ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
47.Cinta Yang Terkubur.


__ADS_3

Adina hanya terdiam saat Bi Narti memberikan tisu basah dan kering di atas kasur di dekatnya terduduk. Bahkan wajahnya pun seperti berat untuk menoleh langkah pelan Bi Narti ke luar kamarnya.


Tatap sendu matanya bagai tidak berkedip melihat foto di bawah lampu tidur.


Seperti berhati-hati tangan-nya meraih bingkai Foto, membawanya dalam pangkuan.


Bibirnya hanya terkatup rapat, sementara jemarinya mengusap pelan gambar Nasib.


Gerak jemari begitu pelan, meraba kaca di wajah Nasib.


Hela nafasnya terurai lembut, saat jemarinya berada di bibir Nasib.


Matanya mulai berkaca, menatap lekat senyum di dalam bingkai.


Bibirnya begerak kesamping, isak kecil pun terdengar dengan linang yang jatuh.


Hatinya terasa sakit, hatinya terasa perih, hatinya begitu terluka. Tapi bukan karena ulah dari orang di dalam bingkai.


Memejamkan matanya ,seperti tiada kuasa menanggung sebuah rasa di dalam dadanya.


Tetes dari kedua matanya pun terjatuh mengenai jemarinya.


Matanya tetap terpejam saat Bi Narti kembali masuk membawa sebuah kotak kardus kecil.


Bi Narti hanya menghela nafasnya tanpa bisa berkata melihat majikanya menangis.


Meletakan kardus di dekat kaki Adina, lalu seperti takut membagunkan orang yang tengah tertidur, beringsut pelan keluar kamar.


Adina membuka matanya, jemarinya mengambil tisu basah yang Ia inginkan. Mengusap kembali kaca di dalam bingkai, menyeluruh.


Satu tangan yang lain mengusap mata dan hidungnya.


Tiap usap di atas foto isak pun terdengar.


Mengambil kembali tisu kering, setelah membuang tisu basah yang tergulung kecil di lantai kamar.


Mengusap kembali foto Nasib. Air matanya kembali menggenangi kaca foto ber-bercak bening.


Tisu di jemarinya mengusap lagi.


Menyeluruh.


Membuang tisu kering di lantai. Menatap isak Foto Nasib, mengamatinya dalam.


Mengecup hangat kening foto Nasib, matanya Ia pejamkan, Air matanya kembali jatuh.


Denyut di dadanya terasa sesak saat kedua matanya terbuka dengan melihat lagi wajah Nasib.


Mengambil kardus di dekat kakinya, menaruhnya di atas kasur.


Jemarinya menyentuh lagi foto Nasib, lalu meletakkan foto ke dalam kardus.


Menutupnya rapat dengan lakban, isaknya pun mengiringi setiap tarikan lakban yang melekat di tutup kardus.


Memejamkan matanya dengan menundukan wajah, kini dengan kedua bahu bergerak-gerak.


Langkah pelan Bi Narti mendekatinya.


"Non." Bi Narti berdiri di dekat kasur.


Isak Adina menyahuti.


"Mau di taruh di mana Non?" Bi Narti melihat kardus di dekat Adina.


Hanya isak yang kembali menyahuti.


Bi Narti melebarkan bibirnya dengan menarik nafas pelan.


"Sayang Non, kalo di taruh di gudang," ucapnya pelan.

__ADS_1


Isak Adina menanggapi.


"Taruh di kamar Bi Narti aja iya, Non?" Bi Narti lagi.


Wajah Adina lekas terangkat.


Bi Narti senyum ala-ala gadis kemarin sore.


"Kasihan mas Nasib, enggak ada yang lihat di dalam gudang." Jelasnya kemudian.


Adina berdiri. Menatap Bi Narti dengan derai yang belum surut.


Bi Narti bagai gadis yang salah tingkah di perhatikan seorang cowok, Senyum-senyum di kulum gitu!.


Adina mengusap air matanya.


"Di kubur Bi."


Bi Narti hampir melongo.


Adina mengambil kardus di atas kasur dan memberikan kepada Bi Narti.


Bi Narti termangu, sepertinya sang majikanya serius berucap. Matanya meneliti kardus di kedua tanganya.


"Sudah di mandikan Non?"


Adina langsung menggerakkan kedua kakinya bergantian kelantai, seperti anak kecil yang tengah marah.


"Biasanya kan, kalo mau di kubur harus di ..."


"Langsung kubur aja!" seru Adina memotong.


Bi Narti langsung mengangguk.


"Enghhhh, Bi!"


Bi Narti kembali putar badan sebelum langkahnya terayun berlalu dari hadapan Adina.


Bi Narti seperti melongo, lalu melihat Kardus di tanganya. Lalu melihat Adina.


