ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
31. Gara-gara Nasib!


__ADS_3

Nasib segera melompat ke atas trotoar kembali setelah tadi hendak menyeberang jalan, namun sebuah Motor cukup kencang melaju ke arahnya.


Nasib melihat motor yang berhenti dengan menimbulkan suara dari ban yang mencengkram aspal jalan, dan terlihat pula bekas warna bannya.


"Ronal?" Nasib mengenali sang pengendara Motor yang langsung turun mendekatinya, meninggalkan motor beberapa meter darinya.


Dan yang paling membuatnya lebih terkejut, tanpa basa-basi seperti kemarin Ronal langsung menarik kerah bajunya dengan ke dua tangan.


"Ronal?" Nasib memegangi tangan Ronal.


"Habis sudah kesabaraan ku Nasib!" Wajah Ronal penuh dendam kembali.


"Di mana Nada? Aku tau kau mengetahuinya Nasib!" Lantang Ronal menarik lebih dekat wajah Nasib ke wajahnya.


Nasib berusaha melepaskan ke dua tangan Ronal. Namun Ronal seperti tidak ingin melepaskannya lagi.


"Bagimana Aku bicara padamu, jika leherku kau tekan," ucap Nasib menarik wajahnya.


Meski terlihat marah Ronal melepaskan kerah baju Nasib dengan mendorongnya.


Nasib menahan tubuhnya agar tidak terjatuh ke dalam parit di belakangnya.


"Dengar Ronal." Nasib merapihkan kancing bajunya yang hampir copot.


"Bukankah Kau mengatakan padaku, bahwa kau mengetahui segalanya tentang Nada atau pun Adina." Nasib menarik nafas pelan mengatur kembali nafasnya yang terasa tersengal.


"Jadi ku rasa kau pun tau keberadaan Nada kini, mengapa kau bertanya padaku?" Nasib meneliti sorot mata Ronal.


"Akhkkkk!"Ronal mengibaskan tanganya kesal bercampur marah.


"Jangan coba-coba membalikan keadaan Nasib!" seru Ronal di wajah Nasib.


"Apa kau lupa dengan ucapanmu sendiri Ronal?" Nasib tenang, meski murka di depan wajahnya.


Ronal langsung membuang wajahnya menatap tidak perduli dari lalu kendaran di belakangnya.


Puncak amarahnya seperti sudah mencapai puncak ubun-ubun kepala, gelap matanya sudah lagi sampai berada di kedua tanganya.


Kembali melihat Nasib, kedua tangannya pun telah mengepal keras.


Namun belum sempat kepal tinju menghantam wajah Nasib.


Braaaaakkkkkk!!!


Suara benturan keras membuat keduanya sontak hampir meloncat kaget.

__ADS_1


Dan yang paling membuat Ronal terpatung-terngangah, Sebuah Mobil minibus dengan cepat kembali melaju dengan lejitan di aspal yang memekikan telinga, setelah dengan keras menghatam Motornya.


Ronal segera berlari mendekati Motornya yang terpental cukup jauh. Berusaha mengangkatnya berdiri, namun Motor Ber-cc besar itu pun lebih besar lagi beratnya.


Nasib yang melihat Ronal kerepotan mengangkat Motornya segera belari membantunya.


"Sialan! Siapa tadi?" gerutu Ronal setelah berhasil membuat Motornya kembali berdiri.


Nasib melihat ke arah Mobil yang baru menabrak Motor Ronal, dan telah hilang di perempatan jalan.


"Aku akan mengejarnya!" geram Ronal berusaha menghidupkan mesin Motornya.


Ronal membuang Knalpotnya yang patah, buntut belakangnya serta bagian sayap dan visor depan dan serpihan lampu depan yang pecah.


Geramnya semakin menjadi, berkali-kali Dia menstater namun tidak juga hidup.


"Ahkkkkkkh!!" dengan memukul jok motor menandai telah teramat marah dengan keadaannya.


Nasib yang memang kurang mengerti dengan mesin Motor hanya bisa diam memegangi Motor Ronal.


Ronal terduduk di atas Trotoar, helmnya pun telah tercebur di dalam parit. Mengusap wajahnya dengan keras lalu melihat geram ke arah perempatan jalan yang tidak terlalu jauh darinya dan Nasib.


"Ronal, Apa tidak sebaiknya kita bawa saja ke bengkel terdekat?" Nasib dengan duduk di dekatnya.


"Sial sekali Aku hari ini!" gerutu Ronal menanggapi.


Nasib menghela nafasnya menatap Ronal. Wajah itu kembali kesedia kala saat dahulu, begitu sangat membencinya.


