
"Benu belum pulang?"
Nasib dengan meletakkan katong asoi besar di atas meja.
"Katanya sih, beberapa hari lagi!" Juwita dengan membawa mangkuk bersih.
"Lama sekali?" Nasib dengan mengeluarkan satu-persatu bungkusan kecil.
Tiada sahutan dari Juwita yang sudah menuju Ruang Kedai.
Nasib sesaat terpana, sekuntum Bunga mawar merah terlihat mencolok di atas mangkuk putih yang sempat tertutup Plastik asoi.
Tadi Ia memang tidak memperhatikanya, karena melihat Juwita.
"Selamat bekerja" ucapnya dalam hati, melihat tuisan di secarik kertas yang terikat pita kecil di tangkai Bunga.
Nasib tersenyum, menoleh ke arah pintu dapur di mana suara langkah semakin mendekati. Melihat kembali Bunga.
"Apa enggak ada vas bunga?" Nasib tanpa melihat Juwita yang medekatinya.
"Indah iya Kak, bunganya? Apalagi tulisanya." Juwita senyum-senyum.
"Beli di belakang pasar kan?"
"Ihh! Siapa yang beli? Kak Nasib jangan berharap deh, bunga ini dari Juwita!"
"Lantas?"
"Ihh! Mana Juwita tau? nemu di depan Kedai," jelas Juwita, meletakkan Bunga di atas meja dengan membawa mangkuknya.
Nasib terpana memperhatikan. Dengan senyum dan menggelengkan kepala Ia pun segera membereskan bungkusan kecil di atas meja yang berisi bumbu-bumbu untuk Mie Ayam dan Bakso dengan memasukkanya ke dalam lemari pendingin.
Namun kembali harus terpana sesaat. Sekuntum Bunga Mawar berada dalam Lemari pendingin.
"Semoga tetap segar dalam pikiran" bacanya kembali dalam hati.
"Jangan bilang kalo yang ini nemu juga?" Nasib tanpa melihat kembali Juwita.
Juwita yang baru masuk dapur pun senyum lebar.
"Nemu Kaaaak! Hanya tulisanya seperti itu, Iya Juwita taruh di lemari," jelas Juwita lagi.
Nasib langsung menarik tangannya menuju Ruang depan.
Langsung membuka penutup dandang.
Juwita tertawa.
"Katakan pada Kak Nasib, dimana lagi bunga-bunga yang lainnya?"
Juwita menutupi mulutnya, menahan tawa.
"Di bank sama di taman kak," ucapnya kemudian.
"Kak Nasib hanya ingin melihat ada enggak tulisanya, kamar kecil pria." Tatap Nasib ke pada Juwita.
"Di belakang Kak," tunjuk Juwita dengan tatapan.
Nasib segera meninggalkan Juwita.
Juwita senyum-senyum.
"Yang di belakang sini enggak ada tulisanya!" seru Nasib tanpa menoleh.
Juwita hampir tertawa kembali, mengingat kamar kecil di belakang yang memang tidak ada tulisan apa-apa seperti yang ada di tempat-tempat umum layaknya.
Namanya juga kamar kecil pribadi! Geli di hatinya.
Dengan senyum menatap ke luar Kedai.
Pagi yang cerah, secarah rasa yang terasa. Meski riuh di jalan beraspal, begitu tenang jiwa yang tengah berbisik di antara desir-desir suara hati.
Aroma dari uap kuah dalam dandang seakan terasa menggugah selera.
Juwita menundukkan wajahnya menutupi rona di pipinya dari langkah yang mendekati.
Tiap tapak pelanl yang menapak, seperti getar yang mengguncang hati.
"Ada apa dengan hatinya?" bisik lirih yang tiba-tiba mulai mendaki di ketinggian rasanya.
Juwita hampir tersentak. Nasib memberikan Bunga yang ada di dapur kepadanya.
"Sepertinya di kamar ada vas bunga, Kau pasti tau bagaimana cara menaruhnya agar tetap indah di pandang," ucap Nasib pelan.
Juwita mengangguk tersenyum.
Nasib menghela nafasnya, memperhatikan Juwita dengan senyum pula.
Rona Matahari yang akan menyengat kian terang di rimbun dedaunan Pohon peneduh pinggir jalan.
__ADS_1
Gilter-gilter berkemilaun di hijaunya pucuk-pucuknya, membuat warna semakin ceria dalam tatapan.
