ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
12. Sinar Senja.


__ADS_3

"Nasib, Nada ..."


Nasib yang baru saja masuk kedalam Rumah, menatap heran Ibunya.


"Ada apa Bu?" Dengan duduk di depan Ibunya. Sepertinya tengah menunggunya.


Senyumnya terukir menatap pias Ibunya yang terlihat gelisah.


"Nada ... Cahaya."


"Bu?" Nasib menyandarkan punggungnya.


"Cahaya kembali lagi ke bukit?" tanyanya pelan.


Bu Marimin mengangguk cemas.


"Bu, pasti Nada yang memberitahukan padanya, jika Ia tengah berada di bukit." Nasib seperti ingin membuyarkan kecemasan di wajah Ibunya.


"Tapi?"


"Bu, kami semua sudah baik-baik saja. Enggak ada masalah lagi Bu. Semua telah terjadi, dan semua bukan keingan kami jika akhirnya seperti ini ...." Nasib meyakinkan Ibunya.


Bu Marimin menatap dalam Nasib.


"Saat ini, Nasib hanya memikirkan kesehatan Adina Bu." Nasib mendongakkan kepalanya.


Bu Marimin menghela nafasnya.

__ADS_1


"Apa Kau yakin mereka tidak akan menyalahkan Adina?" Ragu Bu Marimin.


"Bu, Nasib enggak mau lagi di tampar Cahaya dan Nada. Sudah cukup Bu, sakit!" Nasib kembali melihat Ibunya.


Bu Marimin tersenyum.


"Untungnya pula Nada semalam enggak menampar Nasib." Senyum Nasib kepada Ibunya.


"Nasib!Nasib!" Bu Marimin seperti geli sendiri.


Nasib pun tertawa geli.


"Padahal semua juga belum tentu salah Nasib seutuhnya Bu?"


Bu Marimin semakin tertawa geli.


Sinar senja yang terhalang pepohonan membayang di perkarangan rumah begitu terang diantara tawa keduanya. Terasa hangat di antara debu-debu halus yang di terpa angin senja di tengah jalan. Bias-bias kering rerumputan di pematang sawah seperti ikut bergoyang bersama debu yang menghinggapinya.


"Bu,Nasib heran? Mengapa Adina sulit sekali di hubungi?"


Nasib setelah reda tawanya.


Bu Marimin menghela nafasnya, tersenyum pelan.


"Baru sore ini Nasib bisa menghubunginya, dan sekarang?" Nasib dengan memperlihatkan HP ke pada Ibunya.


"Mungkin Adina enggak ingin Kau selalu cemas dengan sakitnya." Bu Marimin seperti ingin menenangkan wajah Nasib.

__ADS_1


"Tapi, Adina jarang sekali melakukan hal ini Bu?" Nasib seperti menerawang ke luar rumah.


"Justru hal ini membuat Nasib semakin mencemaskannya Bu." jelasnya kemudian.


"Nasib, mungkin sebaiknya Kau enggak perlu menunggu Retno. Utamakan Adina dahulu."


Nasib menatap Ibunya.


"Iya Bu, lagi pula Nasib, Nada dan Cahaya sudah enggak lagi ada masalah." Tanggapnya.


"Mereka terlihat akrab." Sambung Bu Marimin.


Nasib tersenyum lebar.


...****************...


andPhone tipis seperti berputar-putar di mainkan jemari tangan yang lurus di atas dengkul dengan tangan kiri memegang bahu sedang dagu bertumpu pada lengan di atas dengkul pula, terduduk membelakangi sinar sore.


Tatap mata seperti kosong mengikuti sinar dari arah belakangnya menembus hingga jauh ke kaki Bukit dan pegunungan yang jauh di depan.


Sore kemarin dan kini,hanya ada keresahan yang melanda hati.


Dan seperti masa yang telah berlalu di atas Bukit, untuk coba bertanya apa sebenarnya yang tengah terjadi? mengapa cinta tiada kabar?mengapa cinta tiba-tiba seperti lost conect ?.


Nasib kembali melihat HPnya yang Ia putar-putar di jemari, berharap layarnya berwarna dengan dering yang mengiringi.Dan sebuah nama dengan gambar sang pujaan hati dalam bingkai lingkaran turut pula menghiasi.


Resah lagi terasa saat cinta jauh, kangen lagi datang saat cinta tiada di sisi.Kini hanya bisa mengecup kembali bayang wajah dalam angan, membelai kembali senyum manja dalam kenang.

__ADS_1


Gores sore hanya menampak-kan keanggunan alam, bukan wajah yang tersayang.


__ADS_2