembali dengan kedatangan sahabat-sahabat lama mereka.
Seneng banget! mungkin hanya kata itu yang ada di hati masing-masing akan pertemuan yang baru terjadi, dan jelas terlihat dari senyum dan binar mata.
"Kangen banget!"
Nada erat memeluk Adina.
Nasib tersenyum menundukan matanya, menatap dinginnya lantai.
Nada berucap dengan melihatnya yang memang berdiri di belakang Adina.
"Sama!"
Adina kian senang.
"Nasib! sepertinya kita enggak perlu berpelukan seperti mereka."
Suara Ronal cukup membuat Nasib hampir terkejut dan kembali matanya beradu dengan mata Nada. Ia pun menggeser tubuhnya untuk melihat Ronal, karena Ronal memang terhalang oleh tubuh Nada dan Adina.
"Tentunya kita enggak akan melakukan hal itu Ronal." ucap Nasib menimpali.
Terdengar tawa Ronal menyelinap masuk kedalam ruangan dan semakin membahana ke penjuru ruang tamu.
Bibir Adina seperti tidak bisa berucap lagi, melihat wajah Nada,yang masih memegang pundaknya.
"Ayo duduk."
Adina seolah menyudahi segala kebungkeman bibir dengan menarik tangan Nada.
Nasib yang melihat Ronal hanya senyum sungkan segera menarik tanganya juga untuk duduk di dalam.
Namun Adina berdiri kembali setelah melihat Ronal duduk di samping Nada .
"Nada kita kebelakang, biarkan mereka berbincang di sini," ucapnya dengan kembali menarik tangan Nada dan tanpa menunggu nya bicara.
"Bener Ronal, biarkan mereka melepaskan kangen."
Nasib melihat Ronal seperti ingin berkata kepada Adina.
__ADS_1
Ronal mengangguk tersenyum,dengan memperhatikan keduanya berlalu dari hadapanya.
Hening sejenak terasa membelai-belai dinding ruangan yang ber-cat putih, menutupi kehangatan yang belum lama tercipta, sinar matahari yang masuk hingga ke dalam membuat terang semakin mendominasi perasaan yang tiba-tiba dingin.
Nasib menatap Ronal yang tengah asik menyibukan matanya dengan mengamati sekeliling ruang tamu.
"Enggak seperti Rumah mu Ronal," ucap Nasib tersenyum.
Ronal tertawa kecil.
"memang enggak sebesar di Rumah, namun ku lihat penuh dengan kebahagian," sahutnya pelan.
"Dan juga kesedihan," ucap Nasib menimpali.
"Kau selalu seperti itu Nasib."
Ronal menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Memang Aku dan Adina seperti itu... bersama kami belum bersatu seutuhnya. Namun kami juga merasa bahagia dan juga sedih,"tanggap Nasib pula.
Ronal terlihat menarik nafasnya pelan.
"Kau benar Nasib, semegah apa pun tempat tinggal kita tetep ada rasa sedih,sakit dan derita. Kemegahan bukan satu-satunya wadah kebahagian," ungkap Ronal tersenyum tipis.
"Aku enggak pernah merasakan kemegahan Ronal."
Nasib tersenyum lebar
"Yang jelas kita hanya bisa menjalaninya, apa yang sudah di berikan," lanjut Nasib pelan.
Ronal tersenyum mengangguk.
"Di minum Den...."
Suara ramah Bi Narti kepada Ronal.
"Jangan manggil Den... Bi...," risih Ronal.
"Enggak apa-apa, Bi-bi kalo manggil,Non juga kepada Non Adina," jelas Bi Narti dengan beringsut kembali ke dalam.
Kembali suara canda Adina dan Nada terdengar.
Nasib tersenyum kepada Ronal.
Lama sekali Ia tidak mendengar tawa yang kini menyemaraki suasana hati, sesaat angannya rebah di antara lirih yang kembali mengusik. Andai saja mereka bersama terus hingga saat ini mungkin hari-hari terlewati jauh lebih indah untuk berbagi apa pun jua dan tentunya tanpa kehadirannya yang pasti akan mengganggu persahabatan mereka, saat ini pun Ia merasakan,
" mengapa selalu cinta yang menghalangi tawa dan canda seorang sahabat? ada hati yang kan terluka karenanya. Mengapa sulit menentukan hati ? diantara orang yang saling mengenal, hingga keputusan serasa amatlah tidak adil, hingga rasa ingin bahwa Ia tidak pernah ada dalam kehidupan mereka."
