ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
30. Pelangi Yang Pudar


__ADS_3

Bi Narti hanya mengangguk mengerti saat Nasib mengambil mangkuk yang berisi bubur hangat dari tangan-nya,terpaku di depan pintu melihat Nasib membawanya mendekati Adina yang tengah duduk di pinggir kolam.


Mata Adina begitu hampa menatap riak halus di atas kolam, sedang rambutnya terurai lepas bagai ombak di tengah lautan.


Matanya seperti tidak berkedip melihat jernih air, hingga tiada lirikan atau tolehan darinya saat sebuah tangan akan menyuapinya.


Bibirnya terbuka kecil, memakan bubur hangat. Mengunyahnya pelan, sedang matanya tetap terarah di atas kolam.


Tiada kata yang terucap dari setiap suap demi suap bubur yang tertelan.


"Apa Nasib belum menghubungi Bi-bi?"


Adina tanpa menoleh orang di sampingnya.


"Semua memang bukan salah Nasib Bi, Adina yang salah,"


lirih Adina kemudian.


"Tapi Adina, Adina sangat menyanyanginya Bi, dan Adina enggak bermaksud membohonginya Bi."


"Orang-orang yang menyayanginya hanya ingin membantunya, Adina pun enggak menyangka akan seperti ini semuanya. Nasib lah yang seharusnya marah, bukan Adina Bi."


Adina tidak meneruskan ucapannya, kembali membuka bibirnya.


"Non air minumnya, kelupaan."


Adina langsung menoleh dengan mulut seketika berhenti menguyah, melihat Nasib heran.


Nasib tersenyum.


Adina menoleh Bi Narti yang berdiri memegang gelas minum.


Bi Narti nyengir.


"Bi, Adina mau ke dalam."


Adina dengan berdiri.


"Tapi Non?"


Bi Narti melihat Nasib.


Namun Adina segera berjalan, sebelum Bi Narti berbicara lagi.


Bi Narti pun segera mengikuti setelah melihat anggukan Nasib.


Nasib melihat bubur yang ada di tangan-nya, lalu melihat jernih air kolam, perlahan duduk di kursi kecil di mana Adina baru saja mendudukinya.


Matanya pun seperti tidak berkedip melihat seisi kolam, seperti ingin merasai apa yang tengah Adina rasakan saat menatapnya.


Apa yang baru Ia dengar pun membuatnya larut kembali dalam kejernihan dalam keruhnya hati yang tengah di alami.


"Mas Nasib."


Nasib langsung berdiri.


"Itu di depan ada Ronal mencari Non Adina," ucap Bi Narti cemas.


Dengan rasa terkejut Nasib pun bergegas ke luar Rumah.


Bi Narti pun bergegas kembali menemui Adina di dalam kamar.

__ADS_1


Nasib segera membuka pintu gerbang, nampak Ronal tengah duduk santai di atas motornya dengan senyum-senyum kepadanya.


"Ronal?"


"Oh! Rupanya Kau ada di sini Nasib," jawab Ronal berdiri.


"Ada apa Ronal?"


Nasib melihat pintu Rumah yang masih terbuka.


"Ada apa?" Ronal tersenyum sinis.


"Apakah Aku enggak boleh berkunjung?"


"Bukan begitu Ronal, tapi Adina masih sakit," jelas Nasib mengingatkan.


"Sakit!" Ronal seperti tidak percaya. Lalu tertawa terbahak.


"Harusnya Kau yang sakit Nasib! Kau sudah di bohonginya!


Wajah Ronal seperti memendam amarah.


"Ronal, Aku mohon ... biarkan Adina sembuh tanpa ada yang mengganggunya," ucap Nasib berharap.


Meski terlihat sebuah kekecewaan Ronal menaiki Motornya.


"Oke Nasib, lain kali kita ketemu lagi," ucapnya dengan memakai Helm.


Nasib hanya tersenyum lega menyahuti.


Suara Knalpot ber-cc besar itupun terdengar bagai membuat pintu pagar seperti ikut berbunyi.


Nasib masih terus mengamati hingga Ronal benar-benar tidak nampak lagi dalam penglihatan-nya.


Nasib menutup pintu pagar dengan perlahan, pikiranya tertuju pada Ronal barusan.Sepertinya Ronal sengaja membuntutinya kemana Ia pergi. Apakah karena Nada belum Dia ketemukan?


Matanya pun kembali ke mana Ronal terahkir terlihat menghilang. Menghela nafas pelan, lalu bergegas ke dalam Rumah.


Nasib mengamati anak-anak Tangga yang menuju kamar Adina, lalu melihat ke arah dapur dan sesuatu di atas meja makan membuatnya tertarik untuk mendekatinya.


Nasib memegang pundak kursi dengan melihat mangkuk berisi bubur yang tadi Ia suapkan ke pada Adina. Rupanya Bi Narti tidak membawanya ke atas.


