ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
15. Pernyataan


__ADS_3

"Aku yang menyerah Nasib."


Nasib termangu sesaat menatap Cahaya, Mencari kebenaran di matanya.


Tertunduk perlahan, lalu kembali memperhatikan Nada yang tengah bermain dengan Kevin.


"Karena Nada pun menanti mu."


Nasib menggelengkan kepalanya pelan dengan apa yang di dengarnya.


Senyum dan tawa Nada terlihat bersama Kevin yang berlari di depan Rumah.


Nampak pula Ibunya tengah memperhatikan juga ikut bermain dengan senyumnya melihat tingkah lucu Kevin.


"Kami selalu berkomunikasi lewat telpon, agar kami tau keberadaan mu."


Cahaya seperti tiada lepas melihat Nasib di sisinya.


"Hingga Aku kembali menyadari tidak lah mungkin saling berbagi hati, mencintai dengan orang yang sama, berharap dengan orang yang sama pula, sulit Nasib. Bercerita tentang hati dengan orang yang juga mencintai, pasti ada rasa cemburu,pasti ada rasa sakit mendengarnya."


Cahaya dengan melihat ke halaman Rumah Nasib.


"Dan akhirnya aku menerima seseorang atas pilihan keluarga ku, Ayah kevin," lanjut Cahaya kemudian.


"Nada?"


Nasib tanpa melihat Cahaya.


Cahaya terdiam melayangkan tatapanya ke lereng Bukit.


Pernikahannya yang meriah tanpa kehadiran Nada yang tengah mencari Nasib, karena mendengar Nasib tengah berada di suatu tempat.


Dirinya pun tidak hadir juga di pernikahan Nada, karena Dirinya tidak di beri tahu.


Nada hanya memberitahukanya setelah semua telah usai di langsungkan.


Sejak saat itu pula semua berjalan dengan jarang sekali berkomunikasi lagi seperti hal nya sebelum saling menikah. Karena mungkin tengah menjalani kehidupan yang baru tanpa harus terganggu lagi dengan masa lalu.


Dirinya pun sempat heran saat memberitahukan Nada akan pertemuanya dengan Nasib yang telah lama tahu Nasib pergi bersama Adina dan tidak pernah menceritakan padanya selama ini.


"Mungkin kau dan Adina akan menyusulnya?"


Cahaya dengan tersenyum melihat Nasib lagi.


Nasib tersenyum menatapnya.


Keduanya segera melihat ke arah Kevin yang berlari kecil sambil memanggil Bunda! mendekati dengan di susul Nada di belakangnya.


Cahaya segera berdiri siap menyambut sang buah hatinya yang memanggilnya.


Pelukan erat dan di sertai ciuman gemas di pipi Kevin pun langsung Cahaya lakukan, menggendongnya hingga tinggi di atas wajahnya.

__ADS_1


Nada tertawa dengan duduk di samping Nasib.


Ibu dan Anak yang tengah bercengkerama di depan gubuk, saling tertawa mengisi hati di siang yang sedikit tertutup awan kelabu, redup matahari seakan bersembunyi atau tengah bermalas-malasan dalam memberi sinaranya, seperti asyik! dengan sisa dengkur semalam.


"Nada! Nasib aku pulang dulu, ayah Kevin! sebentar lagi beduk!"


Cahaya dengan masih menggedong Kevin.


Nada dan Nasib mengangguk, membalas senyum Cahaya yang berjalan ke arah Rumah di mana motor maticnya tengah berada di dekat pintu.


Keduanya hanya memperhatikan hingga lambaian tangan Cahaya dari tangan Kevin terarah ke pada mereka.


Kedua nya pun membalas lambai perpisahan.


Angin yang berhembus cukup kencang menerpa wajah dan tubuh di saat cuaca mendung,hingga terkadang menimbulkan suara di gubuk yang tidak berdinding.


"Apa anakmu enggak mencarimu Nada?"


Nasib setelah Cahaya tidak nampak terlihat.


"Aku sudah biasa meninggalkanya."


Nada dengan menoleh pelan.


Nasib tertunduk, pelan menghela nafas.


"Nada, jika selama ini kau mengetahui aku tinggal bersama Adina, mengapa kau enggak pernah mengujunginya,"ucapnya heran.


Dan sepertinya Ia memang harus menayakan hal itu pada Nada.


"Bukankah ia sahabatmu?"


Nasib dengan mengangkat wajah, menatap mata yang juga menatapnya.


