
Nasib hampir tidak percaya dengan apa yang Ia lihat.
Bi Narti senyum sumringah bersama Adina masuk ke dalam Kedai.
Dengan bergegas Ia pun menghampiri keduanya.
"Bi Narti, Adina!" Dengan menurunkan kembali Kursi di atas meja yang akan di lewati keduanya.
"Kangen banget Mas Nasib!" seru Bi Narti seperti ingin memeluk Nasib.
Adina langsung menariknya tanganya.
"Halahhh, Non! Bi-bi kan, hanya mewakili ..."
Adina mencubit keras lengan Bi Narti.
Nasib tertawa kecil melihat Bi Narti yang meringis sakit.
"Duduk Bi! Adina." Nasib masih memgang Kursi.
Bi Narti senyum-senyum. Adina cemberut kepadanya.
"Kenapa malam sekali?" Nasib setelah keduanya duduk.
"Tenang Mas Nasib, Kami enggak nyari mie ayam kok!" Sahut Bi Narti cepat.
Adina meliriknya.
Bi Narti tetap senyum.
"Cuma numpang istirahat!" Bi Narti lagi.
Nasib tertawa kecil menanggapi, melihat Adina.
Adina senyum kaku.
"Di kamar sekalian Bi?" Nasib dengan duduk di samping Bi Narti. Sementara Adina di depan Bi Narti.
Bi Narti menatap malu Adina.
Adina mengusap keningnya pelan, menutupi tatapan Nasib kepadanya.
"Memang dari mana Bi?" Nasib tersenyum senang.
Adina hanya mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jemarinya, seperti tengah bermain piano. Sementara matanya menatap tajam penuh ancaman ke pada Bi Narti.
Bi Narti seperti pantang goyah Smile good! Di bibir keringnya.
"Iya, dari rumah mau ke sini Mas Nasib!"
Adina langsung mengusap wajahnya dengan kedua telapak tanganya.
Nasib kembali tertawa kecil.
"Iya, udah Bi! Istirahat dulu aja, kalo capek?"
"Naik mobil kan, Bi?"Nasib dengan berdiri.
"Iya, Mas Nasib! Deket juga jarak dari rumah ke kedai!" Jawab Bi Narti, tanpa menghiraukan Wajah Adina yang berona kesal.
Nasib tertawa geli.
"Mas Nasib! Bi-bi jus lemon aja!"
Nasib yang memang akan menuju dapur, berdiri sesaat.
"Pake ember Bi?" tanyanya geli.
Adina yang sejak masuk ke dalam Kedai belum sempat tersenyum lebar, kini harus menutupi mulutnya dengan tisu. Berpura mengelap.
"Jangan Dong! Pake gayung Mas Nasib!" Bi Narti dengan tingak-tinguk ke arah dapur.
"Iya, Bi sebentar. Nasib cuma mau menutup pintu tengah!" Nasib dengan bergegas ke dapur.
__ADS_1
Adina langsung tertawa tanpa bersuara dan mencibir Bi Narti.
"Sekali-sekali Non! Biasanya kan, Bi-bi yang buatin minum kalo Mas Nasib di rumah Non!"
Kilah Bi Narti menjawab cibir Adina.
Adina melebarkan bibirnya. Lalu mengusap wajahnya dengan tisu melihat Nasib berjalan dengan menghampiri lemari pendingin minuman.
"Mas Nasib! Nanti yang bayar Non Adina!" Bi Narti melihat minuman berkaleng di kedua tangan Nasib.
Nasib senyum-senyum.
"Bi-bi kan, udah gajian," ucap Nasib dengan memberikan minuman ke pada Bi Narti dan Adina.
"Terimakasih," ucap Adina dengan senyum.
Bi Narti mencibir pelan.
"Itu dia, masalahnya!"
Nasib termangu melihat Bi Narti.
"Semenjak Mas Nasib jarang di rumah lagi! Non Adina jadi lupa dengan bulan muda!"
Adina harus kembali mencubit tangan Bi Narti. Namun kali ini di tangan yang akan meminum.
Sontak Bi Narti berdiri.
"Iya, ampun Non-Non!"
Nasib tertawa dengan mengelap tumpahan air di atas meja dengan tisu.
Adina terdiam kesal.
"Kalo tumpah semua, haus Non!" Gerutu Bi Narti dengan duduk kembali.
"Haus Bi!" Nasib dengan sisa tawanya. Tapi langsung terdiam melihat Adina yang juga tengah menatapnya.
"Haus banget." Celetuk Bi Narti Lagi.
"Kau enggak minum Adina?"
"Nanti aja." Pelan Adina melihat minuman-nya. Namun tanganya cepat memegangnya erat saat Bi Narti akan mengambilnya.
