ADINA & NASIB

ADINA & NASIB
25. Salju Di atas Kolam


__ADS_3

Nasib mengamati Motor sport mahal yang terpakir di depan pintu pagar, sepertinya Ia pernah melihatnya beberapa waktu yang lalu.


"Ronal," terbesit jelas di benaknya. Benar saja terlihat Ronal keluar dari Rumah dengan wajah terlihat marah. Tatap di sorot matanya penuh dengan kebencian melihatnya.


Bejalan tergesa menuju ke arahnya.


"Ronal."


Sapa Nasib saat Ronal yang sudah berdiri di depanya. Dengus marah Ronal terdengar sangar. Tangan kasarnya menarik tubuh Nasib agar menyingkir dari dekat Motor.


Tanpa kata, hanya sorot mata tajam.


"Ronal!" Nasib berusaha menahan Ronal yang akan pergi.


Ronal menepis tangan Nasib.


Nasib terpaksa membiarkan Ronal pergi dengan Motor Sportnya meninggalkan suara keras di knalpotnya.


Nampak Bi Narti berdiri di depan pintu saat Ia melihat kembali ke arah Rumah.


Nasib segera mendekati.


"Dasar enggak tau sopan santun!" seru Bi Narti.


Nasib kembali menoleh ke arah pintu pagar.


"Ada apa Bi?" tanya-nya kemudian.


"Itu Mas Nasib ... Orang yang tadi! Datang marah-marah enggak karuan! Dasar sinting!" oceh Bi Narti lagi.


"Adina?"


Nasib dengan rasa cemas.


Dan tanpa menunggu jawaban, Ia pun segera masuk.


Bi Narti mencibir ke arah gerbang,lalu masuk mengikuti Nasib.


Langkah tergesa Nasib terhenti di anak tangga pertama, mata nya melihat ke arah meja dapur.


Melihat Bi Narti sesaat.


Bi Narti mengangguk pelan.


Nasib segera mendekati Adina yang tengah duduk membelakanginya.


Segera membelai rambut Adina dengan duduk di dekatnya.


"Maaf, Aku sedikit telat pulang,"ucapnya pelan.


Adina meliriknya.


Nasib membelai pipi Adina.


"Apa Ronal ...?"


Adina langsung menggelengkan kepalanya.


"Bi-bi udah langsung mengusirnya Mas Nasib!" sahut Bi Narti tiba-tiba.


Nasib menatap seakan tidak percaya.


"Apa yang di katakan-nya Bi?" tanyanya menatap Adina.


"Kasar baget Mas!" jawab Bi Narti dengan geram yang tertahan.


"Ronal menanyakan Nada."

__ADS_1


Adina bersandar pipi di jemari Nasib.


Nasib mengusapnya dengan ibu jarinya.


"Apakah Kau tau kemana Nada?"


Nasib tersenyum kecil, menutupi debar hatinya.


Sepertinya Ia belum ingin mengatakan tentang Nada ke pada Adina, mengingat kesehatan-nya belum sepenuhnya baik.


Pelan menggeleng dengan masih mengusap pipi Adina.


"Sepertinya mereka tengah bertengkar?"


Nasib lebih mendekatkan kursinya. Membawa pipi Adina dalam dekap di dada, mebelainya dengan rasa sayang.


"Kita juga sering bertengkar," lirih Nasib.


Adina tersenyum pucat dengan mata terpejam.


Bi Narti yang melihat hanya melebarkan bibirnya, selebar yang Dirinya bisa, dengan berjalan meninggalkan keduanya.


Nasib menatap lampu di atasnya, menatap sinar yang bisa menghapus rasa hatinya. Bagimana Ia mengatakan ke pada Adina, bahwa hari ini sebelum pulang Ia bersama Nada dan juga memeluknya seperti yang Ia lakukan kini.


Perlahan memejamkan mata, berharap apa yang Ia lakukan bukanlah sebuah kesalahan atas keadaan dari cinta yang semua insan tidak menginginkan-nya.


Jika semua adalah sebuah kelemahan dari Dirinya? lalu setegar apa hati yang sanggup melihat air mata yang terus jatuh?


Nasib membuka matanya, Adina menyentuh pipinya.


"Nasib, Aku ingin duduk di kolam."


Adina mengangkat kepalanya, melihat Nasib.


"Angin malam Adina." Nasib seperti mengingatkan.


"Nasib,"ucap Adina begitu lirih.


Meski berat hati dengan angin malam yang akan menerpa tubuh Adina, Ia harus mengikuti keinginan-nya. Suasana hati yang tenang dan merasa damai akan memudahkan Adina lepas dari beban sakit di pikiranya.


"Apa perlu Ku gendong?" Bisik Nasib.


Senyum pucat Adina terlihat dengan kedua tangan melingkar di leher Nasib.


"Biar Aku berjalan," bisiknya lirih.