"Hingga saat ini," senyum Nada.


"Dan mengapa kau enggak mengundangnya?"


Nasib seperti penasaran.


"Jika aku mengundangnya, apa kau akan ikut denganya?"


Nasib kembali menundukan wajahnya.


jika Ia memliki jiwa besar ia pasti menghadirinya bersama Adina, dan jika pun tidak, itu hanya untuk menjaga perasaan cinta di antara keduanya.


"Nada, mungkin sebaiknya memanglah seperti ini...."


Nasib kembali menatap sinar mata Nada.


"Saat semua telah berlalu, kita baru mengetahuinya," tanpa coba menghidari tatap mata Nada yang semakin tajam menusuk relung-relung kalbu.

__ADS_1


"Dan berharap semua baik-baik aja, seperti enggak pernah terjadi apa-apa?"


"Seperti apa yang ku lakukan selama ini?"


Nasib semakin dalam menatap pias dan binar di depanya.


Sepertinya Ia menangkap sesuatu yang tersembunyi di bibir Nada.


"Bagaimana jika aku pernah mengujungi kalian? dan melihat kalian...? lalu aku membiarakan berharap semua..."


Nada melayangkan tatapanya.


Sesak yang terhimpit terlihat jelas di sudut matanya.


Sejauh mana Dirinya akan menghempaskan, sedalam apa akan Dirinya pendam, sejuah itu pula ada hati di dekatnya yang pernah mengisi dan bermukim di hatinya, yang jelas akan mengetahuinya pula.


"Nada..." lirih nama yang terucap di bibir Nasib.


"Aku mencintai mu Nasib, seperti Cahaya. Dan jika Cahaya merelakannya untuk-ku, mungkin saat itu aku pun mencobanya."


Nasib tersenyum tipis, melayangkan tatapnya jauh di hampa puncak Bukit.


Sepertinya Bukit memang menjadi satu-satunya tempat tersimpanya segala perasaan yang terucap di hati.


"Setidaknya kau kini berhasil, aku harus berterimakasih padamu,"senyum Nasib semakin lebar dengan bangkit perlahan meninggalkan Nada kembali ke Rumah.


Sesaat Nada memperhatikanya, lalu menyandarkan kepalanya di tiang kayu Gubuk menatap jauh di puncak Bukit.


Debar hatinya menggema di lereng-lereng hijau yang menutupi, sekilas bayang rasa sakit dan kecewa bermunculan setiap mata berkedip dan setiap kali ingin menghapus apa saja yang pernah Dirinya lihat, Adina sahabatnya yang membawa Nasib untuk Ia bantu, agar mendapat pekerjaan yang menurutnya layak untuk keluarganya, tidak pantas rasanya Dirinya harus marah-marah karena cemburu terhadap mereka yang tinggal bersama, sedangkan Nasib tengah bekerja pada Adina.


Di balik pintu mobil yang tertutup saat itu Dirinya hanya berpikir untuk Nasib, agar saat kembali ke Bukit Ia tidak lagi bekerja serabutan. Meski di hati yang mencintai ada lirih mengusik jika mengingat mereka selalu bersama di setiap waktu, ada yang tertahan di langit hingga sakit di ujung pagi.


Hari yang pernah di jalani terasa amatlah sulit, menahan segalanya di antara sahabat dan kekasih.


Dan jika waktu begitu baik kepada mereka, selapang-lapangnya pula Dirinya mencoba memberikan jalan yang terbaik atas apa yang tengah mereka rasakan.


Jika cinta adalah keikhlasan.


Nada melayangkan kembali matanya ke arah Nasib yang berjalan.


Terbayang sesaat kenangan yang pernah ada, saat semua terasa indah di kala masih bersama. Wajah ramah Nasib yang pernah ada dalam dekapnya, hangatnya Nasib juga saat memeluknya.Semua masih jelas dalam ingatanya.


Nada menengadahkan wajahnya ke atap gubuk, ada perih yang terkelupas di matanya.


Ada sakit yang mendera saat wajah Nasib merasuk di hatinya.


Jika hatinya harus mengikhlaskan, biarkan saat ini bersama Nasib menjadi kenangan terkahir akan cintanya.


Adina akan menjadi pengganti dirinya.


"Selamat Nasib, selamat Adina."

__ADS_1


Suara hati dengan kembali menundukan wajahya, mengusap pelan Rinai yang menetes pelan.


*****


__ADS_2