ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
27. Jinjing Hati.


__ADS_3

Nasib urung menutup pintu kedai yang baru saja akan Ia tutup, melihat ke dua wajah yang baru turun dari ojek-ojek online.


Dengan sedikit berlari Ia pun menghampirinya.


"Adina?Apa yang kau lakukan Adina?"


Memegang kedua pundak Adina dengan cemas.


Adina hanya tersenyum pucat.


"Bi...?"


Nasib menoleh Bi Narti.


"Bi-Bi bisa apa Mas Nasib? kemauan Non Adina sendiri," ucap Bi Narti seperti menjelaskan.


"Adina?"


Dengan mengusap kening Adina dari rambut yang terterpa angin.


"Aku enggak betah berbaring terus, Aku ingin makan Bakso," lirih Adina seperti kehilangan suaranya.


"Kau kan, bisa menghubungi ku? Aku akan membawa pulang untukmu,"


"Angin malam Adina."


Nasib heran bercampur cemas.


"Tapi Aku ingin makan di kedai, bersamamu," lirih Adina lagi.


Bi Narti yang mendegarkan hanya manggut-manggut kecil.


Nasib langsung mendekap pundak Adina, menuntunnya ke dalam Kedai, dengan membelai rambut di telinganya.


Bi Narti manggut lagi, meski tiada seorang pun yang berucap. Dengan ikut masuk ke dalam kedai.


Semua yang ada di dalam kedai telah lagi di bersihakan oleh Juwita dan Benu sebelum keduanya pulang sebagi akhir rutinitas kedai.


Kursi-kursi plastik telah berada di atas meja dengan terbalik, begitu pun botol-botol plastik saus dan kecap dan sebagianya, yang biasa berada di atas meja sudah pula di berada dalam lemari pendingin.


Wajah lesu dan pucat Adina nampak berusaha tersenyum , saat Nasib menurunkan dua buah kursi dari meja.


Adina perlahan duduk saat kedua pundaknya di pegang Nasib dari belakang.


"Elahhhh! Bi-Bi di mana Mas Nasib?"


Bi Narti saat melihat Adina dan Nasib sudah duduk.


Adina menoleh berat.


"Bi-bi buatkan kami bakso," ucap lirih.


Nasib senyum mengangguk.


"Eloh! Bi-bi kan, enggak bisa Non?"


"Tinggal seduh aja Bi," ucap Adina lagi.


"Bukan masalah tinggal Non."


Bi Narti dengan menurunkan satu lagi kursi dari atas meja.


"Tapi menempatkan-nya itu ... Yang Bi-bi belum ngerti!"


Bi Narti sambil duduk.


"Tempatkan aja di mangkuk Bi," jelas Adina pelan.


"Kalo itu, Bi-bi ngerti Non. Tapi masalahnya...."


"Nasib yang akan membuatkan untuk Adina dan Bi-bi," ucap Nasib seraya berdiri.


"Nahhh! itu maksud Bi-bi Non!"


Bi Narti seperti girang.


"Tapi Bi-bi, makannya di meja lain,"


Adina melihat meja di dekatnya.


"Itu, di pojokan aja."


Adina dengan menunjuk sebuah meja yang berada di sudut ruangan dengan matanya.


"Di dapur aja Non." Tunjuk Bi Narti dengan matanya juga.


Adina menatapnya.


"Biar langsung cuci piring," kilah Bi Narti cepat. Sebelum tatapan Adina semakin membuatnya tersudut, terduduk pula di pojokkan.


Adina tersenyum kaku melihat Nasib.

__ADS_1


Nasib mendekatinya.


Memegang pundaknya lagi dari belakang.


Bi Narti melebarkan bibirnya.


Senyum Nasib melihat pias wajah Bi Narti dengan meremas pelan kedua pundak Adina.


"Aduhhhh! Non, pundak Bi-bi yang terasa pegal!"


Wajah Bi Narti terlihat mengeluh.


Nasib tertawa kecil tanpa bersuara.


Suara air yang mendidih di dalam dandang terdengar bergejolak. Sementara angin malam yang masuk dari luar Kedai, mendesirkan dingin yang terasa bergejolak pula.


Nasib mengusap pelan kepala Adina. Begitu hangat terasa di kulit tangan-nya.


Sesaat angan-nya menyeruak akan peristiwa siang di lampu merah.


Debar di hati terasa mulai mengganggu kembali, namun cinta yang ada di hati seperti meluruhkannya.


"Adina."


Nasib membelai sayang.


Bi Narti langsung berdiri.


"Bi-bi mau ke mana?"


Adina menyandarkan kepalanya di perut Nasib.


"Mau lihat rebusan bakso Non, suara yang Bi-bi rasakan mengatakan sudah siap di masukin ke mangkuk," kilah Bi Narti.


Nasib tersenyum, Adina mendongak melihatnya.


Nasib mengusap kening Adina.


"Nasib."


Nasib tersenyum menatap wajah Adina.


"Sebentar lagi, Bi Narti tengah menyiapkannya untukmu,"ucapnya dengan melirik Bi Narti.


"Bukan itu, apa Kau enggak suka Aku ke kedai?"


Nasib seperti terpaku sesaat.


"Aku hanya enggak ingin Kau tambah sakit Adina."


Nasib menghela nafas pelan.


"Lagi pula kedai ini kan milikmu, setiap saat kau bisa datang kapan saja kau mau."


Adina menggeleng tersenyum kaku.


"Bukan Nasib," lirih bibir pucatnya.


Nasib menatap penuh heran.


"Aku benar-benar enggak mengerti Adina, dengan yang kau maksud...."