Nasib menahan nafasnya yang terasa berat dalam melerai gejolak di dadanya,sesuatu begitu menyeruak sakit begitu dalam mengingat kedekatan Adina dan Nada. Harusnya mereka tetap dekat seperti dahulu saat Ia melihatnya.
Selama Ia bersama Adina, selama itu pula Ia tidak pernah melihat atau mendengar Nada bekunjung sebagaimana seorang sahabat. karena memang Rumah Adina dahulu kini hanya di tempati kedua orang tuanya, tentunya Nada tidak pernah berjumpa lagi dengan-nya.
Perpisahan kedua orang sahabat sepertinya karena Ia juga, Adina pasti tetap di Rumah yang dahulu jika tidak karena membawanya untuk di carikan pekerjaan, Adina pasti sering bertemu Nada dan teman-temannya yang lain. Kini Adina hanya berteman dengannya setiap harinya.
Nasib menoleh cepat sebuah deheman dari Ronal membuyarkan angannya.
__ADS_1
"Apa yang kau lamunkan lagi Nasib?" tawa kecil Ronal seolah senang melihat Nasib sedikit terkejut.
Mata Nasib tertuju pada sosok yang baru keluar dari ruang tengah Rumah.
Nada berlari dengan terisak tanpa lagi melihat Ia dan Ronal.
Melihat hal yang sama dengan Nasib, Ronal bediri dengan menatap heran Nasib, dan tanpa bertanya dahulu segera bergegas menyusul Nada keluar Rumah.
Nasib memperhatikan wajah Adina yang berhenti berlari karena melihatnya, sepertinya Ia pun berusaha mengejar Nada.
Perlahan mendekati Adina.
Adina seperti tidak berkedip memandanginya, dengan wajah berubah murung segera berlari ke arah kamarnya.
Nasib memandanginya.
Sesaat menoleh di pintu utama dimana Nada dan Ronal telah keluar, dengan pelan medekatinya, tiada tampak olehnya orang di depan Rumah atau di jalan.
Mobil yang sempat terparkir di depan pintu pagar pun sudah tidak ada lagi.
Kembali menoleh dan tergesa menyusul Adina.
Anak-anak tangga yang dipijak terasa dingin kembali setelah tadi sempat di warnai canda dan tawa, kini hening bagai berkabut.
Pintu kamar hanya tertutup sedikit, Nasib membukanya.
Senyumnya terukir tipis, Adina terduduk di kasurnya dan tengah melihat ke padanya.
Dengan langkah pelan mendekati Adina.
Tatapan Adina seperti tiada surut menatapi.
"Sayang, boleh ku panggil sayang?" ucap Nasib disertai belaian di rambut Adina.
Sebuah sinar keresahan di mata menjawab pertanyaan Nasib.
Senyum tipis Nasib semakin melebar, membelai rambut yang menutupi pipi Adina.
"Panggil aku sayang Nasib."
Adina dengan merebahkan keningnya di dagu Nasib.
Nasib menghembuskan nafasnya pelan.
"Baru saja aku ber-angan, menyalahkan diri ku yang mengakibatkan kalian kehilangan canda dan tawa, yang baru ku dengar tadi." ucapnya dengan rasa yang seakan berat menahan himpitan di hati.
"jika kau belum mau menceritakan, biar kan aku membelaimu sayang."
Nasib dengan masih membelai kepala Adina.
Adina akan diam, meski pun Ia terus bertanya tentang apa yang terjadi.
Membiarkan sejenak tenang dalam rasanya akan lebih cepat membuatnya menceritakan apa yang tengah terjadi barusan.
Hangat udara di dalam Ruangan terasa mengobati dinginnya sebuah rasa hati yang kini tengah mendesir deras.
__ADS_1
Nasib memejamkan matanya coba ikut merasakan dingin rasa yang telah menyelimuti wajah sayang seorang kekasih. Ia ingin saat membuka mata Adina akan bicara padanya.
*****