
"Juwita enggak setuju Kak Nasib!"
Nasib tersenyum, Wajah Juwita tetlihat tidak suka dengan apa yang baru Ia katakan.
"Setidaknya kan, Kak Nasib bisa memberikan masa depan yang cerah," ucapnya melihat Juwita berwajah cemberut.
"Kak Nasib enggak usah jadi pangeran yang punya segalanya!"
Nasib mengkerutkan keningnya mendengar penjelasan Juwita.
"Kalo Kak Nasib jadi pangeran, nanti selir Kak Nasib juga banyak!"
"Kak Nasib gitu aja! Enggak usah jadi pangeran!" jelas Juwita sewot.
Nasib menggaruk Kepalanya pelan dengan senyum tidak percaya.
"Pokoknya Kak Nasib gitu aja! Jangan berandai jadi seorang pangeran yang memiliki segalanya!" ulang Juwita lagi.
"Kan, hanya! Jika! Bukankah itu yang wanita cari?" geli Nasib. Juwita menanggapi perkataanya tadi dengan serius.
"Iya udah, Benu aja yang jadi pangeran, gimana?" Nasib dengan hampir tertawa kecil melihat bibir Juwita yang cemberut.
"Kalo Benu terserah! memang banyak pacarnya!"
Nasib langsung tertawa kecil.
"Bukanya Benu masih..."
"Masih kurang Kak! Kalo belum satu lusin!" potong Juwita cepat.
Nasib tertawa lebar.
"Tapi kalo Kak Nasib begini terus! Kapan Kak Nasib bahagiakan seseorang?" Nasib di sela tawanya.
Juwita terdiam menatapnya.
Nasib menghentikan tawanya.
"Ternyata apa yang Kak Adina katakan memang benar," ucap Juwita dengan membawa mangkuk kotor ke dapur.
Nasib langsung mengikutinya.
"Apa yang di katakan Kak Adina?" Nasib berjalan di belakang Juwita.
"Susah! Untuk meyakinkan Kak Nasib!"Juwita meletakkan Mangkuk yang akan di cuci.
"Sesimpel itu?" Nasib berdiri di ambang pintu.
Juwita mengangguk mencuci Mangkuk membelakangi Nasib.
Nasib segera mendekati.
"Biar Juwita aja Kak."
Juwita melihat Nasib mencuci Mangkuk.
Nasib hanya tersenyum.
"Tapi mungkin enggak semudah membersihkan mangkuk yang kotor," ucapnya melihat Juwita.
Juwita menatapnya.
"Apakah hal seperti itu juga yang membuat Kak Nasib melepas satu -persatu orang yang Kak Nasib sayang?"
"Kak Nasib merasa, hanya materi dan embel-embelnya yang membuat kebahagian?"
Nasib tersenyum tertunduk, pertanyaan dan tatap mata Juwita yang membuatnya. Perlahan meletakkan Mangkuk yang masih berbusa sabun pembersih.
"Juwita akan mengerti saat kaki dan tangan Juwita tersengat kerasnya jalan bercadas, berdebu dan bermandikan teriknya mentari,"
"Juwita akan mengerti akan sulitnya sebuah pilihan, akan cinta yang enggak pernah di duga?"
"Maksudnya?" tanya Juwita tidak mengerti.
"Cinta yang pernah ada, cinta bersemi dan cinta yang enggak seharusnya."
Juwita semakin tidak mengerti, terlihat kedua matanya semakin tajam menatap.
"Enggak usah di jelaskan," senyum Nasib membilas mangkuk yang berbusa.
__ADS_1
"Nanti Kau tau, saat mangkuk-mangkuk yang kau cuci bertumpuk di atas meja," jelas Nasib mengelap Mangkuk dan menaruhnya di atas meja.
Juwita memperhatikan-nya.
"Kak Nasib!"
Nasib menghentikan langkahnya yang akan menuju ruang depan.
Tersenyum kecil.
"Cuci aja, lalu kau tumpuk seperti biasa," ucapnya dengan kembali berjalan.
Juwita yang memang tidak mengerti akan maksud Nasib, memperhatikan Mangkuk yang baru di letakkan di atas meja.
Dengan pelan mengangkatnya, lalu menoleh ke arah Nasib yang baru pergi.
Segera meletakkanya kembali dengan segera mencuci tumpukkan Mangkuk yang kotor.
Meski jemari tanganya terus bergerak,tapi pikiranya tertuju akan ucapan Nasib.
Rasa di hatinya ingin segera cepat membersihkan mankuk-mangkuk di depanya.
Namun di sela-sela kesibukan tangan dan pikirnya, sesekali ada senyum yang terukir di bibir.
Gemercik air yang jatuh dari kran, bagai satu-satunya suara yang terdengar di dapur.
Tumpukan mangkuk satu-persatu tersusun terbalik di atas meja.
Keringat kecil pun mulai membasahi kening Juwita. Dan entah apa yang tengah terbesit di benaknya, menatap air yang keluar dari kran membuatnya tersenyum senang.
Pelan-pelan mengusap tangannya yang basah dengan kain lap.
Dengan senyum yang masih terukir di bibir segera bergegas keluar dapur.