"Iya, di dalam tanah Non," ucapnya heran.


Adina seperti orang yang tengah komat-kamit membalikan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, lalu jemarinya Ia tempelkan di bibirnya.


"Masa di dalam kolam?" Bi Narti dengan akan bergegas pergi.


"Tapi Bi!" Adina seperti mencegah.


Bi Narti putar badan kembali.


"Ada apa lagi Non, mau di kubur enggak?" Tanya heran dengan perubahan sikap Adina.


"Kalo di kubur dalam tanah, rusak enggak Bi?"


Bi Narti menertawai Adina.


"Non!Non! Namanya di kubur iya, jelas rusak Non! Dimakan cacing!" Bi Narti kemudian.


"Tapi Bi!" Adina seperti orang bingung.


Bi Narti senyum-senyum, kembali akan pergi.


"Tunggu Bi!"


Bi Narti mematung, tidak putar badan seperti yang di lakukanya tadi.


"Enghhh! di dalam lemari aja gimana Bi?"


Bi Narti sontak balik badan.

__ADS_1


"Elohhhh! Non? Kalo di dalam lemari bukan di kubur namanya Non, tapi disimpan!"


"Di simpan atau di kubur Non? Bi-bi jadi bingung nih, Non?"


Adina semakin gelisah dalam berdiri, kadang berjalan kedepan-kebelakang, kesamping kanan dan kiri, dengan melihat berganti Bi Narti dan kardus di tanganya.


"Atau di cor aja sekalian?"


"Jangan Bi!" Larang Adina cepat.


Bi Narti senyum di kulum. Wajah Adina terlihat bergelut dengan rasa bimbang hatinya.


"Di simpan?" Bi Narti kemudian.


Namun Adina pun terlihat ragu untuk mengangguk.


"Lantas Non? Apa di buang aja di tempat sampah?"


"Jangan juga Bi!"


Bi Narti kini menahan senyumnya.


"Non!Non! Selama cinta masih ada dalam hati, biar kata nih, foto di kubur di dalam inti bumi. Foto yang lebih besar akan tetap Non lihat," ucapnya dengan mendekati Adina.


"Dalam fikiran, dalam setiap hela nafas di saat hati merindukannya." Bi Narti menghela nafasnya.


"Enggak usah Non Adina kubur, Ia akan hilang terkubur sendirinya jika cinta Non, telah tiada lagi untuknya." Bi Narti dengan senyum lebarnya.


"Tapi Bi?"


Bi Narti menghela nafasnya kembali, memberikan kardus kepada Adina.


"Rasa kecewa di hati, akan sejenak mengusik jernihnya hati. Semua ingin cepat terhenti dan berlalu. Non Adina akan lupa, bahwa hati lebih banyak menyimpan foto-foto indah di dindingnya dari pada kamar Non Adina."


Adina termangu, menatap dengan mata berkaca-kaca Bi Narti.


Bi Narti pelan membawa wajah Adina mengusap kepalanya di bahu.


Adina terisak tersengal.


"Hati Adina sakit Bi! Sakit!"


Bi Narti mengusap sayang rambut Adina.


"Adina enggak bisa melupakan Nasib! Adina enggak bisa Bi!"


Isak Adina semakin keras.


"Tapi Adina udah membuat Nasib kecewa!"


"Tapi Adina juga menyayanginya Bi!"


"Adina enggak bisa! Dengan rasa seperti ini!"


Bi Narti langsung mengangkat wajah Adina. Mengusap linang di kedua pipinya dengan lembut.


"Cinta yang terkubur adanya di dalam hati Non Adina sendiri, jika Non ingin menguburnya. Tapi jika cinta masih dapat Non rasakan, biarkan waktu yang menguburnya dengan rasa sakit. Karena cinta memang sakit di saat tiada lagi dapat bersama," ucapnya pelan.


"Non Adina enggak akan bisa melupakanya hanya dengan tidak melihat fotonya, kecuali Non Adina membencinya."


Adina terisak menggelengkan kepalanya.


Bi Narti tersenyum haru, menatap cinta di mata yang basah. Majikanya sesunguhnya begitu mencintai Nasib, merindukanya di setiap malam yang sepi yang di laluinya, dimana Nasib masih tinggal bersamanya.


Bi Narti membawa wajah Adina kembali dalam dekapnya.


Terkadang Ia pun sering merasa rindu akan canda Adina dan Nasib seperti hari-hari yang sudah berlalu.


Bi Narti tersenyum lebar, harunya menatap lampu tidur yang biasnya terlihat foto Nasib, yang bahkan dirinya pun tidak di perbolehkan membersihkannya, kecuali Adina sendiri.

__ADS_1


Seperti foto keramat aja? Bi Narti mengelus kepala Adina dengan senyumnya.


...****************...


__ADS_2