"Aku enggak pernah memilih di jalan hidupku untuk membuat orang celaka Ronal, bahkan setiap dari kegagalan langkah ku sendiri," ucap Nasib menatap wajah-wajah pengendara yang banyak memperhatikan.


"Semua imbas dari kelemahanmu Nasib!" Ronal menatap tajam.


Nasib tersenyum kecil. menghela nafasnya kuat, lalu berdiri.


"Kita mudah menjalani tanpa bisa melihat dengan pasti sesuatu yang tersembunyi di balik sebuah rasa,"


"Hanya penyesalan di ujung, saat mata kita mulai terbuka dengan apa yang kita rasa,"


"Kau tahu Ronal perasaan Nada, Atau memang hati lemah? Hingga lupa bahwa cinta enggak bisa di paksakan," panjang Nasib disertai senyuman.


"Aghkkkkk!" Ronal kembali mengibaskan tangannya dengan marah.


"Jika Nada berubah ke padamu atau pun Aku, apa kita sanggup mencegahnya?"


"Tapi semua akan sesuai dengan harapanku Nasib! Jika saja Kau enggak lagi bermuka manis di depannya!" potong Ronal sebelum Nasib berbicara lagi.

__ADS_1


Nasib mengusap keringat di keningnya pelan.


"Aku bukan seorang yang bijak Ronal dalam kehidupan, tapi terkadang kita hanya mampu berencana, yang terkadang enggak sesuai dari harapan kita," pelan Nasib menanggapi.


"Tetap semua gara-gara mu Nasib!" Ronal kembali megepalkan semua jari tanganya.


"Jika Kau mencari Nada, Kau bisa menemukannya tidak jauh di belakang pasar, di sebuah kost-kost-an, jika Dia belum pergi." Nasib tanpa melihat Ronal.


Ronal langsung menaiki motornya seolah lupa bahwa Motornya belum juga bisa menyala.


Nasib memperhatikan.


"Apa Aku bisa membantumu?"


"Dorong saja motorku!" Ronal menyahuti.


Nasib tersenyum dengan mendorong. Setengah berlari Nasib mendorong Motor Ronal, dan langsung melepasnya saat suara dari leher knalpot yang terputus berbunyi, dan tanpa menoleh Nasib lagi Ronal langsung tancap gas pergi meninggalkan-nya yang berdiri ter-engap di sisi jalan.


Nasib mengusap lagi keningnya, hari akan menjelang gelap, langkah pulangnya harus terhenti sejenak akan peristiwa barusan.


Kembali menapak di atas trotoar jalan, menatap ulang lampu-lampu kendaraan yang mulai terasa menyilaukan mata.


Hembus angin sore terasa hangat bersama sinar Matahari yang telah tertutup awan kelabu.


Lebih cepat baginya jika pulang menggunakan jasa ojek online, namun pulang dengan berjalan setelah Kedai tutup seperti menikmati angin segar, dapat lebih melihat sisi-sisi kehidupan disetiap jalan yang Ia tempuh. Seperti membubuhkan sebuah potret dalam memori di benaknya.


Kedai yang biasanya tutup malam kini Ia batasi hanya hingga sore saja. Bukan tanpa alasan, Ia hanya ingin lebih banyak waktu merawat Adina. Selain itu bisa memberikan cukup beristirahat baginya dan juga para pekerjanya, tidak harus sampai malam mencari rezeki. Meski di saat malam lebih banyak pembeli yang datang.


"Apa Kau enggak capek berjalan sendiri?"


Nasib menoleh, hampir copot rasa di dadanya melihat sosok orang tiba-tiba muncul dari balik pohon besar peneduh jalan yang baru akan di lewati.


"Nada?" Nasib menoleh kembali di tempatnya Ia dan Ronal bertemu. Lalu melihat kembali Nada.


"Heran?" senyum Nada.


Nasib menggeleng namun dengan cepat mengangguk.


Nada tertawa kecil dengan menarik tanganya untuk kembali berjalan, Nasib mengikutinya.


Nasib mencuri pandang wajah Nada yang terlihat ceria, tidak seperti saat Dia meninggalkan Kedai dengan terisak. Heran bercampur aneh lagi yang di rasakan, ada apa lagi dengan Nada? Pikiranya seperti bayang di antara keduanya yang tengah ikut melangkah kemana pun berada.


Nasib menoleh ke belakang, berharap Ronal berada di belakangnya, agar bisa bertemu dengan Nada. Namun hanya lampu-lampu dari kendaraan lain yang mengabulinya.


"Sepertinya semua memang gara-gara mu Nasib! " Suara hatinya melihat wajah Nada yang tengah tersenyum manis kepadanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2