ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
11. Apa Aku ingin tau?


__ADS_3

Nasib memegangi pipi kirinya. Tamparan keras dari tangan Cahaya masih lagi dapat Ia rasakan. Seperti membekas sakit namun di lubuk hati, meski pagi tadi Cahaya melakukannya.


Cepat memejamkan matanya yang sejak tadi menatap langit-langit kamar sembari terbaring dan memegangi pipi.


Namun matanya pun cepat kembali terbuka, suara mobil terdengar dari halaman rumah. Dengan cepat pula terduduk di pinggir kasur, menerka-nerka siapakah gerangan yang datang. Mungkinkah Cahaya kembali lagi, setelah pergi begitu saja setelah menamparnya? Atau...


Nasib segera berdiri dan akan segera beranjak melihatnya. Namun rasa sangsi di hati membuatnya tetap berdiri terpaku. Matanya pun tertuju pada lemari kayu.


"Retno!" Hatinya seperti menemukan sebuah jawaban akan tanya di benaknya.


"Nasib!"


Nasib terkejut, menoleh ke luar kamar. Ibunya memanggil. Dengan senyum lebar Ia pun bergegas keluar. Pastinya mobil di luar adalah mobil trevel yang membawa Retno dan Mukio yang memang Ia tunggu-tunggu.


Setengah berlari Ia pun langsung menuju halaman Rumah dimana sinar dari lampu Mobil membuat bayang tubuh Ibunya di depan pintu terlihat di dalam pintu Rumah.


"Bu," ucapnya dengan tangan menghalangi mata dari silaunya lampu mobil.


Ibunya yang sama melakukan,tidak menolehnya.


Tiba-tiba lampu mobil di matikan.


Nasib dan Bu Marimin menurunkan tangan, saling bertatapan. Saat pintu depan Mobil terbuka.


"Bu, Rertno." Nasib tersenyum senang kepada Ibunya. Lalu bergegas mendekati mobil.


Hati yang berdebar bercampur rasa senang akan bisa bertemu Adik angkatnya lagi membuatnya segera terburu menghampiri seorang yang tengah menutup pintu mobil. Namun kakinya seperti tengah berpijak pada tanah yang liat. Seperti tertahan tiada sanggup lagi melangkah.


Seperti guntur yang melanda di hati saat mengenali sosok yang baru melihatnya, bibirnya yang baru mengembang kian surut akan rasa heran dan tidak menyangka.


"Nada," ucap di hatinya.


Nasib semakin terpaku tanpa bisa bergerak, saat wajah yang sangat Ia kenali mendekatinya. Kedua mata pun seakan tiada mampu lagi untuk bisa berkedip, seperti ingin meyakini dengan apa yang terlihat.


Namun memang apa yang terlihat semakin mendekat adalah sosok Nada.


Sosok yang telah lama tidak Ia temui seperti halnya Cahaya.


"Apa kabarmu Nasib?"


Suara yang terdengar di dekat telinga dengan terus berjalan.


Nasib terdiam dengan mengikuti langkah Nada dengan tolehan.


Suara isak tiba-tiba terdengar.


Nasib membalikan tubuhnya melihat Nada tengah memeluk Ibunya.


Sinar dari lampu Mobil trevel yang kembali menyala seiring suara mesin, menerangi keduanya.


Nasib tiada sanggup menoleh, saat Klakson Mobik terdengar, seperti tanda untuk pergi dari halaman rumah. Suara isak yang semakin keras Nada yang membuatnya terpaku terdiam.


Suasana kembali temaram setelah mobil trevel telah berjalan pelan menjauh.


Nasib menundukkan wajahnya menatap kedua kakinya yang terasa berat untuk kembali berpijak mendekati Ibunya dan Nada. Seperti terpatri di dalam Bumi.


Menatap kembali Ibunya yang sejak tadi memeluk Nada dengan menatapnya. Seperti tengah memanggilnya.


Paksa langkah pun Ia lakukan dengan rasa yang bergemuruh di hati akan kehadiran Nada yang tidak Ia sangaka sebelumnya.

__ADS_1


Nada pun melihatnya, lalu mengikuti rengkuh Ibunya masuk ke dalam Rumah.


Langkahnya kembali terhenti, menatap sejenak Bulan sabit yang tertutup awan tipis di sekitarnya. Sebuah rasa bagai terukir di sana.


Mengehela nafas pelan, menguatkan langkah untuk masuk ke dalam rumah.


Getar di dada bagai merambat dalam langkah berat ke dalam ruangan begitu menyakiti telapak kaki. Apalagi melihat Nada yang telah duduk dengan menatapnya.


Nasib mencoba tersenyum mendekati, Ia mengerti tatapan Nada kepadanya. Tatapan kekecewaan juga rasa sakit, karena Ia pernah melihat itu sebelumnya saat masih bersama. Tatapan yang membuatnya merasa sakit jika mengingatnya.


Perlahan duduk di depan Nada, dan melihat Ibunya yang segera meninggalkan ke dalam dapur.


Hening terasa menyelimuti ruang yang tidak luas, sunyi seperti tanpa desir angin. Seolah waktu terhenti berjalan.


Nasib menundukkan wajahnya, setelah melihat Nada menghela nafas dengan memalingkan wajah menatap ke luar pintu. seperti menahan sebuah derai di matanya.


Nasib menatapnya kembali, terasa dingin wajah di depanya tanpa senyum yang dahulu sering Ia lihat, sering Ia nikmati saat dalam setiap canda kasih, Kini bagai kabut yang baru turun, begitu dingin.


" Cahya yang memberitaukan padaku, jika Kau bertanya mengapa Aku ke bukit?"


