ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
35. Mimpi


__ADS_3

"Kak Nasib...." Mata Juwita seperti ragu melihat ke arah sesuatu.


Nasib yang baru datang nampak heran dengan sikap Juwita. Nampaknya pula tengah akan menyuguhkan pesanan Mie Ayam yang di pegangnya.


Mata Juwita menunjuk cepat ke samping.


Nasib menoleh.


Di meja yang berada di sudut ruangan nampak olehnya Nada tengah melihatnya, tersenyum.


Nasib melihat Juwita kembali.


Juwita menunjuk Mie Ayam yang di bawanya dengan matanya kembali.


Nasib mengambilnya.


Berjalan pelan mendekati Nada yang duduk berpangku dagu dengan kedua tanganya.


Nasib segera meletakkan Mie Ayam di depan Nada.


Nada menyambutnya dengan senyum lebar.


"Terimakasih," ucapnya pelan.


Nasib mengangguk tersenyum, perlahan meninggalkanya.


"Kak, Kak Adina?" Juwita saat Nasib bediri di dekatnya.


"Rumahnya terkunci," ucap Nasib. Tanganya pun membersihkan Mangkuk yang akan di gunakan Juwita.


"Berarti yang Juwita lihat benar kak Adina,"


"Apa Kak Nasib tau kemana kak Adina?"


Nasib menghela nafasnya pelan.


Juwita menarik nafas dalam melihat Nasib, sempat tadi Dirinya melihat seperti Adina di seberang jalan Kedai, tergesa masuk ke dalam sebuah Mobil saat melihatnya. Dirinya pun langsung memberitahukan pada Nasib.


"Apa kak Nada sedari tadi?" Nasib begitu pelan.


Mata Juwita seperti mengintip Nada dari balik kaca lemari dagang.


"Belum lama bener," jawabnya pelan pula.


Nasib segera membuat teh hangat.


Juwita pun segera mengantarkan pesanan yang baru selesai di buatnya.


Nasib kembali mendekati Nada dengan membawa Teh hangat.


Nada kembali tersenyum saat Nasib meletakkan-nya di depannya lagi.


"Terimakasih," ucapnya kembali.


Nasib pun mengangguk tersenyum.


"Kemarin Kau memberiku mangkuk kosong, jadi Aku sekarang meminta yang penuh."


Nasib membalikkan kembali tubuhnya yang baru akan meninggalkan Nada.


"Aku kan pernah bilang, sama Nasi biar kenyang," tanggapnya tanpa menghilangkan senyum.


"Tapi jika Kau kurang, kau bisa pesan lagi." Nasib meninggalkan Nada.


Rembes hati dalam geli seolah terpancar dari wajah Nada. Dari sebuah suap menatap langkah Nasib.


"Juwita layanin Kak Nada, Kak Nasib ke kamar sebentar," ucap Nasib menghampiri Juwita.


"Kak Nasib sakit?" Benu dengan membawa Mangkuk dan gelas kotor.


"Hanya ingin berbaring sebentar,"senyum Nasib menepuk pelah pundak Benu.


Benu tertawa kecil berjalan mendahuluinya.

__ADS_1


"Kak Nasib rebahan aja dulu, biar Benu dan Juwita aja yang melayani pembeli." Benu ketika melewati pintu kamar.


Nasib mengangguk pelan tersenyum, membuka pintu yang tidak terkunci.


Memperhatikan kasur busa yang beralas karpet lantai, dengan satu bantal dan guling. Segera membaringkan tubuhnya menatap lampu bohlam yang tergantung di plapon.


Memejamkan matanya, mengusir penat yang terasa menggerogoti pikiranya.


Wajah Adina perlahan terbayang, bahkan wajah-wajah yang pernah dan masih ada dalam langkahnya seperti bermunculan dalam gelap di matanya.


Sayu kenangan kian hingar dari riuhnya suara di depan. Semilir rasa bagai berbisik membawa rasa kantuk saat mata kembali terbuka.


Kembali menutup mata.


Masa-masa kecil seperti jelas terlihat di gelapnya mata, berlari, tertawa, menangis, semua yang pernah di alami seolah kembali bermunculan.


Suara-suara yang memanggilnya dari balik pekat kabut, dari puncak Bukit, dari dinding tembok, dari malam yang berbintang.


Seakan berada di samudera luka, samudera suka, samudera yang teramat luas.


Seakan menanam tunas-tunas hijau di punggung Bukit, di tengah pasar dan di dalam Kedai.


Tawa-tawa dari orang yang asing, tawa-tawa dari orang yang sangat di kenali menggema dalam ngarai yang basah tertutup embun pagi.


Warna yang lembut kian hangat dalam balur kasih yang pergi, satu-persatu jejak langkah meninggali dengan tawa yang merekah.


Butir-butir dari serpihan hati hancur perlahan dalam rindu yang memudar.


Jingkrak serangga di malam melantunkan cerianya hati yang berpadu dengan dingin dan Rembulan.


Desik-desik ilalang melambai-lambai, manggil hati dengan kepiluan.


Rona hujan yang tenang, berpelangi di usai redanya namun tiada terang.


Gundah jiwa dalam penantian, surut dalam langkah yang tidak pasti.


Merenung di puncak berangin deras, tersapu kicau burung yang terbang menuju kaki Bukit.