Nasib menarik kursi keluar dari kolong meja. Dengan duduk menarik Mangkuk untuk lebih dekat, mengaduknya pelan. Matanya tertuju pada kolam yang terlihat dari dinding kaca rumah, kursi kecil pun masih terduduk di pinggirnya.


Sesaat tertegun, tangan pun melepaskan sendok yang baru mengaduk pelan bubur, Matanya semakin terbuka seiring mata hatinya, lama sekali Ia tidak melihat warna yang tengah tercipta di ujung kolam tepatnya di tembok pagar Rumah. Rupanya sinar mentari yang masuk ke kolam membiaskan warna ke tembok yang belum mengering karena guyuran hujan yang belum lama reda, mengingat Ia datang pun setelah hujan berhenti.


Samar memang warna yang terlihat namun jelas baginya, bahwa pelangi mungil di tembok Rumah terlihat menyejukkan hati dengan damai akan keindahan begitu rasa meresapinya.


Perlahan berjalan mendekati dinding Kaca, agar lebih jelas menikmatinya.


Hatinya berdesir dengan senyum kecil mengukir jernih, sejernih air di atas kolam.


Terakhir kali Ia melihatnya, Nasib menundukkan wajah dan dengan cepat pula mengangkatnya, seperti mengusir kenangan yang akan mengganggunya lagi.


Perlahan demi perlahan warna-warni di Tembok Rumah pun kian memudar, terus memudar hingga benar-benar hilang tanpa meninggalkan satu warna pun untuk sebuah jejak.


Nasib masih terus menatapi meski warna pelangi begitu cepat hilang. Ada sebuah rasa yang menyangkut di hatinya akan pelanginya yang dahulu yang memang begitu indah namun juga hanya sesaat dan menghilang.


"Apa yang tengah Kau tatap?"


Nasib kontan menoleh.

__ADS_1


Adina telah duduk di meja makan tanpa terdengar olehnya.


Dengan senyum kecil Ia pun segera menghampiri.


"Hanya sebuah pelangi, fatamorgana," ucapnya pelan. Duduk di hadapan Adina.


Adina melihat kemana Nasib barusan berdiri layaknya tengah termenung.


"Aku akan menghangatkan bubur ini lagi," ucap Nasib dengan akan membawa Mangkuk Adina.


Adina terdiam memperhatikan.


Nasib tersenyum membalasnya.


"Biar Bi-bi aja Mas Nasib."


Bi Narti dengan tiba-tiba.


Nasib hanya terpaku seperti tidak bisa mencegahnya.


Kembali duduk Adina masih lagi menatapinya.


"Apa Kau merasa kita jarang bertemu?"


Nasib masih dengan tersenyum.


Adina langsung melayangkan tatapan-nya ke arah Bi Narti.


Nasib tertawa kecil tanpa bersuara dengan wajah di tundukkan,sepertinya Ia baru melihat lagi wajah kesal Adina bila Ia tengah menggodanya saat marah. Dan sepertinya pula Ia tidak ingin membahas kekisruhan yang terjadi selama Adina sakit, bagaimana pun juga kesehatannya kini jauh lebih penting dari pada rasa sakit di hati.


Nasib menatap wajah Adina.


Terbayang kembali tentang ucapan orang tua Adina kepadanya, akan kepercayaan yang di berikan untuk menjaganya, untuk tidak meninggalkan dalam keadaan apapun, untuk selalu menyayanginya selama sehat dan sakitnya. Dan Ia pun sudah menyanggupinya, mengingat Adina pun mempercayayinya.


Semua kini terasa pagar yang mengelilingi, saat rasa sakit mulai terkuak ke permukaan. Dan yang Ia sesali dalam wajah di hadapanya, mengapa menyembunyikan semua darinya?


Perlahan Nasib meluruhkan tatapanya, menatap kaca bening yang menjadi taplak meja.


Adina kembali menatapnya.


"ughhhuuuuu! Pesanan datang!" seru Bi Narti dengan wajah riang.


Nasib tersenyum lebar.


Adina hanya melihat dengan lirikan.


"Oke Mas Nasib, sekarang giliran Mas Nasib yang melanjutkan," ucap Bi Narti meletakkan bubur hangat di depan Adina.


Adina seperti ingin melotot.


Namun Bi Narti keburu berlalu meninggalkan keduanya.


Nasib yang mengerti dengan maksud Bi Narti segera beralih duduk di samping Adina.


Adina hanya diam. Namun bibirnya harus rela terbuka ketika sesuap bubur mendekatinya.


Nasib tersenyum, melihat kunyah pelan di bibir Adina. Semua terasa berbeda, di meja yang sama selalu ada keceriaan, meski tidak jarang ada juga rajuk manja yang terlihat. Tapi kini begitu kaku kembali, seperti pelangi yang terang namun pudar terasa, hanya jelas di mata namun suram di rasa.


Tapi menjaga Adina untuk sehat kembali adalah hal terbaik yang ingin Ia lakukan.


Masih ada ruang esok untuk bercengkrama dari hati ke hati tentang penyebab pudarnya sebuah pelangi cinta.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2