
Nasib mengerutnya kan kening, menatap wajah Juwita yang sedih, penjelasan Benu yang membuatnya.
"Begitu Kak Nasib!" Benu meyakinkan kembali.
"Iya Kak."
Juwita saat Nasib masih menatapnya.
"Jika menolong orang meminta imbalan itu namanya pamrih! Percuma bilang niatnya baik! Niatnya baik! Niat baik kalo cuma di bibir aja!"
Nasib melihat Benu yang baru berucap.
"Jika niatnya memang baik, maka kelak ada juga yang membalasnya dengan kebaikan! Meski bukan orang yang pernah di tolong!"
Nasib tersenyum kecil melihat pias wajah Benu.
"Masa, minta cinta lagi Kak!"
Nasib tersenyum lebar, rona di wajah Benu kian kelam berselimut kesal.
"Jadi, Benu cemburu Nih?" tanya-nya menanggapi ucapan Benu.
"Bukan gitu Kak!" Benu seperti kelimpungan, melihat Juwita yang juga langsung melihatnya mendengar pertanyaan Nasib.
"Kak Nasib, Benu enggak cemburu! Masa gara-gara menolong Juwita kerja di Kedai, minta balasan cinta!"
Nasib tertawa tertunduk, jelas Benu menyembunyikan rasa cemburunya, meski bibirnya berucap tidak.
"Mungkin Juwita akan memberinya Benu, yah! Itung-itung sebagai imbalan," tanggap-nya lagi.
"Kak Nasib, Juwita enggak mencintainya ... Juwita hanya enggak enak untuk memberi jawaban." Wajah Juwita seperti bingung.
"Nah itu Kak Nasib, jika kita merasa berhutang budi ke pada se-seorang! Serba salah! Mangkanya lebih baik berusaha sendiri, selama mampu kita lakukan sendiri, jadi kita enggak merasa tergantung kepada orang lain!" Benu seperti menggebu-gebu.
Nasib tersenyum geli dalam hatinya, sepertinya Benu benar-benar cemburu.
Ternyata sosok lelaki yang dahulu mengaku Kakak Juwita dan menemuinya untuk memperkerjakan-nya, kini kembali untuk menuntut jasanya dahulu, dan yang membuatnya merasa tidak habis pikir, ternyata cinta Juwita yang di pintanya.
Sedang Benu yang kini tengah giat-giatnya meluluhkan hati Juwita, jelas cemburu melihatnya.
Nasib menghela nafasnya pelan, melihat bergantian keduanya yang saling menjaga pandangan. Tidak seperti biasanya.
"Kak Nasib?"
Nasib hampir terkejut.
Senyum kecil melihat Benu.
"Kak Nasib bisa apa Benu, yang punya hati kan, Juwita," ucapnya pelan.
"Tapi Juwita enggak suka sama tuh! Orang Kak Nasib!"
"Itu sama aja merongrong secara halus, baik di awal! Namun ..."
"Seseorang yang mencintai, akan melakukan apa aja demi orang yang Ia cintai," potong Nasib.
"Tapi dari awal Juwita memang enggak suka, menganggapnya hanya teman Kak!" Jelas Benu.
"Kak Nasib mengerti Benu, itu yang baru Kakak ucapkan, Juwita enggak mencintainya, tapi karena Dia mencintai Juwita, itu ... yang membuat rela mencarikan perkerjaan buat Juwita," tegas Nasib.
"Tapi Kak Nasib! Kak Nasib enggak tau apa yang telah di ambil dari Juwita selama ini." Benu menatap Juwita.
__ADS_1
Nasib pun menatapnya dengan bingung.
"Seperti ini Kak Nasib, misalnya seorang bajingan atau penjahat yang semua orang tau kejahatanya. dengan seseorang yang baik, semua orang tau Dia baik enggak pernah melakukan kejahatan, tapi orang enggak tau apa yang Dia ambil secara halus dari orang lain."
Nasib terpaku menatap pias serius wajah Benu tengah berucap.
"Begini Kak Nasib, mungkin orang mengira orang jahat itu selamanya buruk, sedang orang yang di kenal baik tentu sedikit sekali keburukan."
Nasib menyandarkan punggungnya di kursi, mendengarkan Benu.
"Tapi Kak Nasib, jika yang buruk sadar akan kelakuan buruknya dan benar-benar meninggalkanya, mungkin lebih baik buruk di awal Kak Nasib tapi akhir melakukan kebaikan."
Nasib manggut pelan, kembali mendengarkan.
"Tapi orang yang di kenal baik, Dia akan menyembunyikan keburukanya untuk menjaga nama baiknya, Dia akan membawanya hingga akhir hayatnya." Benu seperti menggerutu.
Nasib mengatupkan kembali mulutnya untuk berkata, matanya tertuju pada langkah lunglai mendekati.
Juwita dan Benu pun melihat berbarengan.
Keduanya pun serentak berdiri mengetahui siapa yang datang.
"Kak Adina," sapa keduanya pun berbarengan seraya manggut pelan, dengan menyingkir dari kursi di mana mereka duduk.
Dengan lesu Adina hanya tersenyum kecil.
"Ehmmm! Kak Nasib Juwita pulang dulu," ucap Juwita menarik tangan Benu.
Benu melirik tanganya.
Nasib tersenyum meng-iya-kan.