Nasib menarik nafas pelan dan tersenyum.


Mengamati wajah kasih yang lemah, pucat di bibirnya membuat pucat pula hati untuk melihatnya. Terbayang saat tertawa, bercanda dari bibir yang ranum di saat sehat.


Semua terasa indah, terasa nikmat untuk merasakan semua yang di rasakan. Begitu luasnya malam terasa saat sehat masih di rasa.


Nasib menuntun pundak Adina berjalan memuju kolam yang berada di belakang Rumah.


"Ternyata sehat begitu berharga."


Nasib tersenyum mendengar Adina seperti berbicara sendiri.


"Tentu Adina, kau enggak bisa berenang saat sakit," jawab Nasib melihat ke arah air dalam kolam.


"Apa Aku berharga bagimu Nasib?"


Adina duduk perlahan di kursi.


Nasib menghela nafasnya. Menatap angkasa malam yang baru mengeluarkan selimut larutnya. Masih memegang kedua pundak Adina,meremasnya begitu pelan.


"Semua yang ada di hatiku berharga Adina," ucapnya melihat Adina.

__ADS_1


"Apakah Nada termasuk di dalamnya?"


Adina dengan senyum pucat.


Nasib menghentikan remas tangannya, melihat riak tenang air yang terbawa angin menimbulkan bias sinar dari cahaya lampu di atasnya.


Duduk perlahan di samping Adina, memegang jemarinya, menatap wajah yang sayu.


"Begitu pula Cahaya juga termasuk di dalamnya," terangnya pelan.


"Aku akan menghidupkan lilin untukmu, sinar kecilnya bisa menghangatkan mu."


Nasib berdiri dengan bergegas ke dalam dapur.


Adina terdiam masih menatap beningnya air kolam.


Bening yang sering membasuh kulitnya, dari kotornya debu-debu rasa yang kadang menyumbat perasaannya. Segarnya masih lagi dapat Ia rasakan, meski terkadang bisa membuatnya kembali sakit, namun bisa membuat pikirannya kembali jernih.


Adina menoleh pelan, remas tangan Nasib terasa kembali.


Sinar kecil di atas piring kecil di tangan kanan Nasib terlihat tenang dalam hening angin yang berhembus.


Nasib tersenyum, meletakan Lilin di atas meja kecil yang berkaca bulat.


Adina terkejut Lampu di atasnya dan sekitar pun tiba-tiba mati seketika. Hanya tersisa di ujung kolam renang di dekat tembok pagar.


"Aku yang menyuruh Bi Narti," ucap Nasib dengan duduk kembali.


"Kenapa?"


Adina dengan heran.


Nasib melihat wajah Adina di sinaran kecil lilin.


"Anggap saja therapi," jawab Nasib mengusap pelan bibir Adina yang pucat dengan ibu jarinya.


Adina terpejam.


"Suasana hening dan tenang dengan sedikit cahaya mungkin bisa menenangkan hatimu dalam renungan, membuka ruang di pikiranmu. Jika hati tenang maka pikiranmu akan tenang pula," jelas Nasib lagi.


"Apa kau sering melakukan-nya?"


Nasib menggeleng tersenyum.


"Lantas?"


Nasib menghembuskan nafas pelan, melihat gelap di sekelilingnya.


"Di bukit lebih banyak gelap dari pada cahaya listrik. Sebelumnya hanya ada sentir yang menerangi,"


"Cukup hangat untuk mengusir rasa dingin yang mengalir di hati,"


"Apa yang kau rasakan di antara terang dan keramaian saat kau sakit Adina?"


Nasib mengusap rambut di telinga Adina.


"Kau akan merasakan sepi dalam sakit,kau akan merasakan gelap dalam sakit, karena hati tengah sakit,"


"Tenangkan hati dan pikiranmu dalam suasana seperti ini."


Nasib dengan rasa pilu melihat kondisi kasih yang terasa lemah. Angsa putihnya hanya mampu menatap sayu jernih air yang sering membasahi sayap-sayap cintanya.


Salju seakan memenuhi di atas kolam renang, membekukan semua yang ada. Tebalnya membuat lantai yang berkaca dengan dingin di bawahnya yang akan menusuk sakit jika menyentuhnya.


Perlahan menyadarkan punggungnya di kursi, membiarkan Adina dalam keheningan dan kelam. Sinar lilin yang menyala akan memberi ruang hangat pada udara malam yang berhembus semilir yang menerpa tubuh, dalam keheningan pula akan membawa angan dalam rasa yang tenang.


Nasib menghela nafasnya pelan, menoleh Adina sesaat, tersenyum pelan lalu memejamkan matanya. Mengusir kemelut hati dengan suasana hening.

__ADS_1


Biarlah salju menutupi kolamnya hati, masih berharap esok, ada hangat yang membasahi hati.


...****************...


__ADS_2