"Aku hanya membantu-mu,"lirih Adina lagi.


Nasib semakin tidak mengerti, bukankah selama ini Adina yang telah menyiapkan segalanya sesuai dengan apa yang Ia mampu sebagai penjual Bakso dan Mie Ayam.


"Apakah Nada maksudmu?"


Nasib benar-benar merasa penasaran.


"Bukan." Adina dengan menggeleng di perut Nasib.


"Adina jangan membuatku berprasangka buruk dengan mu Adina?"


"Aku memang buruk."


Nasib mengusap pelan Air mata yang tiba-tiba jatuh di pipi Adina.


"Jangan berkata seperti itu Adina, maafkan Aku." Nasib menatap sayu Adina, lalu menatap Bi Narti yang terpaku mendengarkan.


"Sudah jadi pesanan-nya Non!" seruBi Narti tiba-tiba dengan membawa dua Mangkuk berisikan Bakso.


Adina menoleh.


"Uhhhh! Non, buatan Bi-bi pasti enak Non!"


Bi Narti menaruh Mangkuk yang di pegangnya di depan Adina.


Adina hanya tersenyum melihat Nasib.


"Sepertinya spesial," ucap Nasib menanggapi tatapan Adina.

__ADS_1


"Spesial dong ,buat kalian. Hanya belum di kasih bumbu," sambung Bi Narti langsung.


"Yah! Enggak seru nih, masa hanya dua?"


Nasib dengan duduk di samping Adina.


"Bi-bi makan di belakang aja Mas Nasib, nanti Non Adina hilang selera," kilah Bi Narti beringsut dengan membawa mangkuk yang satu ke belakang.


Nasib mengeleng pelan dan tersenyum lebar melihat Adina yang berusaha tersenyum pula melihat polah Bi Narti.


Suara knalpot Motor sport seharga Mobil terdengar beberapa kali menggeber kuat, di depan Kedai.


Nasib hampir menoleh, sepertinya Ia tidak asing dengan suara yang baru terdengar, dan kian menjauh.


Perlahan mengaduk pelan Mie Bakso di depan Adina. Sebenarnya Bi Narti sudah memberikan bumbu,saus dan kecap, sekedar hanya ingin melihat Adina tersenyum, kebiasaan yang sering di lakukan jika Adina tengah muram apalagi dalam keadaan sakit.


Nasib memotong kecil daging Bakso, lalu menyuapi Adina.


Adina membuka kecil mulutnya.


Nasib tersenyum melihat kunyah pelan Adina, dengan menyingkap helai rambutnya yang terurai hampir mendekati bibir.


Kembali memotong kecil daging Bakso, namun Adina menahan tanganya saat akan menyuapi.


"Cukup." Adina pelan.


Nasib menatapnya.


"Apa kau bertemu Ronal?"


Nasib seperti tercekat dalam hati, bagimana Adina bisa tahu jika siang tadi Ia bersama Ronal.


Nasib mengangguk perlahan.


"Apa yang Dia mengatakan sesuatu?"


"Enggak Adina, Ronal enggak bilang apa-apa, Dia hanya memboncengku," jawab Nasib masih menatap Adina.


"Ada apa Adina?"


Bibir Adina mengatup, dengan tatap kosong di atas meja.


"Adina?"


"Tiadakah keterbukaan di antara kita lagi?"


Nasib mengusap pelan sisi bibir Adina.


Tatapan Adina pun beralih menatap Nasib namun seperti tiada kata yang ingin terucap.


Matanya pun mulai berkaca-kaca.


Nasib menarik nafasnya berat, hati kembali terusik seperti ingin berlari kecil dengan jinjing melewati genangan dan percikan rasa yang membasahi dasar hati, untuk tidak melihat kembali air mata yang akan jatuh.


"Apa Kau mencintaiku dengan hatimu?"


Adina kini dengan linang air mata.


"Adina?"


"Jika seseorang mengulangi lagi sebuah pertayaan-nya, mungkin Ia belum merasa yakin dengan jawaban sebelumya," ucap Adina lagi.


Nasib menyandarkan punggungnya, menahan gelora di hati.


"Bukankah sudah sering kita membahasnya Adina ? jika ada cinta yang lain dalam hatiku, itu pun cinta yang lalu yang masih tersisa untuk cahaya dan Nada...."


"Cukup." Adina berdiri.


"Bi! Bi-bi!" Teriaknya meski tidak sekuat saat sehat.


"Iya Non!"


Bi Narti tergesa keluar dari dapur dengan masih memegang mangkuk berisikan Mie dan Bakso.


"Ada apa Non?" tanya-nya sedang mulutnya kembali mengunyah Bakso yang tadi terhenti terkunyah karena mendengar panggilan Adina.


"Kita pulang Bi," ucap Adina langsung berjalan.


"Tapi Non? Baksonya belum habis!"


Bi Narti meletakkan Mangkuk di meja, di mana Nasib terdiam menatap Adina yang meninggalkan-nya.


Bi Narti segera menyusul langkah pelan sang majikan setelah melihat Nasib.


Nasib menahan debar hatinya, Ia tahu Adina akan marah padanya. Percuma mengejar Adina, Ia akan tetap pulang. Namun Bi Narti akan menjaganya seperti hari-hari yang telah lalu.


Nasib menatap Mangkuk Adina, kini Ia hanya memikirkan kesehatan-nya.


Jinjing hati semakin sulit untuk berdiri di mana duri semakin banyak yang mengelilingi, jauh sudah sebuah angan yang lama tergendong untuk sampai kembali dalam rengkuh kedamain, semua akan terasa sulit kembali.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2