Meja-meja yang masih sunyi berteman kursi-kursi kosong hanya ber-vas botol kecap dan saus.
"Kak, tadi ramai di pasar?"
Nasib nyengir kecil.
"Sepertinya enggak perlu di jawab,"ucapnya dengan duduk di dekat dandang besar yang tengah bersuara rebusan air kuah matang.
"Iya deh! Salah bertanya!"
Juwita dengan wajah berseri tersenyum.
Nasib segera berdiri dari duduknya, sementara Juwita melihat ke arah pelataran Kedai. Nampak sebuah mobil yang baru masuk berhenti tepat di depan pintu Kedai begitu mempet batas lantai Kedai.
Wajah Nasib berubah sedikit tegang.
Seorang lelaki yang sebaya dengan Ibunya keluar dari pintu Mobil.
Langsung masuk dengan memperhatikan Ia dan Juwita.
Juwita menoleh Nasib yang berjalan seperti akan menghampiri lelaki yang baru masuk kedai.
"Pak," ucap Nasib dengan langsung menyalami tangan.
"Apa kabar mu?"
"Baik sehat dan baik Pak," jawab Nasib tersenyum. Lalu menarik lebih keluar kursi di meja di dekatnya.
"Silahkan duduk Pak," ucapnya lagi dengan hormat.
"Juwita minta tolong, ambikan Ayah Kak Adina minuman," ucapnya lagi kepada Juwita.
Juwita mengangguk tersenyum dengan bergegas ke belakang.
"Duduklah Nasib." Ayah Adina sesaat setelah memperhatikan Juwita pergi.
Nasib segera menarik kursi di dekatnya.
"Bapak kemari, hanya ingin menanyakan kabarmu? Adina sudah menceritakan tentang kalian." Ayah Adina menghela nafas pelan.
"Seperti yang Bapak lihat,"
"Apakah Adina sehat Pak?" Nasib menatap pias wajah Ayah Adina, sepertinya Ia memang harus bertanya tentang Adina, mengingat Ia sudah tidak lagi melihatnya.
"Meski enggak se-sehat bersamamu."
Nasib tersenyum menanggapi ucapan Ayah Adina.
"Maaf kan Nasib Pak ... Nasib enggak bisa menjaga Adina seperti yang Bapak harapkan," ucapnya menyesali.
Ayah Adina menarik nafas dalam, melihat kesekeliling ruangan, dan terbentur tubuh Juwita yang mendekati.
"Teh hangat Pak," ucap Juwita menaruh di atas meja. Dan langsung kembali kebelakang tanpa meninggalkan senyumnya setelah Ayah Juwita mengucapkan kata terimakasih.
"Sepertinya kedai-mu ramai." Ayah Adina kembali menatap seisi ruangan.
"Mungkin Adina pun sudah menceritakan, kedai ini bukan milik Nasib." Nasib dengan turut memperhatikan seisi ruang.
"Nasib lebih pantas berteman matahari di Bukit," senyumnya melihat Ayah Adina.
"Apa Kau ingin kembali ke Bukit?"
Nasib tersenyum mengangguk.
Ayah Adina menatapnya dalam.
"Bapak enggak pernah mengalami apa yang kau alami, Nasib," Ayah Adina menepuk pelan pundak Nasib.
"Sesuatu yang berharga Pak, dalam perjalanan hidup Nasib," ucapnya kemudian.
"Bahkan Adina masih memiliki harapan," Ayah Adina dengan tersenyum.
Nasib kembali tersenyum.
"Nasib pun berharap demikian, Adina akan bahagia dengan pilihan Bapak." Nasib semakin melebarkan senyumnya.
Keduanya tersenyum. Sedang sinar Mentari masih lagi menyembunyikan sinar hangatnya dalam memenuhi ruang Kedai, seperti terhalang atap-atap beton dan dinding-dinding alam yang berdiri berjajar di pinggir jalan.
"Apakah di Bukit begitu banyak harapan yang tumbuh Nasib?"
Nasib kembali tertunduk tersenyum.
"Setidaknya ada kedamainan di sana," ucapnya dengan menoleh ke luar Kedai. Seperti menerawang jauh dengan perasaanya.
"Di sela matahari yang terbit dan terbenam, di atas kabut yang turun dan hilang," ucapnya lagi kembali menatap Ayah Adina.
