ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
29. Monumen


__ADS_3

Nada mempermainkan dua Sumpit di tangannya, memutar-mutarkanya di dalam Mangkuk yang kosong. Matanya seperti tidak berkedip melihat Nasib melahap pelan Mie Ayam kesukaan-nya.


"Apa kau hanya ingin melihatmu makan Nasib?" tanyanya heran. Sejak tadi Nasib hanya makan sendiri tanpa memperdulikan-nya.


Nasib tersenyum, lalu kembali melahap Mie Ayam.


"Nasib?" Nada meletakkan Sumpit yang di pegangnya di dalam Mangkuk.


"Apa maksud mu Nasib?" tanyanya lagi.


Nasib meletakkan sendoknya, Mie Ayam dalam Mangkuk telah habis Ia telan. Mengusap bibirnya dengan tisu yang tersedia di atas meja.


"Bagaimana hidangan mu Nada?" tanyanya setelah meremas hingga kecil tisu di tangan.


Nada tersenyum heran.Sejak tadi Mangkuknya kosong, dan sekarang di tanya tentang hidangan?


Nada menggelengkan kepalanya melihat Nasib.


Nasib menarik nafas pelan lalu menghembuskannya. Lalu tertawa kecil.


"Nasib?"


Nada menumpukan kedua tanganya di atas meja.


"Aku teringat Cahaya, Dia pernah melakukan hal yang sama padaku." Nasib dengan mengaduk Mangkuknya yang telah kosong dengan sendok.


Nada menatapnya tajam.


"Apa kau masih ingat dengan-nya?"


Nasib menghentikan gerakkan tanganya. Menatap tajamnya mata yang tengah terarah kepadanya.


"Jelas, Aku jelas ingat padanya," jawab Nada bercampur heran.


"Aku pikir kau lupa dengan sahabatmu?"


Nasib tersenyum.


"Lupa? Bagaimana bisa Aku lupa padanya Nasib? Cahaya sudah menjadi teman bagiku," ucap Nada dengan nada menyangkal.


Bibir Nasib seperti tertahan dalam senyuman, melihat lepas lalu-lalang kendaraan di luar Kedai, dalam setiap sinar yang saling bertubrukan di tengah jalan, menciptakan perih dalam mata yang terasa.


Hela nafasnya seakan menghimpit gelora di dada akan rasa sakit yang lirih merintih.


"Oh iya, mengapa Kau enggak menghadiri acara pernikahan-nya Nada?"


Nasib kembi menatap Nada.

__ADS_1


Nada tersenyum, dengan kembali memainkan Sumpitnya seperti semula.


"Aku enggak sempat Nasib, saat itu tengah sakit," jelasnya pelan.


Nasib memperhatikan mata yang tengah melihat Sumpit. Ada yang berubah dari wajah yang dahulu Ia dekap, ada yang berubah dari kata yang dahulu selalu terngiang indah sebelum memejamkan mata, ada yang lain dari bibir manis yang begitu hangat saat menyentuhnya.


Nasib kembali melihat ke luar Kedai, menahan rasa kemelut di dalam dada.


"Nada, Aku sangat beruntung pernah memiliki mu, cantiknya wajahmu secantik hatimu, itu yang ku rasa saat bersamamu. Begitu bahagia saat itu."


Nasib tanpa menatap Nada.


"Tulus mencintai orang udik sepertiku." Nasib tersenyum kecil.


"Aku merasa dalam mimpi, Aku merasa dalam khayalan cinta. Tapi kau ada bersamaku saat itu,"


"Tangis mu seperti duri dalam hatiku, jika Aku melihat mu menangis. Aku enggak mau melihat mu menangis,"


"Aku ingin kau ceria dalam manja dan canda, membuat malam berpelangi dalam rindu ku,"


"Putih kasih dapat ku rasakan saat itu...."


Nasib menghela nafasnya, menatap perih wajah Nada.


"Saat itu pun Aku sering bertanya pada diriku sendiri, apa kah Nada benar-benar tulus mencintai orang yang enggak punya apa-apa? jika pun iya, apakah yang dirinya harapkan di balik gelamornya kehidupan kota?"


"Dan senyum-mu seolah tulus saja yang kau harapkan, saat itu pun begitu percaya,"


"Ku bawa senyum-mu hingga kini, ku ukir di dalam hatiku menjadi sebuah monumen yang selalu menjadi pengingat akan sebuah ketulusan,"


"Namun Ku rasa ada yang berubah, dari semua yang pernah Ku rasakan,"


"Aku ingat pelukmu padaku, Aku ingat tatap matamu, Aku ingat kecupmu, Aku ingat betapa cinta mampu melakukan apa saja. Tapi bukan untuk melampaui batas kejujuran mu Nada."


Nada termangu.


"Aku, Aku enggak mengerti Nasib..."


Nada seperti bingung.


Nasib tertawa seperti ada sesuatu yang lucu.


"Aku senang, Aku senang kau enggak mengerti Nada. Bahkan Aku pun enggak mengerti dengan apa yang kau lakukan?"


"Nasib! Aku melakukan apa?"


Nasib langsung terdiam menatap paras di depanya.

__ADS_1


"Apa kau mengenal suami Cahaya?"


Nada seperti tercekat, meluruhkan tatapanya dari Nasib, memalingakan wajah ke arah meja di dekatnya.


Hening terasa mulai menyelimuti keduanya, di antara detik jam di dinding dan debar di dada. Suara hati seakan tertahan di depan Kedai, terparkir lama tertinggal pemiliknya.


Lidah seperti tertekuk untuk bisa bersuara saling menanti kata yang akan terucap.


Nasib masih menatap Nada, menghela nafas pelan. Paras cantik di depanya hanya menutupi tatapan dari dirinya.


"Cinta, apakah karena cinta Nada?"


Tiada suara atau pun tatapan Nada seperti ingin menyahuti.


Nasib menarik nafas beratnya. Mengingat wajah Cahaya dalam mata, merasakan perasaannya jika mengetahui apa yang Nada lakukan? Tersingkirkan dengan cara yang halus.


"Apa Aku memiliki sesuatu Nada? Sedangkan menjamin masa depan mu aja begitu samar di langkah ku." Nasib seperti menyesali tindakan Nada.


"Kau dan Adina, enggak akan betah hidup dalam lumpur pelosok yang penuh duri, dan dari sengat terik mentari yang mencabuk punggung,"ucap Nasib hampir berkaca-kaca.


"Kau berubah, cinta yang ada kini hanya seperti sebuah pertaruhan menang dan kalah!"


"Sedang Kau tau Nada! Menang atau kalah pun kau akan mendapati seorang yang enggak punya apa-apa! bahkan cinta ini pun enggak bisa menghilangkan rasa lapar mu!"


Wajah Nasib memerah, menahan rasa di dadanya karena marah.


Nada berdiri tanpa menatapnya langsung berlari keluar Kedai dengan isak yang tertahan.


Nasib meluruhkan tatapnya akan tubuh Nada yang berlalu, menahan sesak yang baru menghimpit di dada, meredakan segala rasa amarahnya akan sikap tidak adil Nada kepada Cahaya.


Sesaat terbesit sesal meninggalkan Bukit yang penuh ketidak palsuan, dari hijaunya ilalang yang sering menyentuhnya, dari terik yang memandikannya dengan keringat di balik rimbun pepohon teduh, dari kabut yang menyenyakkan tidur dalam hangat selimut, dan dari cinta dan teman-temannya yang tertawa di terbitnya Matahari pagi.


Nasib mengusap dadanya dengan menarik nafas pelan, melihat lampu-lampu kendaran yang masih dan tanpa jemu hilir-mudik di jalan raya.


Angannya seakan tergerus rasa kecewa dengan cinta yang kini ada di hati. Pagar-pagar harapan yang tertutup rapat untuk menjaga apa yang ada di hati, bagai terbuka perlahan.


Hanya tinggal monumen di dalamnya masih tegak berdiri, untuk dapat lagi mengukir cinta yang sakit.


Perlahan berdiri, mendekati pintu folding gate yang masih terbuka lebar. Sementara malam telah menutup cerah senja sedari tadi.


Perlahan menarik handel foldinggate untuk menutup Kedai, jika bukan karena ingin berbicara dengan Nada, sudah sejak tadi pula Ia telah menutupnya.


Apa yang baru Ia temukan dari Nada seperti membuka mata hatinya akan kecurangan cinta yang telah terjadi.


Jika cinta dapat berbuat sejahat itu? hilang pula-lah hati yang putih. Tinggalah cinta yang ternoda.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2