"Halah, Non!Non! Kaya foto aja, di dalam kamar aja! Enggak boleh di sentuh tangan orang lain?"
Adina langsung melotot.
Nasib seperti tersipu menatap wajah Adina.
"Nih! Non! Bi-bi pegang langsung orangnya!" Bi Narti memegang tangan Nasib.
Nasib senyum geli.
"Kalo cinta dan sayang itu, jangan kelewatan Non! Iya enggak Mas Nasib?"
Nasib semakin senyum lebar.
"Foto aja harus punya lebel, boleh di lihat enggak boleh di sentuh!" Bi Narti seperti tengah mengoceh.
Adina mengusap lagi keningnya,menahan gemas hatinya.
"Kebangetan! Non!" Bi Narti lagi.
Adina menghela nafas pelan namun dalam.
"Kalo udah,Kita pulang yuk, Bi." Adina dengan nada mengancam.
"Elohhh! Non? Bukanya tadi Non Adina yang uring-uringan pengen ke kedai? Bi-bi kan, hanya menemani Non."
Adina langsung melebarkan bibirnya.
"Iya udah, Adina. Kalian ke kedai kan, jarang-jarang."Nasib melihat Bi Narti.
__ADS_1
"Bener Mas Nasib! Lagian di rumah suntuk enggak ada Mas Nasib!" Bi Narti menimpali.
"Di tambah foto Mas Nasib yang ..."
Adina pun berdiri marah.
"Adina." Nasib pun memegang jemari Adina yang masih berada di atas meja.
Adina melengos menahan marah kepada Bi Narti.
"Bi-bi ke kamar kecil dulu Mas Nasib, kebelet!" Bi Narti segera bergegas pergi tanpa permisi kepada Adina.
"Duduklah Adina, masa Kau marah dengan Bi Narti?"
Adina termangu melihat ke arah Bi Narti yang baru saja berlalu.
"Adina." Nasib menarik pelan jemari Adina.
Adina melihatnya.
Perlahan melepaskan jemari Adina.
"Bi Narti yang mengajakku." Adina dengan duduk.
Nasib hanya tersenyum.
"Lalu kenapa? Jika Kau yang mengajak?" Tanya-nya melihat rona wajah Adina yang masih terlihat marah.
Adina melayangkan tatapanya ke arah kipas angin yang sudah di matikan.
"Aku kangen padamu Adina."
Adina tertegun, tiada sanggup untuk melihat Nasib.
Degub hatinya bagai berputar dalam kipas angin yang Ia tatap, membuat hembusan rasa yang menyejukan relung yang pengap.
Ia pun kangen! Rintih hatinya melihat Nasib.
"Sayangnya, Aku enggak bisa memelukmu lagi Adina."
"Bi-sa!" Latah kaku Adina di hati dari bungkam bibirnya.
"Aku hanya bisa memelukmu dalam setiap kenangan Kita." Nasib menghela nafasnya.
Adina meluruhkan tatapnya di jemarinya yang saling berpelukan di atas meja.
"Apa Kau sudah menyimpannya atau menguburnya juga?" Senyum Nasib lagi.
Adina mengeleng pelan dengan tersenyum.
"Masih sama seperti sedia kala Nasib. Bahkan lampu tidurku masih menyinari fotomu." Adina tersenyum getir.
Nasib menatapnya haru.
"Tadinya Aku berniat menguburnya," jelas Adina seperti geli dengan dirinya sendiri.
Keduanya tertawa pelan.
"Dan salah satu tujuanmu kembali ke bukit? Bukankah untuk mengubur tentangku?" Adina setelah melihat Nasib berhenti tertawa.
Sesaat Nasib melayangkan tatapnya keluar Kedai. Wajah Bukit menyeruak di dalam benaknya.
"Orang pertama yang enggak akan terima jika Aku melakukanya. Adalah ibuku Adina." Nasib dengan kembali melihat Adina.
"Aku dan ibuku akan selalu mengenangmu," ucap Nasib menyentuh jemari Adina.
Adina terpaku dalam tatapan, sesak di hatinya menyirnakan sejuk yang belum lama mendesirkan hati, berganti lirih yang mulai menusuk rasa. Apa lagi yang bisa Ia lakukan kini? Sementara cinta yang ada akan mengambang dalam rindu yang dingin.
Semua akan menjadi hisapan mimpi di kala malam.
Hanya siksa yang akan di peluknya, saat rindu mengguncang kalbu. Dan itu akan Ia lewati bersama manisnya kenangan. Dan Ia pun akan selalu mengenangnya meski ...
"Haus Mas Nasib!"
__ADS_1
Nasib maupun Adina tercekat, melihat Bi Narti yang berdiri dengan membalikan kaleng minuman-nya.
...****************...