Ayah Adina menanggapi dengan senyum kecil.
__ADS_1
Sebuah dering HP terdengar.
"Nasib, rupanya ada yang kangen padamu," ucap Ayah Adina dengan melihat HP-nya.
Nasib senyum-senyum.
Ayah Adina memberikan HP-nya pada Nasib, dengan speker yang aktif.
"Mas Nasib!"
Nasib hampir terkejut, ternyata suara Bi Narti yang terdengar.
"Iya Bi," sahutnya hampir tertawa.
"Ya ampun Mas Nasib, bagaiman kabarnya?"
Nasib tertawa kecil, suara khas yang sering Ia dengar yang terkadang membuatnya tertawa bersama Adina.
"Sehat Bi! Bi-bi bagaimana?" balasnya kemudian.
Ayah Adina semakin senyum lebar.
"Kalo Bi-bi mah! Sehat, hanya..."
Suara Bi Narti seakan menghilang.
Nasib menundukkan wajah, menyembunyikan rasa hatinya dari tatap mata Ayah Adina. Ia tahu apa yang akan di katakan Bi Narti.
"Adina bagaimana Bi," tanyanya pelan.
"Ya itu Mas Nasib, hanya Non Adina yang kadang sehat kadang sakit!"
Nasib tertawa tanpa bersuara.
Ayah Adina pun melakukan hal yang sama.
"Hanya Bi-bi yang sehat terus," tawa kecil Nasib.
"Kalo Bi-bi kan, udah enggak mikirin cinta Mas Nasib, yang penting mah! Masak dan beres-beres aja!"
Nasib tertawa kini dengan bersuara mendengar suara di telapak tanganya.
Perlahan melirihkan tawanya, suara Adina terdengar memanggil Bi Narti, seiring panggilan yang di akhiri.
Nasib menyerahkan HP yang Ia pegang dengan senyum kecil.
Ayah Adina seperti menghela nafasnya pelan menerima HP-nya kembali dengan berdiri.
"Nasib sepertinya Bapak sudah lama enggak menikmati Bakso buatan mu," ucapnya duduk perlahan.
Nasib seger berdiri.
"Iya Pak, Nasib senang sekali melihat Bapak Makan di Kedai Nasib," senyum lebarnya dengan bergegas ke arah dandang rebusan air kuah.
Juwita yang baru muncul dari dapur pun segera membantu Nasib dengan melihat ke arah Ayah Adina tengah duduk.
Senyum mengembang melihat wajah Nasib yang juga terlihat riang.
Sesekali keduanya saling senyum dan bertatapan dari sibuknya kedua tangan yang tengah mengolah Mie di atas mangkuk.
Kecanggungan sepertinya pun tiada terlihat lagi.
Nasib mengangguk pelan saat Juwita memberi isyarat dengan matanya untuk membawakan Mie Bakso kepada Ayah Adina.
Juwita segera membawa Mangkuk di tanganya, tentu dengan senyum termanisnya.
Nasib menggeleng pelan dengan tersenyum geli, mengikuti gerak langkah Juwita. Dan Entah mengapa? pagi ini hatinya pun terasa senang seperti ada yang tengah menggeruduk dengan rasa yang sulit sekali di ungkapkan.
Yah! Hatinya tengah di geruduk.
Ayah Adina terdengar mengucapkan terimakasih kepada Juwita.
Segera menghampiri Ayah Adina yang akan menikmati Mie Baksonya, Juwita senyum-senyum melihatnya saat berpapasan.
Nasib menggelengkan kepalanya lagi dengan pelan melihat polah Juwita.
"Silahkan Pak, di makan," pelanya dengan kembali duduk di dekat Ayah Adina.
Ayah Adina mengangguk pelan.
Nasib menghela nafasnya pelan, sekali lagi hatinya terasa senang melihat Ayah Adina yang tengah makan, seperti melihat sosok Adina.
Perlahan melayangkan tatapan-nya keluar Kedai, senyum getirnya tersimpan di hati mengingat seseorang yang pernah begitu dekat dengan-nya.
Namun semua sepertinya memang harus berakhir, menganggap semua yang pernah terjadi hanya mimpi semalam.
Perlahan menundukkan pandangan. Sebuah rasa getir menyelinap pelan di sanubarinya.
...****************...
__ADS_1