Nasib tersenyum kecil, menghela nafasnya pelan menatap bibir yang baru saja berucap tanpa melihatnya.


"Pergi dan pulang pun Kau enggak pernah memberitau, apakah harus Kami yang selalu mencarimu?"


Nasib menundukkan wajahnya , Nada kini menatapnya lagi.


" Nada, apakah kita pernah saling mencari?" Nasib menatap hangat wajah Nada.


" Ataukah cinta yang mempertemukan Kita?" Menatap dalam mata Nada.


Nasib tersenyum kecil mengalihkan tatapnya ke atas meja.


"Jika Kau kini mencari, ternyata memang cinta tiada lagi bisa mempertemukan Kita seperti saat pertama kali berjumpa." Menatap Nada kembali.


Nasib mengamati wajah yang berpaling melihat pintu rumah kembali. Menghembuskan nafas pelan, mengusir getir sebuah rasa di hati untuk kembali melihat pias yang pernah Ia sayang. Lentera-lentera hati yang dahulu menerangi di dalam kamar-kamar hati, kini telah padam bersama waktu dan keadaan yang telah berbeda.


"Bagaimana kabar Adina? Cukup lama Aku enggak bertemu dengan-nya?"


Nasib tersenyum, Nada kembali menatapnya.


"Adina enggak seperti dahulu, sekarang Ia mudah sakit Nada." Menghembuskan nafas pelan dengan melihat ke luar Rumah dari pintu yang terbuka, seperti ingin melihat sosok yang tengah di bicarakan.


Nada masih memperhatikannya.


"Bagaimana denganmu Nada?" Kembali melihat Nada.


"Apa Kau ingin tau? Sakit yang Aku alami?"


Nasib hampir menghela nafas mendengar pertanyaan Nada.


"Nada," lirinhya melihat mata Nada yang kembali berkaca-kaca. Dan hampir bangkit dari duduk untuk mendekat ke Nada, melihatnya terisak menutupi hidung dengan punggung jemarinya. Namun hampa cinta di ruang hati bagai mencegahnya, seperti sebuah dinding yang menutupi.


Nasib menundukkan wajahnya, merasakan getir dari suara isak orang yang dahulu pernah mewarnai hatinya dengan cinta dan kasih sayang. Kini kembali Ia harus mendengar tangis itu lagi.


Perlahan menatap Nada yang tengah mengusap kedua pipinya. Di hati ada tanya yang mulai mengusik, mengapa Nada menangisi semua yang telah berlalu? Bukankan dirinya telah berdua? Seperti Cahaya?.


Nasib menatap lekat pipi Nada yang masih tersisa air mata yang baru saja terusap jemari.


"Nada, Kau enggak pernah tau jika Kau sakit selama ini. Tapi, apakah seorang lelaki sepertiku enggak pernah merasakan sakit? Sebagaimana wanita seperti kalian?"

__ADS_1


Nada menoleh pelan.


"Kau, Adina dan Cahaya,"ucap Nasib menatap mata yang baru melihatnya.


"Nada, mengapa Kau menangisi rasa yang telah lama berlalu? Sedangkan rasa bahagia telah Kau rasakan. Seperti Cahaya saat ini." Lanjutnya, meski debar di dada begitu terasa melihat binar yang menusuk hati.


"Aku hanya ingin penjelasan." Nada menutupi kembali hidungnya.


"Penjelasan?" Nasib heran.


"Seharusnya Aku Nada, yang meminta penjelasan." Nasib sedikit tertawa.


"Aku menunggumu Nasib, begitu pula Cahaya."


Nasib tertawa heran mendengar penuturan Nada.


"Lalu mengapa Adina, Nasib?"


"Mengapa Adina?"


Nasib mengulangi pertanyaan Nada dengan menatap bibirnya yang tiada senyum.


"Apa yang harus Aku lakukan Nada? Aku hanya melanjutkan langkahku,"


"Mengapa Adina? Karena Ia langkah terakhirku, karena Ia ...."


"Karena Adina selama ini mencintaimu Nasib?"


Tiba-tiba Nada memotong.


Nasib menatap linang yang mengalir pelan di pipi Nada.


"Nada, Aku enggak bisa mengharapkan Kau dan Cahaya lagi. Kalian telah berdua, apa Kau mengerti Nada." Pelan Nasib.


"Sebelumnya Nasib?"


Nasib menghela nafasnya dalam, air mata Nada semakin terlihat banyak tertumpah.


Suara isak kembali terdengar.


Nasib segera bangkit dan bergegas menuju kamarnya.


Nada mengusap kedua matanya.


"Nada, ikutlah denganku." Nasib dengan keluar kamar menenteng tas rangsel.


Nada menatapinya.


"Ayolah." Nasib dengan menuju keluar rumah.


Nada yang melihat Nasib telah keluar, segera menyusulnya.


Desir angin malam yang masuk dari pintu, membuat hening dalam dingin sebuah rasa yang berlalu.


Hanya tatap mata Bu Marimin di atas atap yang mengiringi langkah Nasib dan Nada yang meninggalkan rumah. Sebuah resah terasa mengusik di hatinya, mengingat apa yang tengah di rasakan kedua insan yang baru saja berjumpa kembali.


Perlahan bangkit dari tempat tidurnya, sepertinya pintu depan harus Dirinya tutup. Nasib pasti membawa Nada ke puncak Bukit untuk menenangkan diri. Seperti yang sering Nasib sendiri lakukan jika hatinya terbentur rasa gulana.


Kini hatinya hanya bisa berharap kembali akan pagi yang damai saat keduanya kembali kerumah.

__ADS_1


Gelap di perkarangan rumah nampak menyimuti sebelum tanganya menutup perlahan daun pintu.


...****************...


__ADS_2