Pintu folding masih terbuka setengah seperti biasa menjelang tutup Kedai.
Desir angin malam yang masuk ke dalam pun mengalahkan hembus kipas angin di dinding Kedai.
"Kak Nasib!"
Nasib yang telah membereskan semuanya, kaget tersenyum bersandar pinggang di meja.
"Apa di dapur ada bayang seorang pangeran?" ucapnya lagi, mengikuti Juwita dengan tatapanya.
Juwita manggut-manggut berdiri di samping Nasib.
Nasib memegang dahinya.
"Kurang sehat?"
"Ahhhh! Kak Nasib!" rajuk Juwita seperti manja.
"Beberapa akhir ini, kak Nasib jarang melihat kau di jemput lagi?" Nasib melihat ke arah kuar kedai.
"Kost-kost kan dekat," ucap Juwita berusaha tersenyum.
Nasib menarik kursi di bawah meja di depanya, lalu dudui di depan Juwita.
Juwita menatapnya, lalu tersenyum malu membuang tatapan ke arah luar kedai.
Nasib tersenyum melepaskan nafasnya pelan.
"Kak Nasib enggak ingin jadi pangeran," pelanya pula.
Juwita kembali menatapnya.
"Kak Nasib pun enggak ingin cinta dari puteri yang rela meninggalkan segalanya hanya untuk menderita,"
"Semua hanya dongeng masa kecil,"
Nasib memegang jemari Juwita.
"Juwita pasti punya khayalan, akan cinta Juwita untuk masa depan Juwita..."
"Pangeran impian maksud Kak Nasib?"
Nasib tersenyum mengangguk.
Sorot mata jelita di hadapnya, begitu terasa putih di dalam hatinya.
__ADS_1
Juwita menundukkan wajahnya, simpul senyum terlihat di tutupi.
Nasib melepaskan jemari Juwita.
"Kak Nasib,"
"Apa Kak Nasib lupa? Bahwa Juwita pun berasal dari kampung,"
"Semua yang kak Nasib katakan, Juwita pun pernah mengalami,"
"Pangeran impian pun pernah Juwita khayalkan, agar Juwita nanti bisa hidup selayaknya,"
"Saat Juwita punya pacar, Juwita seneng banget! di bonceng motor. Di traktir makan."
Juwita senyum-senyum.
"Pokoknya apa yang Juwita mau, di turuti,"
"Setiap malam pun selalu kebayang, jika suatu saat Juwita pulang kampung, terus di antarkan dengan kendaraan roda empatnya, Wow! Pasti bangga banget Kak Nasib!"
Juwita menghela nafasnya menatap Nasib.
"Apa yang Kak Nasib rasakan, sepertinya Juwita merasakan,"
"Seorang pangeran yang mencintai seorang anak petani untuk di bawa dalam kebahagian. Sepertinya memang hanya ada dalam dongeng aja." Juwita seperti menerawang di dinding Kedai.
"Tapi, Kak Nasib hampir mendapatkan seorang puteri di sini,"
"Kenapa Kak Nasib lepaskan?"
Nasib tersenyum geli dengan bangkit kembali.
"Pangeran di luar banyak," ucapnya.
"Orang seperti kita bukan sebuah impian bagi mereka, meski cinta itu ada," ucapnya lagi.
"Jika ada seorang pangeran atau puteri, merelakan hidupnya hanya untuk susah karena cinta..." Nasib melebarkan senyumnya.
"Mereka hati-nya dunia."
Juwita hanya termangu.
"Karena cinta mereka seluas dunia, meski raga mereka susah," pelan Juwita seperti tidak sadar. Menatap Nasib dalam.
"Sebagai raga, dunia akan mengenangnya." Nasib melanjutkan.
Juwita kembali termangu.
"Seperti cerita-cerita atau pun dongeng masa lalu yang hingga saat ini masih dapat di dengar, seperti romeo-juliet atau yang lainya, yang enggak akan usang di makan waktu," ucapnya seperti tidak sadar dengan apa yang di ucapkan.
"Tapi Kak Nasib! Bukanya itu hanya dongeng?" Juwita seperti tersadar.
Nasib tertawa kecil.
"Tadi Kak Nasib sudah bilang," ucapnya dengan meninggalkan Juwita ke arah pintu Kedai.
Juwita segera menyusulnya.
"Lantas, arti mangkuk yang di susun di atas meja bagaimana?" Juwita dengan menahan handel pintu yang akan Nasib tutup.
Nasib senyum-senyum, menarik tangan Juwita untuk keluar kedai.
"Kak Nasib?"
Nasib hanya menutup pintu kedai.
"Enggak ada arti," ucapnya tertawa kecil melangkah pelan.
"Ahghhh! Kak Nasib!" Juwita kembali mengikutinya meninggalkan Kedai.
"Hanya menandakan udah di cuci aja." Nasib melihat rona yang sedikit kesal berjalan di sampingnya.
Juwita cemberut kecil.
"Lantas kita mau ke mana?" tanyanya pelan.
"Cari pangeran impian mu!" tawa Nasib pelan pula saat beberapa pemuda tengah nongkrong di depan toko yang masih buka.
Juwita pun melengos kesal.
__ADS_1
...****************...