"Kenapa pada terburu-buru?" lirih Adina.
"Ehhhh!!"
Kejut Benu, merasakan tangan-nya di tarik begitu kuat oleh Juwita.
Nasib dan Adina tertawa kecil melihat langkah cepat keduanya keluar Kedai.
Terlihat Benu cengar-cengir memakai helm, sementara Juwita senyum manis duduk di boncengan meski Motor belum lagi di hidupkan.
Hanya senyum lebar Benu dan lambai tangan Juwita yang terasa berwarna menghiasi ranum senja yang akan terbenam dalam sorak riuh malam yang akan datang, seiring roda yang berputar menjauh.
Nasib masih tersenyum, saat Adina menatapnya.
"Apakah Aku boleh duduk?"
Nasib makin melebarkan senyumnya. Pertanyaan Adina seperti membuyarkan ranumnya senja.
"Seperti enggak pernah bersama aja?" sahutnya menatap lucu wajah Adina.
Adina langsung duduk dengan senyum tipis.
"Aku hanya ingin menghapus kebiasaan ku," ucapnya seperti ketus.
"bisa?" Nasib meneliti wajah dan rambut Adina yang terurai lepas.
"Bisa!" jawab Adina masih ketus.
"Cuma, kurang tidur aja," ucapnya dengan lemas.
__ADS_1
Nasib tertawa kecil, hal paling Ia suka bila tengah bersama Adina. Saat kata yang terucap selalu di akhiri dengan kejujuran.
"Aku juga sudah lupa, entah sudah berapa kali Aku memangku mu duduk?"
"Apa?" Adina bagai tidak percaya.
"Oke Nasib! Kita memang sudah enggak bersama! Tapi ... Apakah begitu mudah Kau melupakan semua?" Wajah Adina bergurat senja.
Nasib mengusap wajahnya dengan kedua tanganya. Menutupi tawanya.
"Kau mengejek-ku?" Adina dengan kesal menyandarkan punggungnya di kursi.
"Adina! Adina,"
"Bagaimana Aku melupakan ringan tubuh-mu? Aku hanya lupa berapa banyak?"
Adina langsung menarik rambut Nasib dengan gemas.
Nasib hanya meronta pelan.
Adina kembali menghempaskan punggungnya. Menatap Nasib dengan senyum gemasnya.
"Nasib, kenapa sih! Kita enggak bisa bersama?"
Nasib yang akan menghentikan tawa gelinya. Harus tetap terawa mendengar ucapan kesal di depanya.
"Bukanya lebih baik seperti ini? Kita bebas bercanda, bebas berjalan kemana kita ingin berjalan, dan Aku pun bebas merayu mu!" geli Nasib menjadi, melihat rona lucu Adina saat cemberut.
"Nasib! Pantas Kau enggak pernah merayu ku saat kita masih pacaran?" gerutu Adina mendengar ungkapan Nasib.
"Lho?" Nasib seperti menyangkal.
"Tapi Aku melakukanya dengan perbuatan," ucapnya geli.
"Perbuatan enggak senonoh maksud -mu?"
Adina dengan melotot.
Nasib hampir terpingkal.
"Aku hanya membelai mu, saat kau bersedih. Aku hanya memeluk mu, saat kau marah, Aku hanya mencium mu, saat kau bermanja. Enggak ada yang lain," jelasnya dengan menyimpan tawanya.
Wajah Adina bersemu, menundukkan tatapanya dalam putihnya meja.
Nasib menghela nafasnya, tersenyum menatap rambut Adina yang terurai.
"Bersama-mu adalah hal terindah yang pernah Aku rasakan." Adina dengan menatap pelan Nasib.
Nasib masih memgukir senyumnya, dengan rasa yang mulai menyeruak lirih kembali.
"Adina, Aku akan tetap kembali," ucapnya di antara dentum pelan hatinya. Menatap ke luar Kedai saat mata Adina terasa tajam menusuk ke relung hati.
Adina menarik nafasnya dalam. Menatap wajah yang terasa begitu menyiksanya di akhir-akhir kini. Wajah begitu hangat kala malam saat rindu menggumpal di hati, begitu hangat saat angan memikirkanya.
Bagaimana Ia akan melepaskan? Bagaimana hati melupakan? Sedangkan rindu dan cinta masih lagi bersemayam di dalam lubuk, meski bibir meng-iya - kan, bahwa semua akan baik-baik saja saat kasih hanya akan menjadi teman diakhir cinta, seperti apa yang telah Nasib utarakan padanya.
Perlahan menghembuskan nafas, menatap samar wajah yang begitu hangat tersentuh jemari rasa.
"Nasib." lirih di hatinya, terasa indah saat mengenang di saat bersama, begitu sakit akan semua yang baru di jalani.
Mendongak-kan wajahnya ke langit-langit Kedai, jika saja pintanya akan kebahagian orang yang begitu Ia cintai adalah pamrih cintanya terhadap keadaan, semoga jalan yang di pilih Nasib, adalah jalan untuknya menuju kebahagian hatinya.
__ADS_1
Adina menundukkan wajahnya kembali, mengusir perih rasa bersalah dan cintanya. Mengukir putihnya mika meja yang tidak seputih perjalanan cintanya dan Nasib dengan linang yang tertahan di kelopak matanya.
...****************...