Kumbang kelana yang mengepak cepat di sekuntum bunga di rindang semak, hinggap perlahan meneguk rasa.


Titian-titian kasih yang sulit di daki, kian licin berpagar kabut.


Jingga-jingga senja di balik wajah dedaunan mengintip terang, menembus jauh hingga ke pematang.


Gubuk tua di pinggir jalan, setia menatap jauh ke dalam pintu. Suara penggorengan terdengar, suara rebusan air terdengar, suara panggilan terdengar...


"Bu!!!"


Nasib memanggil berteriak.


Suara langkah-langkah berlari pun terdengar.


"Kak Nasib! Kak Nasib!"


Nasib tersentak bangun, melihat wajah Juwita dan Benu.


"Kak Nasib bermimpi?" Juwita berwajah cemas.


"Kita kaget Kak, kirain ada apa?" timpal Benu yang tadi pun sempat berlari mendengar teriakan Nasib.


Nasib mengusap wajahnya, mengangguk pelan.


"kalo Kak Nasib capek sebaiknya istirahat aja Kak,"ucap Juwita dengan wajah masih terlihat cemas.


"Aku sudah bilang pada Kak Nasib tadi," timpal Benu lagi.


"Juwita, tolong buatkan Kopi buat Kakak,"ucap Nasib menatap Juwita.


Juwita mengangguk. Benu pun menepuk pundaknya.


"Kita ke depan dulu kak...." Benu tersenyum, dengan menarik tangan Juwita untuk segera kembali ke luar kamar.


Nasib menggangguk tersenyum. Wajah-wajah yang membantunya begitu hangat tersenyum di mata. Perlahan melihat seluruh dinding kamar.

__ADS_1


Matanya tertuju pada lemari pakaian satu pintu yang terbuat dari plastik. Senyumnya kembali terukir dengan haru, mengingat lemari kayu yang ada di kamar Retno.


Tatapnya tanpa kedip memandanginya. Gurat-gurat lapuk tiada terlihat di lemari plastik, tidak seperti yang ada di rumahnya. Setiap kali Ibunya menyapunya.


Nasib menundukan wajahnya dengan senyuman mengingatnya.


"Nasib."


Nasib langsung melihat ke arah pintu.


"Kopimu." Nada dengan masuk membawa segelas kopi hitam dengan tatakan piring kecil.


"Apa Kau rindu Bukit?" Nada bersandar punggung di dekat pintu.


"Aku hanya bermimpi," jawab Nasib menatap ke luar pintu kamar.


Pelahan meminum kopi yang baru di berikan Nada. Lalu kembali menerawang jauh di luar pintu kamar.


Nada memperhatikan.


Hembus udara hangat siang membuat kening keduanya berkeringat.


"Nada." Nasib menatap pias wajah yang berdiri menatapnya.


"Iya?" pelan Nada.


"Nada mungkin Kau tau ... Kita enggak bisa bersama lagi,"


"Kita enggak akan bisa bersatu." Nasib menatap dalam mata Nada.


"Adina pun telah memberikan kebebasan padaku, untuk menentukan sikap ku,"


"Kalian adalah cinta yang pernah ku miliki, akan Aku kenang."Nasib menghela nafasnya pelan.


Perlahan kembali meminum kopi.


Nada masih memperhatikan.


"Aku ingin kau pulang, enggak ada lagi yang perlu Kau jelaskan, atau kau benarkan,"


"Semua yang terjadi saat ini ... Kita lupakan bersama. Kita akan kembali seperti dulu, saat Kita asing tanpa saling mengenal." Nasib meluruhkan tatapanya, mata Nada semakin tajam menatapnya.


Tersenyum menundukkan wajah.


"Kita anggap semuanya, hanya mimpi di siang hari, hanya sebatas mimpi Nada," jelas Nasib menatap kembali mata Nada.


"Aku enggak mau lagi cinta di hati hanya menyiksa perasaan kita masing-masing, kita sudahi semunya sampai di sini. Kau, Adina dan Aku, sekali lagi anggap semua sebatas mimpi di siang hari,"


"Pulang lah Nada, temukan orang lain dan bahagialah,karena enggak ada lagi kebahagian yang kau harapkan di sini." Nasib berdiri mendekati Nada.


Nada masih lagi tanpa suara menatapnya, meski matanya tengah berlinang.


"Dan jika Kau bertemu Adina, Aku ingin kau mengatakan apa yang baru Aku katakan padamu,"


"Karena kebahagian kalian bukan ada padaku." senyum Nasib menatap keluar kamar.


Nada tertunduk, mengusap linang di matanya dengan isak lirih.


Lalu melihat Nasib kembali dengan mengambil kopi di tanganya, meminumnya pelan.


Nasib memperhatikan.


"Anggap Aku bermimpi meminum kopimu," ucap Nada dengan berlalu tergesa.


Nasib menundukan wajahnya menatap lantai yang dingin. Sedingin hatinya, membeku dalam gelora yang sakit.


Perlahan meminum kopinya.


Mimpi, iya! Seperti mimpinya barusan, semua akan menjadi mimpi dalam hidupnya.


Perlahan menoleh melihat lemari plastik. Hatinya berdenyut, tersenyum getir, menghela nafasnya dalam.


"Bu, Nasib rindu ibu," ucap hatinya dengan